Pages

Senin, 21 Mei 2018

1. Kondisi EBT di INDONESIA / Renewable Energy in INDONESIA


Sektor energi di Indonesia akan terus ditingkatkan dengan cara:
  • meningkatkan porsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) guna mengatasi permintaan energi yang terus meningkat. Penjualan tenaga listrik diperkirakan 6,86% selama 10 tahun mendatang.
  • Target bauran energi EBT adalah 23% (untuk th 2025, 31% pada th 2050 sesuai dengan PP no.79 thh 2014); sementara, batubara > 30%, gas > 22%, dan BBM < 25%. Awal 2018, EBT sudah mencapai 12,9% dari target 23% yang berasal dari PLTP dan PLTA, PLTMH. Bila target 23% EBT (2025) tidak tercapai, maka energi nuklir (PLTN) dapat dijadikan alternatif pemenuhan target tsb. Sementara PLTBm terus didorong untuk ikut aktif mencapai target bauran energi nasional. PP No 22 th 2017 tentang Rencana Umum Energi nasional menekankan paradigma energi harus berkelanjutan dengan cara inovatif dan masif. Percepatan EBT didukung oleh PP no 14 th 2017. Pengembangan investasi via PPP berdasarkan PP no.44 th 2017, sedangkan pemanfaatan EBT untuk penyediaan listrik melalui skema BOOT berdasarkan Permen ESDM no. 50 th 2017.
  •  Mengoptimalkan partisipasi badan usaha swata (tanpa melibatkan PERTAMINA) guna melaksanakan pembangunan kilang minyak bumi dan kondensat di dalam negeri (DN)  hingga SPBU di Indonesia (Permen ESDM 35 tahun 2016) untuk menjamin ketersediaan BBM DN, mengurangi impor BBM, bahkan BBM berlebih dapat diekspor ke LN. 
  • PLTU mulut tambang (misalnya Sumsel) dan PLTG Wellhead (mulut sumur Gas) akan diprioritaskan guna meningkatkan ekonomi energi primer setempat dan efisiensi penyaluran tenaga listrik. Kapasitas total PLTU Mulut Tambang sekitar 7.300MW, di Sumatera 5.700MW, sedangkan di Kalimantan 1.600MW.
  • Pembangkit listrik hingga 2025 ditargetkan 125GW, transmissi 67.422km, dan gardu induk 164.170MVA.

Program-program untuk mencapai target hingga 23% EBT (kemungkinan tahun 2025 tidak akan tercapai akibat terbitnya Permen ESDM No. 43 tahun 2017 dan Permen ESDM No. 12 tahun 2017 dengan tarif yang sangat kompetitif) adalah melalui listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan Biomassa dan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIDAP), PLTS perkotaan dan PLTS apung, dan pengembangan biofuel.

PT PLN (Persero) akan menambah pembangkit listrik dengan total 75.900MW (75,9GW) di seluruh Indonesia hingga 10 tahun ke depan seperti tercantum dalam RUPTL 2017-2026. Hal itu dilakukan guna menyesuaikan target dan rasio elektrifikasi yang tercantum dalam RUPTL itu. Indonesia masih memerlukan dana lebih dari Rp.1.600triliun untuk mempercepat pengembangan EBT.

Tambahan kapasitas selama 10 tahun mendatang (2017-2026) sekitar 77,9 GW, yang terdiri atas 31,9 GW (PLTU), PLTUGas 18,8GW,  PLTG/MG 5,6 GW; dan  EBT berasal dari PLTA 14 GW (18% dari 77,9 GW); PLTP 6,3 GW (8,1%); sisanya 1,2 GW (1,6%) untuk PLTS, PLTB, PLTD, PLTSa atau PLTBm. 

Seluruh pembangkit secara bertahap akan dinaikkan kapasitasnya. Pengembangan EBT mengacu pada situasi lokal dan potensi energi di setiap daerah. Misalnya Sumba: PLTS dan PLTB (banyak matahari dan angin); Sukabumi: PLTB; Mamuju: PLTA/PLTM/PLTMH; Bangka/Kalbar/SulBar: PLTT (Thorium). Pemerintah mendukung inovasi pemanfaatan PLTS, misalnya untuk penerangan jalan, dan mendorong pula pemasangan panel surya di atap-atap pusat pertokoan, mal, gedung-gedung pemerintah, bahkan perumahan warga agar mereka mendapatkan pasokan listrik sendiri (PLTS 1m persegi akan menghasilkan listrik ~100W dengan biaya ~Rp.2juta).

Pada tahun 2016, PLTS dibangun sebanyak 109 unit (total 18,4MW) yang tersebar di seluruh Indonesia, dan terdiri atas PLTS hibrid, PLTS Terapung, PLTS rooftop bandara, PLTMH sebanyak 25 unit (1,6MW), PLTB 1 unit (850kW), PLTSa 2 unit (1500kW), PLTBg (Pome) 3unit (3000kW), PLT Bio Rumput Laut 1 unit (1000kW), dan PLT Nabati 1 unit (5000kW). Sementara, pengembangan PLTP 24 unit mendapat bantuan 1,716MW. 

Upaya penganekaragaman (diversifikasi) sumber energi lainnya selain minyak bumi terus dilakukan, di antaranya pemanfaatan gas, batubara, dan EBT (air/mikrohidro, panas bumi, biomassa, surya, angin, gelombang/arus laut, BB Nabati, nuklir hijau/reaktor fusi, batu bara tercairkan / liquefied coal, batubara tergaskan / gasified coal, dan gas hidrat). UU no.30 tahun 2007 mengklasifikasikan bahwa Energi Baru (EB) terdiri atas nuklir (hijau), hidrogen, gas metana batubara (CBM, Coal Bed Methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Sementara, ET terdiri atas panas bumi, angin/bayu, bioenergi, sinar matahari/surya, aliran dan terjunan air, dan gerakan dan perbedaan temperatur lapisan laut.

CSR PLN: PLTMH Watu Panjang
PT PLN mengembangkan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang berkelanjutan, berupa pengembangan DME (Rp30miliar, 2012) guna membidik daerah terpencil yang belum terlistriki dengan menggunakan infrastruktur yang ada di sekitarnya sebagai pembangkit energi, misalnya PLTMH (mis: Watu panjang 25 kWh/63KK, Probolinggo, Jatim) / PLTS (mis: PLTS SEHEN / Super Ekstra Hemat Energi, di Sota, Merauke, Papua) / PLT Bayu / PLT Sampah / PLT Biomassa, biogas, dll. Pengembangan DME diharapkan mencukupi listrik masyarakat terpencil, dan pada gilirannya juga berdampak positif kepada PLN sendiri maupun para stakeholder yang terkait. Salah satu contoh bantuan CSR : PT PLN (Persero) Kantor Pusat memberikan mandat kepada PT PJB (anak perusahaan PLN) untuk mengembangkan DME di dekat lokasi proyek misalnya Sumberejo, Pasuruan, (2 unit, 2x850 W), Bondowoso (10 unit, 10x850W), Trenggalek (4 unit), Tulungagung (2 unit), Jabung (Malang), Bergas Kidul (Ungaran), Kalongan dan Karang Sulang (Semarang), Pilang Payung (Grobogan), Karang Mukti (Subang), Karyamukti dan Lebakwangi (Bandung), Rajagaluh (Majalengka), Parung Banteng dan Cadassari (Purwakarta), Pasanggrahan (Garut), Purworejo (10 unit), Brebes (10 unit), Pandesari (Malang, Ciherang (Cianjur), Cipendeuy (Bandung Barat), Agrabinta (Garut). PLN NTB: mengembangkan PLTS di 9 dusun tersebar di Kab. Lombok Utara, Tengah, Barat, Timur, Kab Bima, dan Kab. Dompu. Sementara, Menteri Desa,PDT&T mendorong BUMN lainnya dan pengusaha swasta untuk terus mengembangkan DME di daerah terpencil via CSR.

Tahun 2015, hanya 5.000 desa terpencil, tertinggal, dan di perbatasan yang menjadi target DME sebagai sasaran CSR (dari ~10ribu desa terpencil; total ada 74.045 desa di Indonesia per 10 Des 2014), sedangkan kesejahteraan desa ditingkatkan dengan salah satunya membangun BUMDes seperti yang telah dicapai desa Gumung Kidul, DIY. Kampung Waitabar, Sumba Barat, NTT dipilih menjadi DME percontohan oleh Men Desa PDT&T. Sebelumnya, telah hadir PLTMH & PLTS di Sumba (PLTMH: Kamanggih 1x40kW, Lapopu 2x800kW, Lokomboro 2,3MW, dan Laputi 32 kW; PLTS: Salura 1x150kW, dan Bilachenge 480 kWp).

Tahun 2012-2014, pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) ditekankan kepada pengembangan biogas untuk memasak dan penerangan. Tahun 2011, Pemerintah mengembangkan 35 DME berbasis non BBN, yaitu PLTMH 10 lokasi (5 di Sumatera, 2 di Jawa, 3 di Kalimantan 4 di Sulawesi, 2 di Nusa Tenggara, 1 di Maluku dan Papua), arus laut 1 lokasi, Hibrid 1 lokasi, peralatan produksi (sisa energi listrik dari EBT) 10 lokasi. Tahun 2010, DME dikembangkan di 15 wilayah di Indonesia, 9 di luar P. Jawa  dan 6 di P. jawa. Th 2009, program DME mencapai 633 desa, dengan rincian Tenaga Air 244 desa, BB Nabati 237 desa, Tenaga Surya 125 desa, Biogas 14 desa, Tenaga Angin 12 desa, Biomassa 1 desa.

 Di lain fihak, PT Pertamina (Persero) berkomitmen mengembangkan 5 jenis EBT, yaitu 
  • Geothermal, PT PGE (Pertamina Geothermal Energy) (PLTP Kamojang-5 / 35MW; Karaha-1 / 30MW; Lahendong-5 & 6 / 2x20MW; Ulubelu-3 & 4 / 40MW)
  • Coal Bed Methane (CBM),  PT PHE (Pertamina Hulu Energi) Blok Sangatta-1 dan Sangatta-2 di Kaltim, Blok Tanjung Enim dan Muara Enim di Sumsel.
  • Shale Gas, potensi di Indonesia: 574TCF (~4x cadangan gas bumi) di Sumatera, Kalimantan, Papua, Jawa (pengembangannya diatur di Permen ESDM No.5/2012). Pertamina menggandeng AS.
  • Alga/lumut (Algae to biodiesel Euro 4-5). Hasil riset lainnya: Biodiesel Euro-5 dari minyak sawit melalui katalis hydrotreated biodiesel, dan Diesel emulsion berasal dari campuran biodiesel, air, dan surfaktan.
  • Angin (Bayu). 
Di sisi lain, Pertamina meneken MoU dengan Akuo Energy (IPP, Paris, Perancis) yang difokuskan kepada pengembangan PLTBayu, PV Surya, dan OTEC di lokasi terpencil. Sasaran dalam waktu dekat, kerma itu akan menetapkan 3 pulau untuk lokasi PLTS 5MW pada tahun 2016. PLTBayu 60 MW akan dikembangkan pada tahun 2017. Kemudian, PLTS, PLTB dan OTEC akan dikembangkan hingga 560 MW pada tahun 2018.

Beberapa pengusaha asing tertarik untuk berpartisipasi dalam pengembangan EBT di Indonesia, misalnya
  • BRG (Badan Restorasi Gambut) Indonesia dan tim CIRAD, Agricultural Research for Development Perancis, meneliti pengelolaan limbah sawit di kab. Muba, Banyu Asin menjadi bahan bakau energi biomassa.
  • A-Wing Group (Jepang) meneken MoU dengan PT BAB (Bintang Angkasa Berjaya) berencana melistriki 2500 desa (dari 12500 Desa yang belum teraliri listrik) di Papua dengan ET dari biomassa (PLTBm), PLTS, PLTA, dan PLTBayu.
  • Australia yang berpengalaman di bidang infrastruktur energi di bidang panas bumi, solar, alga, mikrohidro, biomassa tertarik untuk mengembangkan EBT di Indonesia. 
  • Austria dan Norwegia (SN Power) menawarkan kerjasama membangun PLTA. 
  • Jerman, Perancis (tanam US$10miliar), 
  • Amerika Serikat, dan Selandia Baru ingin bekerjasama di bidang panas bumi (geothermal). Selandia Baru telah meneken kerjasama dengan RI (April 2012) guna membangun PLTP 4 GW th 2015. Chevron Co. (produsen gas terbesar kedua th 2011 sesudah ExxonMobil Indonesia) juga tertarik berinvestasi di bidang panas bumi dan energi laut dalam. Exxon dan General Electric akan membantu di sektor efisiensi energi, salah satunya adalah mengembangkan turbin dan Pembangkit Listrik skala kecil berbasis EBT di pulau-pulau terluar dan di daerah nelayan.
  • Turki tertarik pula untuk mengembangkan energi geothermal di wilayah Palembang/ Sumsel, Argo Puro/Jatim, dan Pidie/Aceh, 
  • Kanada (Biotermika Technology) tertarik menginvestasikan dananya di bidang sampah kota di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, dan Jakarta guna membangun pembangkit listrik dari sampah. Selain itu, Kanada juga tertarik di bidang PLTU (Brookfield Power and Utilities), PLTMH (Esensi Lavalin), dan PLTS (Expert Development of Canada, dan Senjaya Surya Pro). 
  • Singapura tertarik mendirikan industri pupuk dari sampah TPA di Desa Ngembalrejo, Kec. Bae, Kudus, sedangkan Jepang dan Korea Selatan tertarik mendirikan industri pupuk dan pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar / solar / premium dari sampah kota di TPA Palembang, Sumsel. 
  •  Brunei Darussalam tertarik untuk mengembangkan industri pengolahan sorgum untuk bahan makanan dan bioetanol di Soloraya. 
  • China dan KorSel tertarik untuk mengembangkan PLTA.  
  • Finlandia mengajukan kerjasama dengan menghibahkan 4 juta Euro di bidang PLT biomassa di Prop. Kalteng dan Riau, dan KorSel juga bekerjasama di bidang PLT biomassa di Gorontalo.  
  • Jepang (NEDO) tertarik membangun pabrik bioetanol dari tetes di Mojokerto, Jatim.
  • Rusia dan Australia tertarik mengembangkan PLT biomassa (jerami+sekam padi) di Sergai, Sumut, sedangkan China tertarik menggunakan limbah cangkang kelapa sawit. Rusia juga tertarik mengembangkan EBT lainnya termasuk nuklir & batubara. 
  • Estonia tertarik mengembangkan pasir minyak dan biomassa. 
  • Denmark mendukung program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia dengan memberikan dana US$10juta untuk program 4 tahun. 
  • AS via ThorCon (Martingale) tertarik membangun energi baru, PLT Thorium (nuklir hijau, Thorium MSR, 2x2x250MW) di berbagai pelosok Indonesia yang menggandeng (& meneken MoU) dengan 3 BUMN (INUKI, PLN, dan Pertamina) guna mengganti pertumbuhan PLTU Batubara 20GW.

Bila dilihat dari Laporan Pasar Ekspor Top EBT dalam Overall Rangkings (2016-2017), Indonesia berada pada Rangking 11 untuk sasaran pasar ekspor EBT. Dalam Subsector Rangkings, Indonesia terproyeksi berada pada 
  • Rangking 3 untuk Pasar Ekspor Geothermal (di bawah Kenya, dan Mexico), 
  • Ranking 15 untuk Pasar Ekspor Hidro
  • Ranking 43 untuk Pasar Ekspor Surya
  • Ranking 23 untuk Pasar Ekspor Bayu (Angin) 
Indonesia memberlakukan regulasi dengan memberikan insentif pajak kepada perusahaan pengembang EBT dengan tetap melibatkan fihak lokal terutama pembangunan pembangkit berkapasitas di bawah 10 MW. Sistem FiT, feed-in-tariff, kebijakan fiskal, insentif pada pendanaan, insentif dukungan pasar, dan pemudahan perizinan, diterapkan guna mendorong implementasi EBT secara komersial dan peningkatan akses kepada masyarakat. Di sisi lain, Bank Indonesia membentuk green banking guna memberikan insentif kepada bank yang mau mendanai pengembangan EBT.

Guna mendorong investor DN atau LN, pemerintah via Permen ESDM no 27 th 2014 menaikkan pembelian tenaga listrik dari PLTBm (Biomassa) dan PLTBg (Biogas) oleh PT PLN (Persero) yang kapasitasnya hingga 10 MW untuk merevisi Permen ESDM No.04 th 2012. Pembelian tenaga listrik dari PLTA oleh PT PLN s.d. 10 MW dapat dilihat pada Permen ESDM No. 19 th 2015. Sementara, Pembelian listrik dari PLTS oleh PT PLN dapat dilihat dalam Permen ESDM No.19 th 2016 yang bergerak dari 14,5 (Jawa) hingga 25 (Papua & Papua Barat) sen USD/kWh. Namun kemudian, hadirlah Permen ESDM No. 12 tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber ET untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Regulasi ini menetapkan patokan harga maksimum untuk listrik dari tenaga matahari, angin, air, biomassa, biogas, sampah, dan panas bumi, yang  mengagetkan para pengembang, sehingga mereka enggan mengembangkan ET dan meminta untuk dikaji-ulang. Pengkaji-ulangan dilakukan hanya terhadap PLTA yang hal itu tertuang dalam ESDM No.43 tahun 2017, yaitu pembelian tenaga listrik dari PLTA oleh PLN untuk semua kapasitas PLTA, dan harga patokan PLTA paling tinggi sebesar BPPpembangkitan setempat.

Secara ringkas isi Permen ESDM tersebut (No.12 th 2017) memberikan patokan tarif EBT yang bertujuan menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga listrik di lokasi yang tidak ada sumber energi primer lain.

Tarif tenaga listrik dari PLTS Fotovoltaik diatur dalam pasal 5. Pasal 5 ayat 2 menyatakan, PLN melakukan pembelian melalui sistem lelang berdasarkan Kuota Kapasitas yang terdapat di RUPTL dengan minimum total paket yang ditawarkan sebesar 15 MW.

Pasal 5 ayat 3 menetapkan, harga pembelian listrik dari PLTS Fotovoltaik maksimal 85% dari BPP di daerah tempat pembangkit tersebut beroperasi. Misalkan, PLTS dibangun di Maluku yang BPP-nya mencapai Rp 2.900/kWh, maka pengembang PLTS dapat menjual listrik ke PLN dengan harga sekitar Rp 2.465/kWh. Namun, untuk daerah lain yang lebih efisien, BPP hanya Rp 1.800/kWh, maka harga maksimal yang diperoleh pengembang adalah Rp 1.530/kWh. Bagaimana dengan daerah yang memiliki BPP sangat rendah, misalnya Jawa yang hanya sekitar Rp 900/kWh? Apakah listrik dari PLTS harus dijual dengan harga lebih rendah lagi dari itu?

Pasal 5 ayat 4 mengatur bahwa PLTS di lokasi yang memiliki rata-rata BPP lebih rendah dari BPP nasional, tarif maksimalnya sama dengan BPP secara nasional. Sebagai gambaran, saat ini BPP secara nasional sekitar Rp 1.400/kWh, maka harga listrik PLTS di Jawa bisa mencapai angka itu. Artinya, tarif listrik PLTS paling rendah dengan BPP saat ini adalah Rp 1.400/kWh. PLN bisa membeli dengan harga lebih rendah dari itu, karena Permen ini hanya mengatur harga pembelian 'paling tinggi', jadi PLN masih dapat bernegosiasi.

Patokan harga pembelian listrik untuk PLTB sama dengan PLTS, diatur di pasal 6. Begitu juga dengan PLTA < 10 MW, PLTBm dan PLTBg yang diatur dalam pasal 7, 8, dan 9. Sementara, untuk PLTSa dan PLTP patokannya berbeda. Pasal 10 ayat 4 menetapkan bahwa harga patokan pembelian listrik PLTSa maksimal sebesar BPP setempat. Dengan kata lain 100% BPP setempat, bukan 85% seperti PLTS, PLTB, PLTBm, dan PLTBg.

Pasal 10 ayat 5: khusus untuk wilayah Sumatera, Jawa, Bali dan daerah lain yang BPP-nya di bawah rerata BPP nasional, tarif maksimal listrik dari PLTSa ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak. PLN dan pengembang PLTSa diminta menetapkan secara business to business (B to B). Harga patokan pembelian listrik dari PLTP sama dengan PLTSa, diatur dalam pasal 11. Misalkan PLTP berada di Jawa yang memiliki BPP di bawah rerata nasional, PLN dan pengembang bernegosiasi untuk menetapkannya.

Khusus untuk PLTA < 10 MW dan PLTP, pasal 7 ayat 7 dan pasal 10 ayat 7 menetapkan bahwa PLN dan pengembang harus menggunakan pola kerja sama BOOT (Build, Own, Operate, and Transfer). Artinya, setelah kontrak berakhir, pembangkit diserahkan pengembang kepada PLN.

Secara ringkas, berikut daftar harga maksimal untuk listrik dari pembangkit EBT, yaitu
PLTS : 85% BPP setempat; PLTB : 85% BPP setempat; PLTA di bawah 10 MW : 100% BPP setempat; PLTBm : 85% BPP setempat; PLTBg : 85% BPP setempat; PLTSa : 100% BPP setempat; PLTP : 100% BPP setempat.

PLN tidak dapat asal pilih Independent Power Producer (IPP) untuk pembangkit ET ini. Pasal 12 mewajibkan PLN melakukan uji tuntas (due diligence) atas kemampuan teknis dan finansial pengembang. Due diligence dapat dilakukan procurement agent yang ditunjuk PLN.

Pembangunan pembangkit pun tak boleh molor. Pasal 16 menyebutkan bahwa IPP yang terlambat menyelesaikan pembangunan pembangkit akan dikenakan sanksi dan/atau penalti. Sanksi dan penalti diatur dalam perjanjian jual beli listrik (PJBL) dengan PLN.

Aturan ini tidak berlaku surut. Pasal 17-20 mengatur bahwa pembangkit EBT yang dibangun sebelum Permen ESDM 12/2017 tetap menggunakan tarif sesuai aturan lama dan kontrak yang berlaku.


Keragaman sumber EBT di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

AIR (PLTA) 

(Large-hydro: >100MW; Medium-hydro: 10-100MW; Small-hydro (PLTM): 1-10 MW)


Singkatan: ROR = Run-of-River type; RES = Reservoir Type: LOT = Lake Outlet Type; LHD = Run-of River type with low head dam; PST = Pumped Storage
 
Di seluruh Indonesia, potensi PLTA skala besar dan kecil sekitar 75.670 MW (75,7 GW, tersebar pada 1249 lokasi) (menurut studi tahun 1983). Data Kementerian ESDM menyebutkan bahwa potensi PLTA itu di Sumatera sekitar 15,6 GW (20,8%), Jawa 4,2 GW (5,6%), Kalimantan 21,6 GW (28,8%), Sulawesi 10,2 GW (13,6%), Bali, NTT, NTB sekitar 620 MW (0,8 %), Maluku 430 MW (0,6 %), dan Papua 22,35 GW (29,8 %).

Kemudian tahun 2011 Pemerintah dan PT PLN menyusun Hydro Power Master Plan yang merekomendasikan bahwa pengembangan PLTA total yang dinilai layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan hingga 2027 adalah sebesar 12.893,9MW, pada 89 lokasi saja, yaitu Sumatera 4.408,4 MW, Jawa 4.594,5 MW, kalimantan 431 MW, Sulawesi 3239,6 MW, NTT 15 MW, Maluku 156,4 MW, dan Papua & Papua Barat 49 MW. Di sisi lain, PLTA yang sudah dibangun dan dapat dimanfaatkan hingga th 2014 adalah 5.941 MW atau 7,85% saja (PLTA 5.711 MW, PLTMH 230 MW) dan Dirjen EBTKE menargetkan 9.700 MW pada tahun 2015 melalui skema percepatan.

Contoh PLTA skala besar dan kecil yang sudah beroperasi di antaranya adalah:

Waduk & PLTA Jatiluhur
  • Sumut: Asahan-1 (180 / 2x90 MW), Sigura-gura/Asahan-2 (286 / 4x71,5 MW), Tangga (223 / 4x55,75 MW), Lau Renun (82 / 2x41 MW), Sipansihaporas (50 / 33+17 MW), Wampu (45 / 3x15 MW)
  • SumbarManinjau (68 / 4x17 MW), Singkarak (175 / 4x43,75 MW), Batang Agam (3x3,5 MW); 
  • Bengkulu: Tes (16 / 4x4 MW), Musi (210 / 3x70 MW);
  • Riau: Koto Panjang (114 / 3x38 MW), Talang Lembu (2x16 MW); 
  • Lampung: Way Besai (92,8 / 2x46,4 MW), Batutegi (28 / 2x14 MW); 
  • Jabar: Ubrug/Cibadak (27,9 / 2x10,8+6,3 MW) (saat ini mati, bendungan jebol), Bengkok (10,15 / 3x3,15+0,7 MW), Cikalong (19,2 / 3x3,64 MW), Cirata (1000 / 8x126 MW), Saguling (700 / 4x178 MW), Jatiluhur (187 MW); Lamajan (19,2 / 3x6,4 MW), Parakan Kondang (9,92 / 4x2,48 MW);  
  • Jateng: Sudirman (Mrica) (3x61,5 MW), Jelok (4x5 MW), Timo (3x4 MW), Wonogiri (2x6 MW), Garung (2x6 MW), Sempor (1x1 MW), Ketenger-1 dan Ketenger-2 (2x3,5 MW), Ketenger-3 (1x1 MW), Wadaslintang (2x9 MW), Kedung Ombo (1x22,5 MW), Klambu (1x1,17 MW), Pejengkolan (1x1,4 MW), Sidorejo (1x1,4 MW), Gajah Mungkur (12,4 MW).  
  • Jatim: UP Brantas (281 MW): terdiri atas 12 unit PLTA, yaitu [Sengguruh (29 / 2x14,5 MW), Mendalan (23,2 / 4x5,8 MW), Siman (10,8 / 3x3,6 MW), Selorejo (1x4,48 MW), Giringan (3,2 / 2x1,35 + 1x0,5 MW), Golang (2,7 MW), Ngebel (2,2 MW), Wlingi (54 / 2x27 MW), Lodoyo (1x4,5 MW), Tulung Agung (2x23 MW), Wonorejo (6,3 MW), Karangkates/Sutami (105 / 3x35 MW)], Tulis (2x7 MW); 
  • Kalsel:  Riam kanan (30/3x10 MW); 
  • Sulut: Tonsea Lama (14,38 / 1x4,44 + 1x4,5 + 1x5,44 MW), Tanggari-1 (1x17,2 MW), Tanggari-2 (1x19 MW);  
  • Sulsel: Balambano (110 / 2x55 MW), Larona (165 / 3x55 MW), Karebbe (90 / 2x45 MW), Bakaru (126 / 2x63 MW);  
  • Sulteng: Sulewana-Poso I (160 / 4x40 MW), Sulewana-Poso II (180 / 3x60 MW), Sulewana-Poso III (400 / 5x80 MW), 
  • Papua: Orya Genyem (2x10MW). 

Status PLTA yang sedang/akan dibangun di Indonesia (Maret 2018):
 

Sumatera
NAD 

  • Potensi PLTA di Aceh ~2.500MW, kebutuhan beban puncak ~450MW.
  • Konstruksi: PLTA Peusangan 89 MW (PLN, konstruksi) (Peusangan-1 (ROR, 2x22,5 MW), 2020 dan Peusangan-2 (ROR, 2x22,5 MW), 2021, Takengon, dibangun oleh PLN yang pekerjaan sipilnya dikerjakan oleh Hyundai + PT PP Tbk, pek. metal oleh Wika Amarta, pek. jaringan transmissi 150 KV & gardu induk oleh PT Balfour Beatty Sakti + PT Karunia Berca dengan nilai investasi Rp.3 triliun. Energi listrik Peusangan akan dialirkan ke Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Sumut & Aceh via GI (Gardu Induk) Takengon dan GI Bireun. Pinjaman berasal dari JICA Rp.2,6 triliun; PLTA Krueng Isep (IPP, 20MW), 2019; PLTM Lawe Sikap (IPP, 7MW), 2019.
  • PLTA Krueng Bate (150MW) dengan metoda bawah tanah (tidak mengganggu hutan lindung dll.), di Kab. Aceh Barat Daya, Prov. Aceh diminati oleh perusahaan asal Tiongkok (PT Rich Land Power Investment Indonesia) untuk dibangun dengan investasi Rp.2,6triliun. Fungsi PLTA lainnya: irigasi, air minum masyarakat, wisata, dan cadangan air untuk dusun kering di sekitarnya. 
  • Rencana: PLTA/M Tersebar (IPP, 582,2MW, 2021-2025).
  • Committed: PLTA Kumbih-3 (, PLN, 45MW), 2022.
  • Potensi: PLTA Tampur -1 (RES, 330MW); Jambo Papeun-3 (ROR, 25 MW); Kluet (ROR, 87MW); Kluet-1 (ROR, 41MW); Kluet-2, (ROR, 120MW); Meulaboh-5 (ROR, 43 MW); Peusangan-4 (FTP2), (ROR, 31MW); Kluet-3 (ROR, 24MW); Sibubung-1 (ROR, 32 MW); Seunangan-3 (ROR, 31MW); Teunom-1 (RES, 24MW); Teunom-2 (RES, 230MW); Teunom-3 (RES, 102 MW); Woyla-1 (250MW); Woyla-2 (RES, 242 MW); Woyla-5 (ROR, 56MW); Ramasan-1 (RES, 119 MW); Tripa-1 (ROR, 100MW); Tripa-4 (RES, 185 MW); Jambu Aye (RES, 160MW); Kla (ROR, 12MW); Lae Suraya (ROR, 240MW); Meurebo-2 (ROR, 59MW); Meurebo-3 (ROR, 100MW); Krueng Kluet (300MW); Krueng Meriam (48MW); Redelong (3x6MW); Ketambe (ROR, 19,4MW); Mamas (ROR, 52MW); Meulaboh-2 (ROR, 37MW);  Sibubung-3 (ROR, 22,6MW); Lawe Alas (RES, 151MW); Lawe Mawas (ROR, 50MW).
  • Potensi: PLTM Lawe Gurah (4,5MW); Lhok Pineung (5,1MW); Ketol A (10MW); Mangku Sosial (6,6MW); Subulussalam (7,4MW); Tembolon (Bidin-2) (3,1MW).
    Sumut
    • Provinsi Sumatra Utara berpotensi PLTM luar biasa, yaitu lebih dari 800 MW (>110 PLTM) akan dijadikan Kiblat PLTM di Indonesia. Masalah terbesar: perijinan.
    • Konstruksi: PLTM Aek Sisira Simandame (IPP, 4,6 MW, 2018); Lae Kombih-3 (IPP, 8MW, 2018); Konstruksi (2019): PLTM Aek Tomuan-1 (IPP, 8 MW); Batang Toru 1 (PPA, IPP, 7,5MW); Batang Toru 3 (IPP, 10MW); Parluasan (IPP, 10MW); Rahu 2 (IPP, 6,4MW), Raisan Hutadolok (IPP, 7MW); Raisan Ngatimbul (IPP, 7MW); Sei Wampu (IPP, 9MW); Sidikalang-2 (IPP, 7,4MW); Sembelin 1 (IPP, 6MW).
    • Konstruksi: PLTM  Parlilitan (7,5 MW), Silau II (IPP, 7,5 MW); Hutaraja (5 MW);  Rahu-2 (IPP, 6,4MW, 2018); Sei Wampu (IPP, 9MW, 2018);  Parmonangan (IPP, 9MW, 2019); PLTA Pakkat (IPP, 18 MW, 2017).
    • Konstruksi: PLTA Asahan-3 (FTP2) (PLN, ROR, 174/2x87 MW) (Rp.2,3 triliun), dan molor ke th 2023/24, terganjal kasus korupsi hutan lindung; PLTA Hasang (FTP-2) (IPP, 40/3x13 MW), 2019; PLTA Batang Toru (Tapsel) (IPP, 510, 4x125MW), (TapSel), 2021;
    • Studi: PS Sumatera Pump Storage-1 (PLN, 500MW) (2027).
    • (PPA, 2020): PLTM Aek Pungga (IPP, 2MW); Aek Sibundong (IPP, 8+10MW); Aek Sigeaon (IPP, 3MW); Aek Silang 2 (IPP, 10MW); Aek Situmandi (IPP, 7,4MW); Anggoci (IPP, 9MW); Batang Toru 4&5 ( IPP, 10+7,5 MW); Batu Gajah (IPP, 10MW); Huta Padang (IPP, 10MW); Kandibata 1&2 (IPP, 9,7+10MW); Kineppen (IPP, 10MW); Ordi Hulu (IPP, 10MW);  Parmonangan 2 (IPP, 10MW); Simonggo (IPP, 8MW); Sion (IPP, 10MW); Sisira (IPP, 9,8MW); Sungai Buaya (IPP, 3MW); Bakal Semarak (IPP, 5MW) (2021);
    • PLTA Inalum 2x300 MW dibangun oleh PT Inalum (sudah menjadi BUMN)  dengan dana USD700juta, dan kemungkinan beroperasi th 2019 guna memproduksi 500ribu ton aluminium ingot. 
    • PLTA Kumbih-4, (45MW) Medan, dana dari Jerman (2022). 
    • PLTA Poigar (230MW) (2021). 
    • Pump Storage (rencana):  Lake Toba (PST, 400MW) (2024); Sumatera PS1 (PST, 500MW) (2025); Sumatera PS2 (PST, 500MW) (2025). 
    • Rencana: PLTA Aek Kuala (ROR, 15,2MW); Lau Gunung (IPP, 15 MW); Siborpa (IPP, RES, 114MW); Sibundong-4 (IPP, 75MW); Ordi-5 (ROR, 27MW); Pahae Julu (ROR, 2x9MW); Poring (40MW); Asahan-4 & 5 (RES, 20+40MW); Cinendang (ROR/RES, 80MW); Garoga (ROR/RES, 40MW); Munthe Tigabinanga (29MW); Sitanduk (55MW); Sei Wampu 1, 2, 3 (12 + 13,4 + 24,6MW); Aek Simonggo Parlilitan Tarabintang (85MW);   Simanggo-2 (PLN, ROR, 90 MW); Simanggo-1 (ROR, 59MW); Sirahar (ROR, 35,4MW); Silau-1 (ROR, 52,3MW); Gunung-2 (ROR, 22,6MW); Renun-3 (ROR, 19,8MW); Renun-4 (ROR, 53,6MW); Renun-6 (ROR, 22,4MW); Ordi-1 (ROR, 40,8MW); Ordi-2 (ROR, 26,8MW);  Ketahun-3 (61MW); Meureubo-2 (59MW);  Wampu (ROR, 84MW)Bila-2 (ROR, 42MW); Raisan-1 (ROR, 26MW); Ordi-3 (ROR, 18MW); Siria (ROR, 17MW); PLTA Toru-2 (ROR, 34MW); PLTA Toru-3 (RES, 228MW); PLTA Bah Karai (IPP, 12,6MW, 2027, ditunda); Sidikalang-1 (IPP, 15MW); Mandoge (ROR, 3x10MW); PLTA Tersebar (IPP, 341,3MW);
    • Potensi: PLTM Bingai (7MW); Adian Nangka (1,5MW); Simare (3MW); Tanah Pinem (10MW); Aek Tulas (2MW); Kamangin Nagori (2MW); Pargaringan (8MW); Aek Godang (4MW); Aek Rambe (5,2MW); Aek Simadoras (5,1MW); Bingai (7MW); Lae Luhung (10MW); Silinda (6MW); Tanjung Lenggang (10MW); Tersebar (188,7MW); Karai-1 (IPP, 10MW); Karai-2 (IPP, 6MW); Lae Ordi-1 & 2 (IPP, 10MW); Rahu-1 (IPP, 8,2MW); Simonggo Tornauli (IPP, 8MW);

        Sumbar
        • Rencana (2027): PLTA Pasaman (Unallocated, 48MW); Sumatera PS (PST, 500MW); Tersebar Sumbar (IPP, 18MW, 2021-2025).
          Committed: Masang-2 (FTP2) (PLN, ROR, 44MW, 2023);
        • Konstruksi: PLTM Guntung (IPP, 4MW, 2018); Induring (IPP, 2MW, 2018); Lintau-1 (IPP, 9MW, 2018); Siamang Bunyi (IPP, 2MW, 2019); Muara Laboh (FTP2) (IPP, 80&140MW, 2019&2025);    
        • PPA (2020): PLTM Gumanti-3 (IPP, 6,5MW, 2019); Batang Sumpur (IPP, 7,6MW); Bayang Nyalo (IPP, 6MW); Bukit Sileh (IPP, 0,7MW); Muara Sako (IPP, 3MW); Pelangai Hilir (IPP, 3,6MW); Pelangai Hulu (IPP, 9,8MW); Rabi Jonggor (IPP, 4,5MW); Sako-1 (IPP, 6MW); Sikarbau (IPP, 2MW); Tarusan (IPP, 3,2MW); Tongar (IPP, 6MW); Tras (IPP, 1,6MW); Tuik (IPP, 6,3MW);
        • Potensi: PLTM Pancung Taba (3,2MW); Koto Lamo (5MW); Pasinggrahan (0,5MW); Pinti Kayu (10MW); Batang Patimah (2,8MW); Bukit Cubadak (9,2MW); Gumanti-1 (4MW); Kerambil (3MW); Laruang Gosan (4MW); Muaro (0,7MW); Sianok Duku (6,6MW); Batang Anai-1 (1,4MW); Batang Anai-2 (7,2MW); Batang Antokan (1,5MW); Batang Samo (7MW); Batang Talu (3,1MW); Benteng Anai (1,4MW); Kanaikan (4,8MW); Lintau 2 & 3 (10 & 8,1MW); Lubuk Pisang (10MW); Lumpo (3MW); Nagari Kasang (2MW); Pelangai Hulu Atas (9,8MW); Sungai Aur (2,3MW); Sungai Garam Hydro (10MW); Telun Berasap (8MW); Air Betung (10MW); Air Pura 1 & 2 (8,4 & 9MW); Batang Lembang (1MW); Batang Sangir (9,8MW); Hydropower (10MW); Muara Air (1,7MW); Ngalau Gadang2 (4,2MW); Pelangai 1 & 2 (3,3 & 6MW); Sei Ludang 1,2 (8MW);Tarusan koko (10MW).
        • Potensi: PLTA Masang-3 (PLN, RES, 89MW); PLTA Sinamar-1 (ROR, 20MW); Sinamar-2 (ROR, 26MW); Aquaman (79MW); Dusun Tangah (44MW); Lubu (28MW); Pasaman 1&2 (62&40MW); Batang Hari-4 (RES, 216MW); Gumanti-1 (ROR, 16MW); Anai-1 (ROR, 19MW); Kuantan-2 (RES, 272MW); Rokan Kiri-1 (RES, 183MW); Air Tuik (ROR, 24,8MW); Sirantih-1 (ROR, 18,3MW); Tarantak Tumpatih-1 (ROR, 29,6MW);
        Jambi
        • Proses PPA: PLTA/M Tersebar (IPP, 350MW, 2021-2025). 
        • Potensi: PLTA Merangin-2 (ROR, 350 MW); Merangin-5 (RES, 21MW); Bangko 2&3 (87&93MW); PLTM Nilo (5MW).
        Sumsel
        •  Konstruksi: PLTM Komering (IPP, 1,4MW, 2019); 
        • PPA (2020): PLTM Babatan (IPP, 4,92MW); Endikat (IPP, 8,01MW); Karyanyata (IPP, 4MW); Kenali (IPP, 3,6MW); Semendo (IPP, 9MW);
        • Potensi: PLTM Selabung (4,5MW); Telanai Banding Agung (6MW); Air Dikit (6MW); Bindu 1&2 (10&10MW); Gilas (2,2MW); Kambas (1,2MW); Lawang Agung (2,5MW); Lematang-2 (8,6MW); Pulau Kidak (7,5MW); Pulau Panggung (9MW); Saka (10MW); Telema (6,7MW); Tj. Tiga / Tj. Agung (6MW); Tersebar (115MW).
        • Potensi: PLTA Lematang (RES, Unallocated, 42MW).
        Bengkulu
        • Konstruksi: PLTM Batu Balai / Manna (IPP, 4MW, 2018); Sengak-1 (IPP, 0,72MW, 2020);
        • PPA: PLTM Simpang (IPP, 3,1MW, 2018); Tunggang (IPP, 9,99MW, 2018); Muara Sahung (IPP, 9,9MW, 2019); Klaai (IPP, 2,6MW, 2020); Padang Guci (IPP, 6,0MW, 2017);
          PPA: PLTA Air Putih (IPP, 21MW, 2019); Rencana: PLTA/M Tersebar (IPP, 21,25MW, 2021-2025).
        • Potensi: PLTA Talang Ratu (18MW); Ketaun Tengah (13MW).
        • Potensi: Puguk (5,3MW); Ketaun 1,2,3 (4,2+2+9,9MW); Nakai 1&2 (3+4MW); Aur Gading (IPP) (2,7MW); Belimbing (8MW); Kanzy 3 (6,5MW); Kelingi (2,7MW); Ketaun Hilir (9,9MW); Kinal (7MW); Muara Kemumu (1,1MW); Nokan-1 (7,3MW); Pilubang (8MW); Seluma (6MW).

              Lampung
              • Konstruksi: PLTA Semangka (FTP2) (IPP, 56 MW, 2018), dana dari Perancis.
              • Rencana: PLTA/M Tersebar Lampung (Unallocated, 110MW, 2023/24).
              • Potensi:PLTA Semuong (34MW).
              • PPA: PLTM Way Pintau (IPP, 3,22MW, 2019); Batu Brak (IPP, 7,7MW, 2020); Besai Kemu (IPP, 7MW, 2020); Curup Gangsa (IPP, 1,2MW, 2020).
              • Potensi: PLTM Besay (9,2MW); Sukarame (8MW); Way Simpang kanan (4,6MW).
              Jawa
              Banten
              • Konstruksi: PLTM Cikotok (IPP, 4,2MW, 2018); PLTM Bojong Cisono (IPP, 1,5MW, 2018);
              • Potensi: PLTM Lebak (6MW); Bulakan (7MW); Cibareno (3MW); Cidano (1,5MW); Cikamunding (6MW); Cikidang & Cisimeut (2+2MW); Cisiih Cimandiri (8MW); Cisiih Leutik (4MW); Cisungsang 2 (3MW); Karang Ropong (Cibareno-1) (5MW): Nagajaya (6MW); Pasundan (6MW).
               PLTA Upper Cisokan Pumped Storage
              Jabar
              • Pendanaan (2018): PLTM Kalapa Nunggal (IPP, 3MW); Kertamukti (IPP, 6,3MW);
              • Konstruksi (2018): PLTM Cilaki-1B (IPP, 9,69MW); Pusaka-1 (8,8MW); Cibalapulang-1, 2, 3 (IPP, 9+6,5+6 MW); 
              • Pendanaan (2019): Pesantren-1 (IPP, 1,8MW); Jayamukti (IPP, 2,3MW); Pareang (IPP, 2,8MW); Cimandiri (IPP, 4,4MW); Cileunca (IPP, 1MW); Cisomang (IPP, 4MW); Cikaengan (IPP, 5,1MW); Cikandang (IPP, 6MW); Cibuni Mandiri (IPP, 2MW); Cibuni (IPP, 3,2MW);
              • Konstruksi (2019): Cibalapulang 2,3 (IPP, 6,5 + 6MW); Cicatih (IPP, 6,4MW, 2019); Cikopo-2 (IPP, 7,4MW, 2019, konstruksi).
                Konstruksi: PLTA Upper Cisokan PST (PLN, 1.040/4x260 MW), 150 km Tenggara Jakarta (S.Citarum) akan beroperasi tahun 2024 (1), 2024 (2), 2025 (3), dan 2025 (4). PLTA ini menggunakan sistem PS (pumped storage) pertama di Indonesia. Lahan tergenang mencapai 805Ha, yaitu 3 desa di Kec. Rongga terendam (Bojongsalam, Sukaresmi, dan Cicadas), sedangkan di Kab. Cianjur meliputi Kec. Cibeber dan Kec. Bojongpicung. PLTA ini direncanakan hanya bergerak di malam hari saja, guna mengatasi beban puncak Jawa-bali. Bendungan I (upper reservoir) 10,5 km2 (kecil), bendungan II (lower reservoir) luasnya 355 km2 (besar), beda tinggi 200m. Siang hari, ada 2.000 MW/hari arus listrik menganggur, maka listrik tsb (asal PLTU/batubara Indramayu dan Labuhan) digunakan untuk memompa air dari B-II (S. Cisokan) ke B-I (S. Cirumanis). Sementara, malam hari (5-10 malam), air dari B-I diglontorkan ke B-II via 4 turbin (4x260MW).
              • Konstruksi (2019): PLTA Rajamandala (IPP, 1x47MW, 2019) di sungai Citarum, Kec. Haurwangi, Cianjur. PLN menggandeng PT REP (US$150 jutafull Turnkey, BOOT). PLN membeli listriknya sebesar US$8,66 sen/kWh, selama 30 tahun. Hyundai Engineering + Hyundai Amco meneken kontrak kerma USD91,3juta dengan REP untuk membangun PLTA Rajamandala.
              • Konstruksi (2019): PLTA Jatigede (FTP2) (RES, PLN, 110 / 2x55 MW) (memanfaatkan waduk Jatigede, membendung S. Cimanuk) di dusun Sanghiangbeuheung, Ds. Cijeunjing, Kec. Tomo & Jatigede, Kab. Sumedang), (guna pengendalian banjir di Cirebon dan Indramayu) masuk tahap Groundbreaking 4 Mei 2015, yang diduga rampung (COD) sekitar 2019 dengan investasi US$239,573juta, (BUMN China US$144,067juta sisanya APBN), Kontraktor DN: PT WIKA, PT Waskita Karya, dan PT PP; LN: Sinohydro (China). Problem: protes penggenangan desa (11.469 KK direlokasi). Lahan 137 Ha dari 147,05Ha (masyarakat 88,75Ha, kehutanan 58,3Ha) sudah dibebaskan, sisa 10Ha.
              • Pendanaan (2020): Cibanteng (IPP, 4,2MW); Cikaso-3 (IPP, 9,9MW);  
              • Pengadaan: Cikaengan-2 (IPP, 7,2MW, 2020).
              • Konstruksi (2022):Cilaki-1A (IPP, 3,144MW);   
              • Potensi: PLTA Cibuni-3 (RES, 172MW); Cibuni-4 (RES, 105MW); Cikaso-3 (RES, 53MW); Cimandiri-3 (RES, 2x119MW); Cipasang (RES, 2x200MW); Wado (50MW); Maung (RES, 350MW); Rawalo-1 (RES, 10,3MW);
              • Potensi: PLTM Caringin (4,3MW); Ciarinem (3MW); Ciasem (3MW); Cibatarua Panyairan (8,22MW); Ciberang (5,8MW); Cikaengan Najaten (7,2MW); Cikancana (4,7MW); Cilayu Kulon (5,2MW); Cileat (5,2MW); Cimaja (3MW); Cirompang Mekarmukti (4MW); Citarik (4MW); Gunung Guruh (3MW); Jatisari (5MW);  Kanzy-5 (5MW); Kubang (0,4MW); Mekarwangi (5MW); Pasir Jambu (5,1MW);  Segrong (0,2MW); Sukamaju (7,5MW); Toblong (6MW); Cijampang-1 (1,1MW); Pakenjeng Bawah (5,7MW); Pusaka-3 (3MW); Cikaniki-1 & 2 (2,5 & 3 MW); Pakenjeng Atas (3,6MW);   Cikawung bawah (2,5MW); Cikawung Atas (5MW);
                Jateng
                • Konstruksi: PLTM Banyubiru (IPP, 0,17MW, 2019);
                • Pendanaan: Karekan (IPP, 8MW, 2019); Kunci Putih (IPP, 0,9MW, 2019); Pageruyung (Damar) (IPP, 2,07MW, 2019); Pageruyung-1 (IPP, 4,4MW, 2019); Kincang-1 (IPP, 0,35MW, 2020); Tanjung Tirta (IPP, 8MW, 2020); 
                • Rencana: PLTA Matenggeng PS (PST, Unallocated, 900 / 4x225 MW, Rp.5,9 triliun) Kec. Dayeuhluhur, Kab. Cilacap didanai oleh Bank Dunia. Groundbreaking (pemancangan tiang pertama) dijadwalkan akhir 2018, dan diharapkan beroperasi th 2025 (4 unit). Tahun 2015 pembebasan lahan dimulai.
                • Potensi: PLTA Maung (350MW); Rawalo-2 (10,3MW).
                • Potensi: PLTM Adipasir 1&2 (2x0,34MW); Ambal (2,1MW); Binangun (3,8MW); Dadapayam (3MW); Gelang (0,3MW); Gumiwang (0,4MW); Gunung Wugul (3MW); Harjosari (9,9MW); Jimat (0,5MW); Kaliwadas (0,35MW); Lambur (8MW); Mojoagung (1,6MW); Pagarpelah (3,2MW); Preng-1 (1,8MW); Preng-2 (4,5MW); Prukut Sambirata (1,5MW); Serayu-3 (3,5MW); Tulis (IPP) (9MW); Begaluh 1&2 (2,8&3,6MW); Banjaran (1,8MW); Palumbungan (1,6MW); Logawa Sunyalangu (1,52MW);  Bendosari (4MW); Logawa Babakan (1,34MW); Logawa Baseh Karangpelem (1,86MW);  Pugeran (6MW); Serayu (8,62MW).
                Jatim
                • Konstruksi: PLTM Lodagung (IPP, 1,3MW, 2018);
                • Pendanaan: PLTM Taman Asri (IPP, 1,17MW, 2020); Kanzy-1 (IPP, 2,36MW, 2020);
                • Rencana: PS Grindulu (PST, Unallocated, 1.040 / 4x260 MW, 2025); PLTA Tersebar (Unallocated, 137MW, 2025);
                • Potensi: PLTA Karangkates 4 & 5 (RES, 100MW); Kesamben (2x18MW).
                • Potensi: PLTM Jompo-1 (Jompo Atas) (2,12MW); Jompo-2 (Jompo Bawah) (3,2MW); Kali Tengah (Sungai Tengah) (1,4MW); Ketajek (3,3MW); Sumberarum-2 (3MW); Bayu (3,6MW); Lodoyo-2 (10MW); Pacet (1,5MW); Zeelandia (2,18MW); Balelo (4,3MW);
                Bali
                • Potensi: PLTM Telagawaja (4MW); Ayung (2,34MW); Tukad Daya (8,2MW); Sunduwati (2,2MW); Telagawaja Ayu (1MW); Sambangan (1,9MW); Tukad Balian (2,5MW).
                NTB
                • Konstruksi: PLTM Sedau Kumbi (IPP, 1,3MW, 2018); Karang Bayan (IPP, 1,3MW, 2019); Batu Bedil (IPP, 0,6MW, 2019).
                • Pendanaan: PLTM Koko Babak (IPP, 2,3MW, 2020).
                • Potensi: PLTM Brang Rea-1&2 (2,54&3,84MW); Bintang Bano (8,8MW).
                • Potensi: PLTA Brang  Beh 1 (12MW); Brang Beh 2 (6MW).
                • Potensi hidro di Sumbawa, NTB sekitar 67,5 MW, sedangkan potensi lokasi PLTM NTB: Lombok 3 lokasi (Sungai Muntur 2,8 MW, Sungai Kokok Putih 4,2 MW, Sungai Pekatan 5,3 MW), Lombok Utara 10, Lombok Barat 15, Lombok Tengah 17, Lombok Timur 16, Sumbawa 17 lokasi (Sungai Brang Rhee 16 MW, Sungai Bintang bano 40 MW, Sungai Brang Beh 103,5 MW), Sumbawa Barat 9 lokasi, Dompu 9 lokasi, dan Bima 5 lokasi. PLTM Tersebar NTB  sekitar 18,7 MW.
                NTT
                • Konstruksi: PLTM  Wae Roa - Ngada (IPP, 0,4MW, 2018); Sita - Borong (IPP, 1MW, 2018);
                • Potensi: PLTA Wai Rancang 1,2 - Manggarai (ROR, 10+6,5MW); Riam Kiwa (42MW); Watupangggantung (15MW).
                • Potensi: PLTM Wae Lega (1,75MW); Harunda (1,6MW).

                Kalimantan 
                Kalbar
                • Rencana (2019): PLTM Melanggar (PLN, 2,5MW); Mahap (PLN, 1,3MW); Jitan (PLN, 3,4MW); Kalis (PLN, 3MW). 
                Kalsel
                • Potensi: PLTA Muara Jambi (RES, 284MW, Muara Jambi); Kusan (RES, 65 MW, 2023, Tanah Bumbu); PLTM Riam Kiwa (10MW, Banjar); Muara Kendihin (0,6MW, Hulu Sungai Selatan); Kiram Atas (0,9MW, Banjar); Sampanahan (0,6MW, Kotabaru); Gendang Timburu (0,6MW, Kotabaru).
                Kalteng
                • Potensi PLTA: Riam Jerawi (72MW), Katingan; Muara Juloi (284MW), Murung Raya.
                Kaltim
                • Rencana: PLTA Kelai (PLN, 55 MW, 2025); Tabang (PLN, 90MW, 2025).
                • Potensi: PLTA Boh (RES, 270MW, Malinau); Long Bangun (ROR, 20MW, Mahakam); Mentarang-1 (RES, 300MW, Malinau); Tabang (RES, 270MW, Kutai).
                Kaltara
                • Rencana: PLTA kaltara-1 (PLN, 90MW, 2025).
                • Potensi: PLTA Kayan-1 (RES, 660MW); Kayan-2 (RES, 500MW); Kayan-3 (RES, 1200MW); Kaltara-2 (RES, 300MW), Bulungan.
                Sulawesi
                Sulut
                • Rencana: PLTA Poigar-2 (IPP, 30MW, 2023); Sawangan (ROR, PLN, 2x6 MW, 2024);
                • Pendanaan: PLTM Dominanga (IPP, 3,5MW, 2019);
                • Pengadaan: Pidung (IPP, 2MW, 2022); 
                • Potensi (ROR): PLTA Poigar-3 (20MW); Minut 1,2,3 (14+27+12 MW); Mongondow (37MW); Ranoyapo 1,2 (81+27 MW).
                • Potensi ROR): PLTM Woran, Morea, Molobog, Kilotiga (4x0,6MW); Lobong-2 (0,5MW); Apado, Bilalang, Ulupeliang-2 (3x0,3MW); Kinali, Tangangah, Belengan (3x1,2MW); Salongo (0,9MW); Milangodaa 1,2 (2x0,7MW); Pilolahunga (0,8MW); Tincep 1,2,3,4 (0,4+1,1+2,2+0,4 MW); Ranowangko (I2,2MW). Totabuan 1 (5MW). 
                Sulteng
                • Konstruksi: PLTM Buleleng (IPP, 1,2MW, 2018); Tomasa (IPP, 10MW, 2020);
                • PPA: PLTM Alani (IPP, 5,6MW, 2020); PLTA Poso Peaker (IPP, 320MW, 2019-21); Biak 1,2,3 (IPP, 4/1,5+1,3+1,2 MW, 2020);
                • Committed: PLTM Halulai (IP, 1,2MW, 2019); Tomata (IPP, 10MW, 2020); Koro Kabalo (IPP, 2,2MW, 2020);
                • Potensi ROR): PLTM Bambalo 2 (1,8MW); Dako (1,4MW);  Sampaga (1,2MW);  Lobu (5MW); Banasu (9MW); Batu Nobota (5MW); Kilo (10MW); Paddumpu (5MW); Yaentu (10MW); Ponju (3MW); Bengkoli (2,5MW); Bongkasoa (1,4MW); Pono (6MW); 
                • Potensi: PLTA Koro Yaentu (ROR, 17MW); Salo Karangana (RES, 103MW); Salo Pebatua (RES, 426MW); Lariang-7 (RES, 257,6MW), Kulawi (ROR, 150MW); La'a (ROR, 160MW); Lalindu (ROR, 50MW); Palu-3 (RES, 75MW); SR-1 (Bada) (RES, 420MW); SR-2 (Tuare) (RES, 720MW); Tinauka (RES, 300MW); Lariang-4 (ROR, 200MW); Gumbasa (ROR, 156MW).
                  Gorontalo
                  • PLTM Iya (IPP, 2MW, 2020, Pengadaan); Bone Bolango (IPP, 9,9MW, 2021, PPA).
                  Sulsel
                  • Konstruksi: PLTM Bungin 3 (IPP, 5MW, 2018); Bantaeng-1 (IPP, 4,2MW, 2017); Belajen (IPP, 8,3MW, 2018); Ussu Malili (IPP, 3MW, 2018).
                  • Konstruksi: PLTA Malea (FTP2) (ROR, IPP, 2x45 MW, 2020); PLTA Malea 15 MW, (Rp. 300 miliar) Kec. Makale Selatan, Tana Toraja, beroperasi Agustus 2011. PT Malea Energi (Kalla Group) menambah daya hingga sekitar 90 MW dengan masa kontrak 4 tahun dan dana Rp. 3 triliun, diharapkan selesai 2020. PPA ditandatangani oleh Presiden Jokowi 4 Mei 2015. PT Malea Energy menggandeng Toshiba (PT Toshiba Asia Pacific Indonesia).
                  • Committed: PLTM Pongbatik (IPP, 3MW, 2020);
                  • Rencana: PLTA Poko (PLN, 2x65MW, 2022); Bakaru-2 (ROR, PLN, 2x70MW, 2022);    
                  • Potensi (IPP): PLTA Bonto Batu (ROR, 2x50 MW); Salu Uro (2x47,5MW); Kalaena 1 (2x37,5MW); Pongkeru (50MW); Seko 1 (3x160MW); Tumbuan 1 (2x150MW); Paleleng (4x33,5MW).
                  • Buttu Batu (RES, IPP, 2x100MW, 2025); PLTA Tersebar (IPP, 400MW, 2025).
                  • Pengadaan: Ma'dong (IPP, 10MW, 2020); Malua (IPP, 4,6MW, 2022); Pasui-2 (IPP, 6,4MW, 2022);
                  • Potensi (IPP) PLTM Bambalu (0,3MW); Bontotene (Takapala) (1,7MW);  Kahaya (4MW); Rongkong (8,1MW); Eremerasa (1,2MW); Kondongan (3,5MW); Pasui-1 (1,9MW);  Mallawa (5MW); Baliase (9MW);
                  • PLTA Bakaru-3 (146MW), 2023; Masuni (RES, 400MW); Mong (RES, 256MW); Batu (RES, 271MW); Karama-1 (RES, 800MW); Seko-2 (ROR, 90MW); Makale (ROR, 45MW).
                  • Sultra (Sulawesi Tenggara): Konstruksi: PLTM Lapai-2 (PLN, 2x2MW) 2018; Rongi (PLN, 0,8MW), 2018; Rencana: PLTM Lapai-1 (PLN, 2x2MW), 2019; Riorita (PLN, 2x0,5MW), 2019.
                  • Rencana: PLTA Konawe (PLN, 21 MW, 2023); Watunohu (ROR, PLN, 15,8 MW 2024); 
                  • Potensi: PLTA Lasolo (IPP, 2x72,5MW, 2022); Tamboli (IPP, 22MW); PLTM Buleleng (PLN, 1,2MW).

                  • Sulbar: Rencana: PLTA Tabulahan (IPP, 2x10MW, 2023); Masupu (IPP, 2x17,5MW, 2023); Potensi: PLTA Tumbuan/Mamuju (IPP, 150MW).
                  • Proyek KPBU untuk PLTA Karama (IPP, 190MW) dikaji-ulang. Guna menghindari masalah sosial, tinggi bendungan dikurangi, sehingga genangan berkurang, dan kapasitas menurun menjadi 190MW. 
                  Maluku
                  • Maluku: Rencana: PLTM Nua (Masohi) (PLN, 2x4,4MW, 2020): Sapalewa (PLN, 2x4MW, 2022); PLTA Wai Tala (PLN, 54MW, 2027); PLTM Wai Tina (ROR, IPP, 4x3MW, 2025).
                  Papua
                  • Rencana: PLTM Kalibumi (PLN, 2,6MW, 2019).
                  • Rencana: PLTM Digoel (PLN, 3MW, 2019); Amai (PLN, 1,4 MW, 2020); Walesi Blok II (PLN, 6x1MW, 2022); PLTA Orya-2 (PLN, 14MW, 2023); PLTA Baliem (PLN, 10 MW, 2027);
                  • Potensi: Sentani (ROR, 20MW, FS).
                  • Sungai Baliem berpotensi setidaknya 7 PLTA di masa depan (800 MW, dengan perkiraan dana sekitar Rp.5triliun).
                  Papua Barat
                  • Studi: PLTM Waigo (PLN, 1,3MW, 2022), Sorong.
                  • Pre FS: PLTA Warsamson (IPP, 20MW), Sorong.
                  Rencana PLTA di masa depan: S. Memberamo berpotensi menggerakkan PLTA 10.000 MW, Sentani (ROR, 20MW), dan sungai lainnya via PLTM tersebar 2.000MW.
                   
                  Percepatan sumber daya air:
                  PLTA (5 GWe) akan dibangun di 12 waduk pilihan dari 261 waduk di Indonesia dengan nilai investasi Rp.100 triliun (2-3jutaUS$/MW). Studi kelayakan pembangunan PLTA itu akan menelan dana Rp.36-60miliar. Baru 22 waduk memiliki PLTA, dan Indonesia perlu 460 waduk lagi seukuran waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jabar.

                  Bendungan untuk tandon air dan irigasi: 
                  Bendungan/waduk Pandan Duri 340 Ha (Rp.728 miliar), Ds.Suwangi, Kec.Sakra, Kab. Lombok Timur, NTB selesai dibangun dengan sumber air dari sungai Palung. Dusun yang terendam: Embung Raja, Gunung Sager, Kelagaq, dll.

                  Waduk

                  Waduk/Bendungan yang akan dibangun sebanyak 49 (dari tahun 2015-selesai):
                  • NAD: Krueng Keureuto (Rp.1,68Triliun, 2015), Jambo Aye; Perbaikan waduk Tiro (Rp.748Miliar, 2015), Rukoh (Rp.410Miliar, 2015).
                  • Sumatera: Lausimeme (Sumut); Lompatan Harimau (Riau); Bintang Bano (Sumbar); Estuari Sei Gong, Dompak, Busung (Kepri), Sukoharjo (Lampung), Segalaminder, Way Sekampung, Sukaraja III (Lampung);
                  • Jawa
                  Karian, Lebak, Banten
                  • Banten: Karian (terbesar III setelah Jatiluhur dan Jatigede), kel. Pasirtanjung, Kec. Rangkasbitung, Kab. Lebak (Rp.1,68 Triliun oleh Daelim Industrial Co. bersama PT Wijaya Karya (Persero), dan PT Waskita Karya (Persero), 2015-2019 selesai); Luas area bendungan 1.740Ha, mampu tampung 207,5juta m3 air untuk mengairi irigasi Ciujung seluas 22.000Ha. Selain itu memasok kebutuhan air minum dengan kapasitas 9,1m3/detik, dan PLTMH 1,8MW; Waduk lainnya: Sindangheula, Pamarayan (Banten); 
                  • Jabar: Ciawi, Sukamahi, Cipanas, Leuwikeris, Sadawarna, Santosa, Sukahurip;
                  • Jateng: Logung (Rp.620Miliar, 2015, Kudus), Jlantah, Matenggeng, Pidekso; 
                  • DIY: Bener, Karangtalun; 
                  • Jatim: Semantok, Bagong, Lesti, Wonodadi; 
                  • Bali: Telagawaja
                  • Titab, waduk terbesar berkapasitas air minum 350L/detik (Busung Biu, Buleleng, Bali); masih ada masalah pembebasan lahan (2017), pembangunan fisik tahun 2018, Groundbreaking awal 2015.
                  • NTB: Bintang Bano, Tanju, Mila, Mujur;
                  • NTT: Raknamo : Rp.710miliar, 2015, luas 147 Ha, (kab. Kupang); 
                  • Kolhua, (Kota Kupang);  
                  • Rotiklot: investasi APBN Rp.450miliar, groundbreaking 28 Des 2015, Ds. Fatuketi, Kec. Kakuluk Mesak, Kab.Belu, Atambua)
                  • Temef, Jawakisa (usulan Gubernur) (TTS, Timor Tengah Selatan), 
                  • Napunggete (Kab.Sikka); Lambo (Kab.Nagekeo), 
                  • Manggarai;
                  • Kalimantan: Tapin (Kalsel); Sepaku Semoi, Marangkayu;
                  • Sulawesi: Lolak (Rp.850Miliar, 2015), Kuwil Kawangkoan (Sulut); Karaloe, Paseloreng, Pamakulu, Jenelata, Nipa-nipa (Sulsel); Ladongi Pelosika (Sultra).
                  Sesaat sebelum digenangi air
                  Waduk Jatibarang (Ds. Talun Kacang, Kel. Kandri, Kec. Gunungpati, Semarang, Jateng), (pembangunan sejak Okt 2009) sudah beroperasi (11/5/2015). Waduk tsb dibuat guna mengatasi banjir besar mendatang di Semarang yang dulu pernah terjadi pada tahun 1973, 1988, 1990, dan 1993.
                  Setelah digenangi air + PLTM
                  Ia mampu menampung luapan   air banjir dari kali Kreo 270m3 per detik, hingga 100 tahun. Fungsi waduk Jatibarang lainnya: PLTM 1,5MW, penyediaan air baku 10,9 juta m3 (keramba apung dilarang), dan program pariwisata. Dimensi waduk: tinggi 74m, panjang puncak 200m, dan lebar puncak 10m. Waduk jatibarang dibangun dengan biaya Rp.655miliar dari JICA.
                  • Marangkayu (Kukar, kaltim) ada persoalan pembebasan lahan (ladang minyak & gas Vico Indonesia), progres 90% (Jan 2017). Akhir 2017 diharapkan tuntas100%.
                  PU (2014) berencana memanfaatkan 200 waduk untuk pembangkit listrik (PLTA) dengan memasang turbin baru, selain sebagai pengairan sawah.


                  AIR (PLTMH)

                  (Mini Hidro: 100-1000 kW; Mikro Hidro: 5-100 kW; Piko Hidro: Ratusan Watt-5 kW)

                  Potensi: 230.913 MW (231 GW) (th 2006). Tahun 2014, kapasitas terpasang hanya 75 MW.

                  Dalam RIPEBAT (Rencana Induk Pengembangan EBT) 2010-2025, enam provinsi memiliki potensi PLTMH seperti (1) Papua (ada 52 sungai berpotensi maksimal hingga 15,6 GW, di antaranya adalah sungai Memberamo/10 GW; Derewo, Ballem, Tuuga / 1,6 GW; Wiriagar / Sun, Kamundan, Digul / 1,5GW; Yuliana / 2,3 GW; Lorentz / 232 MW, dan Kladuk); (2) Kaltim: S.Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung dan Kelai (total 6.743MW); (3) Sulsel; (4) Kalbar; (5) Sumut; dan (6) Aceh.


                  PLTMH Selen Aik 25 kW, Lombar
                  Pemanfaatan PLTMH dapat menghemat BBM dan CER sangat besar. PT Indonesia Power meyakinkan, bahwa Produksi listrik PLTMH Cileunca berkapasitas 1 (2x0,5) MW (menelan biaya Rp.13 milyar), desa Warnasari, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, dapat menghemat Rp. 10 milyar setahun. Contoh lain: PLTMH Mbakuhau 37 kW (100KK), Sumba Timur, daya listrik terpakai 12 kW (2013), sedangkan sisanya dibeli PLN (Koperasi mendapatkan uang Rp.10juta/bulan). 

                  Bila seluruh PLTMH dapat mencapai kapasitas 500 MW, penghematan biaya sekitar Rp.4,27 triliun dan keuntungan dari CER US$ 6 juta, serta ada pemasukan kas desa (PADES, Pendapatan Asli Desa) Rp.2 triliun/th. Sistem Off-Grid disarankan untuk digunakan di desa, yaitu sistem pemeliharaan alat/jaringan listrik dan tagihan listrik dikelola oleh masyarakat / koperasi desa sendiri, agar kemandirian dan pertumbuhan desa dapat terwujud.

                  PTPSE (Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi) BPPT berhasil mendaftarkan rintisan CDM (Clean Development Management) PLTMH dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk PLTMH di desa Rantabella, Kec. Lotimojong, Kab. Lawu, Sulawesi Selatan.


                  PLTMH Cinta Mekar, 10 kW
                  Bila jaringan PLN sudah masuk desa, maka desa dapat menjual listriknya ke PLN (kalau harga yang ditawarkan PLN sesuai, dengan melalui proses panjang dan melelahkan). Contoh: PLTMH Curug Agung yang dibangun th 1991, th 1995 berkompetisi dulu dengan PLN ketika jaringan listrik PLN masuk desa. Akhirnya th 2000, produk listriknya masuk ke jaringan PLN. Sementara, PLTMH Cinta-mekar 10kW, Subang, Jawa Barat, menjual seluruh produk listriknya ke PLN. PLTMH Kombongan 85 kW, Garut juga masuk jaringan listrik nasional.

                  Feed in tariff PLTMH sesuai dengan Permen ESDM No. 12/2017, yang kemudian direvisi oleh Permen ESDM no. 43/2017, yaitu sekitar 100% BPP setempat.

                  PLTMH yang berencana / sedang dibangun adalah:

                  Sumatera
                  • Bengkulu: Sengak (IPP, 0,7MW, 2020, PPA).
                    Potensi PLTMH di Solok adalah Pinang Awam (462 kW), Koto Anau (167 kW), Sumani (625 kW), Balangir (500 kW), Liki Solok (60 kW), Jawi-Jawi (60 kW), dan Lubuk Gadang (103 kW). 
                  Jawa & Bali

                  • Jabar: PLTMH Ketenger (IPP, 4x600 kW).
                  • AHM (PT Astra Honda Motor) memberdayakan masyarakat dengan membangun PLTMH 6,5 kW, sungai Cibarengkok, untuk 63 KK, di TNGHS, Sukamulya, Sukabumi, Jabar, bekerjasama dengan Yayasan IBEKA.
                  • Proyek PLTMH yang sedang berjalan adalah di Kab. Bogor (Rp.855 jt), Kab. Cianjur (Rp.1,4 miliar), Kab. Garut (Rp.920 jt).  
                  • PLTMH yang masuk jalur PLN adalah Cijedil (3 kW) di Cianjur, Curug Agung (788 kW) di Subang, Cinta Mekar (120 kW), Jembelair (100 kW) di Purwakarta, dan Cipayung (240 kW).
                  • Jateng: Pemkab Banyumas membangun 12 PLTMH dengan total biaya Rp.300 miliar. Salah satunya, PLTMH Kali sasak 4 MW Kec. Cilongok, Banyumas yang dikelola oleh PT BIJ (Banyumas Investama Jaya) bekerjasama dengan PT IndoPower dengan dana sebesar Rp.60 milyar untuk 8.000 KK. Lainnya,  PLTMH percontohan Karangtengah 17kW dari sungai Prukut (debit air 300 liter/detik) untuk 66 KK, hasil kerma PT IndoPower (pemodal) dengan TNI (bantuan tenaga kerja).
                  • Konstruksi (2017): Banyumlayu (IPP, 0,46MW); Kunci Putih (IPP, 0,95MW); Banyubiru (IPP, 0,17MW);
                  • Pengadaan: PLTMH Danawarih (IPP, 0,6MW, 2020)
                  • Pendanaan: PLTMH Kalipelus (IPP, 0,45MW, 2020)
                  • Rencana: Kaliwadas (IPP, 0,4MW, 2019), 2023; Jimat (IPP, 0,5MW, 2018); Gelang (IPP, 0,3MW, 2022); Adipasir 1 & 2 (IPP, 2x0,34MW, 2022);
                  • DIY: PLTMH Semawung (0,6MW), 2020.
                  • Jatim: PLTMH Taman Asri (IPP, 0,75MW, 2019);
                   Kalimantan
                  • Kalbar: Rencana: Melanggar (0,5MW), 2019. 
                  • Kalsel: Potensi PLTMH: Muara Kendihin (0,6MW), Hulu Sungai Selatan; Kiram Atas ((0,86MW), Banjar; Sampanahan (0,6MW), Kotabaru; Gendang Timburu (0,6MW), Kotabaru.
                  • Kaltim: PLTMH Lobong (1.300 kW), Kotamobagu, didanai oleh pinjaman ADB (Proyek PLN).
                  Potensi PLTMH di Kaltim: sungai Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung, dan Kelai dengan total potensi mencapai 6.743 MW.
                  Sulawesi
                  • Sulut: Potensi: PLTM Kilotiga (IPP, 0,6MW, 2019);  Tincep 1 & 4 (IPP, 0,4+0,4 MW, 2019);
                  • Sulsel :Potensi: PLTMH Bambalu (IPP, 0,3MW, 2019), Palopo-Toraja.
                  • Sulbar:
                  • Sultra: Rencana: PLTMH Riorita (PLN, 2x0,5MW, 2019)
                    NTB
                    •  Committed: PLTMH Batu Bedil (IPP, 0,55MW, 2019);
                    NTT
                    • Konstruksi: PLTMH Wae Roa - Ngada (IPP, 0,4MW, 2017);

                      LAUT 

                    Sejak dikeluarkan UU no.17/2007 RPJPN 2005-2025, upaya menyusun Road map (peta jalan) pengembangan energi laut sedang dilakukan. Sementara, UU Kelautan sebagai dasar penyusunan road map yang mencakup tata ruang laut nasional 200mil (17.499 pulau, dan garis pantai 104.000 km terpanjang kedua dunia) telah disahkan DPR akhir Sep 2014 sekaligus hal itu sebagai cikal bakal pembangunan poros maritim. Oleh karena itu, para investor masih menunggu UU dan Road map tsb guna meyakinkan kepastian hukum berusaha dimana potensi ekonomi laut Indonesia ditaksir > Rp.3000 triliun, bahkan total potensi ekonomi laut termasuk SDA non-konvensional lainnya ditaksir lebih dari 1,2 triliun USD/th yang lebih besar dari PDB Indonesia (1 triliun USD/th). Mapping energi laut Indonesia ditampilkan (2011).

                    Ada tiga jenis energi laut yang dapat dimanfaatkan, yaitu gelombang laut, arus laut (Tidal+Ocean current energy), dan panas laut. Prediksi potensi teoritis ketiganya menurut ASELI sekitar 727 GW.

                    GELOMBANG AIR LAUT (Wave Energy)
                    Potensi gelombang di Indonesia sangat tinggi, yaitu sekitar 2-2,5 m (Laut Selatan Jawa), dan pantai Barat Sumatera sekitar 4-5 meter. ASELI (th 2011) menyatakan gelombang laut mempunyai potensi teoritis 510 GW, potensi teknis 2 GW, dan potensi praktis 1,2 GW.
                    • Metode Energi Listrik Gelombang Air Laut (400 W) karya mahasiswa dan dosen Politeknik Manufaktur Timah, Bangka Berlitung mendapat hak Paten dari Kementrian Hukum dan Ham RI, dan biaya hak paten ditanggung Dikti Kemendiknas. Karya lainnya, oleh M. Imron (T. Kelautan, ITB).
                    PLTGL-SB Vertikal
                    • Percobaan PLTGL-SB (Sistem Bandul) Horizontal oleh Zamrisyaf (pemilik paten No. HAKI P00200200854) mampu menghasilkan listrik 3 kW dan menerangi 20 rumah nelayan. Bila hanya 20% saja pantai Selatan Jawa dimanfaatkan untuk PLTGL-SB, maka 6,5 GW dapat diperoleh, dengan potensi 40 kW per meter lebar gelombang. Potensi ini tidak jauh berbeda dengan perolehan listrik dari PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Investasi PLTGL-SB (horizontal/vertikal) setara dengan PLTA. Dengan laut seluas 1 km2, daya listrik dari PLTGL 20 MW dapat diperoleh. Ponton (tongkang kecil) yang digunakan berbentuk delima yang sebagian terendam air, dengan panjang lengan 2 m, dan bandul seberat 10 kg. Bila tinggi gelombang 0,5-1,5 m, maka akan dihasilkan putaran 200 rpm dan daya sebesar 25,2 kW. Bila satu unit ponton terdiri atas 5 set bandul, maka daya akan mencapai 125 kW

                    EAL (ENERGI ARUS LAUT) (Tidal + Ocean Current Energy)
                    Arus laut di Indonesia berupa pasang surut yang diakibatkan oleh interaksi bumi, bulan, matahari, dan arus geostropik karena gaya Coriolis akibat rotasi bumi serta perbedaaan salinitas, temperatur, dan densitas. Arus pasang surut menyimpan energi hidro-kinetik, sehingga dapat dikonversikan menjadi daya listrik yang bergantung pada densitas fluida, penampang aliran, dan kecepatan alirannya. Selat-selat yang menghadap Lautan Hindia dan Samudra Pasifik teramati memiliki arus yang kuat.
                    PLTAL >80 kW
                    Potensi EAL Indonesia menghasilkan listrik sangat besar, yaitu sekitar 5,6-9 TW (5.600-9.000 GW) (versi Bappenas). Angka itu kira-kira 30-50ribu kali PLTA Jatiluhur (187 MW). Bandingkanlah dengan daya listrik dari 430 unit PLTN dunia yang hanya sekitar 363 GW (2009) < 1 TW. Potensi teoritis arus pasang surut versi BPPT sebesar 160 GW, teknis 22,5 GW, dan praktis 4,8 GW.
                    Bappenas mendorong EAL sebagai sumber EBT yang handal guna memenuhi permintaan masyarakat pesisir 18 ribu pulau di Indonesia yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik nasional. Laju arus pasang-surut (tidal) di pantai umumnya kurang dari 1,5 m/detik, kecuali di selat-selat di antara P. Bali, Lombok, dan NTT dapat mencapai 2,5-3,4 m/detik. Arus pasang-surut terkuat tercatat di Selat antara P. Taliabu dan P. Mangole di kepulauan Sula, Maluku Utara dengan laju 5,0 m/detik. Teknologi Open Hydro Open Centre Turbine yang berdiameter 16m, laju arus 2-5m/detik, akan menghasilkan listrik 2MW.
                    • Mahasiswa Teknik Elektro ITS mengembangkan purwarupa yang disebut INTIP (Indonesia Tidal Power) menggunakan pola Oscilating Water Column dan angin yang menaikkan efisiensi 24%.
                    • General Electric (GE) mengembangkan teknologi arus laut PLTAL 1 MW via percobaan Alstom di Skotlandia (yang diakuisisi oleh GE).
                    • PLN meneken MoU dengan PT SBS International Limited (Inggris) untuk membangun PLTAL komersial yang pertama di Indonesia di NTB (S. Alas dan S. Lombok) dan S. Badung (Bali) dengan kapasitas pertama 12MW, selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 140MW (biaya US$350juta).
                    • Uji-coba PLTAL  karya UPT-BPPH (BPPT) di Suramadu (2013) (3,5 kW, arus laut malam hari hanya 1,3 m/detik), Surabaya dan di Larantuka (Flores Timur) (10kW ~4,3m/detik) telah dilakukan). Sebelumnya (2010) uji-coba di Larantuka, NTT telah dilakukan. Daya listrik 2kW diperoleh. 
                    • PLTAL Larantuka, NTT 20MW sepakat dihargai 7,18 senUSD/kWh (Nov 2017).
                    • Sabella (Perancis) meneken MoU dengan PT PLP & PT Meindo Elang Megah untuk mengembangkan proyek energi arus laut Indonesia. Sejumlah turbin 100-2500 kW akan dipasang di arus terkuat di dunia (pulau terpencil di Indonesia Timur). 
                    • Tahun 2004, BPPT / BPDP (Balai Pengkajian Dinamika Pantai) membangun purwarupa OWC (Oscilating Water Column, dinding tegak) pertama di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul dengan potensi gelombang 19 kW / panjang gelombang. Survei hidroseanografi menunjukkan bahwa PLTAL akan optimal bila ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalaman 4-11 m. Putaran turbin akan dicapai antara 300-700 rpm dengan memiliki efisiensi 11%. Tahun 2006, OWC sistem Limpet / terapung diletakkan berdampingan dengan OWC th 2004, di tempat yang sama. 
                    • Tahun 2005: penelitian karakteristik arus laut dilakukan oleh Puslitbang Geologi kelautan (PPPGL) berkolaborasi dengan Program Studi Oceanografi ITB di selat Lombok dan selat Alas menggunakan turbin Kobold 300 kW. 
                    • Th 2006-2010: penelitian BPPT dilakukan di beberapa selat Nusa Tenggara (NTB dan NTT), di antaranya S. Lombok, S. Alas (diujicoba April 2012, 75 MW), S. Nusa Penida, S. Flores, dan S. Pantar. Selat-selat lainnya yang diperkirakan  memiliki arus laut cukup kuat adalah S. Sape, S. Linta, S. Molo, S. Boleng, S. Lamakera, dan S. Alor. Bila satu selat dapat dipanen energi sebesar 300 MW dengan asumsi 100 buah turbin masing-masing berdaya 3 MW, maka akan dihasilkan listrik sekitar 3GW untuk 10 selat. Tahun 2009, BPPT menguji purwarupa PLTAL sebesar 2 kW dan tahun 2011 sebesar 10 kW di S. Flores. Purwarupa pertama dibangun PPPGL bersama kelompok T-files ITB dan PT Dirgantara Indonesia yang diuji di S. Nusa Penida dan mampu menggerakkan generator listrik 5.000W. 
                    • 2012-2014: purwarupa skala besar (>80 kW) dicoba untuk mengembangkannya menjadi skala komersial. Tahun 2025, PLTAL diharapkan akan mencapai 5% dari sasaran kebijakan energi 25% bauran energi.  
                    • Mahasiswa&Alumni ITB dari PT TFiles Indonesia (13 orang) berhasil memanfaatkan arus laut menjadi PLTAL 10 kVA. Th 2012. Mereka bekerjasama dengan Dinas PU-Binamarga menyalakan 1.000 lampu jembatan Suramadu. Semua komponen turbin buatan lokal kecuali magnet yang dibandrol dengan harga Rp.400juta dengan lifetime 5 tahun. Kerma diteruskan ke PLN Batam untuk memberikan listrik 1MW.

                    PANAS LAUT
                    OTEC
                    Konversi Energi Termal Lautan, OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) adalah upaya memanfaatkan beda suhu yang terjadi di permukaan laut dan di kedalaman laut untuk menggerakkan mesin kalor, sehingga energi panas diubah menjadi energi mekanik. OTEC dikelompokkan menjadi 3 macam, daur tertutup, daur terbuka, dan daur gabungan (hibrid). Potensi prediksi Panas Laut: 240GW, Teknis 52GW, dan praktis 41 GW. Potensi OTEC Indonesia terbesar di dunia yang tersebar di 17 lokasi seperti Pantai barat Sumatera, Selatan Jawa, Selat Sunda, Bali Utara, Bali Selatan, Maluku Utara, dan Lembata (NTT).  OTEC tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga air murni akibat penguapan air laut. Indonesia bagian Timur memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan di bagian Barat. Indonesia harus segera mengeksplorasi OTEC ini.
                    • Bali Utara dan Lembata terpilih untuk Pra-FS dan FS dengan kapasitas pembangkit sekitar 100 kWe.
                    • KRISO (Institut Riset teknologi perkapalan & Kelautan Korsel) berhasil mendapatkan kontrak membangun OTEC 1MW (dapat dikembangkan hingga 100MW) di pesisir Tarawa Selatan, Republik Kiribati, Samudera Pasifik Selatan.

                    ENERGI LISTRIK AIR LAUT
                    • Dr. Sastro, Sambisari, Kalasan, Sleman, Yogya mengembangkan listrik dari air laut Parang Tritis via elektrolisis air laut (Grafit / Anoda, Seng / katoda; tegangan: 1,6 V) menggunakan aki bekas 12 V. Setelah itu, aki dibongkar dan diisi air laut. Dia mendapatkan tegangan 9,2-11,8V. Ini bukti bahwa samudra adalah baterai raksasa.  
                    • Lima mahasiswa Teknik Kimia ITS mengembangkan swecell (sea water electrochemical cell) (berukuran  20x12x10 cm3, mengakomodasi sel berisi elektroda tembaga/Cu dan seng/Zn dengan pembatas kertas membran, disusun seri) mengubah air laut menjadi listrik dengan bantuan dana DIKTI. Swecell (Sea Water Electro Chemical Cell) telah duji-cobakan pada kapal nelayan di Kenjeran, Surabaya sebagai lampu penerangan untuk melaut di malam hari.

                    PLT GRAVITASI

                    Djoko Pasiro, Pamekasan, Madura, memanfaatkan tenaga Gravitasi bumi yang murni berasal dari kekuatan alam guna menggerakkan mekanik penarik dinamo generator untuk menghasilkan listrik. PLT Gravitasi daya kecil, sebesar 2.500 Watt membutuhkan biaya hanya 15 Juta rupiah. D. Bentea (Rumania) dan beberapa peneliti lainnya [1, 2, 3, 4] menunjukkan pula bahwa PLT Gravitasi berfungsi dengan baik.


                    PANAS BUMI (GEOTHERMAL)

                    Potensi energi PLTP: 29.038 MW (29 GW), sedangkan kapasitas terpasang th 2017 sebesar 1.838,5MW atau naik menjadi 6,3% dari total potensi yang ada. Tahun 2018, ada tambahan daya dari PLTP Sarulla (2x110MW), PLTP Karaha (30MW), Sorik Merapi (2x20MW), dan Lumut Balai (55MW), sehingga total daya menjadi 2.023,5MW (naik menjadi 6,97%). Hal ini menaikkan peringkat PLTP Indonesia menjadi kedua dunia sesudah AS (3.450MW), dan Filipina turun menjadi ketiga dunia. Target tahun 2025: 7.200MW. Empat puluh (40) % potensi dunia ada di Indonesia, dan sekitar 331 titik potensi panas bumi (oleh KEN) telah ditemukan. Sepuluh (10) % dari total potensi itu (sekitar 2 GW) ada di Sumsel. Oleh karena itu, dibangunlah Laboratorium Geotermal I yang diresmikan Oktober 2013 di Palembang, Sumsel, dan dioperasikan oleh PT Sucofindo.


                    PLTP Dieng 60 MW, Jateng
                    Secara keseluruhan, potensi energi geotermal di Indonesia ditemukan tersebar di sepanjang lajur Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Busur Banda hingga Sulawesi Utara, dan lajur Halmahera, Bali, dan Papua. Potensi tersebut besarnya ternyata 2 kali cadangan minyak bumi Indonesia. Tidak salah bila Indonesia merupakan potensi terbesar di dunia, sehingga mendorong Indonesia untuk dijadikan pusat pengembangan panas bumi dunia yang tentu saja memerlukan SDM tangguh dari dalam negeri sendiri. Amerika, Filipina dan Selandia Baru tertarik berinvestasi di geotermal. Untuk itu, Amerika membantu ITB dan UI membuka jurusan geotermal, dan Selandia Baru membuka diri kepada putra Indonesia untuk belajar geotermal di sana.

                    Dr. SK Sanyal (GeothermEx Inc., California) menyinggung bahwa lebih dari 70% lahan Indonesia memiliki basis sumberdaya geothermal lebih dari 50 MW dan hampir setengahnya lebih dari 100 MW dengan sumur komersial antara 3-40 MW (rata-rata 9 MW), sedangkan sumur bor dunia hanya sekitar 4-6 MW. Tahun 2025, EBTKE menargetkan 12 GW dapat ditapis dari PLTP. 

                    Harga jual listrik PLTP sekitar 100% BPP setempat (BPP setempat > BPP nasional).


                    PLTP Kamojang 30 MW, Garut, Jabar
                    Sejarah pemanfaatan PLTP di Indonesia diawali oleh usulan Van Dijk asal Belanda tahun 1918 untuk membangun PLTP di Kamojang, Jabar. Kamojang menghasilkan uap tahun 1926, kemudian dari 5 sumur uap hanya satu sumur yang produktif, tetapi tidak lama kemudian mati. Tahun 1964 PLTP dihidupkan kembali oleh Direktorat Vulkanologi (Bandung), PLN, dan ITB. Tahun 1971, PLTP Lahendong Sulut, dan PLTP Lempung, Kerinci dikembangkan. Tahun 1972, pengeboran 6 sumur di Dieng, Jateng, dilakukan, tetapi tak satu pun mengeluarkan uap. Tahun 1974, Pertamina dan PLN mengembangkan PLTP Kamojang 30 MW. Tahun 1977, Selandia Baru menyumbang NZ$24juta dari kebutuhan NZ$34juta, sisanya ditanggung Indonesia untuk Kamojang. Tahun 1978, tim Kanada ke Lahendong dan Lempung, Kerinci. Monoblok Kamojang diresmikan 27 November. Tahun 1981, Monoblok Dieng diresmikan 14 Mei; Pertamina diberi wewenang melakukan survei, eksplorasi dan eksploitasi PLTP di Indonesia. Tahun 1982, Pertamina meneruskan penelitian di Lahendong dan melakukan kontrak dengan UGI (Unocal Geothermal Indonesia) untuk PLTP di Gunung Salak, Jabar. Tahun 1983, PLTP Kamojang-I 30 MW diresmikan 1 Februari. Tahun 1987, PLTP Kamojang-II dioperasikan. Pertamina, Amoseas of Indonesia Inc., dan PLN melakukan kerma eksplorasi panas bumi di Gunung Drajat, Jabar. Tahun 1991, keluar Keppres meleluasakan Pertamina dan kontraktor mengeksplorasi dan mengeksploitasi panas bumi, dan menjual uap / listrik kepada PLN. Tahun 1994, PLTP Gunung Drajat-I beroperasi, PLTP Gunung Salak-I dan II beroperasi, dan Pertamina melakukan kontrak dengan 4 perusahaan swasta. Tahun 1995, Nota kesepahaman dilakukan Pertamina dan PLN untuk membangun PLTP Lahendong 1x20 MW, Sulut, dan PLTP Sibayak 2 MW, Sumut.

                    Sayangnya, sekitar 70% lokasi PLTP yang potensial berada di kawasan hutan lindung, sehingga terjadi konflik kepentingan dengan Kementrian Kehutanan, apakah membangun PLTP (hanya butuh lahan 0,3-4 Ha) atau mempertahankan kawasan konservasi. Untuk mengatasi hal tersebut, DPR telah mengesahkan RUU Panas Bumi (26/08/2014) sebagai revisi UU No. 27/2003, yang ringkasan isinya sbb:
                    1. Panas bumi sebagai sumber energi alternatif. Eksplorasi & Produksi panas bumi tidak termasuk kategori pertambangan, sehingga dapat dilakukan di wilayah konservasi
                    2. Penyelenggaraan oleh Pem Pusat & Provinsi, sedangkan pemanfaatan langsung & tidak langsung oleh PemKab
                    3. Pembinaan & Pengawasan IUP oleh Pemerintah.
                    Indonesia memerlukan investasi USD30miliar untuk mengembangkan PLTP 11 GW hingga 2025. Memang, konsekuensi pemberian ijin PLTP di hutan lindung akan menyebabkan beberapa Ha hutan lindung akan terbabat. PT CGI (Chevron Geothermal Indon) belum mendapat ijin penambahan 9 Ha dari Menhut untuk membabat hutan karena telah melanggar daerah cagar alam Gunung Papandayan di Kertasari Bandung. Di sisi lain, PT PGE (Pertamina Geothermal Energy) berencana menanam 100juta pohon di sekitar lereng gunung berapi, salah satunya adalah 50 ribu pohon telah ditanam di sekitar PLTP Kamojang guna menahan resapan air dan mengurangi emisi karbon, agar panas dan air terjaga dan Kamojang terus menghasilkan uap.

                    Sebanyak 28 titik potensi panas bumi (14 proyek PLTP pada WKP existing sebelum terbit UU No.27/2003 dan 14 proyek PLTP pada WKP baru setelah terbit UU no. 27/2003, sekitar 12.069 MW) di hutan lindung sepanjang Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, telah disepakati agar proses perijinan proyek dari menteri Kehutanan segera berjalan. Permen 11/2008 mengajukan 5 WKP, yaitu Bonjol (Sumbar) 200 MW, Danau Ranau (Lampung, Sumsel) 210 MW, Mataloko (NTT) 63 MW, Ciremei (Jabar) 150 MW, dan Gunung Endut (Banten) 80 MW. Calon 4 WKP lainnya (masih disurvei) adalah Sembalun (NTB) 120 MW, Way Ratai (Lampung) 194 MW, Simbolon Samosir (Sumut) 225 MW, dan Telomoyo (Jateng) 92 MW.


                    PLTP Lahendong-3 10 MW, Sulut
                    Kapasitas terpasang PLTP Indonesia: yaitu di PLTP Kamojang (200 MW) Jabar, Lahendong-1, 2, dan 3 (3x20 MW) Sulut, Dieng (60 MW) Jateng, Gunung Salak (375 MW) jabar, Darajat (255 MW) Jabar, Sibayak (2x5 MW) Sumut, Wayan Windu (227 MW) Jabar, PLTP Ulubelu-1 dan 2 (2x55MW) di Lampung.

                    Status PLTP yang sedang/akan dibangun di Indonesia  (Maret 2018):

                    Sumatera
                    NAD
                    •  PPA: PLTP Jaboi (FTP2) (IPP, 10 / 2x5 MW, 2019/2020). 
                    • Rencana: PLTP Seulawah Agam 1 & 2 (FTP2), (IPP, 2x55 MW, 2027); Gunung Geureudong (Unallocated, 55MW, 2027). PLTP Tersebar Aceh (Allocated, 105MW, 2023/2024).
                    Sumut
                    • Konstruksi: PLTP Sarulla-1, 2 & 3 (IPP, 3x110 MW). Konsorsium (Medco Geothermal Indonesia, Ormat technology Inc / USA, Kyusu Electric Power Inc / Jepang, dan Itochu Corp. / Jepang) menggarap proyek PLTP Sarulla 330/3x110 MW, di Kab. Tapanuli Utara dan Selatan, Sumut, dengan dana senilai US$1,7 miliar (USD260juta didukung oleh Ormat) yang didanai via JBIC (Japan Bank for International Corp.) dan ADB (Asian Development bank) dan beberapa bank komersial. Tarif jual listriknya ke PT PLN sekitar US$0,0679/kWh. PLTP Sarulla-1 110 MW COD 2018, sedangkan Sarulla-2 110 MW, dan Sarulla-3 110 MW ditunda (2027). Proyek PLTP terbesar di dunia itu mundur beberapa tahun dari rencana semula. Pemerintah menyiapkan SKB 3 Menteri (ESDM, Keuangan, BUMN) guna mengatasi kisruh tersebut;  
                    • Konstruksi: PLTP Sorik Marapi (FTP2) (IPP, 80 & 160 MW), 2018-2023.
                    • Rencana (2027): PLTP Sipoholon Ria-Ria (FTP2) (IPP, 1x20 MW); Sarulla-4 (IPP, 220 MW); Simbolon Samosir-1&2 (FTP2) (IPP, 2x55 MW).
                    Sumbar
                    • Konstruksi: PLTP Muara Laboh (FTP2) (IPP, 80&140MW, Rp.4,3 triliun), 2019/2025. PT Supreme Energy bernegosiasi dengn PT PLN (Persero) dengan dana investasi US$650 juta.
                    • Rencana: PLTP Gunung Talang (IPP, 20MW, 2027), investasi US$4juta/MW; Bonjol (FTP2) (IPP, 60 MW, 2027).
                    • Unallocated: PLTP Tersebar Sumbar (20MW, 2023-22024); Simisioh (55MW, 2027).
                    Jambi
                    • Eksplorasi: PLTP Sungai Penuh 1 & 2 (FTP2) (PLN, 2x55 MW, 2025); Sungai Penuh (Small Scale) (5,0MW); Sungai Penuh Semurup (30MW); Graho Nyabu 1&2 (2x55MW).
                    Sumsel
                    • Konstruksi: PLTP Lumut Balai 1, 2 (FTP2) (IPP, 2x55MW), dibangun oleh PGE (Pertamina Geothermal Energy), pinjaman dari JICA (2015) sebesar Rp 100,7 miliar. beroperasi 2018/2019;
                      Eksplorasi: PLTP Rantau Dedap (FTP2) (IPP, 86&134 MW), 2020/2025. Konsorsium yg terdiri atas PT Supreme Energy, GDF Suez, dan Marubeni Corp menandatangani PPA dg PT PLN dengan harga yg disepakati 8,86 sen US$.
                      Potensi: PLTP Tanjung Sakti (55MW); Lumut Balai Small Scale (5MW); Margabayur 1 & 2 (2x30MW).
                    Bengkulu
                    • Eksplorasi: PLTP Hululais-1&2 (FTP2) (PLN, 110/2x55 MW, 2020/21)
                    • Rencana: Bukit Daun 1 (Unallocated, 30MW, 2021); Bukit Daun 2&3 (2x30MW, 2027); Hululais 3&4 (Unallocated, 2x55MW, 2027); Hululais Small Scale (Unallocated, 20MW, 2027); Tambang Sawah (Unallocated, 10MW, 2023); Kepahiyang (Unallocated, 110MW, 2027).
                      Lampung

                      • Eksplorasi: PLTP Rajabasa (FTP2) (IPP, 2x110MW, 2021/2025). SERB (PT Supreme Energy Rajabasa), GDF Suez, dan Sumitomo Corp. membangunnya;
                      • Potensi: PLTP Way Ratai (55MW); Sekincau (FTP2) (220MW). 
                      Jawa
                      Banten
                      • Rencana: PLTP Rawa Dano (FTP2) (IPP, 1x110 MW, 2022); Tersebar (Unallocated, 40MW, 2025).
                      • Potensi; Gunung Endut (FTP2) (40MW).
                      Jabar  
                      • Pengembangan PLTP Karaha Bodas di lahan sekitar 40 Ha dilanjutkan kembali setelah dibatalkan pemerintah (Soeharto) saat krisis ekonomi 1997. Dana berasal dari ADB (Asian Development Bank). PGE menggandeng PT Alstom Power Energy System Indonesia guna menggarap konstruksinya (EPCC). 
                      • Pengadaan: PLTP Patuha (FTP2) (IPP, 55 MW, 2022);
                      • Rencana: PLTP Cibuni (FTP2) (IPP, 1x10 MW, 2022); Tangkuban Perahu Ciater (FTP2) (PLN, 3x20MW, 2023-24); Tersebar (Unallocated, 653MW, 2025); Wayang Windu 3 (FTP2) (IPP, 120 MW, 2025);
                      •  Potensi: Cisolok-Cisukarame (FTP2) (50 MW); Gede Pangrango (55MW); Gunung Ciremai (FTP2) (110MW); Gunung Galunggung (110MW); Karaha Bodas (FTP2) (20MW); Masigit (55MW); Papandayan (40MW); Patuha (FTP2) (55MW);  Tampomas (FTP2) (45MW); Wayang Windu 4 (FTP2) (113MW). 
                      Jateng
                      • PPA (proses FC): PLTP Dieng (FTP2) (IPP, 55MW, 2021); 
                      • Rencana:  PLTP Dieng Small Scale (IPP, 10MW, 2019); Dieng Binary (IPP, 10MW, 2020); Baturaden/Slamet (FTP2) (IPP, 55 & 85 MW, 2025); Tersebar (IPP, 110 & 40 MW, 2024 & 2025); Tersebar (Unallocated, 260MW, 2025).
                      • Pendanaan: Dieng (FTP2) (IPP, 55 MW, 2022); 
                      • Potensi: Dieng (FTP2) (2x55MW); Umbul Telomoyo (FTP2) (55MW); Gunung Lawu (2x55MW); Mangunan-Wanayasa (40MW); Ungaran (FTP2) (55MW); Guci (FTP2) (55MW); Candradimuka (40MW)
                      D I Yogyakarta 
                      • Potensi: PLTP Parangtritis (10MW), Gunung Kidul.
                      Jatim
                      • Rencana: PLTP Ijen (FTP2) (IPP, 55MW, 2022); Ngebel/Wilis (FTP2) (IPP, 55MW, 2025); Tersebar (Unallocated, 410MW, 2025);  
                      • Potensi: Arjuno Welirang (185MW); Gunung Pandan (60MW); Gunung Wilis (20MW); Iyang Argopuro (FTP2) (55 MW); Songgoriti (35MW); Wilis/Ngebel (FTP2) (55MW).
                      Bali
                      • Rencana: PLTP Tersebar (Unallocated, 10 & 55 MW, 2025).
                      • Potensi: Bedugul (65MW/).
                      NTB
                      • Potensi: PLTP Sembalun (FTP2) (2x10MW); Hu'u (FTP2) (2x10 MW).
                      NTT
                      PLTP Ulumbu, Flores, NTT
                      • Konstruksi: PLTP Sokoria (FTP2) (IPP, 5MW, 2018); 
                      • Pengadaan: PLTP Sokoria (FTP2) (IPP, 5MW/2022, 10MW/2023, 10MW/2024); 
                      • Rencana: PLTP Ulumbu 5 (PLN, 20MW, 2021); Ulumbu 6 (PLN, 20MW, 2026); Mataloko (FTP2) (PLN, 2x10MW, 2022&2023); Atadei (FTP2) (IPP, 5MW/2025, 5MW/2027); 
                      • Potensi: Oka Ile Ange (FTP2) (10MW); Waisano (20MW); Lesugolo (5MW); Gunung Sirung (5MW).
                      Sulawesi
                      Sulut
                      • Rencana; PLTP Lahendong 7,8 (IPP, 2x20MW, 2025).
                      • Potensi: PLTP Kotamobagu-1,2,3,4 (FTP2)  (PLN, 4x20MW); Lahendong Small Scale 1 (IPP, 5MW); Lahendong Small Scale 2 (IPP, 5MW); Gunung Ambang (IPP, 400MW); 
                      Sulteng
                      • Potensi: PLTP Marana/Masaingi (FTP2) (Unallocated, 2x10 MW, 2025); Bora Pulu (FTP2) (Unallocated, 1x40 MW, 2025).
                      Gorontalo
                      • Rencana: PLTP Suwawa (IPP, 20MW, th 2018 20MW dilelang); PLTP Wab Salit 20MW dilelang th 2018.
                      Sultra
                      • Rencana: PLTP Lainea (Unallocated, 2x10MW; tahun 2018 10MW dilelang)

                      Maluku
                      • Pengadaan: PLTP Tulehu (FTP2) (PLN, 2x10MW, 2020); dikembangan oleh PLN dan Haliburton (AS).
                      Maluku Utara
                      • FS: PLTP Jailolo (FTP2) (20MW), Halmahera Barat; Telaga Ranu (5MW, th 2018 dilelang).
                      • Rencana: PLTP Songa Wayaua (FTP2) (PLN, 2x5 MW, 2023); Gunung Hamiding (Unallocated, 20MW, 2025); 
                      BPPT mengembangkan purwarupa PLTP skala kecil 3 MW di Kamojang, Kab. Bandung, Jawa Barat. Proyek ini menggunakan komponan lokal (TKDN 70%) termasuk turbin (gandeng NTP, Nusantara Turbin Propulsi anak perusahaan IPTN) dan generator (gandeng PT Pindad). Dana diperoleh dari APBN BPPT Rp 50 milyar. Di sisi lain, BPPT mengkaji PLTP Ulu Ere 25 MW di Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan. Th 2014, BPPT bekerjasama dengan Jerman melakukan riset PLTP siklus biner 500 kW di Lahendong, Sulut.

                      Cadangan panas bumi baru yang ditemukan adalah Kebar (25 MW) Manokwari, Papua Barat; Tehoru (75 MW), Banda Baru (75 MW), dan Pohon Batu (50 MW) Maluku Tengah; Kelapa Dua (25 MW) Maluku Barat; Lili (75 MW), Mapili (50 MW), dan Alu (25 MW) Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

                      Calon lokasi  PLTP yang belum disurvei adalah Sungai Betung/Kab. Kerinci (Jambi), Pesisir Selatan (Sumbar), Sungai Tenang/Kab. Merangin, (Jambi), Ciseeng (Bogor, Jabar), Lebak (Banten), Malawa/Kab. Maros, Pangkajene/Kab. Bone, dan Kab Barru (Sulsel), Gunung Dua dara (Kab. Bitung, Sulut), Gunung Pangrango (Bogor, Jabar).  


                      BIOMASSA

                      Potensi energi biomassa Indonesia diperkirakan: 49.810 MW (50 GW) yang berasal dari perkiraan produksi 200 juta ton biomassa/tahun dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan dan limbah padat/sampah kota, sementara daya terpasang: hanya 1.716,5 MW (th 2013) atau sekitar 3,45 % saja dengan hutan produktif dan perkebunan seluas 23 juta Ha. Itu berarti pemanfaatan biomassa untuk energi listrik masih sangat sedikit. Oleh karena itu ESDM mengeluarkan Permen No. 3 th 2016 dan 27 th 2014 guna mendorong pemanfaatan biomassa (PLTBm) dan biogas (PLTBg) seoptimal-mungkin menjadi listrik. Program jangka pendek Kementrian ESDM meliputi promosi investasi, insentif fiskal dan pajak, kebijakan penetapan harga energi, penyebarluasan informasi, dan penelitian dan pengembangan. Ada 57juta Ha lahan terdegradasi yang dapat dikembangkan untuk energy forest. Sekitar 20juta Ha akan dimanfaatkan dulu untuk biofuel dan PLTBayu.
                      • NAD: PLTBm Tamiang (PPA, Swasta, 10MW, 2020).
                      • Sumut: PPA: PLTBm Tanjung Semanto (IPP, 10MW, 2019); Deli Serdang (9,9MW), potensi.
                      • Riau: PPA: PLTBm Rokan Jaya (IPP, 10MW, 2018). Riau Green (IPP, 10MW, 2020); Potensi: Natuna (4MW); Kuansing (10MW); Indragiri Hilir (5MW); Ujung Batu (7MW).
                      • Kep Riau: PPA: PLTBm Sebangar (IPP, 6MW, 2019). 
                      • Bangka-Belitung: Konstruksi: PLTBm Tempilang (IPP, 6MW, 2018); PLTBm Pegantungan (IPP, 5MW, 2018); PPA: PLTBm Sadai Bangka Selatan (IPP, 10MW, 2020). 
                      • Jambi: PPA: PLTBm Mersam (IPP, 3MW, 2022); Potensi: Pelawan Sarolangun (1,3MW).
                      • Sumsel: Potensi: PLTBm Ogan Ilir (9,9MW); Mesuji (5MW); Musi Banyuasin (5MW); Pedamaran Timur OKI (5MW); Musi Rawas (5MW).
                      • Bengkulu: Potensi: PLTBm Ketahun (4MW).
                      • Lampung
                      • PPA: PLTBm Gunung Batin Baru (IPP, 5MW, 2017). 
                      • Jatim: Rencana: PLTBm Tersebar (IPP, 50MW, 2019).
                      • Bali: Rencana: PLTBm Tersebar (IPP, 0,9MW, 2022). 
                      Kalbar
                      • Konstruksi: PLTBm Mempawah (IPP, 10MW, 2018).  
                      • Committed: PLTBm Ketapang (IPP, 10MW, 2019); Balai Karangan (IPP, 6MW, 2020);  
                      • Potensi: PLTBm Tersebar (87MW).
                      Kalsel
                      • Committed: PLTBm Mantuil (IPP, 10MW, 2020)
                      Kalteng
                      • Potensi: PLTBm Tersebar (80MW).
                      Kaltim
                      • Rencana: PLTBm penajam Paser Utara (IPP, 9,5MW, 2018) Petung;  
                      • Committed: PLTBm Berau (IPP, 3MW, 2019) Berau; 
                      • Potensi: PLTBm Tersebar (31,5MW, Kaltim).
                      • Sulut: PLTBm Sulut Tersebar (Unallocated, 10MW, 2027).
                      • Sulsel: Potensi: PLTBm Sidrap (IPP, 10MW).
                      • NTT: Konstruksi: PLTBm Sumba Barat (IPP, 1MW, 2018);
                      • Maluku: Rencana: PLTBm Piru (IPP, 6MW, 2022).
                      • Papua: Konstruksi: PLTBm Merauke (IPP, 3,5MW, 2018).

                        PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa telah memanfaatkan biomassa sebagai pengganti batubara.

                        PT Growth Asia (GA) di bawah GSG / Growth Steel Group (PLTU Biomassa, 2x15 MWe dengan TKDN 70%, Rp10miliar/MW dari BCA Bioler/Indon, generator/turbin/Tiongkok, modul pengatur turbin/AS) memanfaatkan limbah kering cangkang sawit (1 kWh listrik perlu 1,2 kg cangkang), serat sawit, sekam padi, bonggol/tongkol jagung, serbuk kayu, ampas tebu, dll. untuk menapis listrik. PLTU sejenis sudah dibangun di
                        • Medan/Sumatera: PT GSI  / Growth Sumatra Industry, Unit-1 excess power 6 MW, COD Des 2008; Unit-2 Excess Power 9MW, COD Nov 2010.
                        • Medan/Sumatera (PT GA Unit-1, excess power 10 MW, COD Okt 2011; Unit-2 excess power 10 MW, COD Juni 2012;
                        • Simalungun/Sumatera: PT HS / Harkat Sejahtera, Unit-1 PLTU 2x15 MW, COD April 2013; Unit-2 (no Info).
                        • Jambi/Sumatera: PT RPSL / Rimba Palma Sejahtera Lestari, PLTU 2x15 MW, COD awal 2013;
                        • Cilegon/Jawa: PT Indocoke, Unit-1 PLTU 1x15 MW (Clean energy + HRSG); COD Maret 2013; UNit-2 PLTU 1x15 MW
                        • PLTU sedang direncanakan: Pontianak (PNK), Banjarmasin (BDJ), Balikpapan (BPN), Pekan Baru (PKU), Palembang (PLM), dll.

                        Kelapa Sawit
                        Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan areal sekitar 10,9 juta Ha (2014) (milik rayat / Perkebunan rakyat 41,55%, Negara (PTPN) 6,83%, swasta asing 1,54%, sisanya swasta nasional/lokal 50,08%). Produksi CPO sekitar  29,3 juta ton (2014) terdiri atas milik rakyat 10,68juta ton, Negara 2,16juta ton, dan swasta 16,5juta ton. Sebelumnya (2013), produksi CPO sekitar 24 juta ton (18 juta ton CPO/th diekspor) dengan potensi biomassa dari residu minyak kelapa sawit dan 350 pabrik minyak kelapa sawit dalam jumlah besar pula, berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekitar 27,5 juta ton basah (1 ton TBS/Tandan Buah Segar menghasilkan 200 kg CPO, limbah TKKS 250 kg, dan limbah cair 0,5 m3). Masih ada limbah sawit lain, seperti pelepah 4%, cangkang 6,5%, serat 13%. Pemerintah melarang membakar TKKS langsung guna menghindari pencemaran udara.
                        • Program olah limbah sawit di Muba dilakukan BRG bersama CIRAD Perancis
                        • Jepang butuh Palm Oil 48 ribu ton/tahun dan TKKS 10ribu ton/tahun
                        • Riau sedang membangun PLTGBm Sencalang 140 kW (250-300 KK) dari pelepah sawit di Siak dan Inhil. KEI (PT Kreatif Energi Indonesia) membangun PLTBiogas 4 MW dari limbah cair kelapa sawit  pertama  di Langkat, Sumut, dengan investasi Rp.20miliar.  Potensi listrik Riau dari sawit: 906 MW (serat + cangkang), dan 112 MW (limbah cair / biogas).
                        • PT PEI (Pasadena Engineering Indonesia, Jkt) membangun PLTBm dengan proses gasifikasi biomassa (pelepah sawit) di Riau 100kVA, dan PLTBm 30kW (50KVA) 220/380V, 50Hz, di Sumba Timur (2013); 
                        • Nurhuda (dosen Unbraw, Malang, Jatim) memanfaatkan cangkang sawit (kulit, batok sawit) sebagai bahan bakar kompor ciptaannya Biomass UB 03-1 (isi 1 kg, laju bakar 10 gr/menit selama 100 menit) yang bersistem semi-gasifikasi dengan aliran udara alami tanpa listrik sama sekali. Limbah cangkang tersedia sekitar 5% dari TBS, atau sekitar 5 juta ton/tahun dengan harga Rp300/kg di Kalimantan dan Sumatra, atau sekitar Rp1000,- di Jawa yang mampu mencukupi bahan bakar kompor untuk 13 juta keluarga di Indonesia.
                        • BPPT dan AIST (National Institute for Advance Industrial Science & Techn.) Jepang yang didukung oleh NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) bekerjasama (via MoU) meneliti, mengembangkan, dan merekayasa teknologi biomassa untuk pembangkit listrik.
                        • Kerjasama Pemerintah dan Finlandia membuahkan dana hibah 4 juta Euro selama 3 tahun (2011-2014) dan melahirkan 22 proyek EBT (14 di Provinsi Riau, dan 8 di Kalteng) yang berupa studi kelayakan investasi, demonstrasi, basis industri, dan pengembangan kapasitas (15 desa menggunakan biogas dari limbah pertanian, 1 unit biogas untuk pabrik tepung terigu, 1 unit pemanfaatan kotoran manusia).
                        • Pemprov Bangka Belitung merencanakan membangun pembangkit listrik berbasis biomassa TKKS. Pasokan bahan baku TKKS dari kebun sawit seluas 80.000 Ha akan menghasilkan 20 MW.
                        • PT Ajiubaya memanfaatkan biomassa di Sampit (Kaltim) dengan kapasitas 4-6 MW.
                        • PT Boma Bisma Indra memanfaatkan gasifikasi biomassa pada mesin diesel (listrik dan mesin giling) dengan kapasitas 18 kW di beberapa daerah di Kalimantan, Sumatra, dan Sulut.

                        Ampas Tebu

                        Penggunaan ampas tebu (bagas): sebagai bahan bakar PLTBm, bioetanol, kompos, pakan ternak, bahan baku industri kertas (tissu), particleboard, fibreboard, silika gel, media tanam (jamur tiram), adsorsi minyak bebas dalam minyak jelantah, arang aktif, dll. Pabrik gula Ngadirejo, Kediri, Jatim, menyisakan ampas tebu yang cukup besar jumlahnya, sebagai BB PLTU Biomassa untuk menghasilkan listrik (8 MW) dan uap untuk kebutuhan pabrik. Tebu segar 6200 ton/hari menghasilkan 30-40% ampas tebu (sekitar 1860-2480 ton/hari). Listrik yang diperlukan di pabrik hanya 4,5 MW maka sisanya (3,5 MW) dijual kepada PLN.

                        Batok Kelapa

                        Pemerintah membangun PLT Biomassa berbasis batok kelapa dari Wonosobo atau dari Kalimantan ke Pulau Karimunjawa, Jawa Tengah dengan daya 0,5MW (2015). Hal itu dimaksudkan untuk mengganti PLTD BBM yang saat ini beroperasi sangat mahal (Rp. 3 miliar/tahun). 
                        PLN Sulut, Sulteng, dan Gorontalo juga memanfaatkan batok kelapa sebagai umpan PLT Biomassa (daya per unit 0,1 MW). Pulau-pulau kecil di sekitar Gorontalo adalah produsen kopra, sehingga limbah seperti batok & serabut kelapa, ranting pohon, cangkang pala, dll cukup melimpah. Oleh karena itu, beberapa unit PLTBm sangat memungkinkan untuk dibangun di sana.

                        Manfaat batok kelapa lainnya adalah pembuatan arang (sebagai BB misalnya bakar sate, industri kuliner, dll dengan energi 7.340kal. Bila ditambah tapioka dapat dibentuk menjadi briket). Harga arang batok (Agustus 2016) Rp.6.500/kg tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (harga Ex-Work), dengan spek: Mati hampa (tidak disiram air); kering: sudah diayak; kemasan PP bag baru; kemasan dijahit dengan mesin (arang batok).

                        Selanjutnya arang batok kelapa dapat diubah menjadi arang/karbon aktif yang berguna untuk obat anti bisa, anti racun, menurunkan kolesterol, membersihkan sistem pencernaan / detoksifikasi, obat sakit perut, obat inflamasi, obat luka, diare, cegah mabuk setelah minum alkohol, menjernihkan / memurnikan air, percantik kulit (untuk maskara), dll.

                        Limbah Sagu

                        Uyung (kulit sagu)
                        Uyung semula dijadikan arang briket, kini siap dijadikan listrik. Perum Perhutani bekerjasama dengan PT EMI (Energi Manajemen Indonesia) (BUMN) memanfaatkan limbah hasil pengolahan sagu menjadi PLTBm Kais 3 MW (Papua) (Rp.2.450/kWh, setengah dari energi fosil) untuk memenuhi kebutuhan pabrik Perhutani. Sisa listrik dibagikan kepada masyarakat dan SMK di Sorong Selatan. Bila energi listrik dari 1 kg uyung sekitar 0,4kWh (via Gasifier & engine), maka potensi 6.066ton uyung/bulan akan menghasilkan listrik 2.426.400 kWh/bulan. Uyung dapat digunakan sebagai material pembangunan jalan.
                         

                        Pelet Kayu/Limbah Kayu

                        Kaliandra Merah
                        Kebutuhan Eropa: 15 juta ton (th 2013), Indonesia baru memenuhi 40 ribu ton th 2009.
                        Pelet kayu digunakan untuk energi pemanas rumah tangga (musim dingin), energi dapur masak, dan energi pembangkit tenaga listrik khusus pelet kayu dan sebagai campuran BB batubara pada PLTU batubara. Kayu kaliandra (merah) yang banyak pula ditanam di Madura mempunyai nilai kalor yang tinggi (di samping bunganya yang disukai lebah madu), sehingga dijadikan tanaman perintis untuk menghijaukan lahan marjinal / kritis. Harga kayu kaliandra Rp.367ribu per ton atau peletnya Rp.1,4-2,5juta per ton. Bahan bakar PLTU batubara kadangkala dicampur dengan pelet kayu kaliandra merah dengan sistem Co-firing atau co-combustion yang ditambah alat grate stoker. Jarak sumber pelet kayu terhadap PLTBm sebaiknya kurang dari 80km guna mengurangi biaya transportasi.
                        • Jepang memanfaatkan dahan & ranting kayu (30% dari pohon tebangan) guna membangun industri ET di Bengkulu sebagai pilot project di Indonesia (bila sukses akan diteruskan ke Kalimantan, Sulawesi, dan Papua).
                        •  PLN dan General Electric International Operation Co. bekerjasama membangun 2 unit PLTBm (2x0,5 MW) (dari serpihan kayu/tumbuhan organik) di Bali & P. Sumba (NTT) yang melahap lahan sekitar 100 Ha.
                        • PLTBm Morowali 10 MW, Sulteng, dibangun oleh PT PLN (via anak perusahaannya, PT Prima Layanan Nasional) bekerjasama dengan Pemda Morowali senilai Rp.30miliar berbahan bakar kayu kaliandra merah yang banyak tersedia di daerah tsb. Pembangkit tsb ditujukan untuk melistriki industri smelter NPI (Nickel Pig Iron) dan menjamin ketersediaan listrik masyarakat.  COD sekitar 2017/2018.
                        • Investor Korsel, hasil kerjasama Korsel-Indonesia yang diteken Indonesia 6/3/2009 di bidang wood pellet energyPT Indoco Group membangun HTI seluas 200 ribu Ha dengan dana Rp.3 triliun guna memanfaatkan "pelet kayu" di Sulbar. Indoco group melalui PT Bara Indoco (68.015 Ha) dan PT Bio Energy Indoco (21.580 Ha) sudah menanam 89.595 Ha (45%). Sebelumnya, ia telah membangun pabrik pelet kayu (berdiameter 6-10 mm dan panjang 10-30 mm, dengan energi setara 4,7 kWh/kg) di Wonosobo, Jateng dengan kapasitas 200 ribu ton/tahun yang menggunakan kayu hutan rakyat dan limbah industri gergaji, limbah tebangan dan limbah industri kayu lain. 
                        • Medco Energy via PT Selaras Inti Semesta membangun HTI seluas 169.400 Ha guna memproduksi 200 ribu ton chip/tahun.

                         Serbuk Gergaji / Serbuk Kayu + Serut Kayu

                        Serbuk gergaji dapat dimanfaatkan sebagai
                        • Pembuatan pelet kayu, sekaligus sebagai umpan PLTU biomassa dan campuran PLTU Batubara
                        • Bahan campuran pembuatan papan partikel. Serbuk gergaji disatukan dengan lem membentuk papan.
                        • Diubah menjadi pulp untuk bahan baku kertas.
                        • menjadi mulsa (pertanian)
                        • Penyerap cairan agar cairan tumpah mudah dibersihkan
                        • Bahan bakar briket

                        Gambut/Tanah Organik/Tanah Rawang/Tanah Danau
                         
                        Gambut itu bahan bakar (tahap awal pembentukan batubara, sebagai pengganti batubara muda), dan kelimpahannya di Indonesia ternyata sangat luas, keempat terbesar di dunia (20,6 juta Ha, 10,8%) setelah Kanada (170 juta Ha), Rusia (150 Ha), dan AS (40 juta Ha). Gambut tersebar di Sumatera (~35%, dataran rendah pantai Timur, terutama di Riau, Sumsel, Jambi, Sumut, dan Lampung), Kalimantan (~30%, Kalteng, Kalbar), Papua (~30%, Papua Barat, Papua, Papua Timur), dan Sulawesi (~3%). Ketebalan gambut di Indonesia diperkirakan rerata 3-5 m di bagian Barat, dan 1-2 m di bagian Timur. Gambut terbentuk, karena curah hujan merata sepanjang tahun dan topografi tak rata, sehingga banyak daerah cekungan dengan genangan air disertai onggokan bahan organik.
                        Suasana kurang oksigen membuat tanaman lambat hancur, menyerap karbon, dan membentuk lahan tersusun oleh bahan organik dengan ketebalan hingga 20 meter. 
                        Kegunaan gambut lainnya adalah untuk menyuburkan rerumputan yang kering di musim kemarau dengan cara cukup menaburkannya di atas rumput. Kemampuan gambut menyerap & menahan air dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman (tomat, blueberries, bawang merah, nenas, dll) tanpa perawatan. Status lahan gambut (LG) Indonesia (Sumatera, Kalimantan, dan Papua): Hutan (sebagian besar dibalak, 61%); Terbakar (7%); Semak belukar (tidak ada hutan, terganggu, 24%); dan Dibudidayakan/dikelola (5%). Sekitar 23% luasan lahan gambut berada di tangan para pemegang konsesi (sawit, dan kayu) baik digunakan maupun tidak, yang akan terus terdegradasi, dan sulit direstorasi bila para pemegang konsesi tidak bekerjasama.

                        PLTU Gambut Toppila, 190 MW
                        Nilai bakar Gambut Kalbar kering 5628,73 kkal/kg dekat dengan nilai bakar batubara muda (~6000 kkal/kg). Komposisi kimia gambut adalah C 56,82%, H2 6,58%, N2 1,65%, O2 30,21%, S 0,17% dan abu 4,57%. Komposisi abu gambut terutama terdiri atas SiO2 31,66 %, Al2O3 18,89%, Fe2O3 11,29%, dan 7,46% MgO. Penambangan dan perataannya menggunakan teknik khusus terutama untuk bahan bakar PLTU dan holtikultura [chek kualitas gambut, penggalian & perataan, pemotongan, 4, 5]. Gambut kering dapat pula dibuat pelet terlebih dahulu (mirip kayu) untuk menaikkan nilai kalornya, atau dicampur dengan biomassa lainya sebelum diumpankan ke dalam PLTU. Gambut dapat digunakan sebagai bahan Bakar (PLTU, briket, keperluan rumah tangga / kompor dengan memperhatikan dampak lingkungan secara hati-hati dan tata-kelola air yang baik). 

                        Hal itu sebagai langkah awal pemanfaatan LG daripada dibiarkan terus menerus terbakar / dibakar [1, 2, 3, 4, 5] oleh oknum tertentu sepanjang tahun tanpa menghasilkan listrik, sekaligus si pemilik konsesi gambut dapat menjaga arealnya dari pembakaran liar. Gambut dengan tebal 2 m dan luas 7.500 Ha dapat menghasilkan listrik ~120MW selama 20 tahun yang dapat menekan biaya energi listrik hingga 5 sen USD/kWh (2011). Langkah berikutnya (setelah dimanfaatkan untuk PLTU dan abu sisa pembakaran ditebarkan kembali ke tempat semula) LG dapat dihutankan kembali.

                        Presiden Jokowi mengeluarkan Keppres No.1/2016 dengan membentuk BRG (Badan Restorasi Gambut) guna merestorasi LG. Indonesia yang berkolaborasi dengan Norwegia (bantu dana US$50juta (bagian dari fase II US$140juta untuk program BRG).
                        Caranya adalah dengan membuat embung-embung, revegetasi / reforestasi LG dengan aneka tegakan rawa (misalnya pohon bangiran), penimbunan kanal-kanal (sepanjang 4500km) agar air LG tidak mengalir ke Laut Jawa, melindungi areal yang direstorasi dari gangguan, dll. agar kelembaban LG tetap terjaga. Bantuan lainnya: AS US$17juta, dan Yayasan Packard US$15juta. 
                        Tahun 2017 pemerintah menargetkan restorasi LG seluas 400.000 Ha (Prov. Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, dan Papua), sebagai bagian dari program restorasi LG hingga tahun 2020 (sekitar 2juta Ha).
                        • Indonesia dan Finlandia (kontribusi energi dari LG 5-7%) sepakat meningkatkan kerma pengelolaan LG menjadi energi terbarukan
                        • PLTU Gambut pertama di Indonesia, PLTU Mempawah (3x67 MW), Kab. Pontianak, Kalbar berbahan bakar gambut akan dibangun oleh PT Sebukit Power (SP) sebagai IPP, investasi US4400juta dengan teknologi Finlandia. PT SP meneken MoU dengan PLN untuk penjualan listrik selama 30 tahun, 4,774 sen US$/kWh. PLTU yang direncanakan dibangun di atas lahan 19.350 Ha, 2000 Ha digunakan untuk konservasi. Akan tetapi, status PLTU saat ini tidak jelas (tampaknya proyek tsb terhenti, adanya aturan bahwa gambut adalah hutan lindung yang tidak boleh ditambang).
                        • Gambut tetangga sudah dijadikan BB PLTU di negaranya masing-masing. PLTU Toppila adalah PLTU gambut terbesar di dunia yang terletak di Oulu, Finlandia dengan kapasitas 190 MW (2 unit, 77 MW dan 113 MW). Sementara PLTU Myllykoski berBB campuran (gambut dan biomassa). 
                        • PLTU gambut terbesar di Afrika dan sedang dibangun adalah PLTU Hakan (80 MW / 120 MW)  Mumba, Ruwanda dan akan beroperasi sekitar tahun 2017, dengan menambang bahan bakar 44-70 ton gambut/jam pada lahan 800Ha.
                        • Gambut yang melimpah juga digunakan sebagai bahan bakar PLTU di Rusia, Belarus, Ukraina, dan negara-negara di Baltik dengan menggunakan Peat Combustion Technology yang dicampur dengan BB biomassa lainnya. Contoh PLTU Rusia adalah Shatura Power station yang menggunakan BB gas alam 78%, gambut 11,5%, minyak bakar 6,8%, batubara 3,7%). Semula, PLTU (shatura-1, 2x210MW), sejak 1925, menggunakan gambut 40%, lalu diturunkan hingga 1% pada tahun 1980. Kemudian, BB umpan untuk 4 PLTU didiversifikasi ke multi BB (Shatura-2, 3, & 4 bukan gambut).
                        Nanas Raksasa lahan gambut
                        Bila LG tidak dimanfaatkan sebagai Bahan Bakar, maka LG dapat dimanfaatkan untuk menanam pepohonan, misalnya budidaya sagu, kelapa, bawang merah, pinang, buah naga, karet, nenas, gaharu, timun, padi, sayuran, terong, pare, cabai, bunga kol, palawija, wortel, dll. guna menghindari ancaman kebakaran dengan teknik 1) pengelolaan tata-air, 2) pemberian abu layang sawit, dan 3) Restorasi ekosistem, yang dilakukan dengan bantuan skema emisi karbon. 

                        Bawang merah di LG Pontianak
                        Akan tetapi, LG tidak dapat langsung ditanami jenis tanaman hortikultura itu (sayur & buah-buahan yang umumnya menghendaki pH 6-7 dan adanya hara N, P, dan K yang cukup), karena pH tanah gambut yang rendah. Oleh karena itu, pH tanah gambut perlu dinaikkan. Sementara, limbah PLTU chip dan cangkang sawit (abu layang sawit) dapat menaikkan pH gambut. Rerata pH gambut awal 4,35 sedangkan pH abu layang sawit 10,44. Sepuluh ton abu layang sawit per Ha dapat menaikkan pH lahan gambut menjadi 6,36 setelah 2 bulan penambahan. Abu layang sawit mengandung kation-kation yang diperlukan tanaman seperti Ca, Mg, Zn, P, dan K serta tidak mengandung logam-logam berat berbahaya bagi tanah dan tanaman.
                        • BRG bersama CIRAD meneliti potensi pemanfaatan energi biomassa di LG dan Lahan Mineral di Kab Ogan Komering Ilir (OKI) dengan menanam tanaman Ramin, Jelutung Rawa, Punak, Perupuk, Meranti, dll. Hasil litbang cukup baik dengan kelembaban meningkat. Sukses itu akan ditularkan ke proyek percontohan di Muba (Musi Banyuasin). LG di Sumsel sekitar 1,4 jua Ha.
                        • Apabila LG hendak ditanami Sawit (sudah ada 1juta Ha LG ditanami sawit), tirulah teknik tanam versi Woodman Group (Malaysia), yaitu LG harus dipadatkan / kompaksi menggunakan gerakan ekskavator 5-6 kali (pohon/batang yang ada dicabut) sedalam 60cm, kemudian setelah 1 tahun baru ditanami, dipadatkan lagi tahun ke-1 dan ke-2 pasca penanaman (total minim = 3kali), sehingga pupuk dan air tertahan di akar sawit di lahan berpori rapat, dan tidak ada ruang bagi api untuk merambat. Produksi dapat naik ~2 kali menjadi 25 bahkan 40 ton/Ha/th (bila tidak dipadatkan, rongga tanah masih lebar, pupuk mudah larut, tanah LG mudah dimasuki api dan terbakar, dan hanya menghasilkan 15 ton/Ha). Bila ada banyak kayu (virgin peat) pemadatan harus lebih intensif. Untuk LG 400.000Ha perlu 300 ekskavator. 
                        • Pelatihan teknologi hidrologi dan pengelolaan LG kepada para petani (Ds. Arang-arang, Parit, Tangkit, Jambi), stakeholder, dll dari PT. Bakrie Sumatra Plantation Tbk telah dilakukan.  
                        • Cara lain untuk menyuburkan LG adalah pemberian mikroba tanah yang tepat, agar pH dan nutrisi tanah menaik. Mintalah nasehat dari peneliti ahli mikroba tanah, agar LG subur kembali hanya dalam waktu 3 tahun. 
                        • Pengalaman menunjukkan bahwa LG yang ditanami nanas dan lidah buaya (struktur daun yang keras dan berair) dengan jarak rapat ternyata relatif tidak ikut terbakar. 
                        • LG di Ds. Riding, Kec Pangkalan Lampam, Kab. Ogan Komering Ilir (OKI) berhasil ditanami padi (382 Ha) oleh PT BMH dengan target 2.000 Ha. Jauh sebelumnya (th 1949), Ds. Rawa Lakbok, Ciamis, Jabar (sekitar 3000Ha) juga pernah menjadi LG yang telah berhasil ditanami padi.
                        • Jagung hibrida di LG Ds. Sungai Bulan, Singkawang sukses dibudidaya oleh kelompok tani "Tani Mukti" hingga mencapai 3,6 ton/Ha.
                        • Ahmad (asal Bima, NTB) sukses menghijaukan LG dengan tanaman jagung selain kangkung, cabai, timun, tomat, kacang panjang, dan tanaman utama (labu air, paredan gambas). Fajar Haryadi (pok-tani Bina Bersama) juga berhasil menanam jagung di sela-sela kebun sawit (TBM, Tanamas Belum menghasilkan) di LG, Kotawaringin Barat, Kalteng. TBM sawit di Riau pun diusahakan untuk ditanami jagung.

                        Limbah Jagung (+sekam padi)

                        Tahun 2013, produksi jagung 18.506.287 ton yang berasal dari luas lahan sekitar 3.820.161 Ha, dan tongkol/bonggol yang diperoleh sekitar 5.551.886 ton [Satu ton jagung menghasilkan 700kg biji jagung dan 300kg (30%) tongkol jagung]. Selulosa tongkol jagung sekitar 40%, hemiselulosa 36%, lignin 16%, dan lain-lain 8%, yang cocok untuk dibuat plastik biodegradable (selulosa asetat) yang ditambah zat kitosan (sebagai anti bakteri).
                        • PLTBm tongkol jagung Pulubala (1x0,5MW) Ds. Pongaila, Kec. Pakubala, Kab. Gorontalo beroperasi Juli 2014 dan masuk grid PLN hanya pada beban puncak saja. Tongkol jagung dibeli dari masyarakat Rp.10.000/30kg (karung). Kebutuhan tongkol jagung sekitar 4-6 ton (untuk pengoperasian sekitar 4-6 jam).
                        • Provinsi Gorontalo mengembangkan PLTBm (Biomassa) limbah jagung dan sekam padi bekerjasama dengan LIG Ensulting Co Ltd (Korea Selatan) dengan kapasitas 12 MW. Tahun 2013, areal jagung seluas 140,423 Ha menghasilkan produksi 669.093 ton dan limbah berupa tongkol (200.000 ton), batang, dan daun sebanyak 2,5 juta ton. Sementara, padi seluas 44.829 Ha menghasilkan limbah sekam padi 67.000 ton. PLTBm tersebut membutuhkan limbah jagung dan sekam padi 350 ton/hari. 

                        Jerami+sekam padi

                        Per 1 Ha sawah menghasilkan kira-kira 5 ton jerami dan 1 ton sekam. Artinya, 1 MW listrik dihasilkan dari 1500 Ha sawah. Sementara, luas lahan padi Indonesia sekitar 12,87 juta Ha (th 2010) yang berarti energi listrik setidaknya 8.600 MW dapat dipetik dari jerami+sekam padi, bila panen dilaksanakan setahun sekali (panen umumnya dilaksanakan dua kali setahun).
                        • PT Xoma Power Nusantara menggandeng pengembang listrik swasta dari Rusia (JSC PromSvyaz Automatika) dan Babcock and Brown (Australia, penyandang dana sekitar Rp.220 miliar) akan membangun PLTBm dari jerami+sekam berkapasitas 10-22 MW (tergantung ketersediaan Jerami+sekam) di Serdang Bedagai (Sergai), Sumut. Kalori jerami+sekam sekitar 3.180 kalori/kg sedangkan batu bara sekitar 5.000-6.000 kalori/kg. Listrik sebesar 10 MW memerlukan 80.000 ton jerami+sekam.
                        • PT Bioguna Sustainable Power membangun PLTBm 6 MW berbahan bakar sekam padi di Gerbang Kawasan Industri Makassar, Sulsel dengan dana sekitar US$20-23juta.
                        • HIVOS + kemenESDM + masyarakat sekitar Ds Rakawatu, Kec. Lewat Tidar, Sumba Timur, NTT mengubah sekam padi menjadi listrik. Proses Gasifikasi (pyrolisis, combustion, dan gasifikasi) via reaktor terjadi pada suhu ~1000oC, lalu campuran gas (CO, CO2, CH4, H2, H2O) menuju mesin diesel yang dapat menggerakkan turbin, sehingga menghasilkan listrik 50kW.

                        Gas TPA (Gas Metan dari Sampah Organik)
                        GALFAD
                        Sampah diolah dengan 5 cara: 1) Ball Press, sampah dipres, padatan dibungkus plastik, untuk dijadikan penahan erosi, air yang keluar dijadikan pupuk; 2) Incinerator skala besar, 900-1800 ton dibakar; 3) GALFAD (Gasification, Landfill, an Aerobic Digestion), gas metan yang timbul di TPA dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik. 1 MW setara dengan 30-50 ton sampah; 4) Bio Pupuk: sampah terpilih dihancurkan dengan tekanan hingga menjadi bubur, lalu diberi mikroba dalam bak cerna tanpa oksigen; 5) Sampah jadi Energi (WtE): sampah digunakan sebagai bahan baku PLTSa. Sampah 1500-1800 ton/hari akan menghasilkan listrik 30-36 MW.


                        PLTSa (Sampah jadi Energi, WtE)

                        Rencana (2018-2027): PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) Tersebar: NAD (10MW); Sumut (13MW); Jawa-Bali (88MW); Riau (10MW); Sumbar (10MW); Jambi (10MW); Sumsel (Sukawinatan/Palembang, IPP, 0,5MW, 2018, konstruksi), Bengkulu (10MW); Lampung (15MW); 
                        DKI Jakarta 
                        • Rencana: Tersebar (IPP, 85MW, 2022); 
                        Banten 
                        • Rencana: Tersebar (Unallocated, 20MW, 2022); 
                        Jabar 
                        • Konstruksi: Sumur batu (IPP, 10MW,2018); 
                        • Rencana: Tersebar (Unallocated, 150MW, 2021); 
                        • Potensi: Bekasi (5-10MW); Bogor (5-10MW); Cirebon (5-10MW); Cianjur (5-10MW);
                        Jateng 
                        • Rencana: Tersebar (Unallocated, 10&15MW/2022)
                        • Potensi: Semarang (10MW); Surakarta (15MW); Pekalongan (5-10MW).
                        Jatim 
                        • Pengadaan: PLTSa Tersebar (Unallocated, 10MW, 2022); 
                        • Potensi: PLTSa Jatim (10MW).
                        Bali 
                        • PLTSa Tersebar (Unallocated, 15MW, 2022);
                        Sulsel
                        • Potensi: PLTSa Makassar (Unallocated, 20MW).

                        Papua (1MW); NTB (2MW); NTT (1MW), 2019.
                        Potensi: Kalbar PLTSa Siantan (10MW, Siantan/Pontianak). 
                        WtE via gasifikasi plasma dan 2 turbin.

                        Sampah (ton/hari) di kota-kota besar Indonesia amat besar jumlahnya (>175.000 ton/hari). Jakarta menghasilkan (ton/hari) sampah 8000, Bandung 1.100, Denpasar 2.000, Surabaya 1.800, Medan 1.700, Makassar 870, Palembang 750, Yogyakarta 300, dan Semarang 700. Sebagian besar sampah itu masuk ke TPA (sebagian kecil diolah via teknologi landfill untuk mendapatkan biogas). Idealnya, sampah organik dan lainnya (kertas, plastik, karet, kulit, kayu/pelet kayu) dikonversi menjadi gas sintetik via proses pirolisis / termolisis, sedangkan besi, aluminium, gelas, pasir, dll. didaur-ulang / dijual. Sampah tanpa pemilahan (tetap dalam bentuk campuran) menjadi gas sintetik dikonversi menggunakan teknologi via autoclaving dilanjutkan dengan gasifikasi, atau langsung menggunakan teknologi gasifikasi plasma. Setiap 500 ton/hari sampah (via biogas) yang diolah setara dengan daya listrik 6 MW. Sementara, 1000 ton/hari sampah Indonesia dengan teknologi autoclaving diikuti gasifikasi atau langsung via gasifikasi (gasifkasi plasma) akan menghasilkan listrik lebih besar, yaitu sekitar 50 MW yang dihasilkan oleh 2 turbin, yaitu turbin gas (via syngas) dan turbin uap (via boiler yang dipanasi gas buang).
                        • Beberapa perusahaan asing dan dalam negeri (misalnya PT STI) sedang menjajagi untuk mengkonversi awal sampah menjadi listrik di Indonesia, misalnya menggunakan teknologi autoclaving (Estech USA LLC, P ~6bar, T ~160 oC, Green Power, Inc., Bioelektra Group SA (Poland, Warzawa)), hidrotermal (presto, P ~2,5MPa; T ~220 oC, mengubah sampah menjadi flocks atau batubara muda), dan 
                          proses termal dan konversi (termasuk gasifikasi & gasifikasi plasma (Plazarium, dll). Sampah tanpa sortir seperti kertas, karet, plastik, tekstil dan sepatu, limbah rumah sakit, limbah pertanian, perkebunan, limbah TPA, limbah kilang minyak & industri kimia, limbah kemasan / tetrapack semuanya dapat diubah menjadi flocks, syngas, dan akhirnya menjadi listrik. Semua teknologi itu siap melahap limbah plastik (Indonesia membuang plastik ~187,3juta ton, sementara baru ~9 juta ton per tahun dapat dikonversi menjadi listrik). Nilai panas plastik cukup tinggi sekitar 22-41,8MJ/kg (lebih tinggi dari batubara bituminus ~26MJ/kg). Informasi penggunaan teknologi itu belum terlihat digunakan secara komersial menjadi listrik di Indonesia, kecuali penggunaan biogas menjadi listrik di beberapa fasilitas landfill.
                        Mesin PLTSa Bantar Gebang
                        • Dianggap wanprestasi, Juli 2016, kontrak PT GTJ (Gondang Tua Jaya), PT NOEI (Navigat Organic Energy Indonesia) dan Pemprov DKI Jkt dihentikan. Sejak itu, TPS Bantar Gebang diswakelola oleh Pemprov DKI Jkt dengan merekrut mantan karyawan GTJ dan NOEI (~381 orang) menjadi pekerja harian lepas (PHL) Pemprov DKI Jkt. Meskipun begitu, Oktober 2017, PT NOEI masih diberi kesempatan mengelola gas metan menjadi tenaga listrik (hasil penjualan listriknya diberikan kepada NOEI sebagai biaya rutin untuk perawatan, perbaikan, dan perusahaan) yang Power house-nya berada di Kel. Ciketing.
                        •  Sebelumnya PLTSa di Bantar Gebang dikelola oleh PT NOEI memproduksi listrik 10 MW dengan teknologi GALFAD dan kapasitas itu akan terus dinaikkan hingga 100 MW (2023) guna memanfaatkan sekitar 7.000 ton sampah/hari dari Jakarta, & 1.000 ton/hari dari Bekasi. Pertamina yang bekerjasama dengan PT GTJ dan Solena Fuels ikut terlibat dalam pemanfaatan sampah Bantar Gebang tersebut dengan menyuntikkan dana sekitar US$300juta guna membangun PLTsa lebih besar, 138 MW, (terbesar di dunia). Pabrik kompos dari sampah organik  dari pasar tradisional telah dibangun oleh PT GTJ dan PT Mitra Patriot (Perusda Bekasi) dan saat ini diswakelola oleh Pem DKI dengan kapasitas 40 ton/hari (2017), dan akan terus ditingkatkan di masa depan. Sementara, pabrik daur-uang sampah plastik menghasilkan 5-7 ton bijih plastik/hari.
                        • Pem. Swedia bekerjasama dengan  pemkot. Palu, Palangkaraya, dan Sleman membangun proyek pilot penyediaan listrik dari biogas yang berasal dari sampah. 
                        • PLTSa Batam 10 MW, Kep Riau, direncanakan dibangun oleh Pemkot Batam + Bright PLN Batam guna memanfaatkan 1000 ton sampah/hari. 
                        • PT Gikoko Kogyo Indonesia mengembangkan PLT gas metan dari TPA di Makassar, Bekasi (Sumur Batu 0,2-0,5MW), Pontianak, dan Palembang (TPA Sukawinatan)
                        • PLT Sampah (Biometha green) menjadi pilot project di perumahan Griya Taman Lestari, Sumedang. 
                        • Workshop Pelatihan / training pengelolaan sampah menjadi biogas dilakukan di Kel.Cipadung, Kec.Cibiru, Jabar.
                        • Teknologi CGC (Clean, Green, Conversion) yang ditemukan oleh Nur Firdaus (pemilik Paten teknologi konversi sampah CGC Sapu Jagad) dari kelompok LRMI (Lembaga Riset Muda Indonesia) dapat pula dijadikan pilihan pemanfaatan sampah menjadi listrik sekaligus menghasilkan BBM. Teknologi itu telah diterapkan pula di TPA Rawa Kucing, Tangerang (April 2014). Kapasitas PLTSa sekitar 30-100 ton sampah/hari. Sampah basah dan kering, organik dan anorganik dapat dibakar langsung tanpa BBM atau energi listrik untuk mengoperasikannya yang prosesnya meniru magma dalam bumi (800 oC). Sekitar 20 ton sampah dapat menghasilkan listrik 250kW dan 2.000 liter BBM. Biaya sekitar Rp.7miliar.

                        BIOGAS (GAS METAN)
                        Contoh Instalasi Biogas
                        Biogas dapat menjadi solusi alternatif untuk kompor, penerangan dan energi listrik (bioelektrik) dari genset biogas. Sumber penghasil biogas di pedesaan dan di lingkungan pesantren adalah kotoran ternak (sapi, kerbau kuda, babi) / tinja santri, sampah, buah busuk, ampas tahu, limbah pertanian (sawit, padat/cair, dll), eceng gondok, rumput laut, limbah cair pabrik tapioka, dll. UGM telah mengembangkan teknologi purifikasi biogas (dari gas impuritas seperti CO2, H2S, uap air, dll. menggunakan resin / tukar ion) dan menyimpan biogas dalam tabung agar dapat digunakan pada mesin-mesin/genset. Contoh teknologi pembuatan biogas dijelaskan (Badan Litbang Petanian); LIPI (P2-Telimek) (limbah kotoran sapi khusus pedesaan, Instalasi biogas di Ds.Girimekar, Kec.Cilengkrang, Bandung).

                        PLTBg yang sedang dan akan dibangun di beberapa lokasi di Indonesia adalah:
                        Sumut:
                        • Konstruksi (2018); PLTBg Kwala Sawit (IPP, 1,0MW); Pagar Merbau (IPP, 1,0MW); Potensi: Namosialang (1MW); Batu Anam (1,4MW); Sidomulyo (1,4MW).
                        • Potensi: PLTBg Blankahan (IPP, 0,8 MW); PLTBg Batu Anam (IPP, 1,4MW); Sidomulyo (IPP, 1,4MW); PLTBg Tersebar (IPP, 8,8MW).
                        Riau:
                        • PPA; Ujung Batu (IPP, 3MW, 2019); Rokan Jaya (IPP, 10, 2019).
                        • Rencana (2018): Bangko Sampurna (IPP, 2MW); Kiyap jaya (IPP, 2MW); Rambah (IPP, 2MW); 
                        • Potensi (2018-2027): PLTBg Rokan Hulu (3MW); Bengkalis (6MW); Kuansing (10MW); Indragiri Hilir (3MW); Tersebar (IPP, 51MW).
                        Bangka-Belitung
                        • Konstruksi: PLTBg Cengkong/Sungai Terlung (IPP, 2MW, 2018).
                        Jambi
                        • Konstruksi: PLTBg Karang Anyer (IPP, 1,0MW, 2019); Potensi: Muaro Jambi (2,2MW); Sungai Gelam (2MW).
                        Sumsel: 
                        • Potensi: PLTBg Muara Enim (2MW); Simapang Sender (3MW).
                        Bengkulu: 
                        • PPA: PLTBg Mitra Puding Mas (IPP, 9MW, 2021); Potensi: Lubuk Bayau (2,5MW).
                        Lampung
                        • Rencana: PLTBg Terbangi Ilir (IPP, 3MW, 2019)
                        Kalbar: 
                        • Committed: PLTBg Meliau (IPP, 2MW, 2020).
                        • Potensi: PLTBg Landak (2MW, Landak).
                        Kalsel
                        • Konstruksi: PLTBg Sukadamai (IPP, 2,4MW, 2018).
                        • Potensi: PLTBg Tanah Laut (2MW).
                        Kalteng: 
                        • Konstruksi: Bukit makmur (IPP, 1MW, 2018).
                        • Potensi: PLTBg Kotawaringin Barat (8MW); Bukit makmur (1MW); Lamandau (1MW); Sukamara (2MW); Tamiyang Layang (2MW).
                        Kaltim
                        • Rencana: PLTBg Pasir Damai (IPP, 1MW, 2019).
                        • Potensi: PLTBg Berau (3MW, Berau); Paser (1MW, Grogot).
                        •  
                        Limbah ternak/manusia

                        Peluang pengembangan biogas Indonesia sangat menjanjikan. Th 2014, Indonesia memiliki 15,19 juta sapi ternak dan perah; 36,2 juta kambing/domba/kerbau; 0,455juta kuda; 7,87juta babi; 1.590,07juta ayam (buras + ras petelur + ras pedaging); 52,78juta itik;  dan 252 juta penduduk Indonesia penghasil biogas yang amat besar. Seekor sapi dewasa menghasilkan sekitar 10-20 kg kotoran/hari (tergantung jenis sapi). Setiap 20 ekor sapi menghasilkan 20 m3 biogas/hari yang setara dengan energi listrik 12 kWh yang cocok untuk 6 rumah selama 10 jam dengan daya 100-200 Watt/rumah. [1kg kotoran sapi menghasilkan 0,0125m3 biogas; 1m3 biogas = 0,65m3CH4; 100kg CH3OH butuh 56,5kgCH4]. Proses pembuatan biogas dari kotoran ternak (+tinja) dijelaskan. Biogas akan keluar mendorong slurry dan gas disimpan, sedangkan slurry ditampung untuk dijadikan pupuk organik.
                        Potensi: 1 juta unit (bak cerna = digester).
                        • Tiga ratus unit bak cerna yang memanfaatkan kotoran sapi dibangun di DME Haurngombong, kec. Pamulihan, Kab. Sumedang, Prov. Jabar. Energi biogas baru dimanfaatkan 40% yang membangkitkan 130 instalasi, sedangkan satu instalasi melayani 3-4 KK. SDAEM Sleman, DIY memanfaatkan kotoran sapi di 7 desa.
                        • Koperasi SAE Pujon (beranggotakan 7000 orang peternak sapi) yang bermitra dengan HIVOS (LSM Belanda), Kab.Malang siap membangun 2000 unit reaktor Biogas Rumah Tangga (BIRU) hingga tahun 2012. Hingga Feb 2013, sekitar 2609 reaktor biogas sudah terbangun di Malang, dan 5100 reaktor biogas di Jatim, sementara target nasional sekitar 8300 unit. HIVOS juga telah membangun bak-cerna di P. Sumba (2013) sebagai program biogas dari kotoran ternak. Pemerintah dan HIVOS juga membidik NTB, Bali (Gianyar, Bangli, Buleleng, Tabanan, Badung, Klungkung), Sulsel, Jabar, Jateng, Jatim, dan DIY untuk mencapai target itu.
                        • Program Biru (IDBP, Indonesia Domestic Biogas Programme) berkontribusi dalam memperbaiki akses ke energi terbarukan, meningkatkan kualitas kesehatan keluarga, dan penghematan subsidi pemerintah pada minyak tanah. Sekitar 25.000 unit bak-cerna di 16 provinsi akan dikembangkan hingga th 2018. Tgl 3 Okt 2016 sudah dibangun sekitar 18.476 bak-cerna.
                        • Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, provinsi DIY, memanfaatkan biogas dari limbah ternak dan limbah pabrik tahu dengan membangun bak cerna 136 unit yang dikembangkan sejak tahun 2008. Penduduk Kulon Progo juga telah membangun 200 unit yang tersebar di Kab. Kulon Progo. Daerah yang dikenai Pilot Project adalah Lendah, Temon, Wates, Pengawasih, dan Galur. Tahun 2011 pemerintah memberikan dana Rp.388juta untuk membangun 21 unit bak cerna bagi keluarga miskin yang memiliki sapi dan kerbau. Setiap unit memerlukan dana Rp.18juta untuk 3 KK yang membutuhkan kotoran 3-4 ekor sapi. Daerah lain di Kulon Progo yang juga mengembangkan biogas hingga mencapai 160 unit adalah desa Pendoworejo, dan Girimulyo.
                        •  Kotoran ternak sapi diubah menjadi biogas: Karang Bangi Kulon, Ds. Ngeposari, Gunung Kidul, DIY.

                        Buah Busuk

                        Banyak sekali buah dan sayur mayur busuk di pasar tradisional Indonesia yang juga berpotensi untuk dijadikan biogas dan menghasilkan listrik. Buah-buahan yang kurang cocok untuk bak cerna adalah jeruk (kandungan limonen-nya bersifat antibakteri, sehingga produk gas metan berkurang). Selama ini buah yang cocok: pepaya, semangka, melon, pisang, dan apel. Buah-buahan lainnya yang mengandung benda keras (biji & kulit, seperti salak dan durian) dicacah dan dihaluskan, kemudian diproses dengan bakteri khusus. Biji salak dapat pula dijadikan briket atau bahan minuman (kopi salak).
                        • UGM bekerjasama dengan pemerintah Swedia mengembangkan teknologi pengelolaan limbah buah busuk menjadi pembangkit listrik biogas di pasar buah Gemah Ripah Gamping, Sleman, DIY (menghasilkan 10 ton buah busuk/hari, dan hanya 4 ton/hari yang dimanfaatkan menjadi sumber listrik).  Sekitar 4 ton buah busuk/hari (terutama semangka & melon) difermentasi dalam 2 bak cerna (digester) (D = 8 m dan t = 8 m) (anaerob) sehingga menghasilkan gas metan yang menuju generator penghasil listrik sekitar 548 kWh/hari untuk 500 KK (termasuk penerangan jalan dan pasar Gemah Ripah) dengan dana 1,6 milyar.
                        • Pemkot Balikpapan (Kerma dengan UGM) membangun PLT Biogas di sekitar pasar-pasar tradisional Balikpapan guna memanfaatkan limbah sayuran dan buah-buahan (sekitar 310 ton/hari) sekaligus memenuhi kebutuhan listrik di pasar selain sebagai kompos. Pilot project dilakukan di Pasar Pandansari (studi kelayakan oleh tim UGM selesai th 2012). Satu PLT Biogas menelan biaya Rp.(0,8-1)miliar termasuk transmisi dan instalasi pada lapak pedagang di pasar. Keberhasilan PLT Biogas di Pandansari ditularkan ke pasar Klandasan dan Pasar Induk.

                        Limbah Cair & Ampas Tahu

                        Di Indonesia terdapat 84.000 industri tahu yang menghasilkan limbah cair 20 juta m3/tahun. PTL BPPT (Pusat Teknologi Lingkungan BPPT) membantu mengolah limbah tsb menggunakan Fixed Bed Reactor di desa Kalisari dan Cikembulan, Kab. Banyumas dengan dana Kemenristek. Satu m3 limbah cair tahu menghasilkan 6.500 liter biogas. Sementara, biogas juga dapat diperoleh pula dari ampas tahu. Sekitar 2,4 liter larutan ampas tahu dapat menghasilkan 382 liter biogas (via bak-cerna). Contoh: air limbah tahu (Ds. Kalisari, Banyumas, Jateng; Ds. Pekalongan, Jateng; Tarakan, Kalimantan) diproses (digester, anaerob) menjadi biogas. Contoh: ampas tahu + Kotoran sapi diubah manjadi biogas: Kanoman, Boyolali, Jateng.

                        Repu (Ampas Sagu) 

                        Sekitar 2 juta ton ton Repu (ampas sagu setelah diambil patinya) per tahun di Kab. Kep. Meranti, Prov.Riau (penghasil sagu terbesar di Indonesia) dapat diubah menjadi pakan ternak (mengandung 2,3-3,36% protein dan sisa pati 53%) untuk 12 ribu ekor sapi (atau itik, ayam, dan babi) atau sebagai BB biogas yang berasal dari 60 industri pengolahan sagu. Bila repu itu dibiarkan saja akan menghasilkan bau busuk dan merusak lingkungan, dan biota di sungai dan di laut, karena 47 unit pabrik pengolahan sagu tsb berada di bibir sungai, bahkan sebagian besar diduga belum memiliki Rencana Pengolahan Limbah (RPL). Repu dapat mengganti konsumsi jagung dan dedak padi yang harganya cukup tinggi. Bila repu difermentasi, maka kadar protein meningkat menjadi 14%, dan bila ditambah temu lawak akan menjadi penambah nafsu makan ayam broiler (30% repu, 40% jagung, 10% dedak, dan 20% ikan rucah). Repu juga berguna sebagai media tanam jamur tiram (pengganti serbuk gergaji). Repu kering ditambah larutan gula aren / kelapa dan garam halus dapat dijadikan pakan sapi. Satu tual sagu (batang sagu berukuran 1 m) ~70kg, mengandung pati 30-33kg, kulit batang (uyung 15kg), dan sisanya 25kg repu (ampas sagu) basah; artinya satu tual sagu setara 25kg repu basah. Contoh: Cirebon saja perlu kuota sagu ~1.440.000 tual/bulan yang menghasilkan 36ribu ton repu/bulan atau 432ribu ton/tahun,  PT NSP memproduksi tepung 900 ton/bulan yang berarti menghasilkan repu basah 900x 25/30 = 750 ton/bulan, atau 9.000 ribu ton/th. 
                        Repu, daun sagu, dan ekstrak rumen sapi dicampur dalam fermentor untuk menghasilkan biogas.

                         Limbah Cair Sawit (Limbah CPO) POME (= Palm Oil Mill Effluent)

                        POME keluar dari pabrik dalam keadaan panas, 60-80 oC, pH asam 3,3-4,6, berisi padatan, minyak, lemak, kadar COD dan BOD yang tinggi. Ada 4 model kolam pengolahan POME, 1) kolam lemak (Fait Pit); 2) kolam pendingin (Cooling Pond); 3) kolam anaerobik (Anaerobic Pond); 4) kolam terbuka (kurang ramah lingkungan). Sisa limbah cair mengandung kadar N dan P tinggi yang dapat digunakan sebagai pupuk.

                        Indonesia memiliki sekitar 800 pabrik sawit yang berpotensi memiliki setidaknya 800 PLTBg (biogas), dan bila diasumsikan hanya 1MW listrik per PLTBg dapat ditapis dari POME, maka di Indonesia akan hadir PLTBg 800x1MW. Sementara, survei dari MCA-Indonesia, listrik POME yang berasal dari 600-650 pabrik sawit sekitar 1-1,3GW.

                        Prov. Riau memiliki kebun sawit 2,2juta Ha (2013) (Indonesia 9,2juta), yang mengolah 36juta ton TBS/th, sehingga mampu memproduksi minyak sawit ~7,2juta ton dan limbah cair (POME) 18 juta m3 yang berpotensi menghasilkan listrik 135MW dari PLTBg.


                        Proyek percontohan PLTBg (Biogas) Rokan Hulu 1 MW (untuk ~1050 KK) dari POME (berasal dari pabrik sawit 45 tonTBS per jam) kali pertama dibangun oleh PT ARP (Arya Rama Prakarsa) dengan biaya APBN Rp.28miliar dan dana APBD di desa Rantau Sakti, Kec.Tambusai Utara, Kab.Rokan Hulu, Riau. Bagian penting peralatan proyek adalah: Cooling Pond, Receiving Tank, Pompa-pompa, instrumentasi, HE, Mixing Tank, Kolam reaktor Biogas (39.000 m3), Scrubber, Cyclone, Blower, Filter, Flare, dan Gas Engine (dari General Electric 1 MW).

                        PT Karya Mas Energi bekerjasama dengan PTPN V di Tandun, Riau juga membangun PLTBg 1 MW dari POME yang berasal dari pabrik sawit berkapasitas 35 ton TBS/jam. Teknologi capped anaerobic pond (covered Lagoon) dengan membran HDPE digunakan untuk memproduksi biogas 600m3/jam (5,044 MJ/j) hingga memperoleh listrik ~1 MW. Lahan 1 Ha dengan kolam 50x110m dapat menampung 27.000 m3 POME, sehingga menghasilkan biogas terfilter dari gas sulfur 24-27ribu m3. Investasi yang diperlukan 2,5-3jutaUSD dengan waktu pembangunan selama 10-12 bulan.

                        PT SSL (Saudara Sejati Luhur, Asian Agri Group) membangun dan mengoperasikan 5 PLTBg berbahan baku POME sehingga total menjadi 10MW di Sumut (2; Negeri Lama Dua, Ds. Sidomulyo, Bilah Hilir, Labuhan Batu; dan Gn. Melayu satu, Ds. Batu Anam,  Rahuning, Asahan), Riau (2; Ukui Satu, Ds. Air Hitam, Ukui, Pelalawan; dan Buatan Satu, Ds. Bukit Agung, Pangkalan Kerinci, Pelalawan), dan Jambi (1; Taman Raja, Ds. Lubuk Bernai, Batang Asam, Tanjung Jabung Barat) dengan teknologi Jepang (digester tank & MBR / Membrane Bio Reactor tank).
                        • PT SSMS Tbk (Sawit Sumbermas Sarana)  memiliki 6 PKS (Pabrik Kelapa Sawit). Tiap pabrik berkapasitas 60ton/j menghasilkan biogas dari POME dan listrik yang diperoleh sekitar 1,6-2MW (investasi: Rp.50M).
                        • PT PEI (Pasadena Engineering Indonesia) juga membangun PLTBg di Rokan Hulu dengan kapasitas 45 ton TBS/j yang menghasilkan listrik 1 MW untuk 1050KK. 
                        • KESDM membangun PLTBg via PTPN II di Pagar Merbau (1MW) dan Kwala Sawit (1MW) (Des 2015)
                        • PLTBg swasta lainnya yang telah beroperasi: PTPN X (2MW, off grid) Sidoarjo; Austindo (1,2MW) Babel (on grid); masih ada  9  perusahaan PLTBg POME (~17,85MW) lainnya yang mengajukan penetapan pengembang (des 2015).
                        • PT Sampoerna Agro Tbk (+anak perusahaan PT Mutiara Bunda Jaya) mengoperasikan PLTBg 2MW di Kec. Mesuji, dan 2MW di kec. Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel.
                        • PT NBE (Nagata Bio Energi, pengelola dana proyek dari teknologi POME jadi biogas hingga bangunan fisik) melakukan kerma BOT dengan PT STP (Suryabumi Tunggal Perkasa, penyiapan lahan dan POME) membangun PLTBg 2,4MW di Kab. Tanah Bumbu, Kalsel. 
                        • AANE (PT Austindo Aufwind New Energy) membangun PLTBg Jangkang 1,2-1,8MW dari POME untuk PT PLN Belitung Timur guna menutupi defisit 1,1MW.
                        • PTPN V Pekanbaru, Jambi mengembangkan pembangkit listrik dengan memanfaatkan limbah cair (PLT Biogas) dan limbah padat (PLTBm) tanaman sawit. Th 2011, dari PLT biogas diperoleh 13,8 MW, dan dari PLTBm diperoleh 35,6 MW. Pada th 2012, ditargetkan 14,8 MW (PLT biogas) dan 38,3 MW (PLTBm). Sementara, ada 10 pabrik kelapa sawit di Kab. Muarojambi yang berpotensi menghasilkan listrik 15-20 MW.
                        • Pemkab. Berau (prov. Kaltim, ibukota Kab.: Tanjung Redeb), Kutai Timur, dan Kutai Barat meneken MoU dengan PLN memanfaatkan POME menjadi gas metan (biogas) dari 2 pabrik CPO (PT Hutan Hijau Mas) dan PT Tanjung Buyu Perkasa guna memenuhi kebutuhan listrik di 4 Kampung di Kec. Segah, dan beberapa kampung di Taliyasan, Biatan, dan Tabalar yang akan direalisasikan th 2016. Daya total listrik gas metan berasal dari POME Kaltim diharapkan 30MW (2018). Dua Pabrik CPO lainnya (Kec. Taliyasan dan Kec. Kelay) juga menghasilkan POME yang diubah menjadi gas metan dan menghasilkan listrik.
                        • PLN juga meneken MoU dengan perusahaan sawit terbesar di Kukar (PT Rea Kaltim Plantation) di Kembang Janggut, membangun PLTBg biogas 2x4 MW guna memenuhi kebutuhan listrik di Hulu Mahakam (Kec. Kenohan, Kembang Janggut, dan Tabang). Dua bak cerna besar (200x100m, kedalaman 10m) ditempatkan di Kec. Kembang Janggut (di Ds. Muai / Reaktor Cakra, dan di Ds. Pulau Pinang / reaktor Perdana). Kapasitas puncak per unit 4 MW. Kedua reaktor tsb diawasi oleh UNFCC/PBB. Ia beroperasi Des 2015.

                        Limbah Cair Pabrik Tepung Tapioka

                        Pabrik tepung tapioka dengan bahan baku singkong selain memproduksi tepung, juga akan menghasilkan limbah gas (dari senyawa organik dan anorganik yang mengandung N2, S, dan P dari pembusukan protein), padat, dan cair. Limbah padat berupa kulit, ampas, dan onggok (proses pemerasan dan penyaringan). Limbah cair berasal dari proses pencucian dan pengendapan.
                        proses pembuatan Tepung kasava (Bimo): ada 2 proses, yaitu proses di area basah dan kering: Area basah berupa 1) pengupasan dan pencucian singkong;  dan kering yang menjadi bahan baku tepung); 2) pemotongan /penyawutan / perajangan (1-4mm); 3) perendaman dan fermentasi (ragi); dan 4) penirisan (dipusingkan), guna membuang air sebelum dikeringkan. Proses di area kering: 1) Pengeringan; 2) penepungan (digiling dengan mesin tepung); dan 3) pengayakan (tepung halus dan kasar); lalu dijual sebagai tepung halus (kualitas tinggi, buat kue, dll) dan tepung kasar.
                        Limbah cair industri tapioka tradisional mencapai 14-18m3 per ton ubi kayu. Akan tetapi, akan menurun menjadi 8 m3/ton ubi kayu bila menggunakan teknologi yang lebih baik. Limbah cair mengandung padatan tersuspensi 10.000mg/L, dan bahan organik 1.500 - 5.300mg/L.
                        Kualitas limbah cair  dapat dilihat dari parameter berikut:
                        Keruh: terjadi karena zat organik (sisa pati) terurai, mikro-organisme dan koloid lainnya tidak dapat mengendap segera. 
                        Warna: bila putih kekuningan masih baru, bila abu-abu gelap ia basi/busuk.
                        Bau: bila masih baru berbau khas ubi; setelah 1-2 hari menjadi asam, lalu menjadi busuk dengan bau kahs tidak sedap. Hal itu akibat penguraian senyawa organik H2S, P, dan amoniak yng amat menusuk yang tercium sejauh 5km.
                        Padatan Tersuspensi: mempengaruhi kekeruhan dan warna. Besarnya sekitar 1500 - 5000mg/L.makin tinggi padatan tersuspensi,  BOD dan COD makin tinggi.
                        pH (Keasamaan): bila masih segar pH 6-6,5; limbah terurai menjadi asam pH 4,0.
                        BOD (Biochemical Oxigen Demand): 3000-7500mg/L;
                        Sianida (HCN): sangat beracun, dalam air minum <0,05ppm/L, Dalam limbah maks 0,5mg/L (Kepmen LH No.51 tahun 1995).
                        • Contoh: Pabrik tepung tapioka modern (bukan manual) PT BAA (Bangka Asindo Agri, Jln TPA RT01, kel. Kenanga, Kec. Sungailiat, kab. Bangka, punya kebun inti singkong 1000Ha di Kec. Belinyu) yang berkapasitas 250 ton/hari, dibangun di atas lahan 2 Ha dengan total luas lahan 30Ha, berbahan baku singkong kasesa (1000 ton/hari, singkong diperoleh dari rakyat hasil kerma dengan pemkab Bangka, dan produksi sendiri). Energi listrik dipasok dari PLN. Sementara, PT BAA juga membangun fasilitas biogas dari limbah cair singkong untuk menghasilkan listrik sekitar 5MW (bila pabrik tsb beroperasi penuh). Sekitar 2MW akan diserap pabrik, sisanya akan dijual ke penduduk yang berada di sekitar pabrik.

                        Limbah Mendong/Eceng Gondok

                        Potensi Eceng gondok (EG) Indonesia untuk dijadikan bioelektrik cukup besar. Pantauan Udara (LAPAN) mengungkapkan bahwa ada sekitar 840 danau besar (luas rerata >30km2), dan 735 danau kecil ditumbuhi EG. EG banyak menyerap oksigen dalam air sehingga populasi ikan dalam waduk / danau menurun, dan bila EG mati menjadi lumpur, maka lumpur tsb akan mendangkalkan rawa. Bila lumpur tsb dimanfaatkan, ia berguna sebagai bahan pupuk. EG mengandung 43% hemiselulosa dan selulosa 17% yang akan dihidrolisis menjadi CH4 dan CO2 oleh bakteri via Anaerob Digestion (AD).

                        Penduduk di sekitar Waduk Cirata (Jabar), Saguling (PT IP), Cihampelas, Batujajar, danau Tempe, danau Tondano (Minahasa), dll memanfaatkan eceng gondok menjadi biogas dan bioelektrik. Danau / waduk lainnya waduk Darma (Kuningan), Sungai Martapura (Banjarmasin), dam Duriangkang, Mukakuning, Sei Beduk (Batam), danau Batur, (Bali), danau Buyan (Bali), danau Maninjau (Padang), danau Galela, danau Panggang (Kalsel), waduk Benanga (Samarinda), Danau Wisata Martubung (Labuhan, Medan), Danau Tanjung Bunga (Makassar), dan beberapa waduk di jakarta (Situ Rawabadung, Cakung, Jaktim; Waduk Sunter Utara, Jakut, waduk Cincin, kali kanal Lagoa, dll) belum dimanfaatkan sebagai bioelektrik. Bila belum ada fasilitas bioelektrik, cara kuno menghilangkan EG adalah menggunakan predator (ikan herbivora sebagai pemakan eceng gondok).  Contoh: Ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan ditebarkan sebanyak 47.800 ekor (2.000 ekor induk dan 45.800 ekor benih berukuran 8-12 cm), di danau Kerinci dengan catatan penduduk/nelayan sekitar danau dilarang beberapa waktu untuk menangkap ikan di danau. Ikan grass carp memakan akar dan daun eceng gondok. Cara ini berhasil membersihkan EG hingga tinggal 5% selama 2 tahun (selama 2 minggu, ikan koan dapat menghambat pertumbuhan EG 52%).


                        Danau Martubung dikepung EG
                        Sebenarnya EG dapat dimanfaatkan misalnya, diolah menjadi tepung EG (oleh BBPBAT, Sukabumi via program GERPARI = Gerakan Pakan Ikan Mandiri, menggunakan enzim Mina Grow) sebagai pengganti dedak (Rp.3000 - 4000/kg) untuk pakan ikan (lele, nila, dan patin) dengan kadar protein 12,51%, dan harganya lebih murah, yaitu Rp.1000/kg

                        Selain itu, EG menjadi bahan baku kertas, bahan kerajinan rumah tangga (pengganti rotan), zat pito hara memacu pertumbuhan tanaman yang baik sebagai pupuk organik (lumpur rawa banyak diambil penduduk sebagai kompos), penyerap logam berat dalam air (berfungsi sebagai penjernihan air), produksi biogas pengganti BBM (dengan produk samping pakan ikan, dan pupuk organik), bioelektrik, BB briket, komposit polimer (selulosa) dalam teknologi membran untuk menjernihkan air, dan bahan bioplastik (biokresek) ramah lingkungan yang akan hancur selama 4 bulan.


                        Mesin pembersih eceng gondok yang mampu bekerja dengan cepat di permukaan danau, waduk (mis. Pluit), sungai, dll. amat diperlukan, misalnya mesin pembersih buatan PT Global Sahat Arta. Harga per unitnya sekitar Rp.1-2 miliar.

                        Setiap 150 kg biomassa via instalasi biogas akan dihasilkan 6 m3 biometan yang  dapat menyalakan genset 1 kW selama 6 jam (6 kWh), dan 300 liter pupuk organik cair (POC). Instalasi biogas seharga Rp40juta itu adalah digester 3 m3, termasuk alat pemurni metan, kompor, kompressor, genset biogas dan instalasinya (4 unit baterai 12V/40Ah kapasitas 1,92kWh, sistem charger regulator via inverter 1 kW ke arus ac 220V); sekali genset on, baterai otomatis akan terisi-ulang [Pendapatan sehari: 6xRp.1200/kWh = Rp.7.200; POC: 300 x Rp.5000/liter = Rp.1.500.000; Pupuk Padat: 50xRp.1000=Rp.50.000; Total: Rp.1.557.200 (kotor); Pendapatan bersih (70%) dan sudah bayar pajak (25%): Rp.817.530; Sekitar 2 bulan produksi, modal telah kembali].
                        • Mahasiswa FRI (Tel-U) Bandung memanfaatkan limbah kerajinan mendong (tumbuhan rawa sebagai bahan untuk tikar, tas, dompet, tempat pensil/sampah/tisu/toples, pigura, dll.) menjadi biogas. 
                        • Wisatawan diajak membantu membersihkan EG di Rawa Pening; Mahasiswa T.Kimia UNDIP Semarang, Jateng memanfaatkan EG menjadi biogas (+kotoran sapi sebagai stater awal pemberian bakteri anaerob, 1x sajadi Rawa pening.
                        • Distamben Kalsel mengembangkan instalasi biogas dari eceng gondok di Kab. Hulu Sungai Utara (1 unit) dan kab. Hulu Sungai Tengah (1 unit). Instalasi biogas lainnya dibangun di Kab. Tabalong (34 unit), Balangan (41 unit), Hulu Sungai tengah (13 unit), Tanah Laut (122 unit), Tapin (25 unit), Hulu Sungai Selatan (50 unit), Barito Kuala (70 unit), Tanah Bumbu (40 unit), Kotabaru (50 unit), dan Banjar (5 unit).
                        • Kaltim (Kukar) yang memiliki danau Jempang 15.000 Ha, Danau Semayang 13.000 Ha, dan Danu Melintang 11.000 Ha yang penuh eceng gondok diusulkan oleh PT Cipta Visi Sinar Kencana untuk mengembangkan teknologi bioelektrik, dan diduga akan menghasilkan listrik sangat besar, 10,8 GWh (Rp.10,8miliar; untuk tarif Rp1.000/kWh).

                        Rumput laut
                        • PT PJB (Pembangkit Listrik Jawa Bali) yang membentuk konsorsium dengan Ingenieursbureau De Raaij en Datema B.V - PT. Dutacipta Pakarperkasa mengembangkan Pembangkit listrik biogas (PLTBg) 100MW dengan bahan dasar rumput laut di Amurang, Minahasa Selatan (Sulut), dan Sumenep, Madura (Jatim). Bila sukses, pengembangan ini akan diteruskan ke daerah lain, karena dengan BB rumput laut akan lebih efisien dan bersih dibandingkan membawa batubara.
                        • Susanto, Undip Semarang, memanfaatkan rumput laut Sargassum, Gracilaria dan Padina sebagai penghasil biogas yang masing-masing berkadar metan rerata 18,23%, 17,1% dan 14,58%. 


                        MINYAK TANAH / BENSIN DARI BIOMASSA

                        Teknologi pirolisis, perengkahan, dan distilasi (disebut pula Integrated Autothermal Technology) dapat digunakan untuk mengubah biomassa (terutama struktur pejal TKS), ranting/cabang kayu, bagas, jerami, dll. menjadi bensin, minyak tanah, solar, dll sesuai dengan katalisnya. Sepuluh persen dari sekitar 98juta ton/tahun limbah atau sekitar 9,8juta ton BBM atau 235.000 barrel/hari dapat diperoleh.
                        Teknologi pirolisis adalah pemanasan tanpa oksigen pada suhu 500 oC terhadap biomassa (polimer) yang mengandung hemiselulosa (terurai 200-260 oC), selulosa (240-350 oC), lignin (280-500 oC), protein limbah organik, dll yang diubah menjadi molekul lebih kecil dan menghasilkan uap organik, gas, residu padat yang mengandung karbon dan abu. Uap/gas tersebut dikondensasikan hingga menghasilkan minyak pirolisis (biasa disebut minyak bio).  Minyak tsb diproses lanjut dengan perengkahan pada suhu 700 oC yang disertai katalis misalnya zeolit, potongan besi, kobalt, dll. guna mengarah hasil yang diinginkan, misalnya, avtur, bensin, minyak tanah, solar, dll. sekaligus didistilasi guna memurnikannya.

                        CBM (Coal Bed Methane) (Sweet Gas, tanpa gas H2S)


                        Potensi gas metan batubara Indonesia: 6 terbesar dunia, 453,3 triliun kaki kubik (TCF) (cadangan terbukti 112,47 TCF, potensial 57,60 TCF) (6% cadangan total dunia) tersebar di 11 cekungan, di antaranya adalah 1) high prospective: Sumsel (183TCF), Kalsel (Barito, 101,6), Kaltim (Kutai, 80,4), Sumteng (Riau, 52,5); 2) Medium: Tarakan Utara (17,5), Berau (8,4), Ombilin (0,5), Pasir/Asam-asam (3), dan Jatibarang/Jabar (0,8); 3) Low prospective: Sulawesi (2), dan Bengkulu (3,6). Th 2011 pemerintah memiliki 23 + 13 + 10 + 4 kontrak WK CBM. Tahun 2015, diharapkan mencapai 500juta ft3/hari (500 MMSCPD), 1000 (th 2020), dan 1500 (th 2025). Rig untuk CBM lebih murah dari rig migas biasa, pengeboran hanya sekitar 700-1000m, keluar pertama adalah air, kemudian gas metan. Sekitar 20 Rig CBM (Lemigas + Balitbang ESDM+UPN) akan dibangun.
                        Kandungan gas metan dalam CBM adalah 93-97% (ion Cl ~400 ppm, sisanya gas CO2, dll. di-flare).
                        • Operator West Sangatta I, Sekayu, Tanjung Enim, Barito Banjar, dan Sanga-sanga (Kaltim) menghasilkan gas setara energi listrik 15,75 MW.
                        • VICO + PLN mengoperasikan PLT CBM pertama di Indonesia (2 MW), di lapangan Mutiara, Kutai Kartanegara dg investasi sekitar Rp.2 Triliun. Biaya pembangkitannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan PLT rerata di Kaltim (Rp850/kWh) yaitu sekitar Rp1.150/kWh, tetapi masih di bawah solar (Rp2600/kWh).
                        • Pertamina (PHE Metana) mengelola 2 blok di Kalimantan dan 7 blok di Sumatera (misalnya Blok Muara Enim III, Ds.Jiwa Baru, Kec.Lubai, Muara Enim, Sumsel).
                        • Perusahaan lain terlibat CBM: Ephindo, Medco Energy International, Pertamina Hulu Energi (PHE), Energi Mega Persada, dan Bumi Resources.

                        SHALE GAS


                        Shale Gas diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi yang tersembunyi dalam perut bumi, dan berada di kedalaman sekitar 2000-2300m. Teknologi pengeluarannya: Horizontal drilling dan hydraulic fracturing. Pertamina mengusahakannya dengan menggandeng AS (negara yg lebih dulu berpengalaman di bidang shale gas). Pengusahaan Shale gas (migas non konvensional, MNK) diatur dalam Permen ESDM No.5 tahun 2012. Shale gas dan CBM (distudi 2010-2013) termasuk MNK, selain itu ada Shale oil, tight sand gas (distudi 2014-2016), metana batubara, dan metan hidrat. Gas-gas tsb akan dikomersialkan th 2017.
                        Potensi: diperkirakan sekitar 574 TCF (sementara CBM: 453,3 TCF; dan Gas bumi 334,5 TCF). Studi bersama diminta oleh 10 investor bersama-sama dengan 5 Perguruan Tinggi yang ditunjuk pemerintah: ITB, UGM, UPN, Univ. Trisakti, dan Univ. Padjadjaran. Saat ini ia tersedia di 7 cekungan: Sumatera (3) (Baong shale, Telisa shale, dan Gumai shale), P. Jawa (2), Kalimantan (2), dan Papua (1) sebagai Klasafet formation. Ladang pertama shale gas adalah di WK Sumbagut (Sumatera Bagian Utara) yang dioperasikan oleh PT PHE MNK Sumbagut (18,56 TCF) sejak 2011.


                        GAS HIDRAT METAN


                        Gas hidrat metan berada di dasar laut yang dikenal sebagai sumber gas alam bawah laut atau sumber bencana alam di laut bila ceroboh menanganinya. BPPT, BGR Jerman, dan JAMSTEC-Jepang mengobservasi bahwa cadangan gas Hidrat Indonesia sekitar 17,7 triliun m3 (amat besar) di perairan Selatan Sumsel, selat Sunda, dan Selatan Jawa Barat (cadangan gas alam Natuna sekitar 1/3-nya), sedangkan di laut Sulawesi sekitar 6,6 triliun m3. Teknologi eksplorasi gas hidrat (yang harus ditangani secara ekstra hati-hati) belum dikuasai Indonesia. Jepang berhasil mengeksplorasi gas hidrat untuk pertama kalinya pada bulan Maret tahun 2013, dikomersialkan tahun 2016.
                        Ardian Nengkoda (FT-UGM, 2016) menyarankan bahwa di antara cara produksi seperti injeksi termal, depressuration, kombinasi depressuration dan injeksi CO2, maka  paling layak adalah depressurization (dari hasil SWOT dan evaluasi HAZID), dengan tekanan hidrat dissosiasi 101 psia, tekanan kritis 778 psia, dan suhu kritis 79 oC. 


                        BATUBARA TERCAIRKAN (Liquefied Coal) 


                        Kilang batubara tercairkan dengan kapasitas 0,8 - 1,1juta barrel akan dibangun di Sumsel oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT TBBA) yang bernegosiasi (MoU) dengan South Africa's Sasol Ltd. memanfaatkan dana investasi US$ 5,2 miliar. Perusahaan itu bernegosiasi juga dengan PT Pertamina dan PT TBBA untuk memproduksi batubara tercairkan dengan investasi US$10miliar sekitar tahun 2015. Tempat kilang lain yang cocok adalah Musi Banyuasin, Sumsel (2,9 miliar ton batubara), dan Berau, Kaltim (3 miliar ton batubara). Sekitar 30.000 ton batubara akan menghasilkan 130.000 barrel minyak/hari.
                        • PLTU LCS (Liquid Coal Slurry) 1x700kW didemokan PLN dan PT JGC. Sasaran lokasi: Papua, dan Maluku sebagai pengganti PLTD.
                        • Riset batubara padat yang berasal dari Tanjung Enim, Sumsel, menjadi batubara cair (via proses biosolubilisasi dengan bantuan mikroba Trichoderma) sekelas bensin & solar dilakukan peneliti Teknik Kimia ITB, setelah melalui proses biodesulfurisasi (pengurai sulfur batubara oleh mikroba).


                        BATUBARA TERGASKAN (Gasified coal


                        Gasifikasi batubara adalah mengkonversi batubara menjadi produk gas (syngas) dalam reaktor (CO, H2, CH4, H2O/uap air, dan O2), dengan atau tanpa udara, campuran udara/uap air atau oksigen/uap air. Produk gas tersebut dimanfaatkan untuk industri logam, keramik, PLTD, Syngas untuk pupuk (misalnya, di PT Pupuk Kujang, Cikampek). PT PLN (Persero) banyak memiliki PLTD yang masih menggunakan solar. Teknologi yang tersedia: 1) Fixed bed gasification, 2) Fluidized bed gasification, 3) Entrained bed gasification. Abu yang dihasilkan: 1) abu kering, 2) abu cair.
                        • ZCET (Zemag Clean Energy Technology) GmbH, Jerman, tertarik mengembangkan gasifikasi batubara menajdi syngas guna memproduksi metanol, bahan baku pupuk. Gas dapat dijula sekitar US$ 4-5/MMBTU. Investasi diperkirakan sekitar Rp.13 triliun guna mengembangkan gasifikasi batubara 1000 MT di Kalimantan, 100.000 ton batubara dapat diubah menjadi gas 3.600 MMBTU/hari (Jan 2017).
                        • Perusahaan Jepang IHI Corp. telah membuat proyek fasilitas purwarupa gasifikasi batubara di pabrik Pupuk Kujang,Jabar. PT Pupuk Indonesia menjadi penyedia lahan, IHI Corp. menjadi pengembang dan penyedia teknologi dengan melibatkan sarjana teknik DN. Umpan 50 ton batubara muda dikonversikan menjadi syngas 1800mmbtu dengan komposisi: CO 20%, H2 50%, CO2 30%; COD th 2017.
                        • PLN melakukan uji-coba batubara tergaskan (syngas, Synthetic natural gas, CO & H2) sebagai bahan bakar PLTD (konversi BB diesel ke gas) dengan menggandeng PT Bio Energy Prima Indonesia (via MoU) di PLTD Sorek 250 kW, Kab. Pelalawan, Riau & Kepri. 
                        • Uji-coba lainnya dilakukan oleh PLN - PT CGI - Puslitbang Mineral & Batubara ESDM untuk menghasilkan syngas sebagai umpan PLTD di Palimanan. Gasifier: Fixed bed buatan China, umpan 150-200 kg batubara/jam + udara/uap air, dengan mesin diesel 250kVA (milik PLNJP), sistem manual, non turbo. Kemudian dilanjutkan menggunakan mesin diesel 450kVA, sistem otomatis, turbo (milik tekMIRA).
                        • Studi kelayakan pemanfaatan Teknologi TIGAR untuk menghasilkan syngas sebagai bahan baku pupuk, dilakukan oleh oleh puslitbang tekMIRA, PT Pusri, dan Jepang (Ishikawajima Harima Heavy Industry, IHI).
                        • Sementara, PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) meneken kontrak dengan ProCone GmbH (kontraktor EPC) asal Swiss memulai proyek gasifikasi batubara ke etanol (Teknologi Jerman) dengan nilai investasi 500-750 juta Euro untuk memroduksi 0,48-1,35juta ton etanol/tahun (beroperasi akhir th 2016). Tanah seluas 60 Ha telah dibebaskan yang berdekatan dengan batubara (IUP seluas 5ribu Ha) milik PT Indo Wana Bara Mining Coal di Melak, Kb. Kutai Barat, Kaltim. Batubara yang ada sekitar 533,31 juta ton.

                        disusun oleh: Fathurrachman Fagi; WA 0812-1088-1386; ffagi@yahoo.com

                        (Bersambung ke bag. 2 / to be continued)
                        ______________________________________________________
                        Bagi anda yang meng-copy & paste tulisan ini di blog anda;  
                        cobalah ikhlas menyebutkan link sumbernya 
                        http://energibarudanterbarukan.blogspot.co.id/2014/09/2-kondisi-ebt-di-indonesia.html