Pages

Kamis, 07 Desember 2017

PELET KAYU / WOOD PELLET

Pelet kayu menjadi bahan bakar (BB) primadona saat ini terutama di negara yang memiliki 4 musim sebagai bahan bakar pengganti batubara (sebagian / seluruhnya) dalam PLTU batubara, penghangat ruangan, kompor biomassa, dan pengeringan pada jasa laundry. Sementara, pemasaran pelet kayu di dalam negeri diatur dengan model satu paket bersama kompor atau burner untuk digunakan di rumah tangga (pengganti LPG), pabrik-pabrik pengolahan makanan seperti ayam, tahu, gudeg Jogja, restoran / warung makan, tungku pengering teh / tembakau / jagung / ikan, pengusaha gorengan, dll.

Tingginya permintaan pelet kayu di LN disebabkan oleh negara tujuan ekspor batubara (Korsel, Jepang, China, dan India) secara perlahan beralih ke pelet kayu Indonesia yang berkualitas baik, ramah lingkungan, dan terbarukan (terbukti dari permintaan pelet kayu di pasar internasional meningkat pesat). Di sisi lain, China secara bertahap juga mulai melarang penggunaan batubara (kalori rendah) bagi warganya (karena polusi dan emisi sulfur yang tinggi). Australia dan AS meminimalkan penggunaan batubara. Indonesia juga secara perlahan mengganti penggunaan batubara dengan pelet kayu. 

Menaiknya harga batubara akibat pengetatan produksi th 2016, menyebabkan  harga batubara acuan (HBA) Indonesia di pasar internasional (November 2016) mulai merayap naik menjadi US$84,89/ton yang sebelumnya, (Oktober 2016) US$69,07/ton, bahkan menembus USD100/ton pada bulan Desember 2016, yaitu menjadi US$101,69/ton. Akan tetapi, HBA bulan Mei 2017 menurun menjadi US$83,81/ton (6322kcal/kg, FOB vessel), sedikit naik bulan Juli 2017 US$78,95/ton, naik lagi pada bulan Oktober 2017 (93,99 US$/Ton). Sebelumnya, harga batubara yang terdaftar di Ditjen Minerba (September 2017) bervariasi dari 22.74 USD/ton (2.995kcal/kg) hingga 94.67 USD/ton (7.000kcal/kg). 

Di sisi lain, pengusaha batubara diminta melengkapi usahanya dengan membangun PLTU mulut tambang (RUPTL 2017-2026) dengan teknologi ramah lingkungan sub-critical pada boilernya guna mengurangi jumlah ekspor (yang pada gilirannya akan menaikkan harga) sekaligus mempercepat program realisasi daya listrik 35.000MW.

Salah satu pemanfaatan batubara adalah mengkonversinya menjadi syngas (gas sintetik) melalui teknologi gasifikasi (gasifikasi plasma) untuk mengubah syngas menjadi listrik, atau zat lain seperti metanol, DME, ammoniak, dll.

Ada beberapa alasan batubara akan terhempas oleh pelet kayu:
  • Pelet kayu adalah BB terbarukan (selalu ada, sekaligus dapat mengganti posisi batubara di masa depan), dan ramah lingkungan, sedangkan batubara tidak terbarukan (habis) dan kurang ramah lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan batubara di level internasional berkurang secara bertahap. Jadi, ada peluang untuk menambah pasokan listrik nasional via BB pelet kayu. Kalori pelet kayu setara dengan kalori batubara rendah.
  • Produksi karbon lebih rendah dari batubara.
  • Biaya listrik yang dihasilkan pelet kayu pengganti batubara sama dengan yang dihasilkan gas alam yang tentu saja lebih murah dari batubara.
  • Staf yang diperlukan PLTU pelet kayu (termasuk penyiapan infrastruktur pelet kayu) lebih banyak (menambah lapangan kerja), yaitu sekitar 3.480 orang, sedangkan PLTU batubara dengan daya yang sama membutuhkan staf sekitar 2.540 orang.
  • Permintaan pelet kayu berkelanjutan dalam jangka panjang memotivasi pemangku kepentingan untuk melestarikan dan memperbaiki manajemen hutan, sekaligus mengembangkan lahan kritis (bekas tambang batubara, emas, timah, nikel, dll.) menjadi hutan tanaman industri khusus pelet kayu (misalnya kayu Kaliandra Merah (KM), Mahang / Macaranga Gigantean, Karamunting / Melastoma Malabatricum)
  • Permintaan pelet kayu yang datang dari segenap penjuru dunia terus berdatangan ke Indonesia. Hal itu seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Indonesia sebenarnya mampu menghasilkan listrik biomassa ~49,8 GW (Indonesia cuma perlu tambahan listrik nasional 35 GW). Potensi biomassa Indonesia sekitar 146,7juta ton/tahun yang berasal dari residu padi (150GJ/th), kayu karet (120 GJ/th), residu gula (78 GJ/th), residu kelapa sawit (67 GJ/th), dan sampah organik lain (20GJ/th).

Seperti diketahui, pengguna pelet kayu dunia th 2013 (23,6juta ton) tercatat adalah negara Jepang, Korsel, China (2juta ton), Eropa (12juta ton) (pengguna sekaligus penghasil terbesar, yaitu Jerman, Swedia, Latvia, dan Portugal), AS (3juta ton), Rusia (2juta ton) dan Kanada (3juta ton). 
Meski negara-negara pengguna pelet kayu tersebut mampu memproduksi sendiri, tetapi mereka masih belum mampu mencukupi kebutuhan pelet kayu DN mereka (harus impor), karena pertumbuhan kayu di negara sub-tropis lebih lambat dibandingkan di negara tropis. Contoh: th 2013, Eropa butuh 19 juta ton [10 (panas) + 9 (industri)] (kurang 7juta ton), Kanada (4juta ton) (kurang 1juta ton), Asia (Jepang & Korsel) kurang 1 juta ton. Kedua negara Asia itu akan menjadi importir pelet kayu terbesar pada dekade mendatang (diduga sekitar 5juta ton th 2020). Th 2016,Jepang impor pelet kayu 400ribu ton/t (setelah musibah nuklir Fukushima th 2014), sedangkan Korsel butuh 1,7 juta ton.

Produksi pelet kayu dunia mendekati 28juta ton (2015, panas 15juta, industri 13juta). Sementara, pemasaran pelet kayu global untuk pembangkit listrik dan panas terus tumbuh sekitar 14,1% per tahun. Tahun 2020, kebutuhan pelet kayu diperkirakan melambung hingga 80 juta ton. Oleh karena itu, beberapa negara, misalnya Korsel, Jepang, Eropa (impor ~14juta ton/2014), AS, dan Kanada berusaha mencari pasokan bahan baku ke negara tropis yang salah satunya ke Indonesia. Berikut contoh harga pelet kayu di Eropa (Swiss, Austria, dan Jerman) yang dapat dilihat dalam Gambar di atas (~centEuro/kg).

Permintaan pelet kayu di Korsel
Sejak th 2012 Korsel menargetkan penggunaan Energi Terbarukan minimal 2%, dan th 2022 penggunaan biomassa harus memasuki 10%, yang 60%-nya berasal dari pelet kayu. Feb 2015, pasar Korsel perlu pasokan lebih dari 280.000 ton untuk kebutuhan rumah tangga dan industri makanan & minuman. Sekitar 70,3% pelet kayu Korsel adalah pelet impor (Indonesia hanya memasok >7% ke Korsel, tepatnya sekitar 8.940 ton dari 122.447 ton pada th 2012, dan sisanya diimpor dari Rusia, Malaysia, dan Vietnam).
Pasokan pelet kayu ke Korsel
Saat itu, harga CIF pelet kayu Indonesia termurah (US$131/ton, di bawah Vietnam US$144/ton, dan Malaysia US$141/ton). Impor dari Indonesia diteruskan dengan adanya kerma perusahaan Korsel Depian Co. Ltd. dengan BUMN PT Inhutani III (mengembangkan hutan tanaman industri 5000-8000Ha di Pelaihari, Kalsel via PT SL Agri guna mengekspor pelet kayu hingga 100.000 ton, th 2015). Di masa depan, beberapa perusahaan Korsel telah menjajagi kemungkinan untuk mengimpor pelet kayu dari negara Australia, Vietnam, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Kanada, dan AS. Korsel mewajibkan PLTU-nya menggunakan pelet kayu. 

Kepada pemilik lahan (ratusan/ribuan hektar) di Indonesia dan tertarik di bisnis pelet kayu dimohon berhati-hati terhadap pengusaha asing (calo) yang membeli serbuk kayu DN dengan harga murah, karena mereka akan mengekspornya dalam bentuk pelet kayu ke Korsel atau Jepang. Anda harus memproduksi pelet kayu sendiri di DN dan mengekspor sendiri ke LN.

Daftar: Perwakilan Korsel di Indonesia, Perwakilan Indonesia di Korsel, Lembaga / Asosiasi Kayu Pelet di Korsel, dan Pengusaha / Importir Korsel dapat dilihat disini (Mei 2014). 
Pelet Bagas
Serbuk Gergaji, jerami padi/gandum, sekam padi, bagas / ampas tebu (mengandung gula 2,5%, nilai kalori 1.825kKal), batang jagung/sorgum, sampah daun, rumput, ranting, Palm EFB (tankos sawit), dan bagian tanaman yang telah dianggap limbah dapat menjadi sumber pelet kayu. Pelaku usaha pelet kayu mulai menanam kayu cepat panen yang minim perawatan, dan kandungan energinya tinggi sebagai campuran limbah tsb. Sebagai contoh: Petai cina (Leucaena leucocephala), kaliandra merah (KM) (Caliandra calothyrsus), dan Gamal (Gliricidia sepium). Tujuan membuat pelet kayu adalah nilai kalor limbah kayu tersebut hendak ditingkatkan agar menjadi BB berkalori mendekati batubara (5.000 - 6.000 kKal), yaitu sekitar 4.200 - 4.800 kKal dengan kadar abu sekitar 0,5-3%.

Kaliandra Merah
Kaliandra merah (KM) merupakan bahan baku terbaik pelet kayu dibandingkan petai Cina, gamal, dan sengon buton dari sisi laju tumbuh. Energi terkandung dalam KM 4600kkal/kg, arangnya 7.400 kKal/kg, satu kg pelet KM setara dengan energi thermal 5,35kWh atau listrik 1,355 kWh. Penyuburan tanah melalui fiksasi nitrogen dalam tanah, dan berat jenis, sehingga kadar abu dapat lebih rendah. Lagipula, umur KM dapat mencapai 29 tahun sekali tanam, dan dapat dipanen 2 kali setahun, sehingga perlu 1,5 tahun menghasilkan listrik. Satu Ha KM dapat menghasilkan kayu 20-65m3/tahun atau 20-35ton/tahun. Untuk kapasitas 100kW, biaya investasi sekitar Rp.5,5miliar (jan 2017) sudah termasuk penyediaan lahan kritis 30Ha (sewa lahan Rp.1,5miliar selama 20 tahun, bibit, dan penanaman / pemeliharaan 250.000 pohon).

KM tidak hanya sebagai bahan baku pelet kayu, daunnya sebagai pakan ternak (protein tinggi), dan bunganya sebagai ladang ternak lebah (produksi madu berasal dari nektar bunga KM terkenal di dunia, Satu Ha KM menghasilkan madu 1 ton/th, sedangkan di Eropa dapat mencapai 2 ton/th) selama 15 tahun tanpa perawatan berarti.
Lebah menghisap sari bunga KM
KM tumbuh baik di ketinggian 400-600m di atas muka laut, pH~5, dan sedikit air. Tanaman tsb sekaligus berfungsi sebagai tanaman penutup tanah sedang (perdu) (penyubur tanah / konservasi lahan / penahan erosi di tanah miring / tanah bekas tambang seperti timah, batubara, emas, nikel, dll) guna menghindari banjir dan menghidupkan lahan kritis, kering, berpasir, dan tandus, karena berfungsi sebagai penyubur tanah, akar tunjangnya menghunjam ke dalam tanah, dan akar halus lainnya yang memanjang hingga ke permukaan tanah. KM berfungsi menjaga kelestarian alam.

Beberapa contoh lokasi penanaman KM
  • 100ribu batang di lahan kritis di Wonogiri bekerjasama dengan Kementerian PDT
  • P Singkep (Kep Riau) (di tanah kritis bekas tambang timah);  
  • Kab. Gorontalo Utara (PT Citra Makmur kencana). 
  • Contoh pengembangan KM sebagai kayu pelet (ET) pengganti batubara secara swadaya masyarakat (tidak ada bantuan pemerintah) dilakukan di Butur (kab. Buton Utara, Prov. Sulawesi Tenggara). Awalnya pembibitan KM hanya 100.000 pohon dikembangkan di Kulbar (kec. Kalisusu Barat) oleh GANTI (Gerakan Nelayan Tani Indoneisa) Butur, dengan target satu juta pohon di masa depan. MoU dengan PT Energi Indonesia (pabrik pelet kayu) diteken untuk membeli KM dari para petani.
  • Serbukkan bahan terlebih dahulu
  • letakkan dalam mesin pengering-putar guna menurunkan kadar airnya hingga mencapai 10%
  • Masukkan serbuk kering (yang telah dicampuri tepung tapioka; tak perlu untuk bagas, karena sudah mengandung gula) untuk dipres dan dipanaskan sekitar 180 oC ke dalam mesin pembuat pelet dengan hasil akhir pelet kayu berbentuk silindris berdiamater 6-10 mm, panjang 1-3 cm, dan kepadatan 650 kg/m3.
  • bungkus/pak, kirim ke fihak lain

Karakteristik produk BB pelet

Pelet batang
Bahan dasar pelet ini adalah, batang jagung, jerami gandum, jerami padi, kulit kacang tanah, tongkol jagung, ranting kapas, batang kedelai, gulma (rumput liar), ranting, dedaunan, serbuk gergaji, dan limbah tanaman lainnya. Setelah bahan baku diremukkan, lalu ditekan, dan dicetak, dibentuk menjadi bentuk pelet dengan memberikan tekanan antara roller dan dies pada bahan. Densitas bahan semula sekitar 130kg/m3, tetapi densitas pelet menaik hingga di atas 1100kg/m3, sehingga memudahkan untuk disimpan dan ditranspor, sekaligus kinerja bakarnya menaik.

Pelet Bagas
Bagas (ampas tebu) memiliki kandungan energi dan kualitas bakar tinggi. Prosedur produksinya: pembelian bahan mentah, pengeringan, peletisasi, dan pengepakan. Kualitas bahan tergantung kepada periode penanaman. Semua bahan dapat disimpan secara efisien pada waktunya, kemudian dikeringkan, dan dipeletisasi. Kandungan air pada tanaman tebu sekitar 20-25%. Pelet bagas memiliki nilai kalori tinggi 3.400-4.200 kKal (sebelum dipeletisasi hanya sekitar 1.825kKal, dan bila bagas mentah itu hanya dipanaskan menggunakan gas buang dari cerobong ketel, kadar air ampas turun 40%, dan nilai kalor menjadi 2305kKal).

Pelet Serbuk Gergaji
Jalur produksi pelet serbuk gergaji: pembelian bahan mentah, pengumpulan bahan, pengeringan, peletisasi dan pengepakan. Kandungan air serbuk gergaji sekitar 30-45% dan harga bahan mentah sekitar 21,05 - 24,29 USD/ton. Nilai kalorinya dapat mencapai 4.000 - 4.500 kKal.

Pelet Ranting
Jalur produksi pelet ranting: pembelian bahan mentah, peremukan, pengeringan, peletisasi dan pengepakan. Biaya bahan mentah ~16,19 USD/ton. Nilai kalori pelet ranting lebih rendah dari pelet serbuk gergaji. 





Pemanfaatan Pelet Bagas
 Pelet bagas adalah bioenergi yang baru. Ia dapat digunakan sebagai pemanas ruangan, kompor, boiler air panas dan industri, PLTBm, dan lainnya. Ia berfungsi sebagai pengganti kayu bakar, batubara, minyak bakar, dan LPG.

Potensi bagas di Indonesia adalah 30 ton/Ha/tahun. Sementara, areal lahan tebu (2014) seluas 447.000Ha [63,46% berada di Jawa, sisanya 36,54% berada di luar Jawa], maka potensi bagas total sekitar 13,41 juta ton/th, yang areal tanamnya menurun 6% dibandingkan th 2013, (470.198Ha). Oleh karena itu, guna memenuhi kebutuhan gula DN dan mengurangi impor raw sugar, maka Pemerintah menyiapkan lahan tebu tambahan sebanyak 500.000Ha di Sultra, P. Aru, dan Merauke, sekaligus membangun 10 pabrik gula baru DN. Di masa depan, akan ada tambahan bagas sekitar 15juta ton/tahun.
    Pemilihan Tapak dan Anggaran Biaya Pabrik Pelet Bagas
    Tapak pabrik bagas harus berada di lokasi bahan mentah yang melimpah, murah dan dekat bandar/pelabuhan guna mempermudah transportasi produk, sehingga biaya bahan mentah dan biaya lainnya (buruh, sewa gudang, biaya manajemen, dll) dapat dihemat serendah-rendahnya. Aspek legalitas bangunan dan ijin industri: TDI, SIUP, HO, IMB, dll yang terkait perlu disiapkan. Sertifikat untuk ekspor (SVLK) dan sertifikat produk (misalnya dari Sucofindo,dan SGS) juga disiapkan.

    Investasi awal pabrik pelet bagas sekitar 112.414 USD dengan kapasitas 1 ton/jam (kapasitas dapat dinaikkan hingga 6 ton/jam dengan menambah peralatan yang diperlukan). Investasi gedung pabrik sekitar 19.271 USD dengan luas lantai 6.000m2. Investasi modal awal peralatan sekitar 72.266 USD termasuk pengering 24.089 USD, stranding cage 1.927 USD, kabinet listrik 1.927 USD, mesin pelet (1 ton/jam) 25.695 USD, dll. Modal kerja sekitar 40.148 USD guna penyimpanan awal bahan mentah dan pra penjualan produk.

    Bila pasar dan operasi stabil, anda dapat menaikkan investasi. Pengering 24.089 USD dapat digunakan untuk 3 pabrik pelet, anda cukup menambah investasi di Stranding cage, mesin pelet, dan conveyor. Bila pabrik pelet lebih dari tiga, maka pengering perlu ditambah dan sebuah truk fork-lift diperlukan. Mesin pendingin perlu dipertimbangkan tergantung situasi produksi.

    Biaya & Analisis Laba Pelet Bagas
    Target bisnis: 500 ton/bulan (awal). Bila operasi normal, produksi bulanan dapat ditingkatkan hingga 1.500 ton atau 3.000 ton. Produk tahunan sekitar 30.000 ton.

    Contoh Estimasi Biaya dan Laba Pelet Bagas & Serbuk gergaji di Brazil

    ROI Pelet Bagas:
    • Harga bahan mentah bagas tebu: 19,45 USD/ton
    • Biaya transportasi: 3,24 USD/ton [biaya pengepakan dan biaya keluar]
    • Peremukan: 0
    • Beban listrik pengering: 1,39 USD/ton [7,5kV mesin listrik mengeringkan 0,7 ton/j]
    • Beban listrik peletisasi: 11,67 USD/ton [90kW mesin listrik pelet 1 ton/j]
    • Pengepakan: 5,19 USD/ton [25kg/karung; 0,13 USD/karung]
    • Buruh langsung: 8,10 USD/ton [1 alat untuk 8 pekerja, 11,34 USD untuk 1 pekerja dalam satu hari]
    • Biaya tapak: 5,33 USD/ton [19.434 USD untuk penggunaan 10 tahun]
    • Biaya alat: 3,25 USD/ton [alat 80.976 USD untuk 26 hari/bulan dalam 5 hari pakai]
    • Biaya perawatan: 4,86 USD/ton [biaya die / mata kempa yang aus]
    • Biaya TOTAL: 62,48 USD/ton
    Perhitungan Laba: Biaya total: 62,48 USD/ton; harga jual pelet di pabrik: 97,17 USD/ton; laba bersih untuk satu ton adalah 34,69 USD. Jika produksi bulanan 500 ton, laba bersih bulanan adalah 17.345 USD.

    Sementara, ROI Pelet Serbuk Gergaji:
    • Harga bahan mentah serbuk gergaji: 22,67 USD/ton
    • Biaya transportasi: 4,86 USD/ton [biaya pengepakan dan biaya keluar]
    • Peremukan: 0
    • Beban listrik pengering: 2,08 USD/ton [7,5kV mesin listrik mengeringkan 0,7 ton/j]
    • Beban listrik peletisasi: 15,16 USD/ton [90kW mesin listrik pelet 1 ton/j]
    • Pengepakan: 5,18 USD/ton [25kg/karung; 0,13 USD/karung]
    • Buruh langsung: 8,10 USD/ton [1 alat untuk 8 pekerja, 11,34 USD untuk 1 pekerja dalam satu hari]
    • Biaya tapak: 5,33 USD/ton [19.434 USD untuk penggunaan 10 tahun]
    • Biaya alat: 3,25 USD/ton [alat 80.976 USD untuk 26 hari/bulan dalam 5 hari pakai]
    • Biaya perawatan: 5,83 USD/ton [biaya die / mata kempa yang aus]
    • Biaya TOTAL: 72,46 USD/ton
    Perhitungan Laba: Biaya total: 72,46 USD/ton; harga jual pelet di pabrik: 137,65 USD/ton; laba bersih untuk satu ton adalah 65,19 USD. Jika produksi bulanan 500 ton, laba bersih bulanan adalah 32.595 USD.

    Limbah padat tebu lainnya yang berasal dari hasil saring nira pada rotary drum filter disebut blotong, dan bila dikeringkan dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar di dapur untuk masak-memasak. Blotong umumnya digunakan untuk kompos.

    Pelet jerami padi/gandum/rumput/sejenisnya

    Berikut adalah contoh skema mesin alat pembuatan pelet dari jerami padi / gandum dengan kapasitas pelet 200-300 kg/jam. Mesin tersebut juga dapat memanfaatkan aneka bahan baku lainnya seperti kayu, ampas tebu, batang / kulit jagung / sorgum, kulit kacang, ampas jarak pagar, kulit kopi, tanaman cepat tumbuh, pelepah sawit (8,6ton/Ha, 3650kCal/kg) serbuk gergaji, potongan kertas, dan tatal kayu. Mesin terdiri atas, hammer mill, pellet mill, cooler, vibrated pellet separator yang dilengkapi dengan penangkap debu guna mencegah polusi debu. Seperti diketahui, jerami adalah benda yang halus dan sulit dipres. Oleh karena itu, mesin memerlukan pengumpanan screw conveyor yang khusus dirancang dengan tambahan hopper, sehingga pengguna dapat menambah serbuk gergaji dan potongan kertas guna meningkatkan kualitas pelet. Bila umpan terlalu basah, maka pengering ekstra perlu ditambahkan.

    Aneka jenis contoh mesin lain (diam, bergerak / dalam truk, mesin jinjing, besar dan kecil) banyak tersedia di pasaran LN [1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8]; DN [1, 2, 3] untuk membuat pelet dari aneka bahan baku biomassa.


    Perbandingan Pelet jerami (terhadap jerami padi) adalah: Kandungan air: 8-10% (15-30%); kadar abu 3% (15-20%); Nilai kalori: 18,5 MJ/kg (13,98 MJ/kg) atau 4422 kKal/kg (3341 kKal/kg). Pembakaran pelet jerami menghasilkan karbon netral yang dapat digunakan kembali pada pertumbuhan biomassa berikutnya.

    Pembuatan pelet jerami dapat menaikkan densitas curahnya, mengurangi biaya transpor, kandungan energi menaik (4422kKal/kg), kadar abu rendah (3%), dan abu pembakaran pelet jerami dapat digunakan sebagai pupuk mineral untuk pertumbuhan tanaman.


    Langkah-langkah pembuatan pelet jerami:
    1. Pemisahan jerami dari benda asing.
    2. Pelumatan jerami. Sebelum jerami dikirim ke pengumpan, Ia harus direduksi hingga berukuran seragam (<5mm) menggunakan hammer mill.
    3. Pengeringan jerami. Umumnya jerami dikeringkan di udara dengan kadar air 15%, sehingga pengeringan jerami tidak diperlukan. Akan tetapi, bila kadar air >15%, penggunaan pengering drum putar diperlukan.
    4. Peletisasi dalam mesin pelet. Setelah melalui proses pelumatan dan pengeringan, jerami diangkut ke mesin pelet jerami menggunakan ban berjalan (conveyor). Dengan bantuan tekanan antara die dan roller dalm mesin, pelet jerami ditekan keluar dan dipotong sesuai panjang yang diinginkan (6mm dan 8mm).
    5. Pendinginan pelet jerami. Guna mempertahankan kualitas pelet selama penyimpanan dan penanganan, keluaran pelet jerami yang bersuhu tinggi harus didinginkan di udara ke suhu kamar atau sedikit lebih tinggi menggunakan mesin pendingin udara lawan arah.
    Negara produsen beras (10 besar) yang berpotensi memanfaatkan mesin pelet jerami untuk mendaur-ulang energi dari jerami adalah Tiongkok, India, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Filipina, Myanmar, Brazil, dan Jepang.

    Masa Depan Pelet kayu (kopel dengan PLTPk) 

    Pelet kayu mulai banyak diproduksi. Kemungkinan besar akan terjadi banjir pasokan di Dalam Negeri dan Luar Negeri yang dapat memerosotkan harga. Hal itu ditunjukkan dalam indeks pelet kayu versi Argus (Argus wood pellet index, US$/ton) di AS dan Kanada yang mewakili kondisi harga pelet kayu (CIF) hingga waktu tertentu (lihat gambar samping). Importir dari LN mulai mengenakan sekatan mencari pelet kayu terbaik, tetapi harga yang lebih murah. Oleh karena itu, sudah saatnya para pengusaha pelet kayu melengkapi usaha mereka dengan:
    1. Memasok pelet kayu ke PLTU batubara sebagai pengganti batubara (sebagian / seluruhnya) (meneken MoU dengan PLTU batubara).
    2. Membangun PLTU Pelet kayu (PLTPk; PLTBm = biomassa; contoh di Jepang) di DN / lokal di sekitar pabrik pelet kayu.
    3. Menanam pohon cepat panen, dapat tumbuh dan kualitas baik di lahan kritis / bekas tambang (timah, batubara, emas, zirkon, tembaga, nikel, dll) untuk bahan pelet kayu berkualitas, seperti kaliandra merah (api kompor mendekati biru).
    4. Menggalakkan sosialisasi penggunaan pelet kayu & kompornya (diangsurkan / dicicilkan) kepada masyarakat (sebagai pengganti BBGas LPG 3 kg yang sulit dicari saat ini). Masyarakat di sekitar Pabrik pelet kayu diutamakan membeli pelet kayu dengan harga pabrik.
    Hal itu dimaksudkan guna menstabilkan harga pelet kayu sekaligus memproduksi listrik nasional dan membuka lapangan kerja baru yang diperlukan rakyat di sekitar pabrik pelet kayu, contoh:
    • PT Austral Byna membangun PLTPk 100MW (setiap 10MW memerlukan biaya Rp150miliar) di Mantuil Banjarmasin, Muara Teweh (Kab. Barito Utara) Kalteng, dan Kaltim.
    • PT PLNE (Prima Layanan Nasional Enjinering) menandatangani kerma (MoU) dengan Kab, Morowali, Sulteng, membangun PLTBm 10MW (biaya Rp.30miliar dalam 2 tahun, FS 6 bulan) dengan bahan baku kaliandra merah yang tersebar luas di Morowali (200Ha).
    • PT EMI (Energy Management Indonesia) membangun PLTPk sekitar 5-10MW (energi pelet kayu KM: 4.800kKal, bioarang ~7.500kKal) di Purworejo, Jawa Tengah (dengan luas pabrik 10 Ha) menggunakan pelet kayu dari KM dengan kapasitas 36.000 ton/tahun. Limbah / abu pelet kayu masih dapat dibuat pupuk untuk restorasi lahan gambut yang amat luas di Indonesia (ke 4 dunia). PLTPk dikembangkan di beberapa lokasi di Indonesia. Bahan baku (KM) diperoleh dari masyarakat Wonosobo, Magelang, Kebumen, hingga Banyumas.
    • Grup Korindo berencana membangun PLTBm (pelet kayu) 10MW di Jayapura, Papua. Anak Usaha Korindo, PT Tunas Sawaerma, bekerjasama dengan Pemprov Papua dan Pemkab Jayapura, dengan meminta lahan konsesi 12.000Ha yang sekitar 7.200Ha untuk lahan HTI (Hutan Tanaman Industri, berupa pohon Eucalyptus Pellita dan Jabon Merah yang ditangani oleh PT Biomassa Papua Lestari) dan PLTBm (oleh PT Bio Green Jayapura). Namun, mereka terbentur tanah adat, dan belum mencapai kesepakatan dengan masyarakat lokal.

    Harga Pelet Kayu (berubah-ubah sesuai supply & demand):

    Dalam Negeri (harga pabrik)
    • Jakarta & Banten Rp.1600/kg, 
    • Jawa Barat          Rp.1550/kg, 
    • Jawa Timur          Rp.1200/kg.

    Luar Negeri: FOB $102/ton; CIF $160/ton

    Bahaya Pemrosesan Pelet Kayu
    Ketika anda memproduksi pelet kayu, perhatikan pula hal-hal yang terkait dengan kesehatan dan keselamatan para pekerja
    • Bahaya debu pelet kayu di lokasi pabrik,
    • Bahaya keracunan gas CO di penyimpanan pelet kayu (silo, hopper); dan  
    • Bahaya kebakaran di pabrik pelet kayu, pembangkit listrik, dll.

    Manfaatkan Limbah Biomassa Menjadi Pelet Kayu di Sekitar Anda
    • Manfaatkan semua sisa produk pertanian tak berharga, misalnya tongkol & batang jagung, batang singkong, bagas, sekam & batang padi, tandan kosong sawit, ranting, serasah, serbuk gergaji, dll menjadi pelet kayu
    • Bila anda ingin membuka lahan, cacahlah limbah kayu yang tersedia kemudian dipres menjadi pelet kayu, sebagai tambahan penghasilan anda (sebagai bahan bakar PLTBm / PLTU batubara domestik, diekspor ke LN, bahan bakar untuk tungku rumah tangga, restoran, pusat kuliner, dll); bukan dengan cara membakar hutan yang akan menyebarkan asap ke seluruh penjuru dunia.


    Contoh Produsen Mesin Pelet kayu

      Dalam Negeri (DN)
    • PT Toba Hijau Sinergi
    • DI (Dahlan Iskan) (via PT SDI, Sosiopreneur Demi Indonesia) mengajak siswa SMK membuat mesin pelet kayu (1 ton/jam) guna memanfaatkan penanaman kayu KM di 30 Propinsi (Kaltim, NTB, Riau, Lampung, Bengkulu, dll). PT SDI membangun mesin pelet kayu dan PLTBm, dan akan membeli KM dari penduduk. Motonya adalah masyarakat mendapat pekerjaan dan penghasilan (dari penyiapan pelet kayu, ternak sapi dan kambing, dan ternak lebah) sekaligus mendapatkan listrik.

    Luar negeri (LN) 
    Informasi tentang produsen mesin-mesin terkait pelet kayu, briket kayu, dan chipper baik peralatan individu atau terintegrasi dengan berbagai kapasitas produksi pelet kayu, dari 1,5 ton/jam hingga 6 ton/jam sering ditanyakan pembaca. Informasi berikut dapat dijadikan acuan awal mencari mesin-mesin tersebut. Detil informasi (harga dan purna jual sebagian atau seluruh alat, pergantian suku-cadang alat) dapat ditanyakan langsung kepada Agen (bahasa Indonesia/Inggris) yang ada di Jakarta, Surabaya, dan Semarang (WA 081280179239 a.n. Nikolas Lin Kossa, email: nicolas.lin.kossa@gmail.com) atau Perusahaan LIDA di Tiongkok, alamat email: pellet@lidawm.com

    Produk yang ditawarkan:
    Vertical Ring Die Pellet Mill

    Mesin Pelet Kayu: Vertical Ring Die Pellet Mill; Multi-function Hammer Mill; Efficient Hammer Mill; Sawdust Rotary Dryer; Drum Wood Chipper; Pallet Crusher Machine; Mobile Wood Chipper; Combined Hammer Mill and Pellet Mill; Flat Die Pellet Machine; Roller Assy; Pellet Mill Ring Die; Pellet Mill Roller Shell; Hot Air Heating Furnace; Cooler Machine; Fan; pellets Rotary Grading Screener; Double Roller Shearing Crusher; Tripple-pass Drum Dryer; Bucket Elevator; Permanent Magnetic Plate/Lifting Magnet; Star-Shaped Unloader; Permanent Magnetic Cylinder; Rotary Cutter; Biomass Pellet Burner; Large Crusher Machine; Pellet Packing Machine; and Complete Wood Pellet Production Line.

    Mesin Briket: Sawdust Briquetting machine. Mesin ini cocok sekali untuk mendaur-ulang limbah biomassa dan pertanian berbagai bentuk menjadi serbuk kayu (gergaji) dan mencetaknya menjadi briket sesuai bentuk .guna meringkas ruang limbah menjadi bahan bakar berdensitas tinggi, mudah ditranspor dan disimpan.
    Mesin ini memiliki keuntungan seperti konsumsi daya listrik yang rendah, ramah lingkungan, efisiensi kerja tinggi, lebih awet, laju remuk dan perawatan yang rendah. Briket dapat digunakan sebagai pembangkit listrik dan pemanas ruang bangunan / tempat tinggal.

     Bahan baku briket: 
    • pakan ternak, serbuk gergaji, jerami (padi/gandum), batang jagung, kulit kacang
    • ranting kayu, kulit biji kapas, semak belukar, dan limbah pertanian lainnya
     Parameter briket yang diperoleh:
    • Densitas 1,1-1,3 g/cm3
    • Nilai bakar: 3.700-5.000kcal/kg
    • Emisi SO2: 0,38% (lebih rendah dari standar nasional 1-3%)
    • Emisi CO2: 0,22% (jauh di bawah standar nasional)
    • Abu residu: 3,6%
    • Ramah lingkungan & dapat didaur-ulang sebagai pupuk potas pertanian.

    Contoh Tata-letak (Lay-out) Pabrik Pelet Kayu

    Tata-letak pabrik produksi pelet kayu dapat dilihat di sini dengan kapasitas sekitar 1-1,5 ton/jam.

    Selanjutnya untuk kapasitas 2-3 ton/jam bentuk mesin dapat dilihat di sini

    Bila anda memerlukan kapasitas mesin yang lebih besar, 4-6 ton/jam, dapat dilihat di sini.

    Untuk kapasitas mesin terbesar, 25 ton/jam, juga tersedia (Tata-letak dapat dilihat di bawah)
    Diagram Alir Produksi Pelet Kayu 25 ton/jam
    Keterangan Gambar: 1) Ketam Kayu; 2) Mesin Lumat (serbuk); 3) Bin (alat tampung); 4) Pengering; 5) Mesin pelet; 6) Pendingin; 7) Mesin Pengepakan. 
    Ukuran pabrik: 150x30m2; Daya listrik: 5689kW; Pekerja: 12 orang.

    Proses tersebut terdiri atas:
    1. Proses Chipping (Wood Chipper): Siapkan gelondong kayu yang akan digunakan, lalu ketam gelondong kayu dengan ukuran tidak lebih dari 2-5 cm.
    2. Proses Pelumatan (Hammer Mill): Hammer mill digunakan untuk pelumatan chip kayu menjadi serbuk kayu (basah) dengan ukuran di bawah 3-6 mm.
    3. Proses Pengeringan (Dryer): Guna memenuhi syarat kondisi proses peletisasi, proses pengering diperlukan guna menurunkan kadar air bahan baku serbuk kayu (basah), agar berkadar air tidak lebih dari 15%.
    4. Proses Pembuatan Pelet (Mesin pelet): penggencetan serbuk kayu kering (15%) dengan pellet mill melalui kontak roller dan die. Mesin pelet vertikal harus digunakan pada tahap ini.
    5. Proses Pengayakan (Ayak Getar): Ayak pelet yang berkualitas rendah (belah, pecah, ambrol) selama proses pengayakan. Pisahkan bentuk yang tidak layak itu dengan penggetaran sekaligus menyingkirkan mereka melewati ayakan.
    6. Proses Pendinginan (Cooler): Pendinginan suhu pelet. Ketika pelet keluar dari pellet mill, suhu pelet sekitar 60 oC. Setelah melewati pendingin, suhu pelet sedikit lebih tinggi dari suhu lingkungan, yaitu sekitar 5-10 oC.
    7. Proses pengepakan (Mesin pengepakan): pengepakan pelet untuk 10-50 kg/wadah.

    Harga mesin-mesin pelet dan perangkatnya dari produsen lain dapat dilihat disini.

    Contoh Produsen / Pabrik Pelet Kayu di Indonesia
    • Sumatera Utara (Medan): PT Toba Hijau Sinergi yang beroperasi akhir 2016 memanfaatkan palm EFB (TKKS, tankos sawit) menjadi pelet tankos sawit yang digunakan sebagai BB alternatif menuruti UU No.32 tahun 2009. Keunggulan pelet tankos sawit adalah kelembaban rendah, efisiensi energi panas tinggi, penanganan & penyimpanan mudah, cocok untuk boiler sistem kisi, dan menghasilkan asap yang rendah.
      Pengolahan 1 Ton TBS (Tandan Buah Segar) menghasilkan limbah 0,23 ton TKKS; 0,13 ton mesocarpfibre (serabut); 0,06 ton cangkang (palm shell), dan 0,65 ton LCPKS (Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit). TKKS selama ini hanya dijadikan kompos (mulsa). Proses yang digunakan meliputi: Empty Bunch Crusher, Thresser, Empty Bunch Press, Shredded Empty Brunch, Cutter, Dryer, Bricket Machine, dan Bricket Bunker. Asumsi: TKKS (dalam TBS) 23%, kapasitas olah PKS 30ton/j, TKKS yang diproduksi ~ 6,9ton/j. Satu unit shredder kapasitas 7ton/j diperlukan. Secara ringkas proses pembuatan pelet kayu: TKKS dihancurkan (crushing), dicacah (shredding), dibanting (thressing), ditekan (pressing) guna mengurangi kadar airnya, dan memungut sisa minyaknya; kemudian via conveyor dikirim ke unit pengering (drying), pemotong (cutting, maks 2 inch) dan seterusnya ke mesin pelet tankos. Kapasitas PKS 30ribu kg/j atau 600ribu kg/hari, TKKS 138ribu kg/hari, Pellet TKKS (40% dari TKKS) 55.200kg/hari, Nila kalor Pelet 17.660kJ/kg (4.640kCal/kg), potensi kalor pelet 974.832.000kJ/hari. Lima kg pelet tankos setara dengan 12 kg tabung gas LPG. Harga mesin pelet tankos buatan China 33.000 USD.
    • Kep Riau: IDEAS bekerjasama dengan PT APP (Achmadi Pasca Perintis) melakukan survei untuk membangun hutan tanaman energi dan pabrik pelet kayu di Lingga (Ada sekitar 604 pulau besar & kecil).
    • Jawa Barat: Pabrik pelet kayu di Ciamis, kapasitas 2.500 ton/bulan (60%untuk DN, 40% untuk LN)
    • DI (Dahlan Iskan) pernah berkunjung ke pabrik pelet kayu (2x350kg/j, bahan baku KM) Ds Rawa, Kec. Cingambul, Kab. Majalengka; ke pabrik tempe di Dukuh Semar, Cirebon, yang mencoba pelet kayu Kaliandra.
    • IDEAS dan PT MBT (Mandiri Bintang Tiga) bekerjasama mengembangkan kebun energi kaliandra, dan pabrik pelet kayu di Sumedang, Kuningan, dan Bandung.
    • Jawa tengah: pabrik pelet kayu terbesar PT South Pacific produsen furnitur di Jepara, jawa Tengah, memproduksi pelet kayu dari limbah sisa produksi furnitur yang produksi pelet kayunya populer di Korsel (70.000 ton/tahun), karena kualitasnya bagus (kalori tinggi, kandungan kimia dan abu cukup rendah). Empat pabrik pelet kayu direncanakan untuk dibangun di sentra kebun biomassa di berbagai lokasi (Maks sekitar 4 jam dari Bandar internasional). Korsel melakukan proyek-proyek kerma di Jatim dan Jateng, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Indonesia akan menjadi target Korsel untuk menjadi pemasok pelet kayu di masa datang di Asia terutama untuk bahan biopelet yang berasal dari pelepah sawit, TKKS, bagas tebu, jerami, kaliandra merah, dll. 
    • PT SPI (Solar park Indonesia, di Kalikajar, Wonosobo Jateng) yang dulu digadang-gadang sebagai proyek percontohan peluang investasi biomassa basis kayu (sekaligus pabrik wood pellet) antara Indonesia Korsel (200.000Ha) telah dimiliki lokal. Sekarang sedang dijual (Rp.19,5miliar) ke fihak lain. 
    • Semarang: PT Mahya Bioenergy, kapasitas 2.000 ton/bulan (maks 10.000 ton/bulan), kayu albasia, 4200-4600 kcal/kg, diameter 8mm, kadar air 7-9%.
    • Purworejo: PT EMI (Energy Management Indonesia) (BUMN via anak perusahaannya PT EBI) melakukan kerma dengan pemkab Purworejo membangun pabrik baru pelet kayu yang berasal dari kayu kaliandra merah dengan kapasitas 36.000 ton/tahun. Produksi itu untuk memenuhi permintaan pelet kayu DN (250 ton/hari) dan LN Jepang dan Korsel yang meningkat masing-masing 250 ton/hari (10.000 ton/bulan) via LOI. Luas pabrik 10 Ha).
    • DI Yogyakarta: Salah satu pemasok pelet kayu (50 ton/bulan) ke Korsel (dan Jepang) adalah PT Greeno Inovasi Energi dari Ds. Kalangan, Bangunjiwo, Bantul, DIY. Bahan baku utama adalah serbuk gergaji yang diperoleh dari Jateng & DIY, yang dicampuri limbah biomassa lainnya seperti sekam padi, ampas tebu (bagas), debu tembakau, dan limbah uang kertas. Tepung tapioka ditambahkan ke dalamnya sebagai perekat.

    • Jawa Timur (Paiton, Probolinggo): PT Pellet Biomass Indonesia, produsen pelet kayu premium (kalori 4600kcal/kg; kelembaban 8%; kandungan abu 1,2%; minimum pesan: 16 ton; pelabuhan Surabaya; delivery time 1 bulan; L/C, T/T; mampu pasok: 2000 ton/bulan).
    Pelet Kayu Kaliandra merah
    • Madura: April 2015, CV Gerbang Lestari mendirikan pabrik pelet kayu yang dikelola oleh Ponpes Darul Ittihad di Ds. Kombangan, Kec. Geger, Kab. Bangkalan, Madura berkapasitas 1 ton/j dengan bahan baku kayu kaliandra merah sekitar 12 ton/hari (1 hari = 8 jam, bahan baku basah mengandung air sekitar 40%). Bila setahun = 310 hari, maka butuh bahan baku 12ton x 310 = 3720 ton/th, atau perlu lahan 3720/20 = 186 Ha. Oleh karena itu, kebun dipanen per hari hanya 186 Ha/310 = 0,6 Ha. Harga jual pelet kayu KM Rp.1,4 - 2,5 juta/ton. Sementara, harga jual kayu KM hanya Rp.367.000/ton. Setelah produksi dikelola oleh ISE (IDEAS Semesta Energy, mesin-mesin diremajakan oleh CV SBE, Suryabaja Engineering), pelet kayu 2 ton/jam atau 25ton/hari (berupa campuran KM dan Kemlandingan) sempat di kirim ke Gresik, dan PTPN 8 di Pangalengan,
      Pabrik pelet kayu
      Bandung (untuk BB pengeringan daun teh).Pengguna lokal mulai memanfaatkan pelet kayu sebagai pengganti gas LPG yang dapat menghemat biaya 47% yang dilengkapi dengan penggunaan kompor pelet kayu menjadi satu paket dengan pelet kayu. Ide itu dikembangkan pula di Mamuju (Sulbar) dan Lomok Utara (NTB). Kayu Kaliandra merah dipanen setelah 14 bulan oleh CV Gerbang Lestari. Produksi optimumnya 20 ton/Ha/th. Warga setempat memanfaatkan proyek kebun energi kaliandra di hutan desa seluas 214 Ha dan pabrik pelet kayu seluas 200 m2 (bantuan ICCTF, Indonesia Climate Change Trust Fund). Sementara, produk pelet kayu dimanfaatkan sebagai BB PLTBm 197kW. ISE mendesain pabrik pelet kayu 1,5 ton/j di Bangkalan madura, Mamuju (Sulbar) 2 ton/j, Karangantu, Banten, dan PLTBm di Ds. Selengen & Salut di Lombok Utara, NTB.
    • Kalimantan Selatan: PT Jhonlin Agro Mandiri (PT JA) membangun pabrik pelet kayu di areal 2 Ha yang berkapasitas 4 ton/jam dengan mesin fully automatic. Bahan baku berasal dari kayu Jabon, Gmelina, Sengon, dan Akasia yang ditanam di atas tanah seluas 15.000 Ha. Sasaran: ekspor pelet kayu ke Korsel dan Eropa.
    • PT Inhutani III memasok bahan baku eucalyptus, sengon, dan gamal yang ditanam di lahan sekitar 5.000 Ha, Pelaihari, Kalsel, ke pabrik pelet kayu yang dibangun oleh PT SL Agro Industry (anak perusahaan Korsel, Depian) dengan kapasitas sekitar 100.000 ton (2015). Selanjutnya, PT SLAI memasok pelet kayu dari pabriknya ke perusahaan Korsel Western Power Co. Ltd. Kerma Inhutani III dengan China juga diteken, dan Inhutani III menyiapkan lahan 5.000 Ha. PLTBm 2x10MW dengan bahan baku chip kayu (140.000 ton) juga dibangun untuk menunjang daya listrik pabrik, sedangkan sisa daya listrik dijual ke PLN.
    • Sulawesi Barat (Mamuju): pabrik pelet kayu dibangun oleh MCA-I (Millennium Challenge Account-Indonesia) dengan kapasitas 600 ton/bulan, dan kebun energi berasal dari HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dan HR (Hutan Rakyat) kaliandra merah yang disiapkan 748Ha.
    • Papua: (Merauke) IDEAS bekerjasama  dengan PT SIS (Selaras Inti Semesta, MEDCO Group) melakukan FS (studi Kelayakan) integrasi hutan tanaman energi dan pembangunan pabrik pelet kayu.


    Ditulis oleh: Fathurrachman Fagi; WA: 0812 1088 1386; ffagi@yahoo.com
    ________________________________________________
    Bila anda meng-copy & paste tulisan ini di blog anda
    cobalah ikhlas menyebutkan link sumbernya
    http://energibarudanterbarukan.blogspot.co.id/2015/07/pelet-kayu-wood-pellet.html