Pages

Sabtu, 06 Februari 2016

PELET KAYU / WOOD PELLET

Pelet kayu menjadi bahan bakar (BB) primadona saat ini terutama di negara yang memiliki 4 musim sebagai bahan pengganti batubara (sebagian / seluruhnya) dalam PLTU batubara, penghangat ruangan, kompor biomassa, dan pengeringan pada jasa laundry. Ekspor batubara Indonesia mulai merosot (Januari-September 2015 ekspor batubara turun 19,8%, menjadi 235 juta ton, sedangkan produksinya turun menjadi 308 juta ton). Akibatnya 37 dari 43 perusahaan tambang batubara di Jambi tutup, dan 70% atau 60 perusahaan di Samarinda juga tutup. Sekitar 80% perusahaan tambang batubara menyetop produksi mereka dan tutup sementara. Hanya 500 dari 3.000 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan yang masih beroperasi. Sementara, harga batubara Indonesia di pasar internasional (Januari 2016) jatuh menjadi US$53,2/ton, bahkan harga batubara lokal hanya Rp.300.000/ton (yang normalnya sekitar Rp 1juta/ton). Hal itu disebabkan oleh negara tujuan ekspor batubara (Korsel, Jepang, China, dan India) secara perlahan beralih ke pelet kayu Indonesia yang berkualitas baik, ramah lingkungan, dan terbarukan (terbukti dari permintaan pelet kayu di pasar internasional meningkat pesat). Di sisi lain, China secara bertahap juga mulai melarang penggunaan batubara (kalori rendah) bagi warganya (karena polusi dan emisi sulfur yang tinggi). Australia dan AS meminimalkan penggunaan batubara. Indonesia juga mengganti penggunaan batubara dengan pelet kayu
Guna memanfaatkan kelebihan pasokan batubara sekaligus memperbaiki harga batubara, maka pengusaha batubara diminta melengkapi usahanya dengan membangun PLTU mulut tambang (dengan teknologi sub-critical pada boilernya agar ramah lingkungan) sekaligus mempercepat program realisasi daya listrik 35.000MW.

Ada beberapa alasan batubara akan terhempas oleh pelet kayu:
  • Pelet kayu adalah BB terbarukan, dan ramah lingkungan, sedangkan batubara tidak terbarukan dan kurang ramah lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan batubara di level internasional berkurang secara bertahap. Jadi, ada peluang untuk menambah pasokan listrik nasional via BB pelet kayu. Kalori pelet kayu setara dengan kalori batubara rendah.
  • Produksi karbon lebih rendah dari batubara.
  • Biaya listrik yang dihasilkan pelet kayu pengganti batubara sama dengan yang dihasilkan gas alam yang tentu saja lebih murah dari batubara.
  • Posisi staf yang diperlukan untuk kehadiran PLTU pelet kayu (termasuk penyiapan infrastruktur pelet kayu) sekitar 3.480 orang, sedangkan PLTU batubara dengan daya yang sama membutuhkan staf sekitar 2.540 orang (menambah lapangan kerja)
  • Permintaan pelet kayu berkelanjutan dalam jangka panjang memotivasi pemangku kepentingan untuk melestarikan dan memperbaiki manajemen hutan, sekaligus mengembangkan lahan kritis menjadi hutan tanaman industri khusus pelet kayu (misalnya kayu Kaliandra Merah, Mahang / Macaranga Gigantean, Karamunting / Melastoma Malabatricum)
  • Permintaan pelet kayu yang datang dari segenap penjuru dunia terus berdatangan ke Indonesia yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Indonesia sebenarnya mampu menghasilkan listrik biomassa ~49,8 GW (Indonesia cuma perlu tambahan listrik nasional 35 GW). Potensi biomassa Indonesia sekitar 146,7juta ton/tahun yang berasal dari residu padi (150GJ/th), kayu karet (120 GJ/th), residu gula (78 GJ/th), residu kelapa sawit (67 GJ/th), dan sampah organik lain (20GJ/th).

Seperti diketahui, pengguna pelet kayu dunia th 2013 (23,6juta ton) tercatat adalah negara Jepang, Korsel, China (2juta ton), Eropa (12juta ton) (pengguna sekaligus penghasil terbesar, yaitu Jerman, Swedia, Latvia, dan Portugal), AS (3juta ton), Rusia (2juta ton) dan Kanada (3juta ton). 
Meski negara-negara pengguna pelet kayu tersebut mampu memproduksi sendiri, tetapi mereka masih belum mampu mencukupi kebutuhan pelet kayu DN mereka (harus impor), karena pertumbuhan kayu di negara sub-tropis lebih lambat dibandingkan di negara tropis. Contoh: th 2013, Eropa butuh 19 juta ton [10 (panas) + 9 (industri)] (kurang 7juta ton), Kanada (4juta ton) (kurang 1juta ton), Asia (Jepang & Korsel) kurang 1 juta ton. Kedua negara Asia itu akan menjadi importir pelet kayu terbesar pada dekade mendatang (diduga sekitar 5juta ton th 2020).

Produksi pelet kayu dunia sudah mendekati 25,5 juta ton (2014). Sementara, pemasaran pelet kayu global untuk pembangkit listrik dan panas tumbuh sekitar 14,1% per tahun. Tentu saja, tahun 2020 kebutuhan tersebut diperkirakan melambung hingga 80 juta ton. Oleh karena itu, beberapa negara, misalnya Korsel, Jepang, Eropa (impor ~14juta ton/2014), AS, Kanada berusaha mencari pasokan bahan baku ke negara tropis yang salah satunya ke Indonesia. Sementara, harga pelet kayu di pasar dunia semakin membaik, yaitu sekitar 1.500 USD/ton, bahkan di Kanada dapat mencapai 3.000USD/ton

Sejak th 2012 Korsel menargetkan penggunaan Energi Terbarukan minimal 2%, dan th 2022 penggunaan biomassa harus memasuki 10%, yang 60%-nya berasal dari pelet kayu. Feb 2015, pasar Korsel perlu pasokan lebih dari 280.000 ton untuk kebutuhan rumah tangga dan industri makanan & minuman. Sekitar 70,3% pelet kayu Korsel adalah pelet impor (Indonesia hanya memasok >7%, yaitu sekitar 8.940 ton pada th 2012), dan sisanya produksi lokal Korsel sendiri. Di masa mendatang, beberapa perusahaan Korsel telah menjajagi kemungkinan untuk mengimpor pelet kayu dari negara Australia, Vietnam, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Kanada, dan AS. Korsel mewajibkan PLTU-nya menggunakan pelet kayu.

Daftar: Perwakilan Korsel di Indonesia, Perwakilan Indonesia di Korsel, Lembaga / Asosiasi Kayu Pelet di Korsel, dan Pengusaha / Importir Korsel dapat dilihat disini (Mei 2014).

Khusus untuk Indonesia, pabrik pelet kayu terbesar ada di Semarang, yang produksi pelet kayunya populer di Korsel, karena kualitasnya bagus (kalori tinggi, kandungan kimia dan abu cukup rendah). Korsel melakukan proyek-proyek kerma di Jatim dan Jateng, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Indonesia akan menjadi target Korsel untuk menjadi pemasok pelet kayu di masa datang di Asia terutama untuk bahan biopelet yang berasal dari cangkang sawit, bagas tebu, jerami, kaliandra merah, dll. 
Pelet Bagas
Serbuk Gergaji, jerami padi/gandum, sekam padi, bagas / ampas tebu (mengandung gula 2,5%, nilai kalori 1.825kKal), batang jagung/sorgum, sampah daun, rumput, ranting, dan bagian tanaman yang telah dianggap limbah dapat menjadi sumber pelet kayu. Pelaku usaha pelet kayu mulai menanam kayu cepat panen yang minim perawatan, dan kandungan energinya tinggi sebagai campuran limbah tsb. Sebagai contoh: Petai cina (Leucaena leucocephala), kaliandra merah (Caliandra calothyrsus), dan Gamal (Gliricidia sepium). Tujuan membuat pelet kayu adalah nilai kalor limbah kayu tersebut hendak ditingkatkan agar menjadi BB berkalori mendekati batubara (5.000 - 6.000 kKal), yaitu sekitar 4.200 - 4.800 kKal dengan kadar abu sekitar 0,5-3%.

Kaliandra Merah
Kaliandra merah (KM) merupakan bahan baku terbaik pelet kayu (4600kkal/kg, arangnya 7.400 kKal/kg) dibandingkan petai Cina, gamal, dan sengon buton dari sisi laju tumbuh, penyuburan tanah melalui fiksasi nitrogen dalam tanah, dan berat jenis, sehingga kadar abu dapat lebih rendah. Lagipula, umur KM dapat mencapai 29 tahun sekali tanam. KM tidak hanya sebagai bahan baku pelet kayu tetapi juga daunnya sebagai pakan ternak dan bunganya sebagai ladang ternak lebah (produksi madu berasal dari nektar bunga KM terkenal di dunia) selama 15 tahun.

April 2015, CV Gerbang Lestari mendirikan pabrik pelet kayu yang dikelola oleh Ponpes Darul Ittihad di Ds. Kombangan, Kec. Geger, Kab. Bangkalan, Madura berkapasitas 1 ton/j dengan bahan baku kayu kaliandra merah sekitar 12 ton/hari (1 hari = 8 jam, bahan baku basah mengandung air sekitar 40%). Bila setahun = 310 hari, maka butuh bahan baku 12ton x 310 = 3720 ton/th, atau perlu lahan 3720/20 = 186 Ha. Oleh karena itu, kebun dipanen per hari hanya 186 Ha/310 = 0,6 Ha. Harga jual pelet kayu Rp.1,4 - 2,5 juta/ton (PT Puspa Mandiri menjual harga pelet kayu FOB US$155/ton, Jan 2016). Sementara harga jual kayu kaliandra merah hanya Rp.367.000/ton. 
Pabrik pelet kayu
Kayu Kaliandra merah dipanen setelah 14 bulan oleh CV Gerbang Lestari. Produksi optimumnya 20 ton/Ha/th. Warga setempat memanfaatkan proyek kebun energi kaliandra di hutan desa seluas 214 Ha dan pabrik pelet kayu seluas 200 m2 (bantuan ICCTF, Indonesia Climate Change Trust Fund). Sementara, produk pelet kayu dimanfaatkan sebagai BB PLTBm 197kW.

  • Salah satu pemasok pelet kayu (50 ton/bulan) ke Korsel (dan Jepang) adalah PT Greeno Inovasi Energi dari Ds. Kalangan, Bangunjiwo, Bantul, DIY. Bahan baku utama adalah serbuk gergaji yang diperoleh dari Jateng & DIY, yang dicampuri limbah biomassa lainnya seperti sekam padi, ampas tebu (bagas), debu tembakau, dan limbah uang kertas. Tepung tapioka ditambahkan ke dalamnya sebagai perekat.
  • PT EMI (Energy Management Indonesia) melakukan kerma dengan pemkab Purworejo guna membangun pabrik baru pelet kayu yang berasal dari kayu kaliandra merah dengan kapasitas 36.000 ton/tahun. Potensi ini dapat dijadikan listrik sekitar 5MW. Sementara, PT EMI melayani permintaan Jepang dan Korsel yang meningkat masing-masing 250 ton/hari (10.000 ton/bulan) via LOI.
  • PT Jhonlin Agro Mandiri (PT JA) membangun pabrik pelet kayu di areal 2 Ha yang berkapasitas 4 ton/jam dengan mesin fully automatic. Bahan baku berasal dari kayu Jabon, Gmelina, Sengon, dan Akasia yang ditanam di atas tanah seluas 15.000 Ha.
  • PT Inhutani III memasok bahan baku eucalyptus, sengon, dan gamal yang ditanam di lahan sekitar 5.000 Ha, Pelaihari, Kalsel, ke pabrik pelet kayu yang dibangun oleh PT SL Agro Industry (anak perusahaan Korsel, Depian) dengan kapasitas sekitar 100.000 ton (2015). Selanjutnya, PT SLAI memasok pelet kayu dari pabriknya ke perusahaan Korsel Western Power Co. Ltd. Kerma Inhutani III dengan China juga diteken, dan Inhutani III menyiapkan lahan 5.000 Ha juga. PLTBm 2x10MW dengan bahan baku chip kayu (140.000 ton) juga dibangun untuk menunjang daya listrik pabrik, sedangkan sisa daya listrik dijual ke PLN.
  • Indonesia meneken MoU dengan fihak Korsel guna memberikan peluang investasi biomassa basis kayu pada areal sekitar 200.000 Ha sebagai proyek percontohan di Indonesia. Salah satunya adalah di bawah bendera PT Solar Park Indonesia di Wonosobo Jateng, 2009. Harga pelet kayu di Indonesia sekitar Rp2.500/kg (Okt 2014).
  • DI (PT SDI, Sosiopreneur Demi Indonesia) mengajak siswa SMK membuat mesin pelet kayu (1 ton/jam) guna memanfaatkan penanaman kayu KM di 30 Propinsi (Kaltim, NTB, Riau, Lampung, Bengkulu, dll). PT SDI membangun mesin pelet kayu dan PLTBm, dan akan membeli KM dari penduduk. Motonya adalah masyarakat mendapat pekerjaan dan penghasilan (dari penyiapan pelet kayu, ternak sapi dan kambing, dan ternak lebah) sekaligus mendapatkan listrik.
Proses pembuatan pelet kayu:
  • Serbukkan bahan terlebih dahulu
  • letakkan dalam mesin pengering-putar guna menurunkan kadar airnya hingga mencapai 10%
  • Masukkan serbuk kering (yang telah dicampuri tepung tapioka; tak perlu untuk bagas, karena sudah mengandung gula) untuk dipres dan dipanaskan sekitar 180 oC ke dalam mesin pembuat pelet dengan hasil akhir pelet kayu berbentuk silindris berdiamater 6-10 mm, panjang 1-3 cm, dan kepadatan 650 kg/m3.
  • bungkus/pak, kirim ke fihak lain

Karakteristik produk BB pelet

Pelet batang
Bahan dasar pelet ini adalah, batang jagung, jerami gandum, jerami padi, kulit kacang tanah, tongkol jagung, ranting kapas, batang kedelai, gulma (rumput liar), ranting, dedaunan, serbuk gergaji, dan limbah tanaman lainnya. Setelah bahan baku diremukkan, lalu ditekan, dan dicetak, dibentuk menjadi bentuk pelet dengan memberikan tekanan antara roller dan dies pada bahan. Densitas bahan semula sekitar 130kg/m3, tetapi densitas pelet menaik hingga di atas 1100kg/m3, sehingga memudahkan untuk disimpan dan ditranspor, sekaligus kinerja bakarnya menaik.

Pelet Bagas
Bagas tebu memiliki kandungan energi dan kualitas bakar tinggi. Prosedur produksinya: pembelian bahan mentah, pengeringan, peletisasi, dan pengepakan. Kualitas bahan tergantung kepada periode penanaman. Semua bahan dapat disimpan secara efisien pada waktunya, kemudian dikeringkan, dan dipeletisasi. Kandungan air pada tanaman tebu sekitar 20-25%. Pelet bagas memiliki nilai kalori tinggi 3.400-4.200 kKal (sebelum dipeletisasi hanya sekitar 1.825kKal, dan bila bagas mentah itu hanya dipanaskan menggunakan gas buang dari cerobong ketel, kadar air ampas turun 40%, dan nilai kalor menjadi 2305kKal).

Pelet Serbuk Gergaji
Jalur produksi pelet serbuk gergaji: pembelian bahan mentah, pengumpulan bahan, pengeringan, peletisasi dan pengepakan. Kandungan air serbuk gergaji sekitar 30-45% dan harga bahan mentah sekitar 21,05 - 24,29 USD/ton. Nilai kalorinya dapat mencapai 4.000 - 4.500 kKal.

Pelet Ranting
Jalur produksi pelet ranting: pembelian bahan mentah, peremukan, pengeringan, peletisasi dan pengepakan. Biaya bahan mentah sekitar 16,19 USD/ton. Nila kalori pelet ranting lebih rendah dari pelet serbuk gergaji.

Pemanfaatan Pelet Bagas
Pelet bagas adalah bioenergi yang baru. Ia dapat digunakan sebagai pemanas ruangan, kompor, boiler air panas dan industri, PLTBm, dan lainnya. Ia berfungsi sebagai pengganti kayu bakar, batubara, minyak bakar, dan LPG.

Potensi bagas di Indonesia adalah 30 ton/Ha/tahun. Sementara, areal lahan tebu (2014) seluas 447.000Ha [63,46% berada di Jawa, sisanya 36,54% berada di luar Jawa], maka potensi bagas total sekitar 13,41 juta ton/th, yang areal tanamnya menurun 6% dibandingkan th 2013, (470.198Ha). Oleh karena itu, guna memenuhi kebutuhan gula DN dan mengurangi impor raw sugar, maka Pemerintah menyiapkan lahan tebu tambahan sebanyak 500.000Ha di Sultra, P. Aru, dan Merauke, sekaligus membangun 10 pabrik gula baru DN. Di masa depan, akan ada tambahan bagas sekitar 15juta ton/tahun.
    Pemilihan Tapak dan Anggaran Biaya Pabrik Pelet Bagas
    Tapak pabrik bagas harus berada di lokasi bahan mentah yang melimpah, murah dan dekat bandar/pelabuhan guna mempermudah transportasi produk, sehingga biaya bahan mentah dan biaya lainnya (buruh, sewa gudang, biaya manajemen, dll) dapat dihemat serendah-rendahnya. Aspek legalitas bangunan dan ijin industri: TDI, SIUP, HO, IMB, dll yang terkait perlu disiapkan. Sertifikat untuk ekspor (SVLK) dan sertifikat produk (misalnya dari Sucofindo,dan SGS) juga disiapkan.

    Investasi awal pabrik pelet bagas sekitar 112.414 USD dengan kapasitas 1 ton/jam (kapasitas dapat dinaikkan hingga 6 ton/jam dengan menambah peralatan yang diperlukan). Investasi gedung pabrik sekitar 19.271 USD dengan luas lantai 6.000m2. Investasi modal awal peralatan sekitar 72.266 USD termasuk pengering 24.089 USD, stranding cage 1.927 USD, kabinet listrik 1.927 USD, mesin pelet (1 ton/jam) 25.695 USD, dll. Modal kerja sekitar 40.148 USD guna penyimpanan awal bahan mentah dan pra penjualan produk. 

    Bila pasar dan operasi stabil, anda dapat menaikkan investasi. Pengering 24.089 USD dapat digunakan untuk 3 pabrik pelet, anda cukup menambah investasi di Stranding cage, mesin pelet, dan conveyor. Bila pabrik pelet lebih dari tiga, maka pengering perlu ditambah dan sebuah truk fork-lift diperlukan. Mesin pendingin perlu dipertimbangkan tergantung situasi produksi.

    Biaya & Analisis Laba Pelet Bagas
    Target bisnis: 500 ton/bulan (awal). Bila operasi normal, produksi bulanan dapat ditingkatkan hingga 1.500 ton atau 3.000 ton. Produk tahunan sekitar 30.000 ton.

    Contoh Estimasi Biaya dan Laba Pelet Bagas di Brazil

    ROI Pelet Bagas
    • Harga bahan mentah bagas tebu: 19,45 USD/ton
    • Biaya transportasi: 3,24 USD/ton [biaya pengepakan dan biaya keluar]
    • Peremukan: 0
    • Beban listrik pengering: 1,39 USD/ton [7,5kV mesin listrik mengeringkan 0,7 ton/j]
    • Beban listrik peletisasi: 11,67 USD/ton [90kW mesin listrik pelet 1 ton/j]
    • Pengepakan: 5,19 USD/ton [25kg/karung; 0,13 USD/karung]
    • Buruh langsung: 8,10 USD/ton [1 alat untuk 8 pekerja, 11,34 USD untuk 1 pekerja dalam satu hari]
    • Biaya tapak: 5,33 USD/ton [19.434 USD untuk penggunaan 10 tahun]
    • Biaya alat: 3,25 USD/ton [alat 80.976 USD untuk 26 hari/bulan dalam 5 hari pakai]
    • Biaya perawatan: 4,86 USD/ton [biaya die / mata kempa yang aus]
    • Biaya TOTAL: 62,48 USD/ton
    Perhitungan Laba: Biaya total: 62,48 USD/ton; harga jual pelet di pabrik: 97,17 USD/ton; laba bersih untuk satu ton adalah 34,69 USD. Jika produksi bulanan 500 ton, laba bersih bulanan adalah 17.345 USD.

    Limbah padat tebu lainnya yang berasal dari hasil saring nira pada rotary drum filter disebut blotong, dan bila dikeringkan dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar di dapur untuk masak-memasak. Blotong umumnya digunakan untuk kompos.

    Pelet jerami padi/gandum/rumput/sejenisnya

    Berikut adalah contoh skema mesin alat pembuatan pelet dari jerami padi/gandum dengan kapasitas pelet 200-300 kg/jam. Mesin tersebut juga dapat memanfaatkan aneka bahan baku lainnya seperti kayu, ampas tebu, batang / kulit jagung / sorgum, kulit kacang, ampas jarak pagar, kulit kopi, tanaman cepat tumbuh, pelepah sawit, serbuk gergaji, potongan kertas, dan tatal kayu. Mesin terdiri atas, hammer mill, pellet mill, cooler, vibrated pellet separator yang dilengkapi dengan penangkap debu guna mencegah polusi debu. Seperti diketahui, jerami adalah benda yang halus dan sulit dipres. Oleh karena itu, mesin memerlukan pengumpanan screw conveyor yang khusus dirancang dengan tambahan hopper, sehingga pengguna dapat menambah serbuk gergaji dan potongan kertas guna meningkatkan kualitas pelet. Bila umpan terlalu basah, maka pengering ekstra perlu ditambahkan.

    Aneka jenis contoh mesin lain (diam, bergerak / dalam truk, mesin jinjing, besar dan kecil) banyak tersedia di pasaran LN [1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8]; DN [1, 2, 3] untuk membuat pelet dari aneka bahan baku biomassa.


    Perbandingan Pelet jerami (terhadap jerami padi) adalah: Kandungan air: 8-10% (15-30%); kadar abu 3% (15-20%); Nilai kalori: 18,5 MJ/kg (13,98 MJ/kg) atau 4422 kKal/kg (3341 kKal/kg). Pembakaran pelet jerami menghasilkan karbon netral yang dapat digunakan kembali pada pertumbuhan biomassa berikutnya.

    Pembuatan pelet jerami dapat menaikkan densitas curahnya, mengurangi biaya transpor, kandungan energi menaik (4422kKal/kg), kadar abu rendah (3%), dan abu pembakaran pelet jerami dapat digunakan sebagai pupuk mineral untuk pertumbuhan tanaman.


    Langkah-langkah pembuatan pelet jerami:
    1. Pemisahan jerami dari benda asing.
    2. Pelumatan jerami. Sebelum jerami dikirim ke pengumpan, Ia harus direduksi hingga berukuran seragam (<5mm) menggunakan hammer mill.
    3. Pengeringan jerami. Umumnya jerami dikeringkan di udara dengan kadar air 15%, sehingga pengeringan jerami tidak diperlukan. Akan tetapi, bila kadar air >15%, penggunaan pengering drum putar diperlukan.
    4. Peletisasi dalam mesin pelet. Setelah melalui proses pelumatan dan pengeringan, jerami diangkut ke mesin pelet jerami menggunakan ban berjalan (conveyor). Dengan bantuan tekanan antara die dan roller dalm mesin, pelet jerami ditekan keluar dan dipotong sesuai panjang yang diinginkan (6mm dan 8mm).
    5. Pendinginan pelet jerami. Guna mempertahankan kualitas pelet selama penyimpanan dan penanganan, keluaran pelet jerami yang bersuhu tinggi harus didinginkan di udara ke suhu kamar atau sedikit lebih tinggi menggunakan mesin pendingin udara lawan arah.
    Negara produsen beras (10 besar) yang berpotensi memanfaatkan mesin pelet jerami untuk mendaur-ulang energi dari jerami adalah Tiongkok, India, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Filipina, Myanmar, Brazil, dan Jepang.

    Pelet kayu mulai banyak diproduksi, sehingga kemungkinan besar akan terjadi banjir pasokan di DN yang dapat memerosotkan harga. Importir dari LN mulai mengenakan sekatan-sekatan mencari pelet kayu terbaik tetapi harga yang lebih murah. Oleh karena itu, sudah saatnya para pengusaha pelet kayu melengkapi usaha mereka dengan membangun PLTU Pelet kayu (PLTPk; PLTBm = biomassa) guna menghasilkan listrik dan membuka lapangan kerja baru yang diperlukan rakyat di sekitar pabrik pelet kayu. Contoh:
    • PT Austral Byna membangun PLTU pelet kayu 100MW (setiap 10MW memerlukan biaya Rp150miliar) di Mantuil Banjarmasin, Muara Teweh (Kab. Barito Utara) Kalteng, dan Kaltim.
    • PT EBI (BUMN) membangun PLTU pelet kayu 5-10MW (Luas pabrik 10 Ha mampu memproduksi 36.000 ton/tahun) di beberapa lokasi di Indonesia (energi: 4.800kKal, bioarang ~7.500kKal). Limbah / abu pelet kayu masih dapat dibuat pupuk untuk restorasi lahan gambut yang amat luas di Indonesia (ke 4 dunia). Sementara, limbah PLTU batubara menjadi limbah B3, atau menjadi bahan pengganti semen yang bila dicampur dengan filler lumpur Lapindo dapat digunakan sebagai material pembuatan jalan raya.
    • PT PLNE (Prima Layanan Nasional Enjinering) menandatangani kerma dengan Kab, Morowali, Sulteng, membangun PLTBm 10MW (biaya Rp.30miliar dalam 2 tahun) dengan bahan baku kaliandra merah yang tersebar luas di Morowali.
    Bila anda ingin membuka lahan, cacahlah limbah kayu yang tersedia kemudian dipres menjadi pelet kayu, sebagai tambahan penghasilan (PLTU, diekspor, bahan tungku rumah tangga, dll); bukan dengan cara membakar hutan yang akan menghasilkan asap ke seluruh penjuru dunia.



    ________________________________________________
    Bila anda meng-copy & paste tulisan ini di blog anda
    cobalah ikhlas menyebutkan link sumbernya
    http://energibarudanterbarukan.blogspot.co.id/2015/07/pelet-kayu-wood-pellet.html


    Gas HHO berbahaya dan berguna

    Gas HHO yang juga dikenal sebagai gas Brown diperoleh dari proses elektrolisis air. Efisiensi elektrolisis akan meningkat bila produksi gas hidrogen dan oksigen dibiarkan bercampur sehingga kandungan energinya ikut menaik. Oleh karena itu, Bahan bakar (BB) hidroksi tidak boleh disimpan dalam tabung bertekanan tinggi. BB hidroksi harus segera digunakan setelah diproduksi, karena berdaya ledak lebih tinggi dari gas hidrogen, dan dapat terbakar 1000 kali lebih cepat dari uap bensin, dan otomatis meledak dengan panas sekitar 570 oC tanpa penyalaan. Pada suhu dan tekanan normal, gas hidroksi dapat terbakar bila mengandung gas hidrogen sekitar 4-95% volum.

    Mengapa gas HHO yang berbahaya itu amat diminati?  Gas hidroksi bila bercampur dengan udara yang terhisap ke dalam mesin mobil dapat menurunkan konsumsi BB, gas buang lebih bersih, sekaligus membuang deposit karbon dalam mesin, sehingga umur mesin lebih lama. Di sisi lain, pemakai gas HHO cukup membawa dan menyimpan air, peralatan pembangkit gas HHO dan aki saja. Namun, sistem gas HHO harus dilengkapi dengan alat pencegah sambaran api balik ke elektroliser, guna menyelamatkan sistem, mobil dan penumpangnya dari bahaya ledakan.

    Contoh bahaya ledakan gas HHO terjadi pada tanggal 17 Juni 2010 di California, USA. Allan melaporkan bahwa pada hari Kamis sore salah seorang peneliti (inventor) Tyson Larson terbunuh saat terjadi ledakan dahsyat hingga melubangi atap dan pintu belakang gedung Simi Valley milik perusahaan keluarga Realm Industries, ketika mencoba menerapkan patent mereka di bidang teknologi BB air guna membuat BB masa depan.

    Pengembangan gas HHO di Indonesia telah banyak dilakukan oleh anak bangsa sebagai sumber energi dan bahan bakar transportasi yang murah, hemat, dan bersih lingkungan dengan harapan tidak bergantung lagi kepada BBM. Mereka mempelajari dan memanfaatkan gas HHO dengan membuat kit/generator gas HHO dan sekaligus memasarkan produk mereka untuk dipasang di kendaraan bermotor, sedangkan lainnya berupa alat las-lasan, kompor dll.

    Beberapa peralatan menggunakan gas HHO telah banyak diproduksi. Anak bangsa diharapkan tidak ketinggalan dalam memproduksi alat tersebut terutama untuk menyalakan genset menggunakan air sebagai bahan bakar. 


    Mobil Sel Tunam
    Ada pula Gas hidrogen dan oksigen yang diperoleh dari hasil elektrolisis tidak dicampur lagi (terpisah, gas oksigen dibuang ke lingkungan atau ditampung untuk tujuan lain), maka gas hidrogen dapat langsung masuk ke mesin motor/mobil yang hal itu telah dicoba oleh D Dingle (Filipina) dan beberapa  peneliti Indonesia (Babeng, Siswa SMK Purworejo, 3, dan SHOGEN). Gas hidrogen tersebut dapat pula digunakan sebagai umpan sel tunam (Fuel Cell) pada mobil dan pembangkit listrik senyap (sedikit sekali peralatan yang bergerak) yang mulai banyak diminati di dunia.


    Pembangkit gas HHO
    Penggunaan gas HHO (adanya gas hidrogen dalam air) di bidang kesehatan telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti. Gas HHO mampu: 1) mengurangi racun dalam air (pengganti gas Khlorin); 2) membuat otot relaks / menghilangkan rasa sakit; 3) menghilangkan luka dengan cepat.

     Efek gas HHO tidak berbahaya kepada badan manusia; Salah satunya adalah dengan cara menyemburkan gas HHO yang telah bersih (disaring 2x untuk menghilangkan katalis seperti NaOH atau KOH yang terbawa) ke dalam air minum selama 10 menit. Bila air minum tersebut diminumkan kepada pasien, ternyata mempunyai efek menyehatkan.


    Hembusan Gas HHO ke daerah sakit
     Selain itu, gas HHO dapat menghilangkan rasa sakit dengan cara langsung menghembuskannya selama 15-25 menit (3x sehari selama 3 hari) ke bagian badan yang sakit (bahu, punggung, nyeri otot / bengkak, dll). Gas HHO menembus masuk ke dalam kulit, dan terserap ke dalam aliran darah sehingga gas hidrogen dalam gas HHO memperbaiki struktur sel yang dilewatinya.

    Peneliti Korea (Kang, Song Doug, WO/2005/049051, Juni 2005, membuat Patent di AS dengan no. 20070104797, Oktober 2007) juga menyebutkan hal yang sama (misalnya penyakit seperti myalgia (nyeri otot), arthritis (radang sendi), peradangan menular & tak-menular, rhinitis (peradangan dalam hidung), sakit syaraf, asma, glukoma, kanker kulit, diabetes, katarak, sakit kepala, migren, alergi, parkinson, asam urat/encok/rematik, radang, bronkhitis, sakit mata, gangguan panik, disfungsi sirkulasi darah, kardiovaskular, penyempitan jantung, myasthenia, kerusakan tulang, sakit menstruasi, dll.) dapat diperbaiki dengan gas HHO (yang mengandung listrik). Monoatomik hidrogen dalam gas HHO dapat menaikkan pH air (lebih alkali 8-8,5) yang dapat menghilangkan luka, kemudian kering dan sembuh. Gas HHO dapat mempercepat tanaman tumbuh; Ayam dapat memberikan telur lebih banyak bila diberi air yang disembur gas HHO, karena kerumunan struktur kristal mikro air berubah menjadi terstruktur rapi yang dapat berfungsi mengobati sel rusak.

    Cobalah terus memproduksi Gas HHO atau gas hidrogen saja (gas oksigen dipisah) dari proses elektrolisis dan efisienkan proses produksinya agar makin murah.

    Kondisi EBT di FILIPINA / Renewable Energy in Philippines

    Peningkatan pemanfaatan EBT di Filipina merupakan strategi jitu pemerintah Filipina, karena peningkatan penggunaan energi panas bumi dan sumber daya air dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap BBM yang diimpor. Pengadaan listrik di pedesaan di Filipina diupayakan dengan cara memanfaatkan tenaga surya, mikro-hidro, angin dan biomassa.
    Pemanfaatan EBT yang hendak dicapai adalah 40% dari kebutuhan listrik negara. Per 31 Okt 2015, Departemen Energi Filipina telah menyetujui 616 proyek ET. Sementara, PLTA mendapatkan porsi terbesar dari sisi proyek dan kapasitas (344 proyek) 7,39GW. PLTS sebanyak 105 proyek (kapasitas 2,55GW) biomassa 65 proyek (255MW), PLTB 52 proyek (3,35GW), PLTP 46 proyek (750MW), dan PLTGLaut 7 proyek (26MW).

    Langkah yang ditempuh adalah melalui slogan : (i) Jadikan Filipina produsen energi panas bumi no.1 di dunia; (ii) Jadikan Filipina produsen energi angin no.1 di Asia Tenggara; (iii) Gandakan kapasitas hidro; (iv) Kembangkan energi biomassa, surya, dan energi laut hingga 250 MW.
    Tahun 2014, DoE Filipina mencatat bahwa di kep. Palawan proyek 25,08 MW telah dimenangkan yang sebagian besar adalah PLTS dan PLTA. Misalnya PLTS Puerto Princes 10 MW dimenangkan oleh Enfinity Philippines Renewable Resources Inc. Di Pulau Mindoro: 189,3 MW, yang terbesar adalah PLTBayu Puerto Galera 48 MW. Kemudian 47,1 MW ET lainnya dan 151,2MW PLT Biomassa.

    PANAS BUMI

    Tahun 1967 pemerintah Filipina mengesahkan UU Panas Bumi. Setahun kemudian, ditemukan sumber panas bumi oleh Tiwiby COMVOL. Tahun 1969 COMVOL menghasilkan uap hingga mampu menggerakkan turbo-generator dan menghasilkan listrik. Tahun 1970 COMVOL-NSDB menuntaskan studi riset awal di Tiwi, sesudah itu potensi lapangan panas bumi lainnya ditemukan.
    Listrik yang diproduksi oleh energi panas bumi (PLTP) di Filipina ternyata lebih murah dibandingkan dengan listrik yang diproduksi oleh gas alam dan batubara, bahkan lebih murah dari PLTA.
    Potensi: 4.500 MW. Kapasitas tambahan yang potential: 1200 MW.
    PLTP (Pembangkit Listrik tenaga Panas bumi) Filipina berada di pulau Luzon, Mindanao, dan Leyte dengan kapasitas terpasang hingga tahun 2009 sebesar 2.027 MW. Kapasitas itu ditargetkan akan terus bertambah hingga 3.097 MW pada tahun 2030.
    Saat ini terdapat 8 lapangan panas bumi, yaitu PLTP Makban (Makiling-Banahaw) (426-480 MWe) Brgy. Bitin, Teluk Laguna (1996), Tiwi (275-330 MWe) Tiwi, Albay (1979), Tongonan-1 (112,5 MWe, direhab oleh Green Core), Leyte (606-701 MWe) Ormoc, provinsi Leyte (1996), Palinpinon (195 MWe, direhab oleh Green Core) Valencia, Negros Oriental (1995), Bacon-Manito (152 MWe) Bacon (direhab oleh Bacman; th 2014 direhab-ulang dan dibeli EDC), Sorsogon (1998-2014), Mt Apo/Mindanao (108 MWe) Kidapawan, North Cotabato, dan Northern Negros (49 MWe) NW Gunung Kanlaon. Kapasitas terpasang itu menyumbang energi listrik 27% terhadap total produksi listrik negara, dan menjadi negara kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dalam pemanfaatan energi panas bumi (Indonesia ketiga terbesar dunia).
    • Ada 4 Proyek sedang berjalan: 20-40 MW Amacan, di bukit Compostela oleh Guidance Management Corp (GMC); 20-40 MW Biliran oleh Biliran Geothermal Inc.; 20-40 MW Mabini di Batangas oleh Basic Energy Corp; 60 MW Kalinga oleh Aragon Power & Energy Corp. dan GMC.
    • Agustus 2010, telah ditawarkan 19 PLTP (total 620 MW) dengan dana USD 2,5 milyar (investasi Suasta), 10 di antaranya telah dikonfirmasikan, sisanya sedang dibicarakan dengan perusahaan lainnya. Pengembang Geysir Green Energy dan Energy Development Corp. (EDC), kontraktor panas bumi Filipina terbesar, disebut-sebut berada di antara para penawar pada 19 kontrak tersebut.
    • PLTP Maibarara 20 MW dikelola oleh MGI (Maibarara Geothermal Inc) di gunung Makiling, Batangas, telah disetujui oleh DoE Filipina dan diharapkan beroperasi th 2013. PLTP ini ditingkatkan 10 MW (beroperasi awal 2016) sehingga menjadi 30 MW (tambah 25jutaUSD), yang kelak akan ditambah lagi 10 MW.
    • PLTP Nasulo 20 MW oleh EDC di Visayas diharapkan beroperasi th 2013, dan PLTP Mindanao-3/Mt Apo 50 MW di Mindanao diharapkan beroperasi th 2014.
    • PLTP 40 MW di Mindoro dikelola oleh EPI (Emerging Power Inc), terdiri atas Occidental Mindoro (20MW, th 2015) dam Oriental Mindoro (20MW th 2016).

    ANGIN

    Potensi teknis: 70.000 MW.
    Saat ini ada 30 unit kincir angin setinggi 60 m sepanjang pantai di teluk Bangui, Ilocos Vorte yang dibuat oleh perusahaan Vestas dengan kapasitas 25 MW (maks 33 MW oleh Northwind Power) kompleks ladang angin pertama di Asia Tenggara; Ada tambahan 8 MW pada proyek fase II.
    Lokasi teridentifikasi: Batanes dan pulau Babuyan; Ujung Barat laut Luzon (Bangui, Ilocos Norte); pesisir Timur dari Luzon Utara ke Selatan hingga Samar; Koridor angin antara Luzon dan Mindoro; Antara Mindoro dan Panay. Tempat lain adalah Leyte, Negros, Cebu, Palawan Utara, Selatan), dan Timur Mindanao (Timur, Utara, Barat), Bohol, Basilan, Sulu dan Tawi-Tawi.
    • Ada 6 Proyek tambahan: 2 tempat di Ilocos Norte oleh Energy Development Corp, 2 tempat di Ilocos Norte oleh Northern Luzon UPC Asia Corp; 1 tempat di Negros Occidental, dan 1 tempat di Negros Oriental oleh Constellation Energy Corp.
    • Tahun 2014, PLTBayu dibangun oleh pemerintah dengan target perkiraan total kapasitas 557 MW (333 MW di Segi empat bisnis agro Luzon Utara, 124 MW di pinggiran kota Luzon Metro, 85 MW di pusat Filipina, dan 15 MW di Mindanao).
    • Trans-Asia Renewable Energy Co. membangun 27 kincir angin (PLTB) di kota San Lorenzo, Prov. Kep. Guimaras yang menghasilkan listrik 54 MW.

    AIR (PLTA)

    PLTA menyumbang listrik sekitar 10%. Guna memenuhi permintaan yang meningkat, setidaknya harus ada 2.950 MW dalam jaringan nasional, dan hal itu masih dapat ditingkatkan hingga 5.468 MW.
    Potensi : 14.367 MW yang telah diidentifikasi dalam 293 titik di seluruh negeri.
    PLTA terpasang sekitar 2,518 MW, di antaranya adalah Bakun 70 MW, Ilocos Sur (2001); Binga 100 MW, Benguet (1960); Casecnan 140 MW, Nueva Ecija (2001); Agus-1 80 MW, Marawi, Lanao del Sur (1992-94); Agus-2 180 MW, Saguiaran, Lanao del Sur (1979); Agus-4 158,1 MW, Baloi, Lanao del Norte (1985); Agus-5 55 MW, Iligan, Lanao del Norte (1985); Agus 6 200 MW, Iligan, Lanao del Norte (1953-77); Agus-7 54 MW, Iligan, Lanao del Norte (1982-83); Angat 408 MW, Norzagaray, Bulacan (1992); Kalayaan (PLT tandon terpompa) 685 MW,  Kalayaan, Laguna (1983); Magat 360 MW, Ramon Isabela (1984); Pulangi IV 255 MW, Maramag, Bukidnon (1985-86); Pantabangan-Masiway 112 MW, Pantabangan, Nueva Ecija (1980); San Roque 345 MW, San Manuel and San Nicholas Pangasinan (2003).

    PLTA Bugasong 8 MW, Prov. Antique oleh SUWECO (Sunwest Water & Electric Co) beroperasi th 2014.

    PLTA Kecil & Mini-Hidro (PLTMH)

    Potensi: 13.428 MW; Terpasang: 1.784 MW di 1.081 titik.  Saat ini ada 102 PLTMikro-Hidro dan 45 PLTMini-Hidro yang beroperasi, misalnya Caliraya 22,6 MW, Laguna; Botocan 20,8 MW, Laguna;  Baligatan 6 MW, Isabela; Palakpakin 0,56 MW, Laguna; Balugbog 0,55 MW, Laguna; Cawayan 0,4 MW Sorsogon; Kalibato 0,075 MW, Laguna; Magat A 1,44 MW, Isabela; Magat B 1,08 MW, Isabela; Loboc 1,2 MW, Bohol; Amlan 0,8 MW, Negros Oriental; Talomo 3,5 MW, Davao City; Agusan 1,6 MW, Bukidnon; Matling 1,5 MW, Inarihan 0,96 MW, VESCO 75 kW, Dakkitan 6 kW, Dulao 3 kW, Gacab 10 kW, Ngibat 5 kW, Yamog 20 kW, Hinubasan 550 kW, Bubunawan 7 MW, Bukidnon; Romblon 0,9 MW, dll.  Bila digandakan perlu tambahan 3.100 MW. Rencana kapasitas terpasang dalam 10 th kemudian : 5.554 MW.
    Ada 5 kontrak disetujui:  PLTMH Vilasiga 8 MW di Bugasong, Antique; Solong 2,30 MW di San Miguel, Catanduanes; Hitoma-1 1,5 MW dan Hitoma-2 1,6 MW di Caramoran, Catanduanes; GERPHIL  Renewable Energy, Inc. 0,11 MW di Impasugong, Bukidnon.
    15 PLTMH dengan kapasitas 78,1 MW sedang ditawarkan.
    Proyek yang telah disetujui DoE: Cabulig 8 MW oleh Cagayan Electric Power and Light's di Mindanao.

    BIOMASSA
    Terpasang: 20 MW. Rencana kapasitas terpasang dalam 10 tahun kemudian: 270 MW. Potensi dari pabrik gula: 540 MW; dari sekam padi: 360 MW; dari limbah kelapa: 20 MW. Proyek: PLT sekam padi La Suerte: 1 MW di San Manuel, Isabela, dioperasikan April 2008.
    Belanda berencana membangun PLBM 400 kW (biogas) dari kotoran ayam di Bantayan sebagai bagian dari industri unggas. Pembangkit itu juga dapat menggunakan limbah jagung sebagai bahan baku.

    EEDC (Eco Enerhiya Development Corp.) menggunakan limbah pertanian yang melimpah (406.656,33 ton) di Camarines Sur (kota Ragay, Sipocot, dan Lupi) dan Libmanan sebagai bahan baku PLTBM. Kebun kelapa menyumbang 195.778,45 ton atau 48 % limbah total. EEDC berharap dapat mengganti pembangkit listrik konvensional 200 MW dengan energi terbarukan. Setiap 2 MW energi dibangkitkan membutuhkan 60 ton limbah pertanian per hari.

    Green Power Panay Philippines Inc, berencana membangun PLTBM 17,5-35 MW dengan investasi sekitar P2,6 miliar di Mina, Iloilo guna mengatasi kelangkaan listrik di Panay dan jaringan listrik Visayas.

    Pepsi-Cola membangun PLTBM dengan sistem integrator dari perusahaan India, Thermax, yang menggunakan sekam padi atau tatal kayu sebagai bahan baku. PLTBM pertama dengan kapasitas 1 MW yang akan menyerap dana sekitar US$ 1,4juta dibangun di pabrik Pepsi-Cola di Rosario, La Union di Luzon dan Cagayan de Oro di Mindanao. Pepsi-Cola telah mempunyai satu mesin uap di Muntinlupa untuk membersihkan botol-botol Pepsi. Selanjutnya, Pepsi akan membangun 11 PLTBM berbahan bakar tempurung kelapa untuk mendapatkan uap dari PLTBM tersebut yang diharapkan akan dibangun di Pampanga, Naga, Cebu, Leyte, Bacolod, Iloilo, Zamboanga, dan Davaoover untuk 3-4 tahun ke depan.
    Global Green Power (Green Power Negros Philippines) bekerjasama dengan perusahaan China akan membangun PLTBM  35 MW di tanah seluas 12 Ha di kota Sagay, Negros Occidental Sangguniang Panlalawigan dengan bahan bakar jerami dan sekam padi, batang dan tongkol jagung, pucuk dan daun tebu, dan tempurung kelapa.

    Perusahaan Filipina-AS, Clenergen, membangun PLTBM skala pilot (dengan biaya US$5juta) di Romblon (bekerjasama dengan Romblon State University) menggunakan potongan bambu sebagai bahan bakar dan akan menjual listriknya ke National Power Corporation. Satu Ha akan menghasilkan 100 ton bambu. PLTBM modular ini dapat dibangun di areal bambu yang berselingan dengan pohon kelapa.

    Bulan Juni 2012, proyek biomassa dari Green Future 13 MW akan dikomisioning. Proyek Asian Energy 4 MW telah dikerjakan di Visayas.

    BIODIESEL

    Produksi biodiesel di Filipina didorong dengan tersedianya limpahan jelantah. Pasokan minyak jarak dan minyak kacang tidak konsisten untuk diubah ke biodiesel dan produk samping seperti sabun dan turunan dari gliserin. Mei 2012, kongres telah menelorkan House Bill 5957 yang melarang daur-ulang dan penjualan jelantah. Eway54 Ecodiesel dan keluarga Jeepney mengumpulkan jelantah guna diubah menjadi biodiesel untuk kendaraan mereka. Eway54 Ecodiesel telah mampu memberikan 10.000 liter biodiesel kepada langganan tunggalnya dengan harga P41,-/liter yang lebih rendah dari harga diesel di Filipina dan sesuai standar ASTM D6751. Produksi biodiesel itu telah berlangsung 3 tahun.

    SURYA
    Potensi: 5,1 kWh/m2/hari  (jam 6-9).
    PLTS: 960 kW; panel surya dibuat oleh Sunpower Philippines; proyek mobil surya (Sinag: oleh mahasiswa Filipina).

    Setidaknya 451 rumah tangga di 16 titik di kota  Pamplona, Siaton, Santa Catalina, Tanjay di Negros Oriental menerima program Rumah Surya dari Departemen Energi (DOE). Setiap rumah menerima satu panel surya (30 Watt, hanya untuk penerangan) yang dipasang di atap, 4 lampu LED, dan radio AM-FM. Program itu diberikan kuartal III th 2011, dengan masing-masing panel seharga P23.000 dan diberikan cuma-cuma kepada penduduk yang tinggal jauh di pedalaman dan tidak mendapatkan akses listrik.
    SunConnex, pengembang tenaga surya dari Belanda, pemasok PV atau produk listrik surya dan sistem PLTS, menginvestasikan dananya lebih dari US$100juta guna membangun proyek PLTS di Filipina dengan daya 5-10 MW di seluruh negeri hingga total daya 50 MW.

    Brown Company Inc. melakukan FS (Studi Kelayakan) untuk PLTS 50MW di kota Barotac Viejo, Prov. Iloilo, Pulau Panay. PLTS San Carlos 22 MW di Prov. Negros Occidental yang dikerjakan oleh San Carlos Solar Enery Inc (SaCaSol) telah beroperasi Mei 2014.

    LAUT (Gelombang, Tidal/Arus, Salinitas/Osmotik, Thermal)
    Potensi: 170.000 MW teridentifikasi di 22 tempat yang prospektif untuk ditawarkan kepada investor terutama energi tidal dan thermal.
    Ada 14 tempat berpotensi untuk energi Thermal yang teridentifikasi: 1) San Vicente, Ilocos Sur; 2) Agno, Pangasinan; 3) Palauig, Zambales; 4) Mananao, Mindoro; 5) San Jose, Antique; 6) Manukan, Misamis Occidental; 7) Omosmarata, Basilan; 8) Palaui Island, Cagayan; 9) Dijohan Pt., Bulacan; 10) Mascasco, Masbate; 11) Batag Island, Samar Utara; 12) San Francisco, Surigao del Norte; 13) Lamon Pt., Surigao del Sur; 14) Lacaron, Davao del Sur.
    Ada 8 tempat berpotensi untuk energi Tidal yang teridentifikasi: Lintasan Hinatuan, Selat Bohol/Taliban, Selat Surigao, Selat Gaboc, Basiao Channel, Selat San Bernardio, Selat Basilan, dan Selat San Juanico. Contoh: Dalupiri Blue Energy Project dengan kapasitas 2.200 MW di lokasi 12.25' Utara 124.17' Timur.
    Studi dari Oceanographic Co. Norwegia menunjukkan ada tempat berpotensi untuk energi gelombang, seperti Batanes Islands, Cagayan, Polilio Islands di Aurora, dan Bolinao di Pangasinan.
    Pada Oktober 2010, kontrak diberikan kepada Bell Pirie Power Corp. PLT Laut (thermal) Cabagan 5 MW di Zambales.

    Guna mempromosikan EBT listrik masuk desa, 30 pulau ditargetkan menggunakan sistem tenaga hibrid. Tambahan pula, 1500 barangay diprogramkan untuk dialiri listrik menggunakan sistem EBT.

    INSENTIF

    Filipina banyak memberikan insentif kepada Pengembang, pemasok, dan pabrik EBT (7 year Income Tax Holiday (ITH)10 year Duty-free Importation of RE Machinery Equipment and Materials, Components, Parts and Materials , Zero Percent Value-Added Tax Rate / Tax Transactions100% Tax Credit on Domestic Capital Equipment and Services / Domestic Capital Components, Parts and Materials, dll).