Pages

Sabtu, 25 Februari 2017

PELET KAYU / WOOD PELLET

Pelet kayu menjadi bahan bakar (BB) primadona saat ini terutama di negara yang memiliki 4 musim sebagai bahan pengganti batubara (sebagian / seluruhnya) dalam PLTU batubara, penghangat ruangan, kompor biomassa, dan pengeringan pada jasa laundry

Hal itu disebabkan oleh negara tujuan ekspor batubara (Korsel, Jepang, China, dan India) secara perlahan beralih ke pelet kayu Indonesia yang berkualitas baik, ramah lingkungan, dan terbarukan (terbukti dari permintaan pelet kayu di pasar internasional meningkat pesat). Di sisi lain, China secara bertahap juga mulai melarang penggunaan batubara (kalori rendah) bagi warganya (karena polusi dan emisi sulfur yang tinggi). Australia dan AS meminimalkan penggunaan batubara. Indonesia juga mengganti penggunaan batubara dengan pelet kayu

Guna mengantisipasi penurunan permintaan batubara di dunia internasional, tahun 2016 produksi batubara Indonesia diturunkan menjadi 230 juta ton, dan ekspornya dipatok hanya 150 juta ton, dan sisanya untuk kebutuhan domestik (PLTU sekitar 46juta ton). Akibatnya, harga batubara acuan Indonesia di pasar internasional (November 2016) mulai merayap naik menjadi US$84,89/ton yang sebelumnya, (Oktober 2016) US$69,07/ton. Sementara harga batubara yang terdaftar di Ditjen Minerba (Nov 2016) bervariasi dari 20,98 USD/ton (2.995kcal/kg) hingga 87,11USD/ton (7.000kcal/kg). 

Di sisi lain, pengusaha batubara diminta melengkapi usahanya dengan membangun PLTU mulut tambang (dengan teknologi sub-critical pada boilernya agar ramah lingkungan) sekaligus mempercepat program realisasi daya listrik 35.000MW.

Salah satu pemanfaatan batubara adalah mengkonversinya menjadi syngas (gas sintetik) melalui teknologi gasifikasi (gasifikasi plasma) guna mengubah syngas menjadi listrik, atau zat lain seperti metanol, DME, ammoniak, dll.

Ada beberapa alasan batubara akan terhempas oleh pelet kayu:
  • Pelet kayu adalah BB terbarukan, dan ramah lingkungan, sedangkan batubara tidak terbarukan dan kurang ramah lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan batubara di level internasional berkurang secara bertahap. Jadi, ada peluang untuk menambah pasokan listrik nasional via BB pelet kayu. Kalori pelet kayu setara dengan kalori batubara rendah.
  • Produksi karbon lebih rendah dari batubara.
  • Biaya listrik yang dihasilkan pelet kayu pengganti batubara sama dengan yang dihasilkan gas alam yang tentu saja lebih murah dari batubara.
  • Posisi staf yang diperlukan untuk kehadiran PLTU pelet kayu (termasuk penyiapan infrastruktur pelet kayu) sekitar 3.480 orang, sedangkan PLTU batubara dengan daya yang sama membutuhkan staf sekitar 2.540 orang (menambah lapangan kerja)
  • Permintaan pelet kayu berkelanjutan dalam jangka panjang memotivasi pemangku kepentingan untuk melestarikan dan memperbaiki manajemen hutan, sekaligus mengembangkan lahan kritis (bekas tambang batubara, emas, timah, dll.) menjadi hutan tanaman industri khusus pelet kayu (misalnya kayu Kaliandra Merah, Mahang / Macaranga Gigantean, Karamunting / Melastoma Malabatricum)
  • Permintaan pelet kayu yang datang dari segenap penjuru dunia terus berdatangan ke Indonesia yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Indonesia sebenarnya mampu menghasilkan listrik biomassa ~49,8 GW (Indonesia cuma perlu tambahan listrik nasional 35 GW). Potensi biomassa Indonesia sekitar 146,7juta ton/tahun yang berasal dari residu padi (150GJ/th), kayu karet (120 GJ/th), residu gula (78 GJ/th), residu kelapa sawit (67 GJ/th), dan sampah organik lain (20GJ/th).

Seperti diketahui, pengguna pelet kayu dunia th 2013 (23,6juta ton) tercatat adalah negara Jepang, Korsel, China (2juta ton), Eropa (12juta ton) (pengguna sekaligus penghasil terbesar, yaitu Jerman, Swedia, Latvia, dan Portugal), AS (3juta ton), Rusia (2juta ton) dan Kanada (3juta ton). 
Meski negara-negara pengguna pelet kayu tersebut mampu memproduksi sendiri, tetapi mereka masih belum mampu mencukupi kebutuhan pelet kayu DN mereka (harus impor), karena pertumbuhan kayu di negara sub-tropis lebih lambat dibandingkan di negara tropis. Contoh: th 2013, Eropa butuh 19 juta ton [10 (panas) + 9 (industri)] (kurang 7juta ton), Kanada (4juta ton) (kurang 1juta ton), Asia (Jepang & Korsel) kurang 1 juta ton. Kedua negara Asia itu akan menjadi importir pelet kayu terbesar pada dekade mendatang (diduga sekitar 5juta ton th 2020). Th 2016,Jepang perlu pelet kayu 240ribu ton/th.

Produksi pelet kayu dunia mendekati 28juta ton (2015, panas 15juta, industri 13juta). Sementara, pemasaran pelet kayu global untuk pembangkit listrik dan panas terus tumbuh sekitar 14,1% per tahun. Tahun 2020, kebutuhan pelet kayu diperkirakan melambung hingga 80 juta ton. Oleh karena itu, beberapa negara, misalnya Korsel, Jepang, Eropa (impor ~14juta ton/2014), AS, dan Kanada berusaha mencari pasokan bahan baku ke negara tropis yang salah satunya ke Indonesia.  Di lain fihak, contoh harga pelet kayu di Eropa (Swiss, Jerman, dan Austria) dapat dilihat dalam Gambar di atas (~Euro).

Permintaan pelet kayu di Korsel
Sejak th 2012 Korsel menargetkan penggunaan Energi Terbarukan minimal 2%, dan th 2022 penggunaan biomassa harus memasuki 10%, yang 60%-nya berasal dari pelet kayu. Feb 2015, pasar Korsel perlu pasokan lebih dari 280.000 ton untuk kebutuhan rumah tangga dan industri makanan & minuman. Sekitar 70,3% pelet kayu Korsel adalah pelet impor (Indonesia hanya memasok >7% ke Korsel, tepatnya sekitar 8.940 ton dari 122.447 ton pada th 2012, dan sisanya diimpor dari Rusia, Malaysia, dan Vietnam).
Pasokan pelet kayu ke Korsel
Saat itu, harga CIF pelet kayu Indonesia termurah (US$131/ton, di bawah Vietnam US$144/ton, dan Malaysia US$141/ton). Impor dari Indonesia diteruskan dengan adanya kerma perusahaan Korsel Depian Co. Ltd. dengan BUMN PT Inhutani III (mengembangkan hutan tanaman industri 5000-8000Ha di Pelaihari, Kalsel via PT SL Agri guna mengekspor pelet kayu 30.000 ton th2014 dan terus meningkat hingga 100.000 ton th2015). Di masa depan, beberapa perusahaan Korsel telah menjajagi kemungkinan untuk mengimpor pelet kayu dari negara Australia, Vietnam, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Kanada, dan AS. Korsel mewajibkan PLTU-nya menggunakan pelet kayu. 

Kepada pemilik lahan (ratusan/ribuan hektar) di Indonesia dan tertarik di bisnis pelet kayu dimohon berhati-hati terhadap pengusaha asing (calo) yang membeli serbuk kayu DN dengan harga murah, karena mereka akan mengekspornya dalam bentuk pelet kayu ke Korsel atau Jepang. Anda harus memproduksi pelet kayu sendiri di DN dan mengekspor sendiri ke LN.

Daftar: Perwakilan Korsel di Indonesia, Perwakilan Indonesia di Korsel, Lembaga / Asosiasi Kayu Pelet di Korsel, dan Pengusaha / Importir Korsel dapat dilihat disini (Mei 2014).

Khusus untuk Indonesia, pabrik pelet kayu terbesar ada di Semarang, yang produksi pelet kayunya populer di Korsel, karena kualitasnya bagus (kalori tinggi, kandungan kimia dan abu cukup rendah). Korsel melakukan proyek-proyek kerma di Jatim dan Jateng, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Indonesia akan menjadi target Korsel untuk menjadi pemasok pelet kayu di masa datang di Asia terutama untuk bahan biopelet yang berasal dari pelepah / cangkang sawit, bagas tebu, jerami, kaliandra merah, dll. 
Pelet Bagas
Serbuk Gergaji, jerami padi/gandum, sekam padi, bagas / ampas tebu (mengandung gula 2,5%, nilai kalori 1.825kKal), batang jagung/sorgum, sampah daun, rumput, ranting, dan bagian tanaman yang telah dianggap limbah dapat menjadi sumber pelet kayu. Pelaku usaha pelet kayu mulai menanam kayu cepat panen yang minim perawatan, dan kandungan energinya tinggi sebagai campuran limbah tsb. Sebagai contoh: Petai cina (Leucaena leucocephala), kaliandra merah (Caliandra calothyrsus), dan Gamal (Gliricidia sepium). Tujuan membuat pelet kayu adalah nilai kalor limbah kayu tersebut hendak ditingkatkan agar menjadi BB berkalori mendekati batubara (5.000 - 6.000 kKal), yaitu sekitar 4.200 - 4.800 kKal dengan kadar abu sekitar 0,5-3%.

Kaliandra Merah
Kaliandra merah (KM) merupakan bahan baku terbaik pelet kayu (4600kkal/kg, arangnya 7.400 kKal/kg, satu kg pelet KM setara dengan energi 5 kWh) dibandingkan petai Cina, gamal, dan sengon buton dari sisi laju tumbuh, penyuburan tanah melalui fiksasi nitrogen dalam tanah, dan berat jenis, sehingga kadar abu dapat lebih rendah. Lagipula, umur KM dapat mencapai 29 tahun sekali tanam. KM tidak hanya sebagai bahan baku pelet kayu (1 Ha KM dapat menghasilkan kayu 20-65m3/tahun), daunnya sebagai pakan ternak (protein tinggi), dan bunganya sebagai ladang ternak lebah (produksi madu berasal dari nektar bunga KM terkenal di dunia, Satu Ha KM menghasilkan madu 1 ton/th, sedangkan di Eropa dapat mencapai 2 ton/th) selama 15 tahun tanpa perawatan berarti.
Lebah menghisap sari bunga KM
KM tumbuh baik di ketinggian 400-600m di atas muka laut, pH~5, dan sedikit air. Tanaman tsb sekaligus berfungsi sebagai tanaman penutup tanah sedang (perdu) (penyubur tanah / konservasi lahan / penahan erosi di tanah miring / tanah bekas tambang seperti timah, batubara, emas, dll) guna menghindari banjir dan menghidupkan lahan kritis, kering, berpasir, dan tandus, karena berfungsi sebagai penyubur tanah, akar tunjangnya menghunjam ke dalam tanah, dan akar halus lainnya yang memanjang hingga ke permukaan tanah.

Pelet Kayu Kaliandra merah
April 2015, CV Gerbang Lestari mendirikan pabrik pelet kayu yang dikelola oleh Ponpes Darul Ittihad di Ds. Kombangan, Kec. Geger, Kab. Bangkalan, Madura berkapasitas 1 ton/j dengan bahan baku kayu kaliandra merah sekitar 12 ton/hari (1 hari = 8 jam, bahan baku basah mengandung air sekitar 40%). Bila setahun = 310 hari, maka butuh bahan baku 12ton x 310 = 3720 ton/th, atau perlu lahan 3720/20 = 186 Ha. Oleh karena itu, kebun dipanen per hari hanya 186 Ha/310 = 0,6 Ha. Harga jual pelet kayu Rp.1,4 - 2,5 juta/ton (PT Puspa Mandiri menjual harga pelet kayu FOB US$155/ton, Jan 2016). Sementara harga jual kayu kaliandra merah hanya Rp.367.000/ton. 
Pabrik pelet kayu
Kayu Kaliandra merah dipanen setelah 14 bulan oleh CV Gerbang Lestari. Produksi optimumnya 20 ton/Ha/th. Warga setempat memanfaatkan proyek kebun energi kaliandra di hutan desa seluas 214 Ha dan pabrik pelet kayu seluas 200 m2 (bantuan ICCTF, Indonesia Climate Change Trust Fund). Sementara, produk pelet kayu dimanfaatkan sebagai BB PLTBm 197kW.

  • Salah satu pemasok pelet kayu (50 ton/bulan) ke Korsel (dan Jepang) adalah PT Greeno Inovasi Energi dari Ds. Kalangan, Bangunjiwo, Bantul, DIY. Bahan baku utama adalah serbuk gergaji yang diperoleh dari Jateng & DIY, yang dicampuri limbah biomassa lainnya seperti sekam padi, ampas tebu (bagas), debu tembakau, dan limbah uang kertas. Tepung tapioka ditambahkan ke dalamnya sebagai perekat.
  • PT EMI (Energy Management Indonesia) melakukan kerma dengan pemkab Purworejo guna membangun pabrik baru pelet kayu yang berasal dari kayu kaliandra merah dengan kapasitas 36.000 ton/tahun. Potensi ini dapat dijadikan listrik sekitar 5MW. Sementara, PT EMI melayani permintaan Jepang dan Korsel yang meningkat masing-masing 250 ton/hari (10.000 ton/bulan) via LOI.
  • PT Jhonlin Agro Mandiri (PT JA) membangun pabrik pelet kayu di areal 2 Ha yang berkapasitas 4 ton/jam dengan mesin fully automatic. Bahan baku berasal dari kayu Jabon, Gmelina, Sengon, dan Akasia yang ditanam di atas tanah seluas 15.000 Ha.
  • PT Inhutani III memasok bahan baku eucalyptus, sengon, dan gamal yang ditanam di lahan sekitar 5.000 Ha, Pelaihari, Kalsel, ke pabrik pelet kayu yang dibangun oleh PT SL Agro Industry (anak perusahaan Korsel, Depian) dengan kapasitas sekitar 100.000 ton (2015). Selanjutnya, PT SLAI memasok pelet kayu dari pabriknya ke perusahaan Korsel Western Power Co. Ltd. Kerma Inhutani III dengan China juga diteken, dan Inhutani III menyiapkan lahan 5.000 Ha. PLTBm 2x10MW dengan bahan baku chip kayu (140.000 ton) juga dibangun untuk menunjang daya listrik pabrik, sedangkan sisa daya listrik dijual ke PLN.
  • Indonesia meneken MoU dengan fihak Korsel guna memberikan peluang investasi biomassa basis kayu pada areal sekitar 200.000 Ha sebagai proyek percontohan di Indonesia. Salah satunya adalah di bawah bendera PT Solar Park Indonesia di Wonosobo Jateng, 2009..
  • DI (Dahlan Iskan) (via PT SDI, Sosiopreneur Demi Indonesia) mengajak siswa SMK membuat mesin pelet kayu (1 ton/jam) guna memanfaatkan penanaman kayu KM di 30 Propinsi (Kaltim, NTB, Riau, Lampung, Bengkulu, dll). PT SDI membangun mesin pelet kayu dan PLTBm, dan akan membeli KM dari penduduk. Motonya adalah masyarakat mendapat pekerjaan dan penghasilan (dari penyiapan pelet kayu, ternak sapi dan kambing, dan ternak lebah) sekaligus mendapatkan listrik. 
  • DI juga pernah berkunjung ke pabrik pelet kayu (2x350kg/j, bahan baku KM) Ds Rawa, Kec. Cingambul, Kab. Majalengka; ke pabrik tempe di Dukuh Semar, Cirebon, yang mencoba pelet kayu Kaliandra.
  • Beberapa contoh lokasi penanaman KM: 100ribu batang di lahan kritis di Wonogiri bekerjasama dengan Kementerian PDT; P Singkep (Kep Riau) (di tanah kritis bekas tambang timah); Kab. Gorontalo Utara (PT Citra Makmur kencana). 
  • Serbukkan bahan terlebih dahulu
  • letakkan dalam mesin pengering-putar guna menurunkan kadar airnya hingga mencapai 10%
  • Masukkan serbuk kering (yang telah dicampuri tepung tapioka; tak perlu untuk bagas, karena sudah mengandung gula) untuk dipres dan dipanaskan sekitar 180 oC ke dalam mesin pembuat pelet dengan hasil akhir pelet kayu berbentuk silindris berdiamater 6-10 mm, panjang 1-3 cm, dan kepadatan 650 kg/m3.
  • bungkus/pak, kirim ke fihak lain

Karakteristik produk BB pelet

Pelet batang
Bahan dasar pelet ini adalah, batang jagung, jerami gandum, jerami padi, kulit kacang tanah, tongkol jagung, ranting kapas, batang kedelai, gulma (rumput liar), ranting, dedaunan, serbuk gergaji, dan limbah tanaman lainnya. Setelah bahan baku diremukkan, lalu ditekan, dan dicetak, dibentuk menjadi bentuk pelet dengan memberikan tekanan antara roller dan dies pada bahan. Densitas bahan semula sekitar 130kg/m3, tetapi densitas pelet menaik hingga di atas 1100kg/m3, sehingga memudahkan untuk disimpan dan ditranspor, sekaligus kinerja bakarnya menaik.

Pelet Bagas
Bagas (ampas tebu) memiliki kandungan energi dan kualitas bakar tinggi. Prosedur produksinya: pembelian bahan mentah, pengeringan, peletisasi, dan pengepakan. Kualitas bahan tergantung kepada periode penanaman. Semua bahan dapat disimpan secara efisien pada waktunya, kemudian dikeringkan, dan dipeletisasi. Kandungan air pada tanaman tebu sekitar 20-25%. Pelet bagas memiliki nilai kalori tinggi 3.400-4.200 kKal (sebelum dipeletisasi hanya sekitar 1.825kKal, dan bila bagas mentah itu hanya dipanaskan menggunakan gas buang dari cerobong ketel, kadar air ampas turun 40%, dan nilai kalor menjadi 2305kKal).


Pelet Serbuk Gergaji
Jalur produksi pelet serbuk gergaji: pembelian bahan mentah, pengumpulan bahan, pengeringan, peletisasi dan pengepakan. Kandungan air serbuk gergaji sekitar 30-45% dan harga bahan mentah sekitar 21,05 - 24,29 USD/ton. Nilai kalorinya dapat mencapai 4.000 - 4.500 kKal.

Pelet Ranting
Jalur produksi pelet ranting: pembelian bahan mentah, peremukan, pengeringan, peletisasi dan pengepakan. Biaya bahan mentah ~16,19 USD/ton. Nilai kalori pelet ranting lebih rendah dari pelet serbuk gergaji. 





Pemanfaatan Pelet Bagas
 Pelet bagas adalah bioenergi yang baru. Ia dapat digunakan sebagai pemanas ruangan, kompor, boiler air panas dan industri, PLTBm, dan lainnya. Ia berfungsi sebagai pengganti kayu bakar, batubara, minyak bakar, dan LPG.

Potensi bagas di Indonesia adalah 30 ton/Ha/tahun. Sementara, areal lahan tebu (2014) seluas 447.000Ha [63,46% berada di Jawa, sisanya 36,54% berada di luar Jawa], maka potensi bagas total sekitar 13,41 juta ton/th, yang areal tanamnya menurun 6% dibandingkan th 2013, (470.198Ha). Oleh karena itu, guna memenuhi kebutuhan gula DN dan mengurangi impor raw sugar, maka Pemerintah menyiapkan lahan tebu tambahan sebanyak 500.000Ha di Sultra, P. Aru, dan Merauke, sekaligus membangun 10 pabrik gula baru DN. Di masa depan, akan ada tambahan bagas sekitar 15juta ton/tahun.
    Pemilihan Tapak dan Anggaran Biaya Pabrik Pelet Bagas
    Tapak pabrik bagas harus berada di lokasi bahan mentah yang melimpah, murah dan dekat bandar/pelabuhan guna mempermudah transportasi produk, sehingga biaya bahan mentah dan biaya lainnya (buruh, sewa gudang, biaya manajemen, dll) dapat dihemat serendah-rendahnya. Aspek legalitas bangunan dan ijin industri: TDI, SIUP, HO, IMB, dll yang terkait perlu disiapkan. Sertifikat untuk ekspor (SVLK) dan sertifikat produk (misalnya dari Sucofindo,dan SGS) juga disiapkan.

    Investasi awal pabrik pelet bagas sekitar 112.414 USD dengan kapasitas 1 ton/jam (kapasitas dapat dinaikkan hingga 6 ton/jam dengan menambah peralatan yang diperlukan). Investasi gedung pabrik sekitar 19.271 USD dengan luas lantai 6.000m2. Investasi modal awal peralatan sekitar 72.266 USD termasuk pengering 24.089 USD, stranding cage 1.927 USD, kabinet listrik 1.927 USD, mesin pelet (1 ton/jam) 25.695 USD, dll. Modal kerja sekitar 40.148 USD guna penyimpanan awal bahan mentah dan pra penjualan produk. 

    Bila pasar dan operasi stabil, anda dapat menaikkan investasi. Pengering 24.089 USD dapat digunakan untuk 3 pabrik pelet, anda cukup menambah investasi di Stranding cage, mesin pelet, dan conveyor. Bila pabrik pelet lebih dari tiga, maka pengering perlu ditambah dan sebuah truk fork-lift diperlukan. Mesin pendingin perlu dipertimbangkan tergantung situasi produksi.

    Biaya & Analisis Laba Pelet Bagas
    Target bisnis: 500 ton/bulan (awal). Bila operasi normal, produksi bulanan dapat ditingkatkan hingga 1.500 ton atau 3.000 ton. Produk tahunan sekitar 30.000 ton.

    Contoh Estimasi Biaya dan Laba Pelet Bagas di Brazil

    ROI Pelet Bagas
    • Harga bahan mentah bagas tebu: 19,45 USD/ton
    • Biaya transportasi: 3,24 USD/ton [biaya pengepakan dan biaya keluar]
    • Peremukan: 0
    • Beban listrik pengering: 1,39 USD/ton [7,5kV mesin listrik mengeringkan 0,7 ton/j]
    • Beban listrik peletisasi: 11,67 USD/ton [90kW mesin listrik pelet 1 ton/j]
    • Pengepakan: 5,19 USD/ton [25kg/karung; 0,13 USD/karung]
    • Buruh langsung: 8,10 USD/ton [1 alat untuk 8 pekerja, 11,34 USD untuk 1 pekerja dalam satu hari]
    • Biaya tapak: 5,33 USD/ton [19.434 USD untuk penggunaan 10 tahun]
    • Biaya alat: 3,25 USD/ton [alat 80.976 USD untuk 26 hari/bulan dalam 5 hari pakai]
    • Biaya perawatan: 4,86 USD/ton [biaya die / mata kempa yang aus]
    • Biaya TOTAL: 62,48 USD/ton
    Perhitungan Laba: Biaya total: 62,48 USD/ton; harga jual pelet di pabrik: 97,17 USD/ton; laba bersih untuk satu ton adalah 34,69 USD. Jika produksi bulanan 500 ton, laba bersih bulanan adalah 17.345 USD.

    Limbah padat tebu lainnya yang berasal dari hasil saring nira pada rotary drum filter disebut blotong, dan bila dikeringkan dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar di dapur untuk masak-memasak. Blotong umumnya digunakan untuk kompos.

    Pelet jerami padi/gandum/rumput/sejenisnya

    Berikut adalah contoh skema mesin alat pembuatan pelet dari jerami padi / gandum dengan kapasitas pelet 200-300 kg/jam. Mesin tersebut juga dapat memanfaatkan aneka bahan baku lainnya seperti kayu, ampas tebu, batang / kulit jagung / sorgum, kulit kacang, ampas jarak pagar, kulit kopi, tanaman cepat tumbuh, pelepah sawit (8,6ton/Ha, 3650kCal/kg) serbuk gergaji, potongan kertas, dan tatal kayu. Mesin terdiri atas, hammer mill, pellet mill, cooler, vibrated pellet separator yang dilengkapi dengan penangkap debu guna mencegah polusi debu. Seperti diketahui, jerami adalah benda yang halus dan sulit dipres. Oleh karena itu, mesin memerlukan pengumpanan screw conveyor yang khusus dirancang dengan tambahan hopper, sehingga pengguna dapat menambah serbuk gergaji dan potongan kertas guna meningkatkan kualitas pelet. Bila umpan terlalu basah, maka pengering ekstra perlu ditambahkan.

    Aneka jenis contoh mesin lain (diam, bergerak / dalam truk, mesin jinjing, besar dan kecil) banyak tersedia di pasaran LN [1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8]; DN [1, 2, 3] untuk membuat pelet dari aneka bahan baku biomassa.


    Perbandingan Pelet jerami (terhadap jerami padi) adalah: Kandungan air: 8-10% (15-30%); kadar abu 3% (15-20%); Nilai kalori: 18,5 MJ/kg (13,98 MJ/kg) atau 4422 kKal/kg (3341 kKal/kg). Pembakaran pelet jerami menghasilkan karbon netral yang dapat digunakan kembali pada pertumbuhan biomassa berikutnya.

    Pembuatan pelet jerami dapat menaikkan densitas curahnya, mengurangi biaya transpor, kandungan energi menaik (4422kKal/kg), kadar abu rendah (3%), dan abu pembakaran pelet jerami dapat digunakan sebagai pupuk mineral untuk pertumbuhan tanaman.


    Langkah-langkah pembuatan pelet jerami:
    1. Pemisahan jerami dari benda asing.
    2. Pelumatan jerami. Sebelum jerami dikirim ke pengumpan, Ia harus direduksi hingga berukuran seragam (<5mm) menggunakan hammer mill.
    3. Pengeringan jerami. Umumnya jerami dikeringkan di udara dengan kadar air 15%, sehingga pengeringan jerami tidak diperlukan. Akan tetapi, bila kadar air >15%, penggunaan pengering drum putar diperlukan.
    4. Peletisasi dalam mesin pelet. Setelah melalui proses pelumatan dan pengeringan, jerami diangkut ke mesin pelet jerami menggunakan ban berjalan (conveyor). Dengan bantuan tekanan antara die dan roller dalm mesin, pelet jerami ditekan keluar dan dipotong sesuai panjang yang diinginkan (6mm dan 8mm).
    5. Pendinginan pelet jerami. Guna mempertahankan kualitas pelet selama penyimpanan dan penanganan, keluaran pelet jerami yang bersuhu tinggi harus didinginkan di udara ke suhu kamar atau sedikit lebih tinggi menggunakan mesin pendingin udara lawan arah.
    Negara produsen beras (10 besar) yang berpotensi memanfaatkan mesin pelet jerami untuk mendaur-ulang energi dari jerami adalah Tiongkok, India, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Filipina, Myanmar, Brazil, dan Jepang.

    Masa Depan Pelet kayu (kopel dengan PLTPk) 

    Pelet kayu mulai banyak diproduksi. Kemungkinan besar akan terjadi banjir pasokan di DN dan LN yang dapat memerosotkan harga. Hal itu ditunjukkan dalam indeks pelet kayu versi Argus (Argus wood pellet index, US$/ton) di AS dan Kanada yang mewakili kondisi harga pelet kayu hingga waktu tertentu (lihat gambar samping). Importir dari LN mulai mengenakan sekatan mencari pelet kayu terbaik tetapi harga yang lebih murah. Oleh karena itu, sudah saatnya para pengusaha pelet kayu melengkapi usaha mereka dengan:
    1. Memasok pelet kayu ke PLTU batubara sebagai pengganti batubara (sebagian / seluruhnya) (meneken MoU dengan PLTU batubara).
    2. Membangun PLTU Pelet kayu (PLTPk; PLTBm = biomassa; contoh di Jepang) di DN / lokal di sekitar pabrik pelet kayu.
    3. Menanam pohon cepat panen, dapat tumbuh dan kualitas baik di lahan kritis / bekas tambang (timah, batubara, emas, zirkon, tembaga, dll) untuk bahan pelet kayu berkualitas, seperti kaliandra merah.
    Hal itu dimaksudkan guna menstabilkan harga pelet kayu sekaligus memproduksi listrik nasional dan membuka lapangan kerja baru yang diperlukan rakyat di sekitar pabrik pelet kayu, contoh:
    • PT Austral Byna membangun PLTPk 100MW (setiap 10MW memerlukan biaya Rp150miliar) di Mantuil Banjarmasin, Muara Teweh (Kab. Barito Utara) Kalteng, dan Kaltim.
    • PT EBI (BUMN) membangun PLTPk 5-10MW (dengan luas pabrik 10 Ha dan mampu memproduksi 36.000 ton/tahun) di beberapa lokasi di Indonesia (energi: 4.800kKal, bioarang ~7.500kKal). Limbah / abu pelet kayu masih dapat dibuat pupuk untuk restorasi lahan gambut yang amat luas di Indonesia (ke 4 dunia). Sementara, limbah PLTU batubara menjadi limbah B3, atau menjadi bahan pengganti semen yang bila dicampur dengan filler lumpur Lapindo dapat digunakan sebagai material pembuatan jalan raya.
    • PT PLNE (Prima Layanan Nasional Enjinering) menandatangani kerma (MoU) dengan Kab, Morowali, Sulteng, membangun PLTBm 10MW (biaya Rp.30miliar dalam 2 tahun, FS 6 bulan) dengan bahan baku kaliandra merah yang tersebar luas di Morowali (200Ha).

    Ketika anda memproduksi pelet kayu, perhatikan pula hal-hal yang terkait dengan kesehatan dan keselamatan para pekerja
    • Bahaya debu pelet kayu di lokasi pabrik,
    • Bahaya keracunan gas CO di penyimpanan (silo, hopper) pelet kayu; dan  
    • Bahaya kebakaran di pabrik pelet kayu, pembangkit listrik, dll.

    Bila anda ingin membuka lahan, cacahlah limbah kayu yang tersedia kemudian dipres menjadi pelet kayu, sebagai tambahan penghasilan anda (sebagai bahan bakar PLTBm / PLTU batubara domestik, diekspor ke LN, bahan tungku rumah tangga, dll); bukan dengan cara membakar hutan yang akan menyebarkan asap ke seluruh penjuru dunia.




    Ditulis oleh: Fathurrachman Fagi
    ________________________________________________
    Bila anda meng-copy & paste tulisan ini di blog anda
    cobalah ikhlas menyebutkan link sumbernya
    http://energibarudanterbarukan.blogspot.co.id/2015/07/pelet-kayu-wood-pellet.html