Pages

Tuesday, January 27, 2015

SEPEDA MOTOR & SEPEDA LISTRIK

Sepeda motor listrik (molis) & sepeda listrik (selis) di masa depan harus mampu menjawab tantangan seperti ramah lingkungan, bebas (sedikit) perawatan, bebas ganti oli mesin / tune-up, suara nyaris senyap, harga ekonomis, bila mungkin tidak menggunakan BBM sama sekali, dan baterai yang dipakai dapat diisi-ulang berkali-kali dan berumur panjang. Akan tetapi, kelemahan molis & selis (terhadap motor bensin/bioetanol) perlu diantisipasi sebelum memilikinya, misalnya: umur baterai terbatas dan harganya cukup mahal (umumnya hanya 2th, harganya sekitar Rp.1-4,9juta); berkecepatan rendah (sekitar 28-40km/jam); jarak tempuh sekali cas baterai terbatas (40-60 km); waktu cas baterai cukup lama (sekitar 6-8 jam); desain tak secantik molis & selis asing; dan jaringan dealer dan bengkel resmi yang tersedia masih terbatas. Perusahaan molis & selis berusaha menekan kelemahan itu kepada konsumen di lapangan dengan menjelaskan kelebihan-kelebihannya.
Bila sudah faham kelebihan dan kelemahan molis & selis, maka anda dapat merakit sendiri atau membeli molis / selis di pasaran yang sesuai dengan selera anda. Anda dimohon berhati-hati bila ingin membeli secara online, karena banyak terjadi penipuan. Kemudian periksalah untuk molis apakah perlu menggunakan STNK & BPKB. Bila perlu, merek mana yang bersedia mengurus STNK dan BPKB.

Dinamo pengisi baterai atau sumber listrik lain seperti sel surya, sel tunam, dll. dalam sistem pengisian baterai molis & selis sebaiknya ditambahkan agar waktu pengecasan baterai dapat dikurangi dan jarak tempuh molis & selis dapat lebih jauh. TE Novanda (TM UN Malang, 2008) telah melakukan uji-coba penyisipan dinamo pengisi baterai yang dipasang pada roda sehingga putaran roda dapat menghasilkan arus listrik sekaligus mengisi baterai. Hasil uji-coba menunjukkan bahwa tegangan / daya listrik yang dihasilkan / lama pengisian pada kecepatan tertentu adalah: 20V / 80W / 5 jam (5km/j); 30V / 120W / 3,3 jam (12km/j); 38V / 152W / 2,6 jam (19km/j). Hal itu terbukti bahwa makin cepat kendaraan, pengisian baterai makin besar, dan waktu cas baterai lebih cepat. Cara lain untuk memperpendek pengisian baterai via colokan PLN adalah memanfaatkan pengereman molis & selis, dan bantuan pengayuhan pedal yang dihubungkan ke dinamo agar menghasilkan listrik tambahan isi-ulang baterai.

Bagi mereka yang masih sayang kepada sepeda motor bensin tanpa mengubah tampilan pabrik lalu tertarik ingin mengubahnya menjadi sepeda motor hibrid (menambahkan komponen seperti motor listrik, controller, handle, aki/baterai, dll), maka PT Retrofit Indonesia bersedia membantu. Bila ingin merakit sendiri, lihatlah rakitan siswa D3 TM-UNS, Solo. Perhatikan pula kerapihan koneksi kabel guna menghindari bahaya konsleting listrik selama di parkir (+ pengisian baterai) yang dapat menyebabkan kebakaran.

Sepeda Motor Listrik

Pemanfaatan teknologi baterai penggerak roda belakang pada sebuah produk purwarupa sepeda motor (EM-SMK) dilakukan oleh siswa SMKN I Tirtajaya, Karawang, Jabar yang dilengkapi dengan satu dinamo yang disambungkan ke roda via V-belt. Dinamo tsb menghasilkan tegangan 50 volt, sekaligus mengisi baterai, sehingga purwarupa molis ini tidak perlu dicas ke listrik PLN. Sepeda motor tsb mampu bergerak hingga 40-50 km/jam, dengan jelajah tak terbatas. Purwarupa itu menghabiskan dana Rp.16 juta. Molis ini di masa depan perlu diproduksi massal untuk rakyat di pedesaan terutama daerah yang tak terjangkau jaringan listrik PLN.

Purwarupa molis sport (Solo) buatan Sasana B Nugraha menggunakan 4 aki sebagai penggerak listrik dengan laju maksimum 60 km/jam. Aki dicas selama 3-6 jam untuk jarak sekitar 100 km. Sementara, molis jenis mopet, berdaya setara motor bensin 30cc, EROS, dibuat oleh RC Susanto (Ubaya), dengan jarak tempuh hanya 15 km, berkecepatan 35-40 km/jam. Baterai 36 volt masih didatangkan dari Tiongkok.

Molis merek SELIS buatan Indonesia berpenampilan sporty dijual sekitar  Rp.18juta (tipe Merak & Jalak). Motor: 1000 W, Baterai 70 V, 12 A, jarak tempuh 60 km, berat maks 200 kg, laju maks 70-90 km/jam. waktu cas baterai sekitar 4-6 jam (dicolokkan ke listrik PLN di mana saja).

Molis asing mulai membanjir masuk ke Indonesia tahun 2015 ini. Skuter listrik, VMOTO, berteknologi eMax (Eropa) yang diproduksi di Li Shui, Nan Jing, Tiongkok, sekitar 300.000 unit/tahun (brand dari Australia), berkecepatan 90 km/jam dengan jarak tempuh 120 km, (harga Rp 18-30 juta tergantung tipenya) dipasarkan di Indonesia oleh PT Garasindo Technologies.

Emoto (buatan Tiongkok) dengan varian Xenos, Renza, Spirit, Titan, VIP dan Sonia sanggup lari hingga 80 km/jam (harga ~ Rp.8 juta/unit). Ia telah berplat-nomor (STNK & BPKB) dan pajaknya disetarakan dengan motor bensin 8 cc (Rp.60ribu).

 
Molis besar buatan AS jenis premium (Zero Motorcycles) dipasok oleh PT Garansindo Technologies (sebagai distributor) dengan merek ZERO (dengan varian Zero SR, Zero DS, Zero DS Police, Zero S, Zero FX, dan Zero FX military & Police) akan mengaspal di Indonesia dalam waktu dekat. Varian tertinggi Zero SR (gambar samping) berupa molis sport berdaya 67 Tk dan torsi 144 Nm, akselerasi 0-100km/jam hanya ditempuh dalam 3,3 detik, mampu jelajah 298 km. Kisaran harga di Indonesia adalah Rp.170-300 juta. Sementara varian Zero DSP dipakai oleh kepolisian di LA, AS (kecepatan maks 158 km/j).

Yamaha juga tidak mau ketinggalan di dunia molis versi sport. Varian PES1 (PES = Passion-Electric-Street) (gaya streetbike) dan PED1 (PED = Passion-Electric-Dirt) (gaya motor Trail) pernah diperkenalkan di Tokyo Motor Show 2013, dan akan diproduksi massal tahun 2016 yang hadir dengan transmisi manual dan otomatis.

Molis Honda menampilkan 3 varian utamanya, Honda RC-E (spt gmbr samping, tampangnya mirip motor sport), Honda EV CUB (desain agak jadul, mirip bebek lawas C-70 50 th silam, dayanya setara motor bensin kap. 100cc), dan Honda EVE-NEO (seperti skuter, 2,8 kW/daya setara motor bensin kap. 50cc, V = 30 km/jam, baterai ion lithium, tegangan 72V, 12,6Ah, torsi 4 Hp dan 11 Nm, daya jelajah 34 km. Isi-ulang baterai 1/2jam, yang cocok untuk kendaraan rumahan, usaha jasa, makanan cepat saji, dan surat kabar.
Purwarupa Sepeda motor Fuel Cell (PEMFC) buatan BPPT diaplikasikan ke molis yang telah ada di Indonesia dengan cara mengganti baterainya dengan sel tunam yang ternyata 28 liter gas H2 mampu menghasilkan listrik 500 W yang menggerakkan motor dengan kecepatannya sekitar 60 km/jam. Tabung metal hydride H2 dengan tinggi 20 cm diameter 10 cm mampu memampatkan gas H2 hingga 740 liter. Molis jenis ini belum diproduksi massal. Rakitan 2 sumber listrik berupa gabungan antara baterai penggerak roda dan sel tunam pengisi baterai perlu difikirkan di masa depan.

Tambahan energi listrik pengisi baterai dari sel surya selain listrik dari PLN juga telah dilakukan. Dua mahasiswa T Elektro-Untag (Univ 17 Agustus) Surabaya (R Wicaksono & SY Permana) merakit molis beratap sel surya (yang mereka sebut TETA 1) yang arusnya disimpan dalam 3 aki (@ 7,2 Ah). Jarak tempuh hanya 8km (karena kapasitas simpan baterai yang rendah). Bila strum aki menurun, molis dibiarkan di bawah terik matahari 2,5 jam.


Molis roda-tiga beratap sel surya (Cakra Hybrid) dirakit oleh siswa SMK PGRI 2 Ponorogo, Jatim. Presiden SBY sempat mencobanya. Daya listrik pengisi baterai berasal dari 2 sumber, listrik PLN dan sel surya. Kecepatannya diklaim sampai 100 km/jam bila 3 baterai (@12 V) terisi penuh, daya motor 500 W 28 A, ukuran roda 17 inchi, suspensi spiral & shock absorber, dan lampu sein dan depan. Anak bangsa perlu terus meningkatkan kreativitasnya agar desain teknologi kreatif yang dihasilkan makin menarik.
Bandingkanlah becak karya anak bangsa di atas dengan becak buatan Jepang, Meguru (gambar samping). Sisipan nuansa khas kipas Jepang (kipas terbuat dari bubur kayu Jepang / washi & lantai terbuat dari bambu) mampu mempercantik becak elektrik ini. Lampu sein & depan juga disematkan, sehingga menimbulkan kesan klasik dan modern. Daya penggerak hanya berasal dari baterai ion Li (atapnya belum dilengkapi sel surya). Bila baterai terisi penuh, ia mampu bergerak hingga 40 km (V = 40 km/jam). 

Becak Wisata Tenaga Surya atau disingkat "Beta Gaya" yang menyerupai becak cinta dirakit oleh siswa semua kejuruan di SMKN 2 Lamongan, Jatim, dengan dana Rp.20 jutaan. Sumber listrik selain PLN juga berasal dari 4 panel surya (@ 12 V/10A) yang tersimpan dalam 4 aki (@ 12V/10Ah), kemudian daya dari aki menggerakkan 2 motor listrik (@ 500 W) sehingga dapat melaju sampai 50 km/jam. Becak roda empat yang dilengkapi GPS dapat dimuati 4 orang dengan jarak tempuh sampai 80 km. Bila sinar Matahari cukup, jarak tempuh akan bertambah.

Sepeda Listrik

Sepeda listrik (MTB) ini (rakitan A.Andreas) dilengkapi dengan baterai dan dinamo/motor pada roda belakang [1 (V = 55km/jam), (2 + 3 + 4 + 5 diklaim V = 70-80 k/jam), (6, 7 + 8 uji tanjakan/turunan)]. Selain itu, selis dengan dinamo tengah dirakit pula. Sepeda ini cukup cepat, mampu untuk bermanuver di mana saja.  Bandingkan kecepatannya dengan yang dirakit di LN. Selis dengan penggerak roda depan dapat bergerak cepat juga.

Sepeda dengan dua roda samping (kiri & kanan, diameter 1,5 m) Two Wheels Vehivle (ETV) (Agustus 2012) yang dapat berputar 180 derajat, mirip mainan anak-anak, dan memiliki kursi bekas Isuzu Panther dirakit oleh 4 siswa D3 FT-UNS, Solo (V = 20 km/j) sebagai tugas akhir yang menghabiskan dana Rp.11 juta. Daya baterai lithium adalah 36 V 17 Ah yang dapat bertahan 2-4 jam, dan dicas selama 4 jam. Sepeda itu diinspirasi oleh perancang sebelumnya (03/2009-02/2011), para mahasiswa T. Mesin Univ, Adelaide, Australia yang telah mendesain dan merakit kendaraan serupa yang semula disebut Bumblebee, kemudian berevolusi yang disebut EDWARD (Electric Diwheel With Active Rotation Damping) Diwheel dengan laju maks 40 k/j.

SELIS DIGNITY
Sepeda listrik buatan Indonesia dengan merek SELIS melaju 28-30 km/jam, jarak maksimum hanya 40 km, daya angkut/beban 150 kg, V 36V 10A dan waktu cas selama 8 jam. Harga on-line di Indonesia (Jan 2015) merek SELIS sekitar Rp. 4,2-5juta (+PPN 10%) (tergantung varian/spek). Suku cadang sangat lengkap. Varian yang lebih kuat (motor 350W, baterai 48V 20Ah, laju 35 km/j, berat maks 150 kg, jelajah 60 km) adalah Elang (Rp.7,15juta), Garuda (Rp.7,8juta), dan Merpati (Rp.6,8juta). Daya hanya ada pada aki, gowes tidak mengisi aki. SELIS menghadirkan varian baru, MTB (DIGNITY) roda 20 inchi, motor 36 B & 250 W di roda belakang, baterai Lithium 36V 8,8 Ah, lebih ringan, menjelajah hingga 80 km dg laju maksimal 50 km/jam.

Selis spesial angkut beban berat yang dilengkapi dengan boncengan / taruh barang maks 100 kg (merek Highlander) telah dibuat oleh PT Multisukses Wahana Karya, Jakarta Barat dengan jarak tempuh sekitar 70-80 km yang disertai indikator sisa daya baterai, lampu sorot + sein, kunci remote, alarm, berkecepatan sekitar 40-50 km/jam dengan daya angkut total 180 kg. Bila dalam perjalanan ditemukan daya baterai habis, maka sepeda masih dapat dikayuh hingga sampai tempat pengecasan. Cas baterai perlu waktu 4-5 jam. Harga (Jan 2015) sekitar Rp 6,5juta (48V) - Rp.7juta (60 V).

Mars
Selis buatan Tiongkok (Super rider) membanjir ke Indonesia dengan merek nama-nama planet, salah satunya dipasok oleh E-bike Indo, dengan merek Mars (kuning, kecil, cocok untuk anak-anak); Venus-1 (cocok untuk ABG); dan Venus-2 (cocok untuk ibu-ibu/belanja]. Jenis lain hadir dengan nama Green Meteor-1 dan Meteor-2 yang bentuknya mirip banget dengan motor matic, apalagi tanpa pedal. Sepeda ini dilengkapi dengan stater layaknya motor matic, disertai kunci remote dan alarm. Kecepatannya sekitar 40 -50 km/jam, dengan jarak tempuh 50 km, sedangkan yang tanpa pedal berjarak tempuh 80 km. Cas baterai sekitar 4-5 jam. Suku cadang mudah diperoleh. Harga selis sekitar Rp.3,9 - 5,2juta.  Merek lainnya: Neptunus, Pluto, Jupiter, dan Earth.

Merek lain yang hadir di pasaran: Momentum (Harga 7,5 juta), Tiger (tipe Power 07, ZIP F8, TEC ONE JAZZ, TEC ONR PRO, SPEDTRIK 4U, SPEDTRIK V6, harga Rp.5jutaan), Yahonta (tipe FIT, NEO, JOY, MIAO Harga Rp.5 jutaan) dan Fantaci (Harga bervariasi, tgt jenis).

SekutNix, selis klasik dibuat oleh R Elson dkk dari bengkel KKM (R. Elson adalah Pemrakarsa mobil sport listrik Indonesia, SELO). SekutNix dilengkapi dengan baterai Ion-Lithium 36 V 8 Ah, motor BLDC, penggerak belakang 250 W, jarak tempuh 60 km, melaju dengan kecepatan 20-30 km/jam. Sepeda ini tanpa boncengan, dan masih terus disempurnakan.

Sepeda listrik DN lainnya adalah karya siswa beberapa SMK yang bekerjasama dengan PLNSMK Bunda Kandung, Psr Minggu, Jkt; SMKN 5 (El Bike), Pisangan, Jakut; SMKN 1 Budi Utomo; dan SMK 26 (Seli 26) (sepeda lipat, roda 16", 12V 20Ah, bila V~30km/j jelajah hanya 10 km, waktu cas 2 jam untuk 1 jam perjalanan, motor penggerak berada di luar sepeda yang dihubungkan dengan rantai).

Yamaha ikut bermain di kelompok selis ini. Ia hadir dengan varian Metis X (gbr samping, desain maskulin, atraktif, cocok untuk kaum pria, harga Rp.12 juta, dibuat di pabrik Yamaha, Tiongkok) dan Metis J2 (lebih kalem, cocok untuk ibu-ibu belanja dan remaja putri ditambah pedal gowes seperti sepeda biasa). Spek Metis X: beban maksimum 90 kg, tegangan 48 V, daya listrik 240 W, laju maksimum 20 km/jam.
EBI (Eco Bike Indonesia) diciptakan oleh  GA Putra (Bantul, DIY, lulusan STMIK AMIKOM) yang berhasil dalam kompetesi Asia Youth Tech Enterpreneurship Camp di Seoul Korsel (2013). Kayuhan (gowesan) pedal sepeda dapat menghasilkan listrik (dual charging, selain dari PLN) yang mengisi baterai sehingga dapat menghemat daya baterai. Voltase yang dapat dibangkitkan gowesan 220 V dengan daya 1.000-2.500 Watt, V = 48 km/jam.

Sepeda listrik Roda Tiga (SLRT) dibuat oleh TH Ismaji (+ Alumni TS-UGM, dirakit oleh siswa SMK BLPT, DIY) yang dikhususkan untuk para lansia dan difabel. Sepeda ini mampu mengangkut beban 150 kg dilengkapi aki kering 12 A, dengan jarak tempuh 60 km, V = 30-35 km/jam dan waktu cas baterai 6-7 jam.
bandingkan SLRT tsb dengan SLRT rakitan Brazil.

Upaya penambahan atap sel surya kepada selis (roda 2 dan 3) telah dilakukan. SLRT dengan tambahan atap sel surya (Sepeda tenaga surya Type E canopy 1) dimaksudkan guna mengurangi waktu isi-ulang via colokan PLN kepada 6 baterai 12 V (3 aki basah & 3 aki kering), dirakit oleh siswa SMKN Klakah, Kab. Jember (H Kurniawan & HJ Satrio) dengan biaya total Rp.9juta. Kapasitas beban 90 kg, jarak tempuh 30 km.

Becak yang dibiarkan apa adanya kemudian ditambah sel surya (di atap becak) dan komponen listrik lainnya (motor, controller, aki, dll) pada bodi becak dirakit oleh siswa T. Mesin SMKN 1 Losarang, Indramayu, Jabar yang menyerap dana sekitar Rp.25 juta. Menristek (GM Hatta) sempat duduk mencobanya. Daya aki mampu bertahan 4 jam dengan laju becak sekitar 40 km/jam.

 Perkembangan  di Luar Negeri

Molis & selis roda 2 dapat dilipat, sehingga mudah ditenteng, disimpan, dan diletakkan dalam mobil; Roda tiga yang roda belakangnya bisa dirapatkan, kemudian untuk meletakkan belanjaan maka roda belakang diregangkan, sehingga sepeda menjadi beroda tiga. Contoh lain adalah Selis roda tiga (dapat dilipat, sempit, jarak 2 roda belakang hanya 35cm) VIENNA, muatan 150 liter / 40kg (belanja, piknik ke luar kota, jasa/bawa surat kabar/makanan cepat saji, tampat duduk anak, dll). Untuk sekali cas (3 jam), daya jelajah sampai 60km, melaju dg bantuan pedal sampai 22 km/jam. Model lain, BIQUATTRO (2 roda belakang dapat dirapatkan). Teknik melipat selis merek lainnya juga ditampilkan.

Contoh-contoh molis kencang:
  •  KILLA CYCLE (AS) (0-96 km/jam dalam 1 detik, tercepat di dunia) menggunakan baterai LiFePO4 375V 14 Ah, 500+HP, rakitan dari sel A123Systems, diisi-ulang 10 menit (dari PLTBayu di rumah), daya motor 260 kW (500HP), 2 motor dc (berat 37kg), laju molis 387 km/jam (top record: ~ 435 km/jam)
  • CHIP YATES Superbike (AS) 0-96 km/jam dalam 2 detik; 258HP , 316 km/jam.   
  • LIGHTNING LS-218 (AS), laju 350 km/j, daya 200HP, 0-96 km/jam dalam 2 detik (baterai ion-Li 380V 12kWh, isi-ulang setiap190km atau 380V 15kWh, isi-ulang setiap 240 km), cocok untuk balapan, harga USD38.000,-. suara desir terdengar (bukti ada motor lewat); Perawatan: rantai diminyaki.
  • SAROLEA SP 7 Superbike (Belgia) 0-96 km/jam dalam 2,8 detik; 180 HP, laju 240 km/j;        
  • MISSION R (AS, San Fransisco) daya 120 kW (160 HP) 0-96 km/ja dalam 3 detik; 240 km/j.   
  • ENERGICA varian EGO (Italia) daya 100 kW (134 HP), 195 Nm, laju maks 240 km/j, jelajah 200km (bila V=60km/j), mencapai 0-96km/j dalam 3 detik, desiran kecil terdengar (USD34.000+ tergantung harga baterai), fiber karbon, roda: paduan logam cor aluminium, 11,7 kWh baterai (isi-ulang 1200x), waktu isi-ulang 3,5 jam (arus ac), 30 menit (arus dc), GPS 10 Hz, bluetooth.
  • Molis ZERO (AS, California) dengan varian S/USD13.345, SR/USD17.345 (0-96 km/jam dalam 3,3 detik, 163 km/jam), 11,4 kWh, 220 km, charger 110V, 67 HP), DS/USD13.345, FX/Trail /USD9.845, harga di AS) produsen terbesar di dunia, nyaris senyap, baterai ion-Li.
  •  LITO SORA (Canada, Quebec)  (0-96 km/jam dlm 4 detik);melaju 189 km/jam, jelajah 192km.
  •  BRUTUS 2 (0-96 km/jam dalam 4,7 detik); 161 km/jam; daya 153 V / 4,9 kWh baterai polimer Lithium (mati setelah jalan 80.000 km, dengan perawatan minim), isi-ulang (110V) selama 3,5 jam setiap 160 km. Sementara Brutus V9 (2015) melaju 184 km/j, jelajah 448 km (dalam kota), 336 km (tol).
  • BRAMMO (AS), varian Empulse 9177 k/j, daya 3 kW) & Empulse R (0-96 km/j dalam 4,8 detik, 176 km/jam), Enertia PLus (kap.6,2 kWh, 188,8 V, 54 HP, jelajah 128 km, 96 km/j, baterai ion-Li NCM, 1500x isi-ulang, 7,5 jam), Empulse LE (kap. 10,2 kWh, 103,6 V, , 54 HP, jelajah 128 km, 96 km/j, baterai ion-Li, 500x isi-ulang, 3 jam); Enertia Plus LE.
  • BULTACO varian Rapitan dan Rapitan Sport (buatan Spanyol) daya 40 kW, 125 Nm,  jelajah 200 km, 55 HP), laju 144 km/jam, baterai ion-Li isi-ulang 3,5 (ac), 45 menit (dc)
  • HARLEY-DAVIDSON (Milwaukee, Wisconsin, AS) varian Livewire (masih dalam proyek, menunggu sumbang saran para mania) daya 55 kW 74 HP, laju 147 km/jam, jelajah 209 km, isi-ulang selama 30-60 menit, spek lain seperti baterai belum dibuka.
Contoh-contoh selis kencang yang hadir di lapangan:
  • Selis gunung cepat motor roda belakang CARRERA / Vulcan (Inggris) daya motor 1000 W, baterai ion-Li 48 V 12 Ah, V ~ 65km/jam.
  • Selis CYCLONE (Yunani) motor tengah (menempuh Athens-Monastiraki) (6000 W 48 V 12Ah, 2 baterai ion-Li /LiFePO4)
  •  Selis sangat cepat (model baru) (MTB), HPC, roda belakang, 5000 W, 90 V, laju 96 km/jam, jelajah 144 km, kerangka lebih gemuk terbuat dari paduan logam) dibuat terbatas, aki terjaga baik dalam kantong kuat, lampu amat terang (4000 lumen), sadel empuk, dilengkapi suspensi shock kompresi & kaca spion.
  •  Selis HPC XC-2 dengan daya di roda depan & belakang MTB, 5600W /8000 W, 72 V, laju 75-80 km/jam, spesial untuk mendaki gunung.
  • Selis HPC gunung/pantai sangat cepat dengan 2 sumber daya (5000 W roda depan dan 5000 W roda belakang, tapak ban lebar), ban tebal , 100 V, spesial untuk mendaki gunung pasir / tepi pantai, dilarang berjalan di jalan raya.
  • Selis Stealth B-52 Bomber (meniru nama-nama pesawat tempur AS) 72 V, 18 Ah, baterai ion-Li (LiFePO4) motor belakang 750/4500 W. Juga dapat dipakai di gunung dengan motor 4500 W, laju 80 km/j, suspensi depan & belakang, 9 gigi, cenderung mirip motocross (Arizona, AS) waktu cas 2-3 jam (800x). Varian lain (: F-37 Fighter (motor 3700W, 48V 77A), dan H-52 Hurricane (3500W/4500W)
  • Selis gunung SUNAHME (Canada), suspensi penuh motor roda belakang, baterai ion-Li (800x), waktu cas 1-6jam; tersedia 3 varian, The Interceptor, (2,4/4,8kW, motor 4800/7200W, V~80/90km/j), jelajah 140/300km ; The Raptor (2,4/3,2kW, motor 4800/7200W, laju 80/90km/j, jelajah ~120 /~150km); Cruez (1,6/2,4kW, motor 3200/4800W, V~55/65km/j, jelajah~90/140km).
  • CRYSTALYTE 5303, motor roda depan 3000W, baterai ion-Li LiFePO4 (25kg) dari Tiongkok daya 72V 40 Ah, V ~ 80-85km/jam, ada cruise control, jelajah ~ 140 km; Sementara, Varian 5403 motor roda belakang, V~94km/j, 100V 80Ah.
  • SPA Bicicletto (Italia)
  • VECTOR e-bike (Ukraina) motor roda belakang, ada 3 varian: 48V 2000W Lightning, 72V 4000W Tornado, 84V 7000W Typhoon
  • SIEMPRENBICI (Spanyol)
  • YAMAHA YPJ-01 (Jepang)
  • SURAIN Ezekiel (Belgia), varian lain: BARON (untuk putri), RV, dan EOL
  • STROMER ST1  (Swiss) motor roda belakang, baterai diselipkan dalam kerangka (gampang dibuka untuk dicas) varian ELITE (36V 11,5 Ah, !36 km/j, 9 speed) dan PLATINUM (36V 14,5 Ah, ~45 km/j, 27 speed)  
 Contoh-contoh selis biasa:

  •  Selis lipat KAFU (Tiongkok) (12 varian), V=25-30 km/j, jelajah >50km, baterai: Li 36V 9 Ah, motor roda belakang (36 V/250W), ukuran roda: 20 inchi.
  • Selis lipat EW (Electro-Wheels) Accordion (Tiongkok), penggerak roda belakang, EW-01-EN & EW-02-NA, V~20/23 km/j, jelajah 80/45km, motor dc 36V/240W, baterai ion-Li 36V/8Ah
  • EMMO (Toronto, Canada), baterai gel, Skuter Listrik: varian Monster, GT5, GT80, Urban, Urban 2.0, Titan, Soho, Prestige, MAX, S6, H5, Sabre, X, dan Alien; Selis varian F6 (dapat dilipat, tidak boleh bawa boncengan, V~30 km/j, jelajah 45km, cas 3-6 jam, baterai 36V/10Ah ion-Li, motor 36V dc  350W); Skuter Mobilitas varian T300 (24V/33Ah, V~maju 8/15km/j, mundur 4km/j, jelajah 45km, cas 3-8 jam, sudut tanjak 20derajad, motor dc 24V/500W, 2 Baterai Lead Acid  12V/33Ah.
  • Purwarupa selis sel tunam Hydrocycle motor belakang yang dirakit oleh peneliti Jerman bekerjasama dengan Manhattan Scientific Inc. di AS (2008) mampu menghasilkan daya 600 W, laju 32 km/j pada jalan datar dengan jarak sekitar 70-100km untuk satu tabung 2 liter gas hidrogen.  BB dapat menggunakan gas hidrogen atau gas alam.
  • Demonstrasi Selis sel tunam dengan penggerak roda belakang yang disebut Alter Bike (Cycleurope memperkenalkan dengan nama GITANE) (2013) buatan Cycleurope, Pragma Industries & Ventec (Perancis) menggunakan BB gas hidrogen dalam 2 cartridge  yang dengan mudah diselipkan ke wadahnya. Tahun 2016 selis ini akan dijual ke publik. Penggunaan mode hibrid dengan tambahan sumber listrik dari bateria ion-Li dan sel tunam sedang diperhitungkan di masa depan.
  • Selis sel tunam (BB gas hidrogen) yang disebut Hy Cycle dirakit oleh mahasiswa Australia (University of New South Wales, UNSW) (2014). Satu tabung berisi 100 liter gas hidrogen dapat menempuh jarak 125 km dengan laju 35 km/jam yang menggunakan motor roda depan. Tabung gas hidrogen dapat diisi-ulang selama 30 menit.
 Sepeda Terbang

Di LN sepeda terbang (Hoverbike) gabungan antara motor dan helikopter telah dikembangkan (rakitan Teknisi Perusahaan Malloy Aeronautics,Surrey Guildford, Inggris, melaju 72 km/j, daya 22 V, berat 2,2 kg, harga mainan itu Rp.21 jutaan), yang dapat dilipat, dan dikendarai di darat. Ilmuan Cheko juga sedang mencoba sepeda terbang (hanya berlangsung 5 menit). Sebelumnya (Juni 2013) Paravelo, sepeda berparasut (buatan Inggris) juga berhasil terbang.

Hal itu perlu difikirkan dan dirakit secara lokal oleh anak bangsa di masa depan. Siswa SMK BA (Bukit Asam) sedang mencoba merancang sepeda terbang tersebut.

SPLU (Stasiun Pengisian Listrik Umum)
  
SPLU di beberapa titik telah disiapkan oleh PLN (telah diresmikan oleh PLN dan hanya tersedia di kantor-kantor PLN). Pengisian baterai selama 1 jam dikenakan biaya Rp.2000,- (2012). Spesifikasi SPLU adalah arus listrik 32 A, tegangan 220 V, dan daya 7 kW. Pembangunan SPLU PLN hanya memakan waktu seminggu dengan biaya sekitar Rp.6 jutaan (2012). Bila komplit beserta travo, kabel instalasi dan pondasinya, maka investasi totalnya sekitar Rp 20 jutaan (2012).

Sementara, SPLU produksi Itron terlihat seperti gambar samping. PLN bekerjasama dengan Itron (Cikarang) yang baru membangun 60 titik guna mengantisipasi permintaan isi-ulang baterai molis & selis yang belum begitu banyak. SPLU tsb setinggi 1,5 meter yang dilengkapi dengan alat colokan listrik ke baterai molis. SPLU dilengkapi dengan panel unjuk daya listrik yang akan dialirkan ke baterai. Pengisian baterai otomatis akan terhenti bila daya yang dikeluarkan sudah sesuai permintaan, dan bila baterai sudah terisi penuh.

Bandingkanlah SPLU PLN tsb dengan SPLU untuk molis yang tersedia di Barcelona (Spanyol, gambar samping) yang dilengkapi dengan tanda lokasi pengisian baterai dan peta lokasi lain di sekitarnya, dan SPLU selis di Port Gruissan, Perancis (gambar bawah) yang dilengkapi dengan atap surya dengan tegangan dc sel surya 24 V (kapasitas total 1 kWp).


Lithium (Li) Dalam Negeri
 Penggunaan baterai ion-Lithium pada selis DN masih sedikit karena harganya masih mahal (Impor dari LN). Produksi baterai ion-Li dalam negeri diperlukan. Pabrik baterai Li (PT Nipress TBK / NIPS, Cileungsi, Bogor) yang memproduksi 2 juta baterai Ion-Li jenis LiFePO4 per tahun (untuk moblis, molis, selis, tank, kapal selam, pesawat, dan BTS) (60% diekspor ke 80 negara) telah diresmikan oleh menteri BUMN. Sebelumnya (2007), PT PGBI, Cikarang, Bekasi, Jabar yang memproduksi bateri Lithium coin telah diresmikan pula oleh Menperin.
Di sisi lain, Indonesia secara tak terduga mendapatkan anugerah dari Tuhan YME berupa luapan lumpur Lapindo yang mengandung logam Li kadar tinggi. Hingga saat ini logam Li tsb belum dipungut maksimal. Ekstraksi Li dari lumpur Lapindo sedang diupayakan infrastrukturnya dengan membentuk Konsorsium Nasional Riset Baterai Lithium yang melibatkan para akademisi (UI, UGM, ULM, dan ITS), fihak swasta (Nipress Indonesia), dan Lembaga di Kemenristek (LIPI, BPPT, dan BATAN). Oleh karena itu, Lumpur Lapindo akan menjadi primadona bahan baku pabrik baterai Li di masa depan.

Sepeda motor & sepeda listrik sebagai pengganti sepeda motor bensin cukup bermanfaat untuk digunakan di masa depan, karena ramah lingkungan (tanpa BBM sama sekali) dengan catatan baterai ion-Li (termasuk baterai polimer lain yang lebih baik & ringan) harus diproduksi dalam negeri.





1. Kondisi EBT di INDONESIA / Renewable Enery in INDONESIA


Sektor energi di Indonesia mengalami masalah serius, karena laju permintaan energi di dalam negeri melebihi pertumbuhan pasokan energi. Minyak mentah dan BBM sudah diimpor sehingga memaksa bangsa Indonesia mencari sumber energi lain guna mengatasi permintaan energi yang melonjak dari tahun ke tahun.
Energi Baru dan Terbarukan (EBT) terus dikembangkan dan dioptimalkan, dengan mengubah pola fikir (mind-set) bahwa EBT bukan sekedar sebagai energi altenatif dari BB fosil tetapi harus menjadi penyangga pasokan energi nasional dengan porsi EBT >17% pada tahun 2025 (Lampiran II Keppres no.5/2006 tentang Kebijakan Energi nasional) berupa biofuel >5%, panas bumi >5%, EBT lainnya >5%, dan batubara cair >2%, sementara energi lainnya masih tetap dipasok oleh minyak bumi <20%, Gas bumi >30% dan Batubara >33%. Pemerintah berkomitmen mencapai visi 25/30, yaitu pemanfaatan EBT 25% pada tahun 2030 (semula diprediksi 25/25, tetapi dalam prakteknya diduga tidak akan tercapai). Bulan Januari 2012, Sekjen PBB mendorong pemanfaatan energi terbarukan dunia duakali lipat (dari 15% menjadi 30%) hingga tahun 2030, apalagi negara berkembang saat ini menguasai setidaknya 50% kapasitas global EBT.

Program-program untuk mencapai target hingga 25% EBT adalah listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIDAP), PLTS perkotaan, pengembangan biofuel, dan proyek percepatan pembangkit listrik 10 GW tahap II berbasis EBT (panas bumi dan hidro). Untuk mencapai itu, Indonesia membutuhkan dana USD36miliar. Pemerintah akan menambah kapasitas pasokan listrik 35 GW hingga 2019, 25 GW dari PLTU sisanya 11 GW dari EBT. Saat ini EBT hanya menyumbang 10,7 GW dari total 53 GW. Rencana EBT sebesar 11 GW itu berasal dari PLTP 4,9 GW; PLTA 13,4 GW; PLT Bioenergi 2,8 GW; PLTS 0,25 GW; PLT Bayu 0.044 GW, dan PLT Arus laut 1 MW. Seluruh pembangkit secara bertahap akan dinaikkan mulai 2015 hingga 2019. Pemerintah mendukung inovasi pemanfaatan PLTS, misalnya untuk penerangan jalan, dan mendorong pula pemasangan panel surya di atap-atap pusat pertokoan dan mal agar mereka mendapatkan pasokan listrik sendiri.

Upaya penganekaragaman (diversifikasi) sumber energi lainnya selain minyak bumi terus dilakukan, di antaranya pemanfaatan gas, batubara, dan EBT (air/mikrohidro, panas bumi, biomassa, surya, angin, gelombang/arus laut, BB Nabati, nuklir, batu bara tercairkan/liquefied coal, batubara tergaskan/gasified coal, dan gas hidrat). UU no.30 tahun 2007 mengklasifikasikan bahwa Energi Baru (EB) terdiri atas nuklir, hidrogen, gas metana batubara (CBM, Coal Bed Methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Sementara, Energi Terbarukan (ET) terdiri atas panas bumi, angin/bayu, bioenergi, sinar matahari/surya, aliran dan terjunan air, dan gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.

Tahun 2012-2014, pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) ditekankan kepada pengembangan biogas untuk memasak dan penerangan. Tahun 2011, Pemerintah mengembangkan 35 DME berbasis non BBN, yaitu PLTMH 10 lokasi (5 di Sumatera, 2 di Jawa, 3 di Kalimantan 4 di Sulawesi, 2 di Nusa Tenggara, 1 di Maluku dan Papua), arus laut 1 lokasi, Hibrid 1 lokasi, peralatan produksi (sisa energi listrik dari EBT) 10 lokasi. Tahun 2010, DME dikembangkan di 15 wilayah di Indonesia, 9 di luar P. Jawa  dan 6 di P. jawa. Th 2009, program DME mencapai 633 desa, dengan rincian Tenaga Air 244 desa, BB Nabati 237 desa, Tenaga Surya 125 desa, Biogas 14 desa, Tenaga Angin 12 desa, Biomassa 1 desa.

Salah satu contoh bantuan CSR: PT PLN (Persero) Kantor Pusat kepada PT PJB digunakan untuk DME di lokasi Sumberejo (Pasuruan, 2 unit, 2x850 W), Bondowoso (10 unit), Trenggalek (4 unit), Tulungagung (2 unit), Jabung (Malang), Bergas Kidul (Ungaran), Kalongan dan Karang Sulang (Semarang), Pilang Payung (Grobogan), Karang Mukti (Subang), Karyamukti dan Lebakwangi (Bandung), Rajagaluh (Majalengka), Parung Banteng dan Cadassari (Purwakarta), Pasanggrahan (Garut), Purworejo (10 unit), Brebes (10 unit), Pandesari (Malang, Ciherang (Cianjur), Cipendeuy (Bandung Barat), Agrabinta (Garut) untuk bidang PLTMH / PLTS / Biogas / PLT Sampah.
Di lain fihak, PT Pertamina (Persero) berkomitmen mengembangkan 5 jenis EBT, yaitu geothermal (panas bumi), Coal Bed Methane (CBM), Shale Gas, Alga, dan Angin (Bayu).

Beberapa pengusaha asing tertarik untuk berpartisipasi dalam pengembangan EBT di Indonesia, misalnya Australia yang berpengalaman di bidang infrastruktur energi di bidang panas bumi, solar, alga, mikrohidro, biomassa untuk pembangkit listrik tertarik untuk mengembangkan EBT di Indonesia. Austria menawarkan kerjasama membangun PLTA. Jerman, Perancis (tanam US$10miliar), Amerika Serikat, dan Selandia Baru ingin bekerjasama di bidang panas bumi (geothermal). Selandia Baru telah meneken kerjasama dengan RI (April 2012) guna membangun PLTP 4 GW th 2015. Chevron Co. (produsen gas terbesar kedua th 2011 sesudah ExxonMobil Indonesia) juga tertarik berinvestasi di bidang panas bumi dan energi laut dalam. Turki tertarik pula untuk mengembangkan energi geothermal di wilayah Palembang/Sumsel, Argo Puro/Jatim, dan Pidie/Aceh. Di sisi lain, Amerika Serikat yang diwakili oleh Exxon dan General Electric akan membantu di sektor efisiensi energi, salah satunya adalah mengembangkan turbin dan Pembangkit Listrik skala kecil berbasis EBT di pulau-pulau terluar dan di daerah nelayan. Kanada (Biotermika Technology) tertarik menginvestasikan dananya di bidang sampah kota di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, dan Jakarta guna membangun pembangkit listrik dari sampah. Selain itu, Kanada juga tertarik di bidang PLTU (Brookfield Power and Utilities), PLTMH (Esensi Lavalin), dan PLTS (Expert Development of Canada, dan Senjaya Surya Pro). Sementara, Singapura tertarik mendirikan industri pupuk dari sampah TPA di Desa Ngembalrejo, Kec. Bae, Kudus, sedangkan Jepang dan Korea Selatan tertarik mendirikan industri pupuk dan pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar / solar / premium dari sampah kota di TPA Palembang, Sumsel. Brunei Darussalam tertarik untuk mengembangkan industri pengolahan sorghum untuk bahan makanan dan bioethanol di Soloraya. China dan KorSel tertarik untuk mengembangkan PLTA. Finlandia mengajukan kerjasama dengan menghibahkan 4 juta Euro di bidang PLT biomassa di Prop. Kalteng dan Riau, dan KorSel juga bekerjasama di bidang PLT biomassa di Gorontalo. Jepang (NEDO) tertarik membangun pabrik bioethanol dari tetes di Mojokerto, Jatim. Rusia dan Australia tertarik mengembangkan PLT biomassa (jerami+sekam padi) di Sergai, Sumut, sedangkan China tertarik menggunakan limbah cangkang kelapa sawit. Rusia juga tertarik mengembangkan EBT lainnya termasuk nuklir & batubara. Estonia tertarik mengembangkan pasir minyak dan biomassa. Denmark mendukung program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia dengan memberikan dana US$10juta untuk program 4 tahun.

Indonesia memberlakukan regulasi dengan memberikan insentif pajak kepada perusahaan pengembang EBT dengan tetap melibatkan fihak lokal terutama pembangunan pembangkit berkapasitas di bawah 10 MW. Sistem FiT, feed-in-tariff, kebijakan fiskal, insentif pada pendanaan, insentif dukungan pasar, dan pemudahan perizinan, diterapkan guna mendorong implementasi EBT secara komersial dan peningkatan akses kepada masyarakat. Di sisi lain, Bank Indonesia membentuk green banking guna memberikan insentif kepada bank yang mau mendanai pengembangan EBT.

Guna mendorong investor DN atau LN, pemerintah via Permen ESDM no 27 th 2014 menaikkan pembelian tenaga listrik dari PLTBm (Biomassa) dan PLTBg (Biogas) oleh PT PLN (Persero) yang kapasitasnya hingga 10 MW untuk merevisi Permen ESDM No.04 th 2012. Harga jual listrik PLTBm (FiT 2014) untuk Vmenengah: Rp1.150/kWh (sebelumnya Rp.656/kWh); Vrendah: Rp.1.500/kWh (sebelumnya Rp.1.004/kWh); FiT (2014) untuk PLTBg: Vmenengah: Rp 1.050/kWh (sebelumnya Rp.975/kWh); Vrendah: Rp.1.400/kWh (sebelumnya Rp.1.325/kWh). Sementara, pembelian tenaga listrik dari PLTA oleh PLN s.d. 10 MW dapat dilihat pada Permen ESDM No. 12 th 2014.

 Keragaman sumber EBT di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

AIR (PLTA) (Large-hydro: >100MW; Medium-hydro: 15-100MW; Small-hydro: 1-15 MW)

Di seluruh Indonesia, potensi PLTA skala besar dan kecil sekitar 75.670 MW (75,7 GW), tetapi hanya dimanfaatkan 5.940,04 MW atau 7,92% saja (PLTA 5.711,29 MW, PLTMH 228,75 MW) dan Dirjen EBTKE menargetkan 9.700 MW pada tahun 2015.
Data Kementerian ESDM menyebutkan bahwa potensi PLTA di Sumtera sekitar 15,6 GW (20,8%), Jawa 4,2 GW (5,6%), Kalimantan 21,6 GW (28,8%), Sulawesi 10,2 GW (13,6%), Bali, NTT, NTB sekitar 620 MW (0,8 %), Maluku 430 MW (0,6 %), dan Papua 22,35 GW (29,8 %).
PLTA skala besar dan kecil yang sudah beroperasi sekitar 1.941 MW, tersebar di 10 lokasi, di antaranya adalah:
SumUt:  Asahan-1 (180/2x90 MW), Sigura-gura / Asahan-2 (286 / 4x71,5 MW), Tangga (223 / 4x55,75 MW), Lau Renun (82/2x41 MW), Sipansihaporas (50/33+17 MW),  SumBarManinjau (68/4x17 MW), Singkarak (175/4x43,75 MW), Batang Agam (3x3,5 MW); Bengkulu: Tes (16/4x4 MW), Musi (210/3x70 MW); Riau: Koto Panjang (114/3x38 MW), Talang Lembu (2x16 MW); Lampung: Way Besai (92,8/2x46,4 MW), Batutegi (28/2x14 MW); JaBar: Ubrug/Cibadak (27,9/2x10,8+6,3 MW) (saat ini mati, bendungan jebol), Bengkok (10,15/3x3,15+0,7 MW), Cikalong (19,2/3x3,64 MW), Cirata (1000 / 8X126 MW), Saguling (700/4x178 MW), Jatiluhur (187 MW); Lamajan (19,2/3x6,4 MW), Parakan Kondang (9,92/4x2,48 MW); JaTeng: Sudirman (Mrica) (3x61,5 MW), Jelok (4x5 MW), Timo (3x4 MW), Wonogiri (2x6 MW), Garung (2x6 MW), Sempor (1x1 MW), Ketenger-1dan 2 (2x3,5 MW), Ketenger-3 (1x1 MW), Wadaslintang (2x9 MW), Kedung Ombo (1x22,5 MW), Klambu 1x1,17 MW), Pejengkolan (1x1,4 MW), Sidorejo (1x1,4 MW), Gajah Mungkur (12,4 MW), JaTim: UP Brantas (281 MW): terdiri atas 12 unit PLTA, yaitu [Sengguruh (29/2x14,5 MW), Mendalan (23,2/4x5,8 MW), Siman (10,8/3x3,6 MW), Selorejo (1x4,48 MW), Giringan (3,2 / 2x1,35+1x0,5 MW), Golang (2,7 MW), Ngebel (2,2 MW), Wlingi (54/2x27 MW), Lodoyo (1x4,5 MW), Tulung Agung (2x23 MW), Wonorejo (6,3 MW), Karangkates/Sutami (105/3x35 MW)], Tulis (2x7 MW); KalSel:  Riam kanan (30/3x10 MW); SulUt: Tonsea Lama (14,38 / 1x4,44 + 1x4,5 + 1x5,44 MW), Tanggari-1 (1x17,2 MW), Tanggari-2 (1x19 MW); SulSel: Balambano (140/2x70 MW), Larona (195/3x65 MW), Karebbe (140/2x70 MW), Bakaru (126/2x63 MW); SulTeng: Sulewana-Poso I (160/4x40 MW), Sulewana-Poso II (180/3x60 MW), Sulewana-Poso III (400/5x80 MW).
PLTA Peso (660x5 MWe), Bulungan, Kaltim, mulai dibangun oleh PT Kayan Hydro Energy (KHE) dengan investasi total 20miliar US$ (5 tahap) selama 10 tahun.
PLTA sedang dibangun: Genyem (2x10 MW) Jayapura, Papua, hasil perjanjian jual beli (US$4,3 juta) penurunan emisi karbon CER (Certified Emission Reduction); Angkup (88 MW) dan Peusangan-1 dan 2 (2x22 dan 2x22 MW) Aceh Tengah; Asahan-3 (2x87 MW) Sumut.
PT Bukaka Group membangun PLTA Malea 15 MW, (Rp. 300 miliar) Kec. Makale Selatan, Tana Toraja, dan beroperasi Agustus 2011. Bukaka akan menambah daya hingga sekitar 90 MW dengan masa kontrak 4 tahun dan dana Rp. 3 triliun.
PLTA berencana dibangun: PLTA di Papua (2000 MW), Sumatera Utara (763 MW), Lombok 2 lokasi (Muntur 2,8 MW, Kokok Putih 4,2 MW, Pekatan 5,3 MW), dan Sumbawa (Brang Rhee 16 MW, Bintang bano 40 MW, Brang Beh 103,5 MW).
Pemprov Papua membangun proyek PLTA Kapiraya 300-350 MW (yang pertama di Papua, dari sungai Urumuka atau Sungai Yawei yang bersumber dari danau Paniai) di distrik Mimika Barat Tengah yang diharapkan PT Freeport menjadi pembeli utama listrik Kapiraya, sedangkan sisanya memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 5 kabupaten, yaitu Mimika, Paniai, Deai, Dogiyai hingga Nabire. Proyek Rp 14 triliun tsb akan selesai 3-4 tahun.
Program percepatan 10 GW tahap II: PLTA Upper Cisokan 4 x 260 MW, 150 km Tenggara Jakarta (sungai Citarum) diharapkan akan beroperasi 2016 dengan investasi US$800 juta dari Bank Dunia. PLN membantu biaya pendamping sekitar US$160juta. PLTA ini menggunakan sistem pumped storage pertama di Indonesia. Lainnya, PLTA Matenggeng Pumped Storage (900 MW, Rp.5,9 triliun) Cilacap. Selain itu, PLTA Kalikonto Jawa Timur diharapkan beroperasi th 2014.
Proyek Molor: Rp.2,3 triliun untuk PLTA Asahan 3 (2x87 MW) belum dibangun untuk memenuhi kekurangan pasokan listrik di Sumut.
PT TEI (Topnich Energy Indonesia, asal China) berpatungan dengan PT Sulawesi Hydro Power (asal Norwegia) akan membangun PLTA Enrekang 200 MW dengan nilai investasi Rp.5 triliun yang pembangunannya dimulai Juni 2011. PT Sulawesi Hydro Power juga akan mengoperasikan PLTA Tangka Manipi 10 MW dengan nilai investasi Rp.280 miliar untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Gowa dan Sinjai.
Daecheong Construction Co Ltd. menggandeng Perusahaan Daerah (BUMD) untuk membangun PLTA Deli Serdang 16 MW di Deli Serdang, Sumut yang memanfaatkan sungai Lau Simeme, dan beroperasi pada 2013 dengan dana investasi US$150juta.
PLD dan Konsorsium (Kepco) Daewoo membangun PLTA Wampu 60 MW di sekitar Danau Toba, Sumut, dengan dana investasi Rp.2,5 triliun, dan menggunakan skema IPP (Independent Power Producer). Selain itu, PLN juga akan membangun PLTA Peusangan 89 MW (Peusangan-1 2x22,5 MW, dan Peusangan-2 2x22,5 MW), Takengon, Aceh, yang akan dikerjakan oleh Hyundai bersama dengan PTPP (PT Pembangunan Perumahan Tbk) dengan nilai investasi Rp.3 triliun yang berasal dari pinjaman JICA Rp.2,6 triliun yang diharapkan akan selesai pada tahun 2015.
PLTA Karebbe INCO 90 MW beroperasi tahun 2011. INCO sudah mengoperasikan 2 PLTA dengan kapasitas total 275 MW. Bila Karebbe beroperasi, kapasitas total PLTA INCO mencapai 365 MW.
Investor China (PT CMH / China Mikro Hidro) membangun 2 unit bendungan di lokasi PLTA di Desa Karama, Kec. Kalumpang, Kab. Mamuju, Sulawesi  Barat, dengan kapasitas total sekitar 1.800 MW dan biaya sekitar US$4,5 miliar (Rp. 7 triliun) selama 3 tahun. Sementara, sungai Karama yang melewati Kec. Bonehau memberikan kontribusi PLTA berkapasitas 600 MW dan relokasi 9000 warga Bonehau tak terhindarkan.
PPA antara PT PLN dengan PT Rajamandala Electric Power (PT REP) (US$150 jutafull Turnkey, BOOT) dilakukan untuk membeli listrik 47 MW sebesar US$8.66 sen/kWh, selama 30 tahun yang akan beroperasi pada tahun 2016, di sungai Citarum, Kec. Haurwangi, Cianjur, Jabar. Sementara, Hyundai Engineering + Hyundai Amco meneken kontrak kerma USD91,3 juta (Rp1,03triliun) dengan REP untuk membangun PLTA 47 MW di Bandung yang akan rampung th 2017, guna memasok listrik ke jakarta dan sekitarnya.
PT Inalum (sudah menjadi BUMN) membangun PLTA 2x300 MW (USD700juta) kemungkinan beroperasi th 2019 guna memproduksi 500ribu ton aluminium ingot.
Percepatan sumber daya air: PLTA (5 GWe) akan dibangun di 12 dari 261 waduk di Indonesia dengan nilai investasi Rp.100 triliun (2-3jutaUS$/MW). Baru 22 waduk memiliki PLTA.
Bendungan untuk tandon air dan irigasi: Pandan Dure Swangi 340 Ha (Rp.728 miliar), Kab. Lombok Timur, NTB dengan sumber air dari sungai Palung.
Waduk
Waduk akan dibangun (2015): Krueng Keureuto (Rp.1,68Triliun, Aceh); Karian (Rp.1,68Triliun, Lebak, Banten; Pamarayan (Banten), Logung (Rp.620Miliar, Kudus); Raknamo (Rp.710miliar, luas 147 Ha, Kupang, NTT); dan Lolak (Rp.850Miliar, Sulut) . Usulan lainnya: waduk Kolhua (kota Kupang), Roti Klot (Kab.Belu), Temef (TTS), Napunggete (Kab.Sikka), Aesesa (Kab.,Nagekeo, dan satu waduk di Kab.Manggarai. Perbaikan waduk di Aceh: Tiro (Rp.748Miliar), dan Rukoh (Rp.410Miliar).
Baru dibangun (2014): Pandan Duri, Titab, Bajul Mati, dan Nipah; Sudah dibangun (2013): Jati Gede (PLTA Jatigede 2X55 MW, Sumedang, Jabar), Jati Barang, Paya Seunara, Diponogoro, Gonggang, Rajui, dan Marangkayu.
PU (2014) berencana memanfaatkan 200 waduk untuk pengairan sawah di Indonesia dengan memasang turbin baru menjadi PLTA agar dapat menghasilkan listrik.

PLTMH (Mini Hidro: 100-1000 kW; Mikro Hidro: 5-100 kW; Piko Hidro: ratusan Watt-5 kW)

Potensi: 230.910 MW (231 GW) (th 2006). Tahun 2007, kapasitas terpasang masih 60 MW. Di antaranya: PLTMH Lebak Picung (10 kW, 52 KK), Susuan Karang Asem (Bali) (25 kW), Kampung Sawah (6 kW, 40KK), Bojong Cisono (6 kW, 70 KK), Cibadak (6 kW, 266 KK), Cisuren (12 kW, 120 KK), Ciawi (6 kW, 180 KK), Luewi Gajah (6 kW, 70KK), Parakan Darai (10 kW, 54 KK), Sungai Code, Yogya.
Dalam RIPEBAT (Rencana Induk Pengembangan EBT) 2010-2025, enam provinsi memiliki potensi PLTMH seperti 1) Papua (ada 52 sungai berpotensi maksimal hingga 22 GW, di antaranya adalah sungai Memberamo/10 GW, Derewo, Ballem, Tuuga / 1,6 GW, Wiriagar / Sun, Kamundan, Digul / 1,5 GW, Yuliana / 2,2 GW, Lorentz / 232 MW, dan Kladuk; 2) Kaltim: S.Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung dan Kelai (total 6.743MW); 3) Sulsel; 4) Kalbar; 5) Sumut; dan 6) Aceh.
Pemanfaatan PLTMH dapat menghemat BBM dan CER sangat besar. PT Indonesia Power meyakinkan, bahwa Produksi listrik PLTMH Cileunca berkapasitas 1 (2x0,5) MW (menelan biaya Rp.13 milyar), desa Warnasari, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, dapat menghemat Rp. 10 milyar setahun. Bila seluruh PLTMH dapat mencapai kapasitas 500 MW, penghematan biaya sekitar Rp.4,27 triliun dan keuntungan dari CER US$ 6 juta, serta ada pemasukan kas desa (PADES, Pendapatan Asli Desa) Rp.2 triliun per tahun. Sistem Off-Grid disarankan untuk digunakan di desa, yaitu sistem pemeliharaan alat/jaringan listrik dan tagihan listrik dikelola oleh masyarakat / koperasi desa sendiri, agar kemandirian dan pertumbuhan desa dapat terwujud.
PTPSE (Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi) BPPT berhasil mendaftarkan rintisan CDM (Clean Development Management) PLTMH dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk PLTMH di desa Rantabella, Kec. Lotimojong, Kab. Lawu, Sulawesi Selatan.
Bila jaringan PLN sudah masuk desa, desa dapat menjual listriknya ke PLN (kalau harga yang ditawarkan PLN sesuai, dengan melalui proses panjang dan melelahkan). Contoh: PLTMH Curug Agung yang dibangun th 1991, th 1995 berkompetisi dulu dengan PLN ketika jaringan listrik PLN masuk desa. Akhirnya th 2000, produk listriknya masuk ke jaringan ke PLN. Sementara, PLTMH Cinta-mekar 10kW, Subang, Jawa Barat, menjual seluruh produk listriknya ke PLN. PLTMH  Kombongan 85 kW, Garut juga masuk jaringan listrik nasional.
PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) membangun PLTMH dengan kapasitas 3 MW di kebun Zeelandia, Kab. Jember yang sebagian listriknya digunakan untuk internal kebun (pabrik pemrosesan kopi, penyiraman tanaman kopi, penerangan rumah penduduk, dll), dan sebagian dijual ke PT PLN distribusi Jatim bila negosiasi harga per kWh nya tercapai.
 Pemkab Banyumas membangun 12 PLTMH dengan total biaya Rp.300 miliar. Salah satunya,  PLTMH Kali sasak 4 MW Kec. Cilongok, Banyumas yang dikelola oleh PT BIJ (Banyumas Investama Jaya) bekerjasama dengan PT IndoPower dengan dana sebesar Rp.60 milyar untuk 8.000 KK. Sebelumnya PLTMH Tapen (1x0,75 MW), Ketenger-1/-2/-3, lalu beberapa PLTMH di UPB Mrica (Desa Siteki, Blumbungan, Banjarnegara) Sempor Kab. Kebumen, dan Wadaslintang sudah dibangun di Banyumas. Lainnya,  PLTMH percontohan Karangtengah 17kW dari sungai Prukut (debit air 300 liter/detik) untuk 66 KK, hasil kerma PT IndoPower (pemodal) dengan TNI (bantuan tenaga kerja).
AHM (PT Astra Honda Motor) memberdayakan masyarakat dengan membangun PLTMH 6,5 kW, sungai Cibarengkok, untuk 63 KK, di TNGHS, Sukamulya, Sukabumi, Jabar, bekerjasama dengan Yayasan IBEKA.
PLN telah memiliki 2 PLTMH, yaitu di Werbar, Fak-fak, 2x500 MW dan Walesi, Wamena, (80,3 MW); Kaltim (sungai Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung, dan Kelai) dengan total potensi mencapai 6.743 MW. Sementara 4 provinsi lainnya adalah SulSel, KalBar, SumUt, dan Aceh. PLTMH dibangun pula di Pulau Sumba, NTT.
Perusahaan konsorsium Malaysia membiayai pembangunan PLTMH di Sumbar, khususnya di Kab. Solok (Lembah Gumanti) via MoU dengan PT PLN sejak awal 2006. Listrik dari PLTMH tersebut dibeli oleh PT PLN. Potensi PLTMH di Solok adalah Pinang Awam (462 kW), Koto Anau (167 kW), Sumani (625 kW), Balangir (500 kW), Leter W (7.500 kW), Pintu Kayu (4.000 kW), Liki (2.000 kW), Sangir I (10.000 kW), Sangir II (7.658 kW), Liki Solok (60 kW), Jawi-Jawi (60 kW), dan Lubuk Gadang (103 kW). PT Hutama Karya juga menanam modal untuk PLTMH (2x4 MW) di Sumbar.
Provinsi Sumatra Utara yang berpotensi PLTMH luar biasa, yaitu lebih dari 800 MW (>110 PLTMH) akan dijadikan Kiblat PLTMH di Indonesia. Gardu penghubung dibangun di 9 lokasi. PLTMH itu di antaranya adalah Parlilitan (7,5 MW), Silau II (&,5 MW), Parluasan (4,2 MW), Hutaraja (5 MW), Pakkat (10 MW), Lau Gunung (10 MW), Sisira Simandame (4,6 MW), Simonggo Tornauli (8 MW), dan Tomuan (8 MW).
Dua PLTMH dengan kapasitas 2 x 5 MW (Batangtoru-3 Pearaja, Pahae Julu, oleh BALE / PT Berkah Alam Lestari Energi dan Batangtoru-4 Pearaja oleh IALE / PT Indah Alam Lestari Energi) akan dibangun di Tapanuli Utara, Sumut atas usaha BUMN dan BUMD dengan luas area sekitar 35 Ha via kontrak kerjasama selama 25 tahun, perusahaan menyerahkan kedua proyek ke Pemda setelah 25 tahun.
 PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membangun PLTMH (2x10 MW, USD1,5-2juta/MW, total USD40juta) di Lampung.
Lima belas (15) unit PLTMH di beberapa kecamatan di Toraja Utara (6 di kec. Rantebua, 3 di kec. Rinding Allo, 1 masing-masing di kec. Buntupepasan, Sanggalangin, Sa'dan, Buntao, Nanggala, dan Sesean Suloara) berhasil dibangun oleh BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) dengan dana berasal dari PDT (Kementrian Pembangunan Desa Tertinggal). Tahun 2011, kucuran dana dari PDT sebesar Rp.4 miliar juga digunakan untuk membangun PLTMH di 15 lokasi di kec. Baruppu, Buntupepasan, Balusu, Sa'dan, Denpina, dan Awan Rante Karua dengan memanfaatkan air dari sungai Sa'dan dan Maiting.PT ABM Investama Tbk (151 desa) dan PT Nagata (9-30 MW, Rp200miliar) juga membangun PLTMH di Toraja Utara.
PLN membangun PLTMH Lapopu 2x0,8 MW, di kec. Wanokaka, Kab. Sumba Barat yang selesai akhir tahun 2014.
Potensi hidro di Sumbawa, NTB sekitar 67,5 MW. Oleh karena itu, PT PLN akan membangun 11 PLTMH, yaitu, Banggo, Sumpee, Beh I, Beh II, Beh III, Rea I, Rea II, Bintang Bano, Rhee I, Rhee II, dan Belo. Potensi lokasi PLTMH NTB: Lombok Utara 10, Lombok Barat 15, Lombok Tengah 17, Lombok Timur 16, Sumbawa 17, Sumbawa Barat 9, Dompu 9, dan Bima 5.
PT Aek Simonggo dengan dana berasal dari PGLI 35% (PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk) dan Arcadia (Arcadia Energy Trading Pty Ltd.) 65% mengembangkan PLTMH Sei Wampu di Sumatra Utara yang konstruksinya dimulai Juli 2011 selama 24 bulan.
UMM (Univ. Muhammadiyah Malang) bekerjasama dengan Kementerian ESDM menghasilkan PLTMH di kompleks kampus UMM berdaya 70-100 kW di Sengkaling I, Malang. Kemudian UMM membangun PLTMH 35 kW di dusun Sumbermaron, Desa Karangsuko, Kec. Pagelaran, Kab. Malang dengan sponsor dari Australia Partnership dan Bank Dunia senilai Rp.408 juta yang digunakan untuk mesin pompa pengairan dan air bersih.
Potensi mikrohidro di Prov Jabar cukup besar, karena kawasan Jabar kaya aliran sungai deras. Proyek PLTMH yang sedang berjalan adalah di Kab. Bogor (Rp.855 jt), Kab. Cianjur (Rp.1,4 miliar), Kab. Garut (Rp.920 jt). PLTMH yang masuk jalur PLN adalah Cijedil (3 kW) di Cianjur, Curug Agung (788 kW) di Subang, Cinta Mekar (120 kW), Jembelair (100 kW) di Purwakarta, dan Cipayung (240 kW).
PLTMH Kawata (30 kW)  Luwu Timur, Sulsel, bantuan Kementrian Daerah Tertinggal (PDT) telah diresmikan oleh Bupati Lutim.
Empat unit PLTMH dengan kapasitas total 8,1 MW di Mamuju, Sulbar, yaitu Balla (2x350 kW), Kalukku (2x700 kW), Bone Hau (2x2MW), dan Budong-budong (2x1 MW) dapat menghemat BBM Rp 200 miliar/tahun. Beban puncak sekitar 12 MW, 67% dari air.

LAUT 

Sejak dikeluarkan UU no.17/2007 RPJPN 2005-2025, upaya menyusun Road map (peta jalan) pengembangan energi laut sedang dilakukan. Sementara, UU Kelautan sebagai dasar penyusunan road map yang mencakup tata ruang laut nasional 200mil (17.499 pulau, dan garis pantai 104.000 km terpanjang kedua dunia) telah disahkan DPR akhir Sep 2014 sekaligus hal itu sebagai cikal bakal pembangunan poros maritim. Oleh karena itu, para investor masih menunggu UU dan Road map tsb guna meyakinkan kepastian hukum berusaha dimana potensi ekonomi laut Indonesia ditaksir > Rp.3000 triliun, bahkan total potensi ekonomi laut termasuk SDA non-konvensional lainnya ditaksir lebih dari 1,2 triliun USD/th yang lebih besar dari PDB Indonesia (1 triliun USD/th). Mapping energi laut Indonesia ditampilkan (2011).
Ada tiga jenis energi laut yang dapat dimanfaatkan, yaitu gelombang laut, arus laut (Tidal+Ocean current energy), dan panas laut. Prediksi potensi teoritis ketiganya menurut ASELI sekitar 727 GW. Prakteknya, gelombang laut 1.995 MW, arus laut 18 GW, dan panas laut 41 GW.

GELOMBANG AIR LAUT (Wave Energy)
Potensi gelombang di Indonesia sangat tinggi, yaitu sekitar 2-2,5 m (Laut Selatan Jawa), dan pantai Barat Sumatera sekitar 4-5 meter. ASELI (th 2011) menyatakan gelombang laut mempunyai potensi teoritis 510 GW, potensi teknis 2 GW, dan potensi praktis 1,2 GW.
Metode Energi Listrik Gelombang Air Laut (400 W) karya mahasiswa dan dosen Politeknik Manufaktur Timah, Bangka Berlitung mendapat hak Paten dari Kementrian Hukum dan Ham RI, dan biaya hak paten ditanggung Dikti Kemendiknas.
Percobaan PLTGL-SB (Sistem Bandul) Zamrisyaf (pemilik paten No. HAKI P00200200854) mampu menghasilkan listrik 3 kW dan menerangi 20 rumah nelayan. Bila hanya 20% saja pantai Selatan Jawa dimanfaatkan untuk PLTGL, maka 6,5 GW dapat diperoleh, dengan potensi 40 kW per meter lebar gelombang. Daya yang diperoleh ini tidak jauh berbeda dengan perolehan listrik dari PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Investasi PLTGL-SB setara dengan PLTA. Dengan laut seluas 1 km2, daya listrik dari PLTGL 20 MW dapat diperoleh. Ponton (tongkang kecil) yang digunakan berbentuk delima yang sebagian terendam air, dengan panjang lengan 2 m, dan bandul seberat 10 kg. Bila tinggi gelombang 0,5-1,5 m, maka akan dihasilkan putaran  200 rpm dan daya sebesar 25,2 kW. Bila satu unit ponton terdiri atas 5 set bandul, maka daya akan mencapai 125 kW

EAL (ENERGI ARUS LAUT) (Tidal + Ocean Current Energy)
Arus laut di Indonesia berupa pasang surut yang diakibatkan oleh interaksi bumi, bulan, matahari, dan arus geostropik karena gaya Coriolis akibat rotasi bumi serta perbedaaan salinitas, temperatur, dan densitas. Arus pasang surut menyimpan energi hidro-kinetik, sehingga dapat dikonversikan menjadi daya listrik yang bergantung pada densitas fluida, penampang aliran, dan kecepatan alirannya. Selat-selat yang menghadap Lautan Hindia dan Samudra Pasifik teramati memiliki arus yang kuat.
Potensi EAL Indonesia menghasilkan listrik sangat besar, yaitu sekitar 5,6-9 TerraWatt (TW) (versi Bappenas). Angka itu kira-kira 30-50ribu kali PLTA Jatiluhur (187 MW). Bandingkanlah dengan daya listrik dari 430 unit PLTN dunia yang hanya sekitar 363 GW (2009) < 1 TW. Potensi teoritis arus pasang surut versi BPPT sebesar 160 GW, teknis 22,5 GW, dan praktis 4,8 GW.
Bappenas mendorong EAL sebagai sumber EBT yang handal guna memenuhi permintaan masyarakat pesisir 18 ribu pulau di Indonesia yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik nasional. Laju arus pasang-surut (tidal) di pantai umumnya kurang dari 1,5 m/detik, kecuali di selat-selat di antara P. Bali, Lombok, dan NTT dapat mencapai 2,5-3,4 m/detik. Arus pasang-surut terkuat tercatat di Selat antara P. Taliabu dan P. Mangole di kepulauan Sula, Maluku Utara dengan laju 5,0 m/detik.
Tahun 2004, BPPT / BPDP (Balai Pengkajian Dinamika Pantai) membangun purwarupa OWC (Oscilating Water Column, dinding tegak) pertama di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul dengan potensi gelombang 19 kW / panjang gelombang. Survei hidroseanografi menunjukkan bahwa PLTAL (Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut) akan optimal bila ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalaman 4-11 m. Putaran turbin akan dicapai antara 300-700 rpm dengan memiliki efisiensi 11%. Tahun 2006, OWC sistem Limpet / terapung diletakkan berdampingan dengan OWC th 2004, di tempat yang sama.
Tahun 2005: penelitian karakteristik arus laut dilakukan oleh Puslitbang Geologi kelautan (PPPGL) berkolaborasi dengan Program Studi Oceanografi ITB di selat Lombok dan selat Alas menggunakan turbin Kobold 300 kW.
Th 2006-2010: penelitian BPPT dilakukan di beberapa selat Nusa Tenggara (NTB dan NTT), di antaranya S. Lombok, S. Alas (diujicoba April 2012, 75 MW), S. Nusa Penida, S. Flores, dan S. Pantar. Selat-selat lainnya yang diperkirakan  memiliki arus laut cukup kuat adalah S. Sape, S. Linta, S. Molo, S. Boleng, S. Lamakera, dan S. Alor. Bila satu selat dapat dipanen energi sebesar 300 MW dengan asumsi 100 buah turbin masing-masing berdaya 3 MW, maka akan dihasilkan listrik sekitar 3GW untuk 10 selat. Tahun 2009, BPPT menguji purwarupa PLTAL sebesar 2 kW dan tahun 2011 sebesar 10 kW di S. Flores. Purwarupa pertama dibangun PPPGL bersama kelompok T-files ITB dan PT Dirgantara Indonesia yang diuji di S. Nusa Penida dan mampu menggerakkan generator listrik 5.000W.
2012-2014: purwarupa skala besar (>80 kW) dicoba untuk mengembangkannya menjadi skala komersial. Tahun 2025, PLTAL diharapkan akan mencapai 5% dari sasaran kebijakan energi 25% bauran energi.
Mahasiswa&Alumni ITB dari PT TFiles Indonesia (13 orang) berhasil memanfaatkan arus laut menjadi PLTAL 10 kVA. Th 2012. Mereka bekerjasama dengan Dinas PU-Binamarga menyalakan 1.000 lampu jembatan Suramadu. Semua komponen turbin buatan lokal kecuali magnet yang dibandrol dengan harga Rp.400juta dengan lifetime 5 tahun. Kerma diteruskan ke PLN Batam untuk memberikan listrik 1MW.

PANAS LAUT
OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) dibedakan 3 macam, daur tertutup, daur terbuka, dan daur gabungan (hibrid). Potensi Panas Laut: 222 GW. Lima lokasi sedang dijajagi, Selat Sunda, Bali Utara, Bali Selatan, Maluku Utara, dan NTT. Bali Utara terpilih untuk survei dengan kapasitas pembangkit sekitar 100 kWe.

ENERGI LISTRIK AIR LAUT
Dr. Sastro, Sambisari, Kalasan, Sleman, Yogya mengembangkan listrik dari air laut Parang Tritis via elektrolisis air laut (Grafit / Anoda, Seng / katoda; tegangan: 1,6 V) menggunakan aki bekas 12 V. Setelah itu, aki dibongkar dan diisi air laut. Dia mendapatkan tegangan 9,2-11,8V. Ini bukti bahwa samudra adalah baterai raksasa. Mahasiswa Teknik Kimia ITS juga mengembangkannya.

PLT GRAVITASI

Djoko Pasiro, Pamekasan, Madura, memanfaatkan tenaga Gravitasi bumi yang murni berasal dari kekuatan alam guna menggerakkan mekanik penarik dinamo generator untuk menghasilkan listrik. PLT Gravitasi daya kecil, sebesar 2.500 Watt membutuhkan biaya hanya 15 Juta rupiah.

PANAS BUMI (GOETHERMAL)

Potensi energi PLTP: 29.038 MW (29 GW), sedangkan kapasitas terpasang saat ini sebesar 1.341 MW atau 4,62% dari total potensi yang ada. Empat puluh (40) % potensi dunia ada di Indonesia, dan sekitar 276 titik potensi panas bumi telah ditemukan. Sepuluh (10)% dari total potensi itu (sekitar 2 GW) ada di Sumsel. Indonesia merupakan potensi terbesar di dunia, sehingga mendorong Indonesia untuk dijadikan pusat pengembangan panas bumi dunia yang tentu saja memerlukan SDM tangguh dari dalam negeri sendiri. Amerika, Filipina dan Selandia Baru tertarik berinvestasi di geotermal. Untuk itu, Amerika membantu ITB dan UI membuka jurusan geotermal, dan Selandia Baru membuka diri kepada putra Indonesia untuk belajar geotermal di sana.
Potensi energi geotermal ditemukan tersebar di sepanjang lajur Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Busur Banda hingga Sulawesi Utara, dan lajur Halmahera, Bali, dan Papua. Potensi tersebut dua kali cadangan minyak bumi Indonesia. Dr. SK Sanyal (GeothermEx Inc., California) menyinggung bahwa lebih dari 70% lahan Indonesia memiliki basis sumberdaya geothermal lebih dari 50 MW dan hampir setengahnya lebih dari 100 MW dengan sumur komersial antara 3-40 MW (rata-rata 9 MW), sedangkan sumur bor dunia hanya sekitar 4-6 MW. Tahun 2025, EBTKE menargetkan 12 GW dapat ditapis dari PLTP. Investor kurang tertarik berbisnis di PLTP ini. Mereka menginginkan harga jual listrik dari PLTP sekitar 11-14cent US$/kWh. Harga jual listrik th 2014 dinaikkan pemerintah menjadi 11,5-30 sendollarAS/kWh yang tercantum dalam Permen ESDM no.17 th 2014.
Laboratorium Geotermal I di Indonesia diresmikan Okt 2013 di Palembang, Sumsel, yg dibangun dan dioperasikan oleh PT Sucofindo.
Sejarah pemanfaatan PLTP di Indonesia diawali oleh usulan Van Dijk asal Belanda tahun 1918 untuk membangun PLTP di Kamojang, Jabar. Kamojang menghasilkan uap tahun 1926, kemudian dari 5 sumur uap hanya satu sumur yang produktif, tetapi tidak lama kemudian mati. Tahun 1964 PLTP dihidupkan kembali oleh Direktorat Vulkanologi (Bandung), PLN, dan ITB. Tahun 1971, PLTP Lahendong Sulut, dan PLTP Lempung, Kerinci dikembangkan. Tahun 1972, pengeboran 6 sumur di Dieng, Jateng, dilakukan, tetapi tak satu pun mengeluarkan uap. Tahun 1974, Pertamina dan PLN mengembangkan PLTP Kamojang 30 MW. Tahun 1977, Selandia Baru menyumbang NZ$24juta dari kebutuhan NZ$34juta, sisanya ditanggung Indonesia untuk Kamojang. Tahun 1978, tim Kanada ke Lahendong dan Lempung, Kerinci. Monoblok Kamojang diresmikan 27 November. Tahun 1981, Monoblok Dieng diresmikan 14 Mei; Pertamina diberi wewenang melakukan survei, eksplorasi dan eksploitasi PLTP di Indonesia. Tahun 1982, Pertamina meneruskan penelitian di Lahendong dan melakukan kontrak dengan UGI (Unocal Geothermal Indonesia) untuk PLTP di Gunung Salak, Jabar. Tahun 1983, PLTP Kamojang-I 30 MW diresmikan 1 Februari. Tahun 1987, PLTP Kamojang-II dioperasikan. Pertamina, Amoseas of Indonesia Inc., dan PLN melakukan kerma eksplorasi panas bumi di Gunung Drajat, Jabar. Tahun 1991, keluar Keppres meleluasakan Pertamina dan kontraktor mengeksplorasi dan mengeksploitasi panas bumi, dan menjual uap / listrik kepada PLN. Tahun 1994, PLTP Gunung Drajat-I beroperasi, PLTP Gunung Salak-I dan II beroperasi, dan Pertamina melakukan kontrak dengan 4 perusahaan swasta. Tahun 1995, Nota kesepahaman dilakukan Pertamina dan PLN untuk membangun PLTP Lahendong 1x20 MW, Sulut, dan PLTP Sibayak 2 MW, Sumut.
Kapasitas terpasang PLTP Indonesia: yaitu di PLTP Kamojang (200 MW) Jabar, Lahendong-1, 2, dan 3 (3x20 MW) Sulut, Dieng (60 MW) Jateng, Gunung Salak (375 MW) jabar, Darajat (255 MW) Jabar, Sibayak (2x5 MW) Sumut, Wayan Windu (227 MW) Jabar, PLTP Ulubelu-1 dan 2 (2x55MW) di Lampung. Kapasitas yang sudah terpasang itu menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia setelah Amerika dan Pilipina. Bila digenjot hingga 4.000 MW bukan tidak mungkin PLTP Indonesia akan menempati posisi nomor satu dunia. Program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II yang komposisi energi mix-nya mengarah ke Panas Bumi itu diharapkan akan meningkatkan pemanfaatan panas bumi hingga 17% (4.713 MW) pada tahun 2015.
Selain itu, PLTP lain yang masuk dalam target pemanfaatan panas bumi adalah PLTP Lahendong-4 (20 MW) (Sulut), PLTP Sarulla (330/3x110 MW) Sumut, PLTP Ulumbu (10/4x2,5 MW) di  Flores, NTT.

Sedang dibangun: PLTP Hululais-1&2 (110/2x55 MW) di Bengkulu; Sungai Penuh-1&2 (110/2x55 MW) di Jambi; PLTP Muara Laboh (2x110MW), Rp.4,3 triliun) Sumsel; Rajabasa (2x110MW, Rp.4,3 triliun); Sarulla-1 (1x110MW, Rp.6 triliun); Kotamobagu-1, 2, 3, & 4 (80/4x20 MW, Rp.2 triliun) di Sulut; Lainea (20 MW, Rp.250 miliar) Kendari; Tawaeli (30 MW, Rp.470 miliar) Palu; Tulehu (20 MW) di Ambon; Sembalun-1 (70 MW), Sembalun-2 (40 MW, Rp.500 miliar) Lombok Timur; Oka Larantuka (1x3 MW) Flores Timur; Atadei (5 MW, Rp.130 miliar) Nusa Tenggara; Lumut Balai-1, 2, 3, & 4 (4x55MW) Sumsel; Ulubelu -3 & 4 (2x55MW) Lampung; Kamojang-5 (1x30MW) Jabar, Karaha-1 (1x30MW) Jabar; dan Lahendong-5 & 6 (2x20MW) Sulut.

Sayangnya, sekitar 70% lokasi PLTP yang potensial berada di kawasan hutan lindung, sehingga terjadi konflik kepentingan dengan Kementrian Kehutanan, apakah membangun PLTP (hanya butuh lahan 0,3-4 Ha) atau mempertahankan kawasan konservasi. Untuk mengatasi hal tersebut, DPR telah mengesahkan RUU Panas Bumi (26/08/2014) sebagai revisi UU No. 27/2003, yang ringkasan isinya sbb:
  1. Panas bumi sebagai sumber energi alternatif. Eksplorasi & Produksi panas bumi tidak termasuk kategori pertambangan, sehingga dapat dilakukan di wilayah konservasi
  2. Penyelenggaraan oleh PemPusat & Provinsi, PemKab untuk pemanfaatan langsung & tidak langsung
  3. Pembinaan & Pengawasan IUP oleh Pemerintah.
Indonesia memerlukan investasi USD30 miliar untuk mengembangkan PLTP 11 GW hingga 2025. Memang, konsekuensi pemberian ijin PLTP di hutan lindung akan menyebabkan beberapa Ha hutan lindung akan terbabat. PT CGI (Chevron Geothermal Indon) belum mendapat ijin penambahan 9 Ha dari Menhut untuk membabat hutan karena telah melanggar daerah cagar alam Gunung Papandayan di Kertasari Bandung. Di sisi lain, PT PGE (Pertamina Geothermal Energy) berencana menanam 100juta pohon di sekitar lereng gunung berapi hingga 2015, salah satunya adalah 50 ribu pohon telah ditanam akhir th 2011 di sekitar PLTP Kamojang guna menahan resapan air dan mengurangi emisi karbon, agar panas dan air terjaga dan Kamojang terus menghasilkan uap.
Sebanyak 28 titik potensi panas bumi (14 proyek PLTP pada WKP existing sebelum terbit UU No.27/2003 dan 14 proyek PLTP pada WKP baru setelah terbit UU no. 27/2003, sekitar 12.069 MW) di hutan lindung sepanjang Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara telah disepakati agar proses perijinan proyek dari menteri Kehutanan segera berjalan. Permen 11/2008 mengajukan 5 WKP, yaitu Bonjol (Sumbar) 200 MW, Danau Ranau (Lampung, Sumsel) 210 MW, Mataloko (NTT) 63 MW, Ciremei (Jabar) 150 MW, dan Gunung Endut (Banten) 80 MW. Calon 4 WKP lainnya (masih disurvei) adalah Sembalun (NTB) 120 MW, Way Ratai (Lampung) 194 MW, Simbolon Samosir (Sumut) 225 MW, dan Telomoyo (Jateng) 92 MW.
PT Pasifik Geoenergy (PAGE) (PT (10%) dan Ormat Tech. Inc. (Amerika) (90%) teken kontrak menginvestasikan dana US$200juta (15 MW, hingga 60 MW dalam 3 tahap) untuk PLTP Hu'u Dompu, di Sumbawa, NTT.
PT SBG (Sintesa Banten Geothermal) mengeksplorasi PLTP (potensi 225 MW) di Gunung Karang Kab. Pandeglang.
Konsorsium (Medco Geothermal Indonesia, Ormat technology Inc / USA, Kyusu Electric Power Inc / Jepang, dan Itochu Corp. / Jepang) proyek PLTP Sarulla 330/3x110 MW, di Kab. Tapanuli Utara dan Selatan, Sumut, menggarap proyek senilai US$(1,6) miliar yang didanai oleh JBIC (Japan Bank for International Corp.) dan ADB (Asian Development bank) dan beberapa bank komersial. Tarif jual listriknya ke PT PLN sekitar US$0,0679/kWh. PLTP Sarulla-1 110 MW, Sarulla-2 110 MW, dan Sarulla-3 110 MW diharapkan beroperasi komersial pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Proyek PLTP terbesar di dunia itu mundur 3 tahun dari rencana semula. Pemerintah menyiapkan SKB 3 Menteri (ESDM, Keuangan, BUMN) guna mengatasi kisruh tersebut.
PT Medco Geothermal Indonesia berencana membangun PLTP Ijen 110/2x55 MW, di Jawa Timur senilai US$ 400juta pada tahun 2013 dengan lama konstruksi 2,5 tahun.
ADB (Asian Development Bank) mengucurkan dana US$500 juta untuk pengembangan 3 PLTP, yaitu PLTP Karaha Bodas (2x55 MW) (PGE=Pertamina Geothermal Energy), Garut, Sungai Penuh (55 MW), Jambi (PGE), dan Mataloko (2x2,5 MW) (PLN) di Ngada, P. Flores, NTT. Pengembangan PLTP Karaha Bodas di lahan sekitar 40 Ha dilanjutkan kembali setelah dibatalkan pemerintah (Soeharto) saat krisis ekonomi 1997. Pengoperasian PLTP Karaha Bodas diharapkan berjalan sekitar tahun 2014. PLTP Sungai Penuh berlokasi di hutan lindung, sehingga pembangunannya menunggu UU amandemen Panas Bumi.
PT PLN (Persero) dan dua pengembang PLTP, Pertamina GE dan PT Westindo Utama Karya (WUK), Maret 2011 menandatangani PPA (Power Purchase Agreement) untuk 6 PLTP (435 MW), yaitu 5 untuk PGE, 1 untuk WUK. PGE mengembangkan PLTP Lumut balai (2x55 MW) di Sumsel, PLTP Ulubelu-3 dan 4 (2x55 MW) di Tanggamus, Lampung, PLTP Lahendong-5 dan 6 (2x20 MW) di Sulut, PLTP Karaha Bodas (1x30 MW), dan PLTP Kamojang-5 (1x30 MW) di Jabar, sedangkan PT WUK mengembangkan PLTP Atadei (2x2,5 MW) di Lembata, NTT dg dana sekitar RP 1,9 triliun yg akan dimulai pembangunannya th 2013. Sementara itu, konsorsium yg terdiri atas PT Supreme Energy, GDF Suez, dan Marubeni Corp menandatangani PPA dg PT PLN guna membangun PLTP Rantau Dedap 2x110 MW dg harga yg disepakati 8,86 sen US$ yg akan beroperasi th 2017. SERB (PT Supreme Energy Rajabasa), GDF Suez, dan Sumitomo Corp. siap membangun PLTP Rajabasa, Lampung (2x110MW) yang akan beroperasi th 2018 setelah ijin dari Kemenhut diperoleh.
Investor asal Turki, Hitay Group, sedang mensurvei blok Tanjung Sakti dan Empat Lawang.
BPPT mengembangkan purwarupa PLTP skala kecil 3 MW di Kamojang, Jawa Barat. Proyek ini menggunakan komponan lokal termasuk turbin (gandeng NTP, Nusantara Turbin Propulsi anak perusahaan IPTN) dan generator (gandeng PT Pindad). Dana diperoleh dari APBN BPPT Rp 50 milyar. Di sisi lain, BPPT mengkaji PLTP Ulu Ere 25 MW di Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan. Th 2014, BPPT bekerjasama dengan Jerman melakukan riset PLTP siklus biner 500 kW di Lahendong, Sulut.
PT Supreme Energy bernegosiasi dengn PT PLN (Persero) guna membangun 2 PLTP di Sumatera, PLTP Rajabasa 220 MW di Lampung, dan PLTP Muaralabuh 220 MW di Sumatera Barat yang direncanakan beroperasi tahun 2015 dengan dana investasi US$650 juta per lokasi.
Proyek PLTP Gunung Slamet 220 MW, Jawa tengah, senilai Rp. 6 triliun (US$ 660 juta, 1 MW membutuhkan investasi US$ 3 juta) siap dibangun oleh 2 investor, PT Spring Energy dan PT Tri Energy.
Panax Geothermal Ltd. (Australia) dengan menggandeng PT Bakrie Power berminat untuk mengembangkan proyek PLTP Sokorja (P. Flores 30 MW) dan PLTP Dairi Prima (Sumut, 25 MW). PT Bakrie Power berpartisipasi di PLTP Ngebel-Wilis 165 MW, Jawa Timur.
Pemprov Jabar siap melelang PLTP Ciremai 150 MW, di Kab. Kuningan, ke BUMN, BUMD, dan BUMS.
PLTP Patuha 55 MW, Babakan, Sugihmukti, Pasir Jambu, Jabar akan beroperasi 2014.
Cadangan panas bumi baru yang ditemukan adalah Kebar (25 MW) Manokwari, Papua Barat; Tehoru (75 MW), Banda Baru (75 MW), dan Pohon Batu (50 MW) Maluku Tengah; Kelapa Dua (25 MW) Maluku Barat; Lili (75 MW), Mapili (50 MW), dan Alu (25 MW) Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Calon lokasi  PLTP yang belum disurvei adalah Sungai Betung/Kab. Kerinci (Jambi), Pesisir Selatan (Sumbar), Sungai Tenang/Kab. Merangin, (Jambi), Ciseeng (Bogor, Jabar), Lebak (Banten), Malawa/Kab. Maros, Pangkajene/Kab. Bone, dan Kab Barru (Sulsel), Gunung Dua dara (Kab. Bitung, Sulut), Gunung Pangrango (Bogor, Jabar).

BIOMASSA

Potensi energi biomassa Indonesia diperkirakan: 49.810 MW (50 GW) yang berasal dari perkiraan produksi 200 juta ton biomassa/tahun dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan dan limbah padat/sampah kota, sementara daya terpasang: hanya 1.618,4 MW (th 2011) atau sekitar 3,25 % saja dengan hutan produktif dan perkebunan seluas 23 juta Ha. Itu berarti pemanfaatan biomassa untuk energi listrik masih sangat sedikit. Oleh karena itu ESDM mengeluarkan Permen No. 27 th 2014 guna mendorong pemanfaatan biomassa (PLTBm) dan biogas (PLTBg) seoptimal-mungkin menjadi listrik. Program jangka pendek Kementrian ESDM meliputi promosi investasi, insentif fiskal dan pajak, kebijakan penetapan harga energi, penyebarluasan informasi, dan penelitian dan pengembangan.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa telah memanfaatkan biomassa sebagai pengganti batubara.
PT Growth Asia di bawah GSG (PLTU Biomassa, 2x15 MWe dengan TKDN 70%, Rp10miliar/MW dari BCA Bioler/Indon, generator/turbin/Tiongkok, modul pengatur turbin/AS) memanfaatkan limbah kering cangkang sawit (1 kWh listrik perlu 1,2 kg cangkang), serat sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk kayu dll. untuk menapis listrik. PLTU sejenis yang sedang dibangun dan direncanakan adalah di Sumatra (GSI, HS, PKU, DJB, PLM); Jawa (Indocoke); dan  Kalimantan (PNK, BDJ, BPN).

Kelapa Sawit
Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dan produksi minyak sawit tahun 2013 diperkirakan 24 juta ton dengan potensi biomassa dari residu minyak kelapa sawit dan 350 pabrik minyak kelapa sawit dalam jumlah besar pula, dalam hal ini tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekitar 27,5 juta ton basah (1 ton TBS/Tandan Buah Segar menghasilkan 200 kg CPO, limbah TKKS 250 kg, dan limbah cair 0,5 m3). Masih ada limbah sawit lain, seperti pelepah 4%, cangkang 6,5%, serat 13%. Pemerintah melarang membakar TKKS langsung guna menghindari pencemaran udara.
Riau sedang membangun PLTBiomassa dari pelepah sawit di Siak dan InhilKEI (PT Kreatif Energi Indonesia) membangun PLTBiogas 4 MW dari limbah cair kelapa sawit  pertama  di Langkat, Sumut, dengan investasi Rp.20miliar.  
Nurhuda (dosen Unbraw, Malang, Jatim) memanfaatkan cangkang sawit (kulit, batok sawit) sebagai bahan bakar kompor ciptaannya Biomass UB 03-1 (isi 1 kg, laju bakar 10 gr/menit selama 100 menit) yang bersistem semi-gasifikasi dengan aliran udara alami tanpa listrik sama sekali. Limbah cangkang tersedia sekitar 5% dari TBS, atau sekitar 5 juta ton/tahun dengan harga Rp300/kg di Kalimantan dan Sumatra, atau sekitar Rp1000,- di Jawa yang mampu mencukupi bahan bakar kompor untuk 13 juta keluarga di Indonesia.
BPPT dan AIST (National Institute for Advance Industrial Science and Technology) Jepang yang didukung oleh NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) bekerjasama (via MoU) meneliti, mengembangkan, dan merekayasa teknologi biomassa untuk pembangkit listrik.
Kerjasama Pemerintah dan Finlandia diteken 14/02/2011 membuahkan dana hibah 4 juta Euro selama 3 tahun (2011-2014). Pada tahap pertama, program difokuskan kepada pemanfaatan biomassa berbasis kayu dan limbah pertanian. Propinsi Kalimantan Tengah dan Riau dipilih Finlandia mengimplementasikan program tersebut.
Pemprov Bangka Belitung merencanakan membangun pembangkit listrik berbasis biomassa TKKS. Pasokan bahan baku TKKS dari kebun sawit seluas 80.000 Ha akan menghasilkan 20 MW.
PT Ajiubaya memanfaatkan biomassa di Sampit (Kaltim) dengan kapasitas 4-6 MW. PT Boma Bisma Indra memanfaatkan gasifikasi biomassa pada mesin diesel (listrik dan mesin giling) dengan kapasitas 18 kW di beberapa daerah di Kalimantan, Sumatra, dan Sulut.

Batok Kelapa
Pemerintah akan membangun PLT Biomassa berbasis batok kelapa dari Wonosobo/Kalimantan di Pulau Karimunjawa, Jawa Tengah dengan daya 0,5MW (2015). Hal itu dimaksudkan untuk mengganti PLTD yang saat ini beroperasi sangat mahal (Rp. 3 miliar/tahun). PLN Sulut, Sulteng, dan Gorontalo juga memanfaatkan batok kelapa sebagai umpan PLT Biomassa (0,1 MW).

Pelet Kayu/Limbah Kayu
Kebutuhan dunia: 12,7 juta ton (th 2010), Indonesia baru memenuhi 40 ribu ton th 2009. Investor Korsel, hasil kerjasama Korsel-Indonesia yang diteken Indonesia 6/3/2009 di bidang wood pellet energyPT Indoco Group membangun HTI seluas 200 ribu Ha dengan dana Rp.3 triliun guna memanfaatkan "pelet kayu" di Sulbar. Indoco group melalui PT Bara Indoco (68.015 Ha) dan PT Bio Energy Indoco (21.580 Ha) sudah menanam 89.595 Ha (45%). Sebelumnya, ia telah membangun pabrik pelet kayu (berdiameter 6-10 mm dan panjang 10-30 mm, dengan energi setara 4,7 kWh/kg) di Wonosobo, Jateng dengan kapasitas 200 ribu ton/tahun yang menggunakan kayu hutan rakyat dan limbah industri gergaji, limbah tebangan dan limbah industri kayu lain. Sementara, PT Solar Park Energy (Korsel) dan Perum Perhutani mengolah limbah kayu sengon dan kaliandra di Wonosobo. Medco Energy via PT Selaras Inti Semesta membangun HTI seluas 169.400 Ha guna memproduksi 200 ribu ton chip/tahun. PLN dan General Electric International Operation Co. bekerjasama membangun PLTBm 1 MW (dari serpihan kayu/tumbuhan organik) di P. Sumba (NTT) yang melahap lahan sekitar 100 Ha. Jepang akan memanfaatkan dahan & ranting kayu (305 dari pohon tebangan) guna membangun industri ET di Bengkulu sebagai pilot project di Indonesia (bila sukses akan diteruskan ke Kalimantan, Sulawesi dan Papua).

Limbah Jagung (+sekam padi)
Provinsi Gorontalo Mengembangkan PLBM (Biomassa) limbah jagung bekerjasama dengan LIG Ensulting Co Ltd (Korea Selatan) dengan kapasitas 12 MW. Tahun 2009, areal jagung seluas 105,479 Ha menghasilkan produksi 569.110 ton dan limbah berupa tongkol, batang, dan daun sebanyak 2,2 juta ton. Sementara, padi seluas 44.829 Ha menghasilkan limbah sekam padi 51.385 ton. PLTBm tersebut membutuhkan limbah jagung dan sekam padi 350 ton/hari. Studi kelayakannya telah selesai Januari 2011.

Jerami+sekam padi
Per 1 Ha sawah menghasilkan kira-kira 5 ton jerami dan 1 ton sekam. Artinya, 1 MW listrik dihasilkan dari 1500 Ha sawah. Sementara, luas lahan padi Indonesia sekitar 12,87 juta Ha (th 2010) yang berarti energi listrik setidaknya 8.600 MW dapat dipetik dari jerami+sekam padi, bila panen dilaksanakan setahun sekali (panen umumnya dilaksanakan dua kali setahun).
PT Xoma Power Nusantara menggandeng pengembang listrik swasta dari Rusia (JSC PromSvyaz Automatika) dan Babcock and Brown (Australia, penyandang dana sekitar Rp.220 miliar) akan membangun PLTBm dari jerami+sekam berkapasitas 10-22 MW (tergantung ketersediaan Jerami+sekam) di Serdang Bedagai (Sergai), Sumut. Kalori jerami+sekam sekitar 3.180 kalori/kg sedangkan batu bara sekitar 5.000-6.000 kalori/kg. Listrik sebesar 10 MW memerlukan 80.000 ton jerami+sekam.
PT Bioguna Sustainable Power membangun PLTBm 6 MW berbahan bakar sekam padi di Gerbang Kawasan Industri Makassar, Sulsel.

Gas TPA
Sampah diolah dengan 5 cara: 1) Ball Press, sampah dipres, padatan dibungkus plastik, untuk dijadikan penahan erosi, air yang keluar dijadikan pupuk; 2) Incinerator skala besar, 900-1800 ton dibakar; 3) GALFAD (Gasification, Landfill, an Aerobic Digestion), gas metan yang timbul di TPA dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik. 1 MW setara dengan 30-50 ton sampah; 4) Bio Pupuk: sampah terpilih dihancurkan dengan tekanan hingga menjadi bubur, lalu diberi mikroba dalam bak cerna tanpa oksigen; 5) Limbah menjadi Energi: sampah digunakan sebagai bahan baku PLBM. 1500-1800 ton/hari akan menghasilkan listrik 20 MW.
Sampah (ton/hari) di kota besar Indonesia sungguh besar jumlahnya. Jakarta menghasilkan sampah 6500, Bandung 1.100, Denpasar 2.000, Surabaya 1.800, Medan 1.700, Makassar 870, Palembang 750, Yogyakarta 300, dan Semarang 700. Dari sampah itu, limbah organik saja yang akan masuk ke TPA, sedangkan lainnya (kertas, plastik, logam, gelas, dll) didaur-ulang. Setiap 500 ton/hari sampah yang diolah setara dengan daya listrik 5-6 MW.
Pem. Swedia bekerjasama dengan  pemkot. Palu, Palangkaraya, dan Sleman membangun proyek pilot penyediaan listrik dari biogas yang berasal dari sampah.
Pemerintah Kota Bandung akan merealisasikan PLTSa di lahan 20 Ha yang akan menelan biaya sekitar Rp. 1,5 triliun.
Pemerintah kota Surabaya via PT Navigat Organic Energy Indonesia (PT NOEI) merealisasikan PLTSa 60 MW di Kec. Keputih. PT NOEI mengincar proyek PLTSa (18-20 MWe) di Jakarta senilai Rp.1,2 triliun di Sunter, Jakut. Harga beli listrik PLN dari PLTSa menurut Permen ESDM no. 19 th 2013 telah diperbaiki (Zero waste: Rp.1450-1798/kWh; sanitary landfill: Rp.1250-1.598/kWh).
Pemkot Denpasar, Pemkab Badung, Gianyar, dan Tabanan (SARBAGITA) bersama dengan PT NOEI membangun IPST (Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu) guna mengubah sampah menjadi energi listrik 9-10 MW. IPST dibangun di TPA Suwung, Denpasar di atas tanah seluas 10 Ha (tersedia 40 Ha). Jumlah sampah dari kawasan SARBAGITA yang diperkirakan sekitar 800 ton/hari diubah menjadi energi listrik menggunakan teknologi GALFAD. Sampah sekitar 165 ton di Bengkala, Singaraja di TPST diolah menjadi gas metan (PLTG) guna menggerakkan generator menjadi listrik dengan sasaran hingga 2 MW.
PLTSa di Bantar Gebang (proyek 700 milyar) di Bekasi memproduksi listrik 10 MW dengan teknologi GALFAD dan kapasitas itu akan terus dinaikkan hingga 100 MW pada tahun 2014 guna memanfaatkan sekitar 6.000 ton sampah/hari dari Jakarta, dan 1.000 ton/hari dari Bekasi. Pertamina yang bekerjasama dengan PT Gondang Tua Jaya dan Solena Fuels ikut terlibat dalam pemanfaatan sampah Bantar Gebang tersebut dengan menyuntikkan dana sekitar US$300juta guna membangun PLTsa lebih besar, 138 MW, (terbesar di dunia), yang akan beroperasi th 2016. Di samping itu, pabrik kompos dari sampah organik telah dibangun dan telah mencapai 60 ton/hari dengan target 300 ton/hari pada 2013. Capaian PLTSa tersebut sempat disampaikan di Pertemuan Penanganan Perubahan Iklim C40 di Sao Paulo, Brasil, 1-3 Juni 2011. Kesuksesan di Bekasi itu akan ditularkan pula ke Ciangir, Legok Tangerang, dan Marunda, Jakarta Utara. IPST Ciangir berada di atas lahan 50 Ha dan 48 Ha lainnya sebagai lahan hijau milik Pemerintah DKI Jakarta yang akan menerima 1.500 ton sampah/hari dari Jakarta Barat dan 1.000 ton/hari dari Tangerang, sedangkan IPST Marunda dibangun di atas lahan 76 Ha di kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang disiapkan untuk menerima sampah dari Jakarta Utara dengan kapasitas desain perolehan energi listrik sebesar 10 MW.
Sisa sampah organik di Bantar Gebang diubah menjadi pupuk organik yang dikelola oleh PT Gondang Tua Jaya dengan kapasitas produksi 350 ton/hari dan PT Mitra Patriot milik Perusda Bekasi (50 ton/hari) yang potensinya dapat ditingkatkan menjadi 2.000 ton/hari.
PT Gikoko Kogyo Indonesia mengembangkan PLT gas metan dari TPA di Makasar, Bekasi, Pontianak, dan Palembang.
PLT Sampah (Biometha green) menjadi pilot project di perumahan Griya Taman Lestari, Sumedang.
Workshop Pelatihan / training pengelolaan sampah menjadi biogas dilakukan di Kel.Cipadung, Kec.Cibiru, Jabar.

BIOGAS (GAS METAN)

Biogas dapat menjadi solusi alternatif untuk kompor, penerangan dan energi listrik dari genset biogas. UGM telah mengembangkan teknologi purifikasi biogas (dari gas impuritas seperti CO2, H2S, uap air, dll. menggunakan resin / tukar ion) dan menyimpan biogas dalam tabung agar dapat digunakan pada mesin-mesin/genset.

Limbah ternak/manusia
Peluang pengembangan biogas Indonesia sangat menjanjikan. Th 2009, Indonesia memiliki 13 juta sapi ternak dan perah, 28 juta kambing/domba/kerbau dan 238 juta penduduk Indonesia penghasil biogas yang amat besar
Potensi: 1 juta unit (bak cerna = digester). Tiga ratus unit yang memanfaatkan kotoran sapi dibangun di DME Haurngombong, kec. Pamulihan, Kab. Sumedang, Prov. Jabar. Energi biogas baru dimanfaatkan 40% yang membangkitkan 130 instalasi, sedangkan satu instalasi melayani 3-4 KK. SDAEM Sleman, DIY memanfaatkan kotoran sapi di 7 desa.
Koperasi SAE Pujon (beranggotakan 7000 orang peternak sapi) yang bermitra dengan HIVOS (LSM Belanda), Kab.Malang siap membangun 2000 unit reaktor Biogas Rumah Tangga (BIRU) hingga tahun 2012. Hingga Feb 2013, sekitar 2609 reaktor biogas sudah terbangun di Malang, dan 5100 reaktor biogas di Jatim, sementara target nasional sekitar 8300 unit. HIVOS juga melirik P. Sumba sebagai program EBT masa datang. Pemerintah dan HIVOS juga membidik NTB, Bali (Gianyar, Bangli, Buleleng, Tabanan, Badung, Klungkung), Sulsel, Jabar, Jateng, Jatim, dan DIY untuk mencapai target itu.
Seekor sapi dewasa menghasilkan sekitar 25 kg kotoran/hari. Setiap 20 ekor sapi menghasilkan 20 m3 biogas/hari yang setara dengan energi listrik 12 kWh yang cocok untuk 6 rumah selama 10 jam dengan daya 100-200 Watt/rumah.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, provinsi DIY, memanfaatkan biogas dari limbah ternak dan limbah pabrik tahu dengan membangun bak cerna 136 unit yang dikembangkan sejak tahun 2008. Penduduk Kulon Progo juga telah membangun 200 unit yang tersebar di Kab. Kulon Progo. Daerah yang dikenai Pilot Project adalah Lendah, Temon, Wates, Pengawasih, dan Galur. Tahun 2011 pemerintah memberikan dana Rp.388juta untuk membangun 21 unit bak cerna bagi keluarga miskin yang memiliki sapi dan kerbau. Setiap unit memerlukan dana Rp.18juta untuk 3 KK yang membutuhkan kotoran 3-4 ekor sapi. Daerah lain di Kulon Progo yang juga mengembangkan biogas hingga mencapai 160 unit adalah desa Pendoworejo, dan Girimulyo.

Buah Busuk
Banyak sekali buah dan sayur mayur busuk di pasar tradisional Indonesia yang juga berpotensi untuk dijadikan biogas dan menghasilkan listrik.
UGM bekerjasama dengan pemerintah Swedia mengembangkan teknologi pengelolaan limbah buah busuk menjadi pembangkit listrik biogas di pasar buah Gemah Ripah Gamping, Sleman, DIY (menghasilkan 10 ton buah busuk/hari, dan hanya 4 ton/hari yang dimanfaatkan menjadi sumber listrik).  Sekitar 4 ton buah busuk/hari (terutama semangka & melon) difermentasi dalam 2 bak cerna (digester) (D = 8 m dan t = 8 m) (anaerob) sehingga menghasilkan gas metan yang menuju ke generator yang menghasilkan listrik sekitar 548 kWh/hari untuk 500 KK (termasuk penerangan jalan dan pasar Gemah Ripah) dengan dana 1,6 milyar.
Pemkot Balikpapan berencana membangun PLT Biogas di sekitar pasar-pasar tradisional Balikpapan guna memanfaatkan limbah sayuran dan buah-buahan (sekitar 292-310 ton/hari) sekaligus memenuhi kebutuhan listrik di pasar selain pemanfaatannya sebagai kompos. Pilot project dilakukan di Pasar Pandansari dengan harapan studi kelayakan selesai th 2012. Satu PLT Biogas diduga akan menelan biaya Rp 800 juta termasuk transmisi dan instalasi pada lapak pedagang di pasar. Keberhasilan PLT Biogas di Pandansari akan ditularkan ke pasar Klandasan dan Pasar Induk.

Ampas Tahu
Di Indonesia terdapat 84.000 industri tahu yang menghasilkan limbah cair 20 juta m3/tahun. PTL BPPT (Pusat Teknologi Lingkungan BPPT) membantu mengolah limbah tsb menggunakan Fixed Bed Reactor di desa Kalisari dan Cikembulan, Kab. Banyumas dengan dana Kemenristek. Dari satu m3 limbah menghasilkan 6.500 liter biogas. Sementara, biogas juga dapat diperoleh pula dari ampas tahu. Sekitar 2,4 liter larutan ampas tahu dapat menghasilkan 381,82 liter biogas (via bak-cerna).

Limbah Sawit
PTPN V Pekanbaru mengembangkan pembangkit listrik dengan memanfaatkan limbah cair (PLT Biogas) dan limbah padat (PLT Biomassa) tanaman sawit. Th 2011, dari biogas diperoleh 13,8 MW, dan dari biomassa diperoleh 35,6 MW. Pada th 2012, ditargetkan 14,8 MW dari biogas dan 38,3 MW dari biomassa. Potensi listrik dari pemanfaatan tandan buah segar (TBS) adalah 35,6 MW (2011) dan 38,3 MW (2012).

Limbah Mendong/eceng gondok, dll
Mahasiswa FRI (Tel-U) Bandung memanfaatkan limbah kerajinan mendong (tumbuhan rawa sebagai bahan untuk tikar, tas, dompet, tempat pensil/sampah/tisu/toples, pigura, dll.) menjadi biogas. Sementara, Distamben Kalsel , Kaltim (Kukar) (danau Jempang 15.000 Ha, Danau Semayang 13000 Ha, dan Danu Melintang 11.000 Ha oleh PT Cipta Visi Sinar Kencana), danau Tondano (Minahasa), (waduk Cirata (Jabar), Saguling (PT IP), Cihampelas, Batujajar dll memanfaatkan eceng gondok menjadi biogas dan bioelektrik. Akan tetapi, eceng gondok di waduk-waduk lainnya misalnya di waduk Sunter Utara, waduk Pluit, Jakut, dan waduk Benanga (Samarinda) belum dimanfaatkan untuk menghasilkan ET

Rumput laut
Susanto, Undip Semarang, memanfaatkan rumput laut Sargassum, Gracilaria dan Padina sebagai penghasil biogas yang masing-masing dengan kadar metan rerata 18,23%, 17,1% dan 14,58%. 

CBM (Coal Bed Methane) (Sweet Gas)

Potensi: 6 terbesar dunia, 453,3 triliun kaki kubik (TCF) (cadangan terbukti 112,47 TCF, potensial 57,60 TCF) (6% cadangan total dunia) tersebar di 11 cekungan, di antaranya adalah 1) high prospective: Sumsel (183TCF), Kalsel (Barito, 101,6), Kaltim (Kutai, 80,4), Sumteng (Riau, 52,5); 2) Medium: Tarakan Utara (17,5), Berau (8,4), Ombilin (0,5), Pasir/Asam-asam (3), dan Jatibarang/Jabar (0,8); 3) Low prospective: Sulawesi (2), dan Bengkulu (3,6). Th 2011 pemerintah memiliki 23 + 13 + 10 + 4 kontrak WK CBM. Tahun 2015, diharapkan mencapai 500juta ft3/hari (500 MMSCPD), 1000 (th 2020), dan 1500 (th 2025). Rig untuk CBM lebih murah dari rig migas biasa, pengeboran hanya sekitar 700-1000m, keluar pertama adalah air, kemudian gas metan. Sekitar 20 Rig CBM (Lemigas+ Balitbang ESDM+UPN) akan dibangun.
Kandungan gas metan dalam CBM adalah 93-97% (ion Cl ~400 ppm, sisanya gas CO2, dll. di-flare).
Operator West Sangatta I, Sekayu, Tanjung Enim, Barito Banjar, dan Sanga-sanga (Kaltim) menghasilkan gas setara energi listrik 15,75 MW.
VICO + PLN mengoperasikan PLT CBM pertama di Indonesia (2 MW), di lapangan Mutiara, Kutai Kartanegara dg investasi sekitar Rp.2 Triliun. Biaya pembangkitannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan PLT rerata di Kaltim (Rp850/kWh) yaitu sekitar Rp1.150/kWh, tetapi masih di bawah solar (Rp2600/kWh).
Pertamina (PHE Metana) mengelola 2 blok di Kalimantan dan 7 blok di Sumatera (misalnya Blok Muara Enim III, Ds.Jiwa Baru, Kec.Lubai, Muara Enim, Sumsel).
Perusahaan lain terlibat CBM: Ephindo, Medco Energy International, Pertamina Hulu Energi (PHE), Energi Mega Persada, dan Bumi Resources.

SHALE GAS

Shale Gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi yang tersembunyi dalam perut bumi, di kedalaman sekitar 2000-2300m. Teknologi pengeluarannya: Horizontal drilling dan hydraulic fracturing. Pertamina yang pertama mengusahakannya dengan menggandeng AS (negara yg lebih dulu berpengalaman di bidang shale gas). Pengusahaan Shale gas (migas non konvensional, MNK) diatur dalam Permen ESDM No.5 tahun 2012. Shale gas dan CBM (distudi 2010-2013) termasuk MNK, selain itu ada Shale oil, tight sand gas (distudi 2014-2016), metana batubara, dan metan hidrat. Th 2017, diharapkan gas-gas tsb dikomersialkan.
Potensi: diperkirakan sekitar 574 TCF (sementara CBM: 453,3 TCF; dan Gas bumi 334,5 TCF). Studi bersama diminta oleh 10 investor bersama 5 Perguruan Tinggi yang ditunjuk pemerintah: ITB, UGM, UPN, Univ. Trisakti, dan Univ. Padjadjaran. Saat ini ia tersedia di 7 cekungan: Sumatera (3) (Baong shale, Telisa shale, dan Gumai shale), P. Jawa (2), Kalimantan (2), dan Papua (1) sebagai Klasafet formation. Ladang pertama shale gas adalah di WK Sumbagut (Sumatera Bagian Utara) yang dioperasikan oleh PT PHE MNK Sumbagut (18,56 TCF) sejak 2011.

GAS HIDRAT METAN

Gas hidrat metan berada di dasar laut yang dikenal sebagai sumber gas alam bawah laut atau sumber bencana alam di laut bila ceroboh menanganinya. BPPT, BGR Jerman, dan JAMSTEC-Jepang mengobservasi bahwa cadangan gas Hidrat Indonesia sekitar 17,7 triliun m3 (amat besar) di perairan Selatan Sumsel, selat Sunda, dan Selatan Jawa Barat (cadangan gas alam Natuna sekitar 1/3-nya), sedangkan di laut Sulawesi sekitar 6,6 triliun m3. Teknologi eksplorasi gas hidrat (yang harus ditangani sangat hati-hati) belum dikuasai Indonesia. Jepang berhasil mengeksplorasi gas hidrat untuk pertama kalinya pada bulan Maret tahun 2013, sehingga diharapkan teknologi tsb akan dikomersialkan tahun 2016.

BATUBARA TERCAIRKAN (Liquefied Coal) 

Kilang batubara tercairkan dengan kapasitas 800.000-1,1juta barrel akan dibangun di Sumsel oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT TBBA) yang bernegosiasi (MoU) dengan South Africa's Sasol Ltd. dengan investasi US$5,2miliar. Perusahaan itu juga bernegosiasi dengan PT Pertamina dan PT TBBA dengan dana US$10miliar guna memproduksi batubara tercairkan sekitar tahun 2015. Tempat kilang lain yang cocok adalah Musi Banyuasin, Sumsel (2,9 miliar ton batubara), dan Berau, Kaltim (3 miliar ton batubara). Sekitar 30.000 ton batubara akan menghasilkan 130.000 barrel minyak/hari.

BATUBARA TERGASKAN (Gasified coal

PLN melakukan ujicoba batubara tergaskan (syngas, Synthetic natural gas) sebagai bahan bakar PLTD (konversi BB diesel ke gas) dengan menggandeng PT Bio Energy Prima Indonesia (via MoU) di PLTD Sorek 250 kW.
PT Sekawan Intipratama Tbk meneken kontrak dengan ProCone GmbH (kontraktor EPC) asal Swiss memulai proyek gasifikasi batubara ke etanol dengan nilai investasi 500-750 juta Euro untuk produksi 0,48-1,35juta ton etanol/tahun (beroperasi akhir th 2016). Tanah seluas 60 Ha telah dibebaskan yang berdekatan dengan batubara (5ribu Ha) di Kutai Barat, Kaltim.

(Bersambung ke bag. 2 / to be continued)