Pages

Friday, October 31, 2014

1. Kondisi EBT di INDONESIA / Renewable Enery in INDONESIA


Sektor energi di Indonesia mengalami masalah serius, karena laju permintaan energi di dalam negeri melebihi pertumbuhan pasokan energi. Minyak mentah dan BBM sudah diimpor sehingga memaksa bangsa Indonesia mencari sumber energi lain guna mengatasi permintaan energi yang melonjak dari tahun ke tahun.
Energi Baru dan Terbarukan (EBT) terus dikembangkan dan dioptimalkan, dengan mengubah pola fikir (mind-set) bahwa EBT bukan sekedar sebagai energi altenatif dari BB fosil tetapi harus menjadi penyangga pasokan energi nasional dengan porsi EBT >17% pada tahun 2025 (Lampiran II Keppres no.5/2006 tentang Kebijakan Energi nasional) berupa biofuel >5%, panas bumi >5%, EBT lainnya >5%, dan batubara cair >2%, sementara energi lainnya masih tetap dipasok oleh minyak bumi <20%, Gas bumi >30% dan Batubara >33%. Pemerintah berkomitmen mencapai visi 25/30, yaitu pemanfaatan EBT 25% pada tahun 2030. Bulan Januari 2012, Sekjen PBB mendorong pemanfaatan energi terbarukan dunia duakali lipat (dari 15% hingga 30%) hingga tahun 2030, apalagi negara berkembang saat ini menguasai setidaknya 50% kapasitas global EBT.

Program-program untuk mencapai target hingga 25% EBT adalah listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIDAP), PLTS perkotaan, pengembangan biofuel, dan proyek percepatan pembangkit listrik 10 GW tahap II berbasis EBT (panas bumi dan hidro). Untuk mencapai itu, Indonesia membutuhkan dana Rp.134,6triliun (US$15,7miliar) guna mengembangkan sumber-sumber EBT untuk 15 tahun mendatang. Dana tersebut (dalam master plan 2011-2015) akan dibagikan ke 5 daerah, Sumatra (Rp 25,06 triliun), Jawa (Rp.86,3 triliun), Sulawesi (Rp.15,77 triliun), Bali-Nusa Tenggara (Rp.2,64 triliun), dan Papua-Maluku Rp.4,83 triliun). Program 10 GW tahap II itu (dari total 10,047 MW), sekitar 66%-nya dari ET, PLTP 4,9GW dan PLTA 1,753 MW yang merupakan proyek PLN dan IPP. Pemerintah mendukung inovasi pemanfaatan PLTS, misalnya untuk penerangan jalan, dan mendorong pula pemasangan panel surya di atap-atap pusat pertokoan dan mal agar mereka mendapatkan pasokan listrik sendiri.

Upaya penganekaragaman (diversifikasi) sumber energi lainnya selain minyak bumi terus dilakukan, di antaranya pemanfaatan gas, batubara, EBT (air/mikrohidro, panas bumi, biomassa, surya, angin, gelombang/arus laut, BB Nabati, nuklir, batu bara tercairkan/liquefied coal, batubara tergaskan/gasified coal, dan gas hidrat). UU no.30 tahun 2007 mengklasifikasikan bahwa energi baru (EB) terdiri atas nuklir, hidrogen, gas metana batubara (CBM, Coal Bed Methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Sementara, energi terbarukan (ET) terdiri atas panas bumi, angin/bayu, bioenergi, sinar matahari/surya, aliran dan terjunan air, dan gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.

Tahun 2012-2014, pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) ditekankan kepada pengembangan biogas untuk memasak dan penerangan. Tahun 2011, Pemerintah mengembangkan 35 DME berbasis non BBN, yaitu PLTMH 10 lokasi (5 di Sumatera, 2 di Jawa, 3 di Kalimantan 4 di Sulawesi, 2 di Nusa Tenggara, 1 di Maluku dan Papua), arus laut 1 lokasi, Hibrid 1 lokasi, peralatan produksi (sisa energi listrik dari EBT) 10 lokasi. Tahun 2010, DME dikembangkan di 15 wilayah di Indonesia, 9 di luar P. Jawa  dan 6 di P. jawa. Th 2009, program DME mencapai 633 desa, dengan rincian Tenaga Air 244 desa, BB Nabati 237 desa, Tenaga Surya 125 desa, Biogas 14 desa, Tenaga Angin 12 desa, Biomassa 1 desa.

Salah satu contoh bantuan CSR: PT PLN (Persero) Kantor Pusat kepada PT PJB digunakan untuk DME di lokasi Sumberejo (Pasuruan, 2 unit, 2x850 W), Bondowoso (10 unit), Trenggalek (4 unit), Tulungagung (2 unit), Jabung (Malang), Bergas Kidul (Ungaran), Kalongan dan Karang Sulang (Semarang), Pilang Payung (Grobogan), Karang Mukti (Subang), Karyamukti dan Lebakwangi (Bandung), Rajagaluh (Majalengka), Parung Banteng dan Cadassari (Purwakarta), Pasanggrahan (Garut), Purworejo (10 unit), Brebes (10 unit), Pandesari (Malang, Ciherang (Cianjur), Cipendeuy (Bandung Barat), Agrabinta (Garut) untuk bidang PLTMH / PLTS / Biogas / PLT Sampah.
Di lain fihak, PT Pertamina (Persero) berkomitmen mengembangkan 5 jenis EBT, yaitu geothermal (panas bumi), Coal Bed Methane (CBM), Shale Gas, Alga, dan Angin (Bayu).

Beberapa pengusaha asing mulai tertarik untuk berpartisipasi dalam pengembangan EBT di Indonesia, misalnya Australia yang berpengalaman di bidang infrastruktur energi di bidang panas bumi, solar, alga, mikrohidro, biomassa untuk pembangkit listrik tertarik untuk mengembangkan EBT di Indonesia. Austria menawarkan kerjasama membangun PLTA. Jerman, Perancis (tanam US$10miliar), Amerika Serikat, dan Selandia Baru ingin bekerjasama di bidang panas bumi (geothermal). Selandia Baru telah meneken kerjasama dengan RI (April 2012) guna membangun PLTP 4 GW th 2015. Chevron Co. (produsen gas terbesar kedua th 2011 sesudah ExxonMobil Indonesia) juga tertarik berinvestasi di bidang panas bumi dan energi laut dalam. Turki tertarik pula untuk mengembangkan energi geothermal di wilayah Palembang/Sumsel, Argo Puro/Jatim, dan Pidie/Aceh. Di sisi lain, Amerika Serikat yang diwakili oleh Exxon dan General Electric akan membantu di sektor efisiensi energi, salah satunya adalah mengembangkan turbin dan Pembangkit Listrik skala kecil berbasis EBT di pulau-pulau terluar dan di daerah nelayan. Kanada (Biotermika Technology) tertarik menginvestasikan dananya di bidang sampah kota di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, dan Jakarta guna membangun pembangkit listrik dari sampah. Selain itu, Kanada juga tertarik di bidang PLTU (Brookfield Power and Utilities), PLTMH (Esensi Lavalin), dan PLTS (Expert Development of Canada, dan Senjaya Surya Pro). Sementara, Singapura tertarik mendirikan industri pupuk dari sampah TPA di Desa Ngembalrejo, Kec. Bae, Kudus, sedangkan Jepang dan Korea Selatan tertarik mendirikan industri pupuk dan pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar / solar / premium dari sampah kota di TPA Palembang, Sumsel. Brunei Darussalam tertarik untuk mengembangkan industri pengolahan sorghum untuk bahan makanan dan bioethanol di Soloraya. China dan KorSel tertarik untuk mengembangkan PLTA. Finlandia mengajukan kerjasama dengan menghibahkan 4 juta Euro di bidang PLT biomassa di Prop. Kalteng dan Riau, dan KorSel juga bekerjasama di bidang PLT biomassa di Gorontalo. Jepang (NEDO) tertarik membangun pabrik bioethanol dari tetes di Mojokerto, Jatim. Rusia dan Australia tertarik mengembangkan PLT biomassa (jerami+sekam padi) di Sergai, Sumut, sedangkan China tertarik menggunakan limbah cangkang kelapa sawit. Rusia juga tertarik mengembangkan EBT lainnya termasuk nuklir & batubara. Estonia tertarik mengembangkan pasir minyak dan biomassa. Denmark mendukung program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia dengan memberikan dana US$10juta untuk program 4 tahun.

Indonesia memberlakukan regulasi dengan memberikan insentif pajak kepada perusahaan pengembang EBT dengan tetap melibatkan fihak lokal terutama pembangunan pembangkit berkapasitas di bawah 10 MW. Sistem feed-in-tariff, kebijakan fiskal, insentif pada pendanaan, insentif dukungan pasar, dan pemudahan perizinan, diterapkan guna mendorong implementasi EBT secara komersial dan peningkatan akses kepada masyarakat. Di sisi lain, Bank Indonesia membentuk green banking guna memberikan insentif kepada bank yang mau mendanai pengembangan EBT.

Guna mendorong investor DN atau LN, pemerintah via Permen ESDM no 27 th 2014 menaikkan pembelian tenaga listrik dari PLTBm (Biomassa) dan PLTBg (Biogas) oleh PT PLN (Persero) yang kapasitasnya hingga 10 MW untuk merevisi Permen ESDM No.04 th 2012 yang menjelaskan bahwa harga jual listrik untuk skala kecil, menengah, dan kelebihan listrik, yaitu: excess power <10MW (Rp.656/kWh, Vmenengah, Rp.1.004/kWh, Vrendah), biomassa, biogas (Rp.975/kWh Vm, Rp.1.325/kWh Vr), tekn. Zero waste (Rp.1.050/kWh Vm, Rp1.398/kWh Vr), dan Sanitary Landfill (Rp.850/kWh Vm, Rp.1.198/kWh Vr). Harga jual listrik th 2012 tsb dinilai kurang layak, maka perlu direvisi. Sementara, pembelian tenaga listrik dari PLTA oleh PLN s.d. 10 MW dapat dilihat pada Permen ESDM No. 12 th 2014.

 Keragaman sumber EBT di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

AIR (PLTA) (Large-hydro: >100MW; Medium-hydro: 15-100MW; Small-hydro: 1-15 MW)

Di seluruh Indonesia, potensi PLTA skala besar dan kecil sekitar 75.670 MW (75,7 GW), tetapi hanya dimanfaatkan 5.940,04 MW atau 7,92% saja (PLTA 5.711,29 MW, PLTMH 228,75 MW) dan Dirjen EBTKE menargetkan 9.700 MW pada tahun 2015. PLTA skala besar dan kecil yang sudah beroperasi sekitar 1.941 MW, tersebar di 10 lokasi, di antaranya adalah
SumUt:  Asahan-1 (180/2x90 MW), Sigura-gura / Asahan-2 (286 / 4x71,5 MW), Tangga (223 / 4x55,75 MW), Lau Renun (82/2x41 MW), Sipansihaporas (50/33+17 MW),  SumBarManinjau (68/4x17 MW), Singkarak (175/4x43,75 MW), Batang Agam (3x3,5 MW); Bengkulu: Tes (16/4x4 MW), Musi (210/3x70 MW); Riau: Koto Panjang (114/3x38 MW), Talang Lembu (2x16 MW); Lampung: Way Besai (92,8/2x46,4 MW), Batutegi (28/2x14 MW); JaBar: Ubrug/Cibadak (27,9/2x10,8+6,3 MW) (saat ini mati, bendungan jebol), Bengkok (10,15/3x3,15+0,7 MW), Cikalong (19,2/3x3,64 MW), Cirata (1000 / 8X126 MW), Saguling (700/4x178 MW), Jatiluhur (187 MW); Lamajan (19,2/3x6,4 MW), Parakan Kondang (9,92/4x2,48 MW); JaTeng: Sudirman (Mrica) (3x61,5 MW), Jelok (4x5 MW), Timo (3x4 MW), Wonogiri (2x6 MW), Garung (2x6 MW), Sempor (1x1 MW), Ketenger-1dan 2 (2x3,5 MW), Ketenger-3 (1x1 MW), Wadaslintang (2x9 MW), Kedung Ombo (1x22,5 MW), Klambu 1x1,17 MW), Pejengkolan (1x1,4 MW), Sidorejo (1x1,4 MW), Gajah Mungkur (12,4 MW), JaTim: UP Brantas (281 MW): terdiri atas 12 unit PLTA, yaitu [Sengguruh (29/2x14,5 MW), Mendalan (23,2/4x5,8 MW), Siman (10,8/3x3,6 MW), Selorejo (1x4,48 MW), Giringan (3,2 / 2x1,35+1x0,5 MW), Golang (2,7 MW), Ngebel (2,2 MW), Wlingi (54/2x27 MW), Lodoyo (1x4,5 MW), Tulung Agung (2x23 MW), Wonorejo (6,3 MW), Karangkates/Sutami (105/3x35 MW)], Tulis (2x7 MW); KalSel:  Riam kanan (30/3x10 MW); SulUt: Tonsea Lama (14,38 / 1x4,44 + 1x4,5 + 1x5,44 MW), Tanggari-1 (1x17,2 MW), Tanggari-2 (1x19 MW); SulSel: Balambano (140/2x70 MW), Larona (195/3x65 MW), Karebbe (140/2x70 MW), Bakaru (126/2x63 MW); SulTeng: Sulewana-Poso I (160/4x40 MW), Sulewana-Poso II (180/3x60 MW), Sulewana-Poso III (400/5x80 MW).
PLTA Peso (660x5 MWe), Bulungan, Kaltim, mulai dibangun oleh PT Kayan Hydro Energy (KHE) dengan investasi total 20miliar US$ (5 tahap) selama 10 tahun.
PLTA sedang dibangun: Genyem (2x10 MW) Jayapura, Papua, hasil perjanjian jual beli (US$4,3 juta) penurunan emisi karbon CER (Certified Emission Reduction); Angkup (88 MW) dan Peusangan-1 dan 2 (2x22 dan 2x22 MW) Aceh Tengah; Asahan-3 (2x87 MW) Sumut.
PT Bukaka Group membangun PLTA Malea 15 MW, (Rp. 300 miliar) Kec. Makale Selatan, Tana Toraja, dan beroperasi Agustus 2011. Bukaka akan menambah daya hingga sekitar 90 MW dengan masa kontrak 4 tahun dan dana Rp. 3 triliun.
PLTA berencana dibangun: PLTA di Papua (2000 MW), Sumatera Utara (763 MW), Lombok 2 lokasi (Muntur 2,8 MW, Kokok Putih 4,2 MW, Pekatan 5,3 MW), dan Sumbawa (Brang Rhee 16 MW, Bintang bano 40 MW, Brang Beh 103,5 MW).
Pemprov Papua membangun proyek PLTA Kapiraya 300-350 MW (yang pertama di Papua, dari sungai Urumuka atau Sungai Yawei yang bersumber dari danau Paniai) di distrik Mimika Barat Tengah yang diharapkan PT Freeport menjadi pembeli utama listrik Kapiraya, sedangkan sisanya memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 5 kabupaten, yaitu Mimika, Paniai, Deai, Dogiyai hingga Nabire. Proyek Rp 14 triliun tsb akan selesai 3-4 tahun.
Program percepatan 10 GW tahap II: PLTA Upper Cisokan 4 x 260 MW, 150 km Tenggara Jakarta (sungai Citarum) diharapkan akan beroperasi 2016 dengan investasi US$800 juta dari Bank Dunia. PLN membantu biaya pendamping sekitar US$160juta. PLTA ini menggunakan sistem pumped storage pertama di Indonesia. Selain itu, PLTA Kalikonto Jawa Timur juga diharapkan beroperasi th 2014.
Proyek Molor: Rp.2,3 triliun untuk PLTA Asahan 3 (2x87 MW) belum dibangun untuk memenuhi kekurangan pasokan listrik di Sumut.
PT TEI (Topnich Energy Indonesia, asal China) berusaha patungan dengan PT Sulawesi Hydro Power (asal Norwegia) akan membangun PLTA Enrekang 200 MW dengan nilai investasi Rp.5 triliun yang akan dimulai Juni 2011. PT Sulawesi Hydro Power juga akan mengoperasikan PLTA Tangka Manipi 10 MW dengan nilai investasi Rp.280 miliar untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Gowa dan Sinjai.
Daecheong Construction Co Ltd. menggandeng Perusahaan Daerah (BUMD) untuk membangun PLTA Deli Serdang 16 MW di Deli Serdang, Sumut yang memanfaatkan sungai Lau Simeme, dan beroperasi pada 2013 dengan dana investasi US$150juta.
PLD dan Konsorsium (Kepco) Daewoo membangun PLTA Wampu 60 MW di sekitar Danau Toba, Sumut, dengan dana investasi Rp.2,5 triliun, dan menggunakan skema IPP (Independent Power Producer). Selain itu, PLN juga akan membangun PLTA Peusangan 89 MW (Peusangan-1 2x22,5 MW, dan Peusangan-2 2x22,5 MW), Takengon, Aceh, yang akan dikerjakan oleh Hyundai bersama dengan PTPP (PT Pembangunan Perumahan Tbk) dengan nilai investasi Rp.3 triliun yang berasal dari pinjaman JICA Rp.2,6 triliun yang diharapkan akan selesai pada tahun 2015.
PLTA Karebbe INCO 90 MW beroperasi tahun 2011. INCO sudah mengoperasikan 2 PLTA dengan kapasitas total 275 MW. Bila Karebbe beroperasi, kapasitas total PLTA INCO mencapai 365 MW.
Investor China (PT CMH / China Mikro Hidro) membangun 2 unit bendungan di lokasi PLTA di Desa Karama, Kec. Kalumpang, Kab. Mamuju, Sulawesi  Barat, dengan kapasitas total sekitar 1.800 MW dan biaya sekitar US$4,5 miliar (Rp. 7 triliun) selama 3 tahun. Sementara, sungai Karama yang melewati Kec. Bonehau memberikan kontribusi PLTA berkapasitas 600 MW dan relokasi 9000 warga Bonehau tak terhindarkan.
PPA antara PT PLN dengan PT Rajamandala Electric Power (PT REP) (US$115 juta, full Turnkey, BOOT) dilakukan untuk membeli listrik 47 MW sebesar US$8.66 sen/kWh, selama 30 tahun yang akan beroperasi pada tahun 2016, di sungai Citarum, Kec. Haurwangi, Cianjur, Jabar.
PT Inalum (sudah menjadi BUMN) membangun PLTA 2x300 MW (USD700juta) kemungkinan beroperasi th 2019 guna memproduksi 500ribu ton aluminium ingot.
Percepatan sumber daya air: PLTA (5 GWe) akan dibangun di 12 dari 261 waduk di Indonesia dengan nilai investasi Rp.100 triliun (2-3jutaUS$/MW). Baru 22 waduk memiliki PLTA.
Bendungan untuk tandon air dan irigasi: Pandan Dure Swangi 340 Ha (Rp.728 miliar), Kab. Lombok Timur, NTB dengan sumber air dari sungai Palung.
Waduk baru dibangun (2014): Pandan Duri, Titab, Bajul Mati, dan Nipah (2014); Sudah dibangun (2013): Jati Gede, Jati Barang, Paya Seunara, Diponogoro, Gonggang, Rajui, dan Marangkayu.
Waduk
PU (2014) berencana memanfaatkan 200 waduk untuk pengairan sawah di Indonesia dengan memasang turbin baru menjadi PLTA agar dapat menghasilkan listrik.

PLTMH (Mini Hidro: 100-1000 kW; Mikro Hidro: 5-100 kW; Piko Hidro: ratusan Watt-5 kW)

Potensi: 230.910 MW (231 GW) (th 2006). Tahun 2007, kapasitas terpasang masih 60 MW. Di antaranya: PLTMH Lebak Picung (10 kW, 52 KK), Susuan Karang Asem (Bali) (25 kW), Kampung Sawah (6 kW, 40KK), Bojong Cisono (6 kW, 70 KK), Cibadak (6 kW, 266 KK), Cisuren (12 kW, 120 KK), Ciawi (6 kW, 180 KK), Luewi Gajah (6 kW, 70KK), Parakan Darai (10 kW, 54 KK), Sungai Code, Yogya.
Dalam RIPEBAT (Rencana Induk Pengembangan EBT) 2010-2025, enam provinsi memiliki potensi PLTMH seperti 1) Papua (ada 52 sungai berpotensi maksimal hingga 22 GW, di antaranya adalah sungai Memberamo/10 GW, Derewo, Ballem, Tuuga / 1,6 GW, Wiriagar / Sun, Kamundan, Digul / 1,5 GW, Yuliana / 2,2 GW, Lorentz / 232 MW, dan Kladuk; 2) Kaltim: S.Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung dan Kelai (total 6.743MW); 3) Sulsel; 4) Kalbar; 5) Sumut; dan 6) Aceh.
Pemanfaatan PLTMH dapat menghemat BBM dan CER sangat besar. PT Indonesia Power meyakinkan, bahwa Produksi listrik PLTMH Cileunca berkapasitas 1 (2x0,5) MW (menelan biaya Rp.13 milyar), desa Warnasari, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, dapat menghemat Rp. 10 milyar setahun. Bila seluruh PLTMH dapat mencapai kapasitas 500 MW, penghematan biaya sekitar Rp.4,27 triliun dan keuntungan dari CER US$ 6 juta, serta ada pemasukan kas desa (PADES, Pendapatan Asli Desa) Rp.2 triliun per tahun. Sistem Off-Grid disarankan untuk digunakan di desa, yaitu sistem pemeliharaan alat/jaringan listrik dan tagihan listrik dikelola oleh masyarakat / koperasi desa sendiri, agar kemandirian dan pertumbuhan desa dapat terwujud.
PTPSE (Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi) BPPT berhasil mendaftarkan rintisan CDM (Clean Development Management) PLTMH dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk PLTMH di desa Rantabella, Kec. Lotimojong, Kab. Lawu, Sulawesi Selatan.
Bila jaringan PLN sudah masuk desa, desa dapat menjual listriknya ke PLN (kalau harga yang ditawarkan PLN sesuai, dengan melalui proses panjang dan melelahkan). Contoh: PLTMH Curug Agung yang dibangun th 1991, th 1995 berkompetisi dulu dengan PLN ketika jaringan listrik PLN masuk desa. Akhirnya th 2000, produk listriknya masuk ke jaringan ke PLN. Sementara, PLTMH Cinta-mekar 10kW, Subang, Jawa Barat, menjual seluruh produk listriknya ke PLN. PLTMH  Kombongan 85 kW, Garut juga masuk jaringan listrik nasional.
PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) membangun PLTMH dengan kapasitas 3 MW di kebun Zeelandia, Kab. Jember yang sebagian listriknya digunakan untuk internal kebun (pabrik pemrosesan kopi, penyiraman tanaman kopi, penerangan rumah penduduk, dll), dan sebagian dijual ke PT PLN distribusi Jatim bila negosiasi harga per kWh nya tercapai.
 Pemkab Banyumas membangun 12 PLTMH dengan total biaya Rp.300 miliar. Salah satunya,  PLTMH Kali sasak 4 MW Kec. Cilongok, Banyumas yang dikelola oleh PT BIJ (Banyumas Investama Jaya) bekerjasama dengan PT IndoPower dengan dana sebesar Rp.60 milyar untuk 8.000 KK. Sebelumnya PLTMH Tapen (1x0,75 MW), Ketenger-1/-2/-3, lalu beberapa PLTMH di UPB Mrica (Desa Siteki, Blumbungan, Banjarnegara) Sempor Kab. Kebumen, dan Wadaslintang sudah dibangun di Banyumas. Lainnya,  PLTMH percontohan Karangtengah 17kW dari sungai Prukut (debit air 300 liter/detik) untuk 66 KK, hasil kerma PT IndoPower (pemodal) dengan TNI (bantuan tenaga kerja).
AHM (PT Astra Honda Motor) memberdayakan masyarakat dengan membangun PLTMH 6,5 kW, sungai Cibarengkok, untuk 63 KK, di TNGHS, Sukamulya, Sukabumi, Jabar, bekerjasama dengan Yayasan IBEKA.
PLN telah memiliki 2 PLTMH, yaitu di Werbar, Fak-fak, 2x500 MW dan Walesi, Wamena, (80,3 MW); Kaltim (sungai Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung, dan Kelai) dengan total potensi mencapai 6.743 MW. Sementara 4 provinsi lainnya adalah SulSel, KalBar, SumUt, dan Aceh. PLTMH dibangun pula di Pulau Sumba, NTT.
Perusahaan konsorsium Malaysia membiayai pembangunan PLTMH di Sumbar, khususnya di Kab. Solok (Lembah Gumanti) via MoU dengan PT PLN sejak awal 2006. Listrik dari PLTMH tersebut dibeli oleh PT PLN. Potensi PLTMH di Solok adalah Pinang Awam (462 kW), Koto Anau (167 kW), Sumani (625 kW), Balangir (500 kW), Leter W (7.500 kW), Pintu Kayu (4.000 kW), Liki (2.000 kW), Sangir I (10.000 kW), Sangir II (7.658 kW), Liki Solok (60 kW), Jawi-Jawi (60 kW), dan Lubuk Gadang (103 kW). PT Hutama Karya juga menanam modal untuk PLTMH (2x4 MW) di Sumbar.
Provinsi Sumatra Utara yang berpotensi PLTMH luar biasa, yaitu lebih dari 800 MW (>110 PLTMH) akan dijadikan Kiblat PLTMH di Indonesia. Gardu penghubung dibangun di 9 lokasi. PLTMH itu di antaranya adalah Parlilitan (7,5 MW), Silau II (&,5 MW), Parluasan (4,2 MW), Hutaraja (5 MW), Pakkat (10 MW), Lau Gunung (10 MW), Sisira Simandame (4,6 MW), Simonggo Tornauli (8 MW), dan Tomuan (8 MW).
Dua PLTMH dengan kapasitas 2 x 5 MW (Batangtoru-3 Pearaja, Pahae Julu, oleh BALE / PT Berkah Alam Lestari Energi dan Batangtoru-4 Pearaja oleh IALE / PT Indah Alam Lestari Energi) akan dibangun di Tapanuli Utara, Sumut atas usaha BUMN dan BUMD dengan luas area sekitar 35 Ha via kontrak kerjasama selama 25 tahun, perusahaan menyerahkan kedua proyek ke Pemda setelah 25 tahun.
 PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membangun PLTMH (2x10 MW, USD1,5-2juta/MW, total USD40juta) di Lampung.
Lima belas (15) unit PLTMH di beberapa kecamatan di Toraja Utara (6 di kec. Rantebua, 3 di kec. Rinding Allo, 1 masing-masing di kec. Buntupepasan, Sanggalangin, Sa'dan, Buntao, Nanggala, dan Sesean Suloara) berhasil dibangun oleh BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) dengan dana berasal dari PDT (Kementrian Pembangunan Desa Tertinggal). Tahun 2011, kucuran dana dari PDT sebesar Rp.4 miliar juga digunakan untuk membangun PLTMH di 15 lokasi di kec. Baruppu, Buntupepasan, Balusu, Sa'dan, Denpina, dan Awan Rante Karua dengan memanfaatkan air dari sungai Sa'dan dan Maiting.PT ABM Investama Tbk (151 desa) dan PT Nagata (9-30 MW, Rp200miliar) juga membangun PLTMH di Toraja Utara.
PLN membangun PLTMH Lapopu 2x0,8 MW, di kec. Wanokaka, Kab. Sumba Barat yang selesai akhir tahun 2014.
Potensi hidro di Sumbawa, NTB sekitar 67,5 MW. Oleh karena itu, PT PLN akan membangun 11 PLTMH, yaitu, Banggo, Sumpee, Beh I, Beh II, Beh III, Rea I, Rea II, Bintang Bano, Rhee I, Rhee II, dan Belo. Potensi lokasi PLTMH NTB: Lombok Utara 10, Lombok Barat 15, Lombok Tengah 17, Lombok Timur 16, Sumbawa 17, Sumbawa Barat 9, Dompu 9, dan Bima 5.
PT Aek Simonggo dengan dana berasal dari PGLI 35% (PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk) dan Arcadia (Arcadia Energy Trading Pty Ltd.) 65% mengembangkan PLTMH Sei Wampu di Sumatra Utara yang konstruksinya dimulai Juli 2011 selama 24 bulan.
UMM (Univ. Muhammadiyah Malang) bekerjasama dengan Kementerian ESDM menghasilkan PLTMH di kompleks kampus UMM berdaya 70-100 kW di Sengkaling I, Malang. Kemudian UMM membangun PLTMH 35 kW di dusun Sumbermaron, Desa Karangsuko, Kec. Pagelaran, Kab. Malang dengan sponsor dari Australia Partnership dan Bank Dunia senilai Rp.408 juta yang digunakan untuk mesin pompa pengairan dan air bersih.
Potensi mikrohidro di Prov Jabar cukup besar, karena kawasan Jabar kaya aliran sungai deras. Proyek PLTMH yang sedang berjalan adalah di Kab. Bogor (Rp.855 jt), Kab. Cianjur (Rp.1,4 miliar), Kab. Garut (Rp.920 jt). PLTMH yang masuk jalur PLN adalah Cijedil (3 kW) di Cianjur, Curug Agung (788 kW) di Subang, Cinta Mekar (120 kW), Jembelair (100 kW) di Purwakarta, dan Cipayung (240 kW).
PLTMH Kawata (30 kW)  Luwu Timur, Sulsel, bantuan Kementrian Daerah Tertinggal (PDT) telah diresmikan oleh Bupati Lutim.
Empat unit PLTMH dengan kapasitas total 8,1 MW di Mamuju, Sulbar, yaitu Balla (2x350 kW), Kalukku (2x700 kW), Bone Hau (2x2MW), dan Budong-budong (2x1 MW) dapat menghemat BBM Rp 200 miliar/tahun. Beban puncak sekitar 12 MW, 67% dari air.

LAUT 

Sejak dikeluarkan UU no.17/2007 RPJPN 2005-2025, upaya menyusun Road map (peta jalan) pengembangan energi laut sedang dilakukan. Sementara, UU Kelautan sebagai dasar penyusunan road map yang mencakup tata ruang laut nasional 200mil (17.499 pulau, dan garis pantai 104.000 km terpanjang kedua dunia) telah disahkan DPR akhir Sep 2014 sekaligus hal itu sebagai cikal bakal pembangunan poros maritim. Oleh karena itu, para investor masih menunggu UU dan Road map tsb guna meyakinkan kepastian hukum berusaha dimana potensi ekonomi laut Indonesia ditaksir > Rp.3000 triliun, bahkan total potensi ekonomi laut termasuk SDA non-konvensional lainnya ditaksir lebih dari 1,2 triliun USD/th yang lebih besar dari PDB Indonesia (1 triliun USD/th). Mapping energi laut Indonesia ditampilkan (2011).
Ada tiga jenis energi laut yang dapat dimanfaatkan, yaitu gelombang laut, energi pasang surut, dan panas laut.

GELOMBANG AIR LAUT
Potensi gelombang di Indonesia sangat tinggi, yaitu sekitar 2-2,5 m (Laut Selatan Jawa), dan pantai Barat Sumatera sekitar 4-5 meter.
Metode Energi Listrik Gelombang Air Laut (400 W) karya mahasiswa dan dosen Politeknik Manufaktur Timah, Bangka Berlitung mendapat hak Paten dari Kementrian Hukum dan Ham RI, dan biaya hak paten ditanggung Dikti Kemendiknas.
Percobaan PLTGL-SB (Sistem Bandul) Zamrisyaf (pemilik paten No. HAKI P00200200854) mampu menghasilkan listrik 3 kW dan menerangi 20 rumah nelayan. Bila hanya 20% saja pantai Selatan Jawa dimanfaatkan untuk PLTGL, maka 6,5 GW dapat diperoleh, dengan potensi 40 kW per meter lebar gelombang. Daya yang diperoleh ini tidak jauh berbeda dengan perolehan listrik dari PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Investasi PLTGL-SB setara dengan PLTA. Dengan laut seluas 1 km2, daya listrik dari PLTGL 20 MW dapat diperoleh. Ponton (tongkang kecil) yang digunakan berbentuk delima yang sebagian terendam air, dengan panjang lengan 2 m, dan bandul seberat 10 kg. Bila tinggi gelombang 0,5-1,5 m, maka akan dihasilkan putaran  200 rpm dan daya sebesar 25,2 kW. Bila satu unit ponton terdiri atas 5 set bandul, maka daya akan mencapai 125 kW

EAL (ENERGI ARUS LAUT)
Arus laut di Indonesia berupa pasang surut yang diakibatkan oleh interaksi bumi, bulan, matahari, dan arus geostropik karena gaya Coriolis akibat rotasi bumi serta perbedaaan salinitas, temperatur, dan densitas. Arus pasang surut menyimpan energi hidro-kinetik, sehingga dapat dikonversikan menjadi daya listrik yang bergantung pada densitas fluida, penampang aliran, dan kecepatan alirannya. Selat-selat yang menghadap Lautan Hindia dan Samudra Pasifik teramati memiliki arus yang kuat.
Potensi EAL Indonesia menghasilkan listrik sangat besar, yaitu sekitar 5,6-9 TerraWatt (TW). Angka itu kira-kira 30-50ribu kali PLTA Jatiluhur (187 MW). Bandingkanlah dengan daya listrik dari 430 unit PLTN dunia yang hanya sekitar 363 GW (2009) < 1 TW. Bappenas mendorong EAL sebagai sumber EBT yang handal guna memenuhi permintaan masyarakat pesisir 18 ribu pulau di Indonesia yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik nasional. Laju arus pasang-surut di pantai umumnya kurang dari 1,5 m/detik, kecuali di selat-selat di antara P. Bali, Lombok, dan NTT dapat mencapai 2,5-3,4 m/detik. Arus pasang-surut terkuat tercatat di Selat antara P. Taliabu dan P. Mangole di kepulauan Sula, Maluku Utara dengan laju 5,0 m/detik.
Tahun 2004, BPPT / BPDP (Balai Pengkajian Dinamika Pantai) membangun purwarupa OWC (Oscilating Water Column, dinding tegak) pertama di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul dengan potensi gelombang 19 kW / panjang gelombang. Survei hidroseanografi menunjukkan bahwa PLTAL (Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut) akan optimal bila ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalaman 4-11 m. Putaran turbin akan dicapai antara 300-700 rpm dengan memiliki efisiensi 11%. Tahun 2006, OWC sistem Limpet / terapung diletakkan berdampingan dengan OWC th 2004, di tempat yang sama.
Tahun 2005: penelitian karakteristik arus laut dilakukan oleh Puslitbang Geologi kelautan (PPPGL) berkolaborasi dengan Program Studi Oceanografi ITB di selat Lombok dan selat Alas menggunakan turbin Kobold 300 kW.
Th 2006-2010: penelitian BPPT dilakukan di beberapa selat Nusa Tenggara (NTB dan NTT), di antaranya S. Lombok, S. Alas (diujicoba April 2012, 75 MW), S. Nusa Penida, S. Flores, dan S. Pantar. Selat-selat lainnya yang diperkirakan  memiliki arus laut cukup kuat adalah S. Sape, S. Linta, S. Molo, S. Boleng, S. Lamakera, dan S. Alor. Bila satu selat dapat dipanen energi sebesar 300 MW dengan asumsi 100 buah turbin masing-masing berdaya 3 MW, maka akan dihasilkan listrik sekitar 3GW untuk 10 selat. Tahun 2009, BPPT menguji purwarupa PLTAL sebesar 2 kW dan tahun 2011 sebesar 10 kW di S. Flores. Purwarupa pertama dibangun PPPGL bersama kelompok T-files ITB dan PT Dirgantara Indonesia yang diuji di S. Nusa Penida dan mampu menggerakkan generator listrik 5.000W.
2012-2014: purwarupa skala besar (>80 kW) dicoba untuk mengembangkannya menjadi skala komersial. Tahun 2025, PLTAL diharapkan akan mencapai 5% dari sasaran kebijakan energi 25% bauran energi.
Mahasiswa&Alumni ITB dari PT TFiles Indonesia (13 orang) berhasil memanfaatkan arus laut menjadi PLTAL 10 kVA. Th 2012. Mereka bekerjasama dengan Dinas PU-Binamarga menyalakan 1.000 lampu jembatan Suramadu. Semua komponen turbin buatan lokal kecuali magnet yang dibandrol dengan harga Rp.400juta dengan lifetime 5 tahun. Kerma diteruskan ke PLN Batam untuk memberikan listrik 1MW.

PANAS LAUT
OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) dibedakan 3 macam, daur tertutup, daur terbuka, dan daur gabungan (hibrid). Potensi Panas Laut: 222 GW. Lima lokasi sedang dijajagi, Selat Sunda, Bali Utara, Bali Selatan, Maluku Utara, dan NTT. Bali Utara terpilih untuk survei dengan kapasitas pembangkit sekitar 100 kWe.

ENERGI AIR LAUT
Dr. Sastro, Sambisari, Kalasan, Sleman, Yogya mengembangkan listrik dari air laut Parang Tritis via elektrolisis air laut (Grafit / Anoda, Seng / katoda; tegangan: 1,6 V) menggunakan aki bekas 12 V. Setelah itu, aki dibongkar dan diisi air laut. Dia mendapatkan tegangan 9,2-11,8V. Ini salah satu bukti bahwa samudra adalah baterai raksasa. Mahasiswa Teknik Kimia ITS juga mengembangkannya.

PLT GRAVITASI

Djoko Pasiro, Pamekasan, Madura, memanfaatkan tenaga Gravitasi bumi yang murni berasal dari kekuatan alam guna menggerakkan mekanik penarik dinamo generator untuk menghasilkan listrik. PLT Gravitasi daya kecil, sebesar 2.500 Watt membutuhkan biaya hanya 15 Juta rupiah.

PANAS BUMI (GOETHERMAL)

Potensi energi PLTP: 29.038 MW (29 GW), sedangkan kapasitas terpasang saat ini sebesar 1.341 MW atau 4,62% dari total potensi yang ada. Empat puluh (40) % potensi dunia ada di Indonesia, dan sekitar 276 titik potensi panas bumi telah ditemukan. Sepuluh (10)% dari total potensi itu (sekitar 2 GW) ada di Sumsel. Indonesia merupakan potensi terbesar di dunia, sehingga mendorong Indonesia untuk dijadikan pusat pengembangan panas bumi dunia yang tentu saja memerlukan SDM tangguh dari dalam negeri sendiri. Amerika, Filipina dan Selandia Baru tertarik berinvestasi di geotermal. Untuk itu, Amerika membantu ITB dan UI membuka jurusan geotermal, dan Selandia Baru membuka diri kepada putra Indonesia untuk belajar geotermal di sana.
Potensi energi geotermal ditemukan tersebar di sepanjang lajur Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Busur Banda hingga Sulawesi Utara, dan lajur Halmahera, Bali, dan Papua. Potensi tersebut dua kali cadangan minyak bumi Indonesia. Dr. SK Sanyal (GeothermEx Inc., California) menyinggung bahwa lebih dari 70% lahan Indonesia memiliki basis sumberdaya geothermal lebih dari 50 MW dan hampir setengahnya lebih dari 100 MW dengan sumur komersial antara 3-40 MW (rata-rata 9 MW), sedangkan sumur bor dunia hanya sekitar 4-6 MW. Tahun 2025, EBTKE menargetkan 12 GW dapat ditapis dari PLTP. Investor kurang tertarik berbisnis di PLTP ini. Mereka menginginkan harga jual listrik dari PLTP sekitar 11-14cent US$/kWh. Harga jual listrik th 2014 dinaikkan pemerintah menjadi 11,5-30 sendollarAS/kWh yang tercantum dalam Permen ESDM no.17 th 2014.
Laboratorium Geotermal I di Indonesia diresmikan Okt 2013 di Palembang, Sumsel, yg dibangun dan dioperasikan oleh PT Sucofindo.
Sejarah pemanfaatan PLTP di Indonesia diawali oleh usulan Van Dijk asal Belanda tahun 1918 untuk membangun PLTP di Kamojang, Jabar. Kamojang menghasilkan uap tahun 1926, kemudian dari 5 sumur uap hanya satu sumur yang produktif, tetapi tidak lama kemudian mati. Tahun 1964 PLTP dihidupkan kembali oleh Direktorat Vulkanologi (Bandung), PLN, dan ITB. Tahun 1971, PLTP Lahendong Sulut, dan PLTP Lempung, Kerinci dikembangkan. Tahun 1972, pengeboran 6 sumur di Dieng, Jateng, dilakukan, tetapi tak satu pun mengeluarkan uap. Tahun 1974, Pertamina dan PLN mengembangkan PLTP Kamojang 30 MW. Tahun 1977, Selandia Baru menyumbang NZ$24juta dari kebutuhan NZ$34juta, sisanya ditanggung Indonesia untuk Kamojang. Tahun 1978, tim Kanada ke Lahendong dan Lempung, Kerinci. Monoblok Kamojang diresmikan 27 November. Tahun 1981, Monoblok Dieng diresmikan 14 Mei; Pertamina diberi wewenang melakukan survei, eksplorasi dan eksploitasi PLTP di Indonesia. Tahun 1982, Pertamina meneruskan penelitian di Lahendong dan melakukan kontrak dengan UGI (Unocal Geothermal Indonesia) untuk PLTP di Gunung Salak, Jabar. Tahun 1983, PLTP Kamojang-I 30 MW diresmikan 1 Februari. Tahun 1987, PLTP Kamojang-II dioperasikan. Pertamina, Amoseas of Indonesia Inc., dan PLN melakukan kerma eksplorasi panas bumi di Gunung Drajat, Jabar. Tahun 1991, keluar Keppres meleluasakan Pertamina dan kontraktor mengeksplorasi dan mengeksploitasi panas bumi, dan menjual uap / listrik kepada PLN. Tahun 1994, PLTP Gunung Drajat-I beroperasi, PLTP Gunung Salak-I dan II beroperasi, dan Pertamina melakukan kontrak dengan 4 perusahaan swasta. Tahun 1995, Nota kesepahaman dilakukan Pertamina dan PLN untuk membangun PLTP Lahendong 1x20 MW, Sulut, dan PLTP Sibayak 2 MW, Sumut.
Kapasitas terpasang PLTP Indonesia: yaitu di PLTP Kamojang (200 MW) Jabar, Lahendong-1, 2, dan 3 (3x20 MW) Sulut, Dieng (60 MW) Jateng, Gunung Salak (375 MW) jabar, Darajat (255 MW) Jabar, Sibayak (2x5 MW) Sumut, Wayan Windu (227 MW) Jabar, PLTP Ulubelu-1 dan 2 (2x55MW) di Lampung. Kapasitas yang sudah terpasang itu menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia setelah Amerika dan Pilipina. Bila digenjot hingga 4.000 MW bukan tidak mungkin PLTP Indonesia akan menempati posisi nomor satu dunia. Program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II yang komposisi energi mix-nya mengarah ke Panas Bumi itu diharapkan akan meningkatkan pemanfaatan panas bumi hingga 17% (4.713 MW) pada tahun 2015.
Selain itu, PLTP lain yang masuk dalam target pemanfaatan panas bumi adalah PLTP Lahendong-4 (20 MW) (Sulut), PLTP Sarulla 330/3x110 MW (Sumut, PLTP Ulumbu (10/4x2,5 MW) di  Flores, NTT. PLN melakukan Studi kelayakan untuk PLTP Hululais (110/2x55 MW) di Bengkulu, PLTP Sungai Penuh (110/2x55 MW) di Jambi, PLTP Kotamobagu (80/4x20 MW) di Sulut, PLTP Tulehu (20 MW) di Ambon, dan PLTP Sembalun (70 MW), Lombok Timur.
Sayangnya, sekitar 70% lokasi PLTP yang potensial berada di kawasan hutan lindung, sehingga terjadi konflik kepentingan dengan Kementrian Kehutanan, apakah membangun PLTP (hanya butuh lahan 0,3-4 Ha) atau mempertahankan kawasan konservasi. Untuk mengatasi hal tersebut, DPR telah mengesahkan RUU Panas Bumi (26/08/2014) sebagai revisi UU No. 27/2003, yang ringkasan isinya sbb:
  1. Panas bumi sebagai sumber energi alternatif. Eksplorasi & Produksi panas bumi tidak termasuk kategori pertambangan, sehingga dapat dilakukan di wilayah konservasi
  2. Penyelenggaraan oleh PemPusat & Provinsi, PemKab untuk pemanfaatan langsung & tidak langsung
  3. Pembinaan & Pengawasan IUP oleh Pemerintah.
Indonesia memerlukan investasi USD30 miliar untuk mengembangkan PLTP 11 GW hingga 2025. Memang, konsekuensi pemberian ijin PLTP di hutan lindung akan menyebabkan beberapa Ha hutan lindung akan terbabat. PT CGI (Chevron Geothermal Indon) belum mendapat ijin penambahan 9 Ha dari Menhut untuk membabat hutan karena telah melanggar daerah cagar alam Gunung Papandayan di Kertasari Bandung. Di sisi lain, PT PGE (Pertamina Geothermal Energy) berencana menanam 100juta pohon di sekitar lereng gunung berapi hingga 2015, salah satunya adalah 50 ribu pohon telah ditanam akhir th 2011 di sekitar PLTP Kamojang guna menahan resapan air dan mengurangi emisi karbon, agar panas dan air terjaga dan Kamojang terus menghasilkan uap.
Sebanyak 28 titik potensi panas bumi (14 proyek PLTP pada WKP existing sebelum terbit UU No.27/2003 dan 14 proyek PLTP pada WKP baru setelah terbit UU no. 27/2003, sekitar 12.069 MW) di hutan lindung sepanjang Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara telah disepakati agar proses perijinan proyek dari menteri Kehutanan segera berjalan. Permen 11/2008 mengajukan 5 WKP, yaitu Bonjol (Sumbar) 200 MW, Danau Ranau (Lampung, Sumsel) 210 MW, Mataloko (NTT) 63 MW, Ciremei (Jabar) 150 MW, dan Gunung Endut (Banten) 80 MW. Calon 4 WKP lainnya (masih disurvei) adalah Sembalun (NTB) 120 MW, Way Ratai (Lampung) 194 MW, Simbolon Samosir (Sumut) 225 MW, dan Telomoyo (Jateng) 92 MW.
PT Pasifik Geoenergy (PAGE) (PT (10%) dan Ormat Tech. Inc. (Amerika) (90%) teken kontrak menginvestasikan dana US$200juta (15 MW, hingga 60 MW dalam 3 tahap) untuk PLTP Hu'u Dompu, di Sumbawa, NTT.
PT SBG (Sintesa Banten Geothermal) mengeksplorasi PLTP (potensi 225 MW) di Gunung Karang Kab. Pandeglang.
Konsorsium (Medco Geothermal Indonesia, Ormat technology Inc / USA, Kyusu Electric Power Inc / Jepang, dan Itochu Corp. / Jepang) proyek PLTP Sarulla 330/3x110 MW, di Kab. Tapanuli Utara dan Selatan, Sumatera Utara, menggarap proyek senilai US$(1,6) miliar yang didanai oleh JBIC (Japan Bank for International Corp.) dan ADB (Asian Development bank) dan beberapa bank komersial. Tarif jual listriknya ke PT PLN sekitar US$0,0679/kWh. PLTP Sarulla-1 110 MW, Sarulla-2 110 MW, dan Sarulla-3 110 MW diharapkan beroperasi komersial pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Proyek PLTP terbesar di dunia itu mundur 3 tahun dari rencana semula. Pemerintah menyiapkan SKB 3 Menteri (ESDM, Keuangan, BUMN) guna mengatasi kisruh tersebut.
PT Medco Geothermal Indonesia berencana membangun PLTP Ijen 110/2x55 MW, di Jawa Timur senilai US$ 400juta pada tahun 2013 dengan lama konstruksi 2,5 tahun.
ADB (Asian Development Bank) mengucurkan dana US$500 juta untuk pengembangan 3 PLTP, yaitu PLTP Karaha Bodas (2x55 MW) (PGE=Pertamina Geothermal Energy), Garut, Sungai Penuh (55 MW), Jambi (PGE), dan Mataloko (2x2,5 MW) (PLN) di Ngada, P. Flores, NTT. Pengembangan PLTP Karaha Bodas di lahan sekitar 40 Ha dilanjutkan kembali setelah dibatalkan pemerintah (Soeharto) saat krisis ekonomi 1997. Pengoperasian PLTP Karaha Bodas diharapkan berjalan sekitar tahun 2014. PLTP Sungai Penuh berlokasi di hutan lindung, sehingga pembangunannya menunggu UU amandemen Panas Bumi.
PT PLN (Persero) dan dua pengembang PLTP, Pertamina GE dan PT Westindo Utama Karya, Maret 2011 menandatangani PPA (Power Purchase Agreement) untuk 6 PLTP (435 MW), yaitu 5 untuk PGE, 1 untuk WUK. PGE mengembangkan PLTP Lumut balai (2x55 MW) di Sumsel, PLTP Ulubelu-3 dan 4 (2x55 MW) di Tanggamus, Lampung, PLTP Lahendong-5 dan 6 (2x20 MW) di Sulut, PLTP Karaha Bodas (1x30 MW), dan PLTP Kamojang-5 (1x30 MW) di Jabar, sedangkan PT WUK mengembangkan PLTP Atadei (2x2,5 MW) di Lembata, NTT dg dana sekitar RP 1,9 triliun yg akan dimulai pembangunannya th 2013. Sementara itu, konsorsium yg terdiri atas PT Supreme Energy, GDF Suez, dan Marubeni Corp menandatangani PPA dg PT PLN guna membangun PLTP Rantau Dedap 2x110 MW dg harga yg disepakati 8,86 sen US$ yg akan beroperasi th 2017. SERB (PT Supreme Energy Rajabasa), GDF Suez, dan Sumitomo Corp. siap membangun PLTP Rajabasa, Lampung (2x110MW) yang akan beroperasi th 2018 setelah ijin dari Kemenhut diperoleh.
Investor asal Turki, Hitay Group, sedang mensurvei blok Tanjung Sakti dan Empat Lawang.
BPPT mengembangkan purwarupa PLTP skala kecil 3 MW di Kamojang, Jawa Barat. Proyek ini menggunakan komponan lokal termasuk turbin (gandeng NTP, Nusantara Turbin Propulsi anak perusahaan IPTN) dan generator (gandeng PT Pindad). Dana diperoleh dari APBN BPPT Rp 50 milyar. Di sisi lain, BPPT mengkaji PLTP Ulu Ere 25 MW di Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan. Th 2014, BPPT bekerjasama dengan Jerman melakukan riset PLTP siklus biner 500 kW di Lahendong, Sulut.
PT Supreme Energy bernegosiasi dengn PT PLN (Persero) guna membangun 2 PLTP di Sumatera, PLTP Rajabasa 220 MW di Lampung, dan PLTP Muaralabuh 220 MW di Sumatera Barat yang direncanakan beroperasi tahun 2015 dengan dana investasi US$650 juta per lokasi.
Proyek PLTP Gunung Slamet 220 MW, Jawa tengah, senilai Rp. 6 triliun (US$ 660 juta, 1 MW membutuhkan investasi US$ 3 juta) siap dibangun oleh 2 investor, PT Spring Energy dan PT Tri Energy.
Panax Geothermal Ltd. (Australia) dengan menggandeng PT Bakrie Power berminat untuk mengembangkan proyek PLTP Sokorja (P. Flores 30 MW) dan PLTP Dairi Prima (Sumut, 25 MW). PT Bakrie Power berpartisipasi di PLTP Ngebel-Wilis 165 MW, Jawa Timur.
Pemprov Jabar siap melelang PLTP Ciremai 150 MW, di Kab. Kuningan, ke BUMN, BUMD, dan BUMS.
PLTP Patuha 55 MW, Babakan, Sugihmukti, Pasir Jambu, Jabar akan beroperasi 2014.
Cadangan panas bumi baru yang ditemukan adalah Kebar (25 MW) Manokwari, Papua Barat; Tehoru (75 MW), Banda Baru (75 MW), dan Pohon Batu (50 MW) Maluku Tengah; Kelapa Dua (25 MW) Maluku Barat; Lili (75 MW), Mapili (50 MW), dan Alu (25 MW) Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Calon lokasi  PLTP yang belum disurvei adalah Sungai Betung/Kab. Kerinci (Jambi), Pesisir Selatan (Sumbar), Sungai Tenang/Kab. Merangin, (Jambi), Ciseeng (Bogor, Jabar), Lebak (Banten), Malawa/Kab. Maros, Pangkajene/Kab. Bone, dan Kab Barru (Sulsel), Gunung Dua dara (Kab. Bitung, Sulut), Gunung Pangrango (Bogor, Jabar).

BIOMASSA

Potensi energi biomassa Indonesia diperkirakan: 49.810 MW (50 GW) yang berasal dari perkiraan produksi 200 juta ton biomassa/tahun dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan dan limbah padat/sampah kota, sementara daya terpasang: hanya 1.618,4 MW (th 2011) atau sekitar 3,25 % saja dengan hutan produktif dan perkebunan seluas 23 juta Ha. Itu berarti pemanfaatan biomassa untuk energi listrik masih sangat sedikit. Oleh karena itu ESDM mengeluarkan Permen No. 27 th 2014 guna mendorong pemanfaatan biomassa (PLTBm) dan biogas (PLTBg) seoptimal-mungkin menjadi listrik. Program jangka pendek Kementrian ESDM meliputi promosi investasi, insentif fiskal dan pajak, kebijakan penetapan harga energi, penyebarluasan informasi, dan penelitian dan pengembangan.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa telah memanfaatkan biomassa sebagai pengganti batubara.
PT Growth Asia di bawah GSG (PLTU Biomassa, 2x15 MWe dengan TKDN 70%, Rp10miliar/MW dari BCA Bioler/Indon, generator/turbin/Tiongkok, modul pengatur turbin/AS) memanfaatkan limbah kering cangkang sawit (1 kWh listrik perlu 1,2 kg cangkang), serat sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk kayu dll. untuk menapis listrik. PLTU sejenis yang sedang dibangun dan direncanakan adalah di Sumatra (GSI, HS, PKU, DJB, PLM); Jawa (Indocoke); dan  Kalimantan (PNK, BDJ, BPN).

Kelapa Sawit
Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dan produksi minyak sawit tahun 2013 diperkirakan 24 juta ton dengan potensi biomassa dari residu minyak kelapa sawit dan 350 pabrik minyak kelapa sawit dalam jumlah besar pula, dalam hal ini tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekitar 27,5 juta ton basah (1 ton TBS/Tandan Buah Segar menghasilkan 200 kg CPO, limbah TKKS 250 kg, dan limbah cair 0,5 m3). Masih ada limbah sawit lain, seperti pelepah 4%, cangkang 6,5%, serat 13%. Pemerintah melarang membakar TKKS langsung guna menghindari pencemaran udara.
Riau sedang membangun PLTBiomassa dari pelepah sawit di Siak dan InhilKEI (PT Kreatif Energi Indonesia) membangun PLTBiogas 4 MW dari limbah cair kelapa sawit  pertama  di Langkat, Sumut, dengan investasi Rp.20miliar.  
Nurhuda (dosen Unbraw, Malang, Jatim) memanfaatkan cangkang sawit (kulit, batok sawit) sebagai bahan bakar kompor ciptaannya Biomass UB 03-1 (isi 1 kg, laju bakar 10 gr/menit selama 100 menit) yang bersistem semi-gasifikasi dengan aliran udara alami tanpa listrik sama sekali. Limbah cangkang tersedia sekitar 5% dari TBS, atau sekitar 5 juta ton/tahun dengan harga Rp300/kg di Kalimantan dan Sumatra, atau sekitar Rp1000,- di Jawa yang mampu mencukupi bahan bakar kompor untuk 13 juta keluarga di Indonesia.
BPPT dan AIST (National Institute for Advance Industrial Science and Technology) Jepang yang didukung oleh NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) bekerjasama (via MoU) meneliti, mengembangkan, dan merekayasa teknologi biomassa untuk pembangkit listrik.
Kerjasama Pemerintah dan Finlandia diteken 14/02/2011 membuahkan dana hibah 4 juta Euro selama 3 tahun (2011-2014). Pada tahap pertama, program difokuskan kepada pemanfaatan biomassa berbasis kayu dan limbah pertanian. Propinsi Kalimantan Tengah dan Riau dipilih Finlandia mengimplementasikan program tersebut.
Pemprov Bangka Belitung merencanakan membangun pembangkit listrik berbasis biomassa TKKS. Pasokan bahan baku TKKS dari kebun sawit seluas 80.000 Ha akan menghasilkan 20 MW.
PT Ajiubaya memanfaatkan biomassa di Sampit (Kaltim) dengan kapasitas 4-6 MW. PT Boma Bisma Indra memanfaatkan gasifikasi biomassa pada mesin diesel (listrik dan mesin giling) dengan kapasitas 18 kW di beberapa daerah di Kalimantan, Sumatra, dan Sulut.

Batok Kelapa
Pemerintah akan membangun PLT Biomassa berbasis batok kelapa dari Wonosobo/Kalimantan di Pulau Karimunjawa, Jawa Tengah dengan daya 0,5MW (2015). Hal itu dimaksudkan untuk mengganti PLTD yang saat ini beroperasi sangat mahal (Rp. 3 miliar/tahun). PLN Sulut, Sulteng, dan Gorontalo juga memanfaatkan batok kelapa sebagai umpan PLT Biomassa (0,1 MW).

Pelet Kayu/Limbah Kayu
Kebutuhan dunia: 12,7 juta ton (th 2010), Indonesia baru memenuhi 40 ribu ton th 2009). Investor Korsel, hasil kerjasama Korsel-Indonesia yang diteken Indonesia 6/3/2009 di bidang wood pellet energyPT Indoco Group membangun HTI seluas 200 ribu Ha dengan dana Rp.3 triliun guna memanfaatkan "pelet kayu" di Sulbar. Indoco group melalui PT Bara Indoco (68.015 Ha) dan PT Bio Energy Indoco (21.580 Ha) sudah menanam 89.595 Ha (45%). Sebelumnya, ia telah membangun pabrik pelet kayu (berdiameter 6-10 mm dan panjang 10-30 mm, dengan energi setara 4,7 kWh/kg) di Wonosobo, Jateng dengan kapasitas 200 ribu ton/tahun yang menggunakan kayu hutan rakyat dan limbah industri gergaji, limbah tebangan dan limbah industri kayu lain. Sementara, PT Solar Park Energy (Korsel) dan Perum Perhutani mengolah limbah kayu sengon dan kaliandra di Wonosobo. Medco Energy via PT Selaras Inti Semesta membangun HTI seluas 169.400 Ha guna memproduksi 200 ribu ton chip/tahun. PLN dan General Electric International Operation Co. bekerjasama membangun PLTBiomassa 1 MW (dari serpihan kayu/tumbuhan organik) di P. Sumba (NTT) yang melahap lahan sekitar 100 Ha..

Limbah Jagung (+sekam padi)
Provinsi Gorontalo Mengembangkan PLBM (Biomassa) limbah jagung bekerjasama dengan LIG Ensulting Co Ltd (Korea Selatan) dengan kapasitas 12 MW. Tahun 2009, areal jagung seluas 105,479 Ha menghasilkan produksi 569.110 ton dan limbah berupa tongkol, batang, dan daun sebanyak 2,2 juta ton. Sementara, padi seluas 44.829 Ha menghasilkan limbah sekam padi 51.385 ton. PLBM tersebut membutuhkan limbah jagung dan sekam padi 350 ton/hari. Studi kelayakannya telah selesai Januari 2011.

Jerami+sekam padi
Per 1 Ha sawah menghasilkan kira-kira 5 ton jerami dan 1 ton sekam. Artinya, 1 MW listrik dihasilkan dari 1500 Ha sawah. Sementara, luas lahan padi Indonesia sekitar 12,87 juta Ha (th 2010) yang berarti energi listrik setidaknya 8.600 MW dapat dipetik dari jerami+sekam padi, bila panen dilaksanakan setahun sekali (panen umumnya dilaksanakan dua kali setahun).
PT Xoma Power Nusantara menggandeng pengembang listrik swasta dari Rusia (JSC PromSvyaz Automatika) dan Babcock and Brown (Australia, penyandang dana sekitar Rp.220 miliar) akan membangun PLBM dari jerami+sekam berkapasitas 10-22 MW (tergantung ketersediaan Jerami+sekam) di Serdang Bedagai (Sergai), Sumut. Kalori jerami+sekam sekitar 3.180 kalori/kg sedangkan batu bara sekitar 5.000-6.000 kalori/kg. Listrik sebesar 10 MW memerlukan 80.000 ton jerami+sekam.
PT Bioguna Sustainable Power membangun PLBM 6 MW berbahan bakar sekam padi di Gerbang Kawasan Industri Makassar, Sulsel.

Gas TPA
Sampah diolah dengan 5 cara: 1) Ball Press, sampah dipres, padatan dibungkus plastik, untuk dijadikan penahan erosi, air yang keluar dijadikan pupuk; 2) Incinerator skala besar, 900-1800 ton dibakar; 3) GALFAD (Gasification, Landfill, an Aerobic Digestion), gas methan yang timbul di TPA dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik. 1 MW setara dengan 30-50 ton sampah; 4) Bio Pupuk: sampah terpilih dihancurkan dengan tekanan hingga menjadi bubur, lalu diberi mikroba dalam bak cerna tanpa oksigen; 5) Limbah menjadi Energi: sampah digunakan sebagai bahan baku PLBM. 1500-1800 ton/hari akan menghasilkan listrik 20 MW.
Sampah (ton/hari) di kota besar Indonesia sungguh besar jumlahnya. Jakarta menghasilkan sampah 6500, Bandung 1.100, Denpasar 2.000, Surabaya 1.800, Medan 1.700, Makassar 870, Palembang 750, Yogyakarta 300, dan Semarang 700. Dari sampah itu, limbah organik saja yang akan masuk ke TPA, sedangkan lainnya (kertas, plastik, logam, gelas, dll) didaur-ulang. Setiap 500 ton/hari sampah yang diolah setara dengan daya listrik 5-6 MW.
Pem. Swedia bekerjasama dengan  pemkot. Palu, Palangkaraya, dan Sleman membangun pilot proyek penyediaan listrik dari biogas yang berasal dari sampah.
Pemerintah Kota Bandung akan merealisasikan PLTSa (Sampah) di lahan 20 Ha yang akan menelan biaya sekitar Rp. 1,5 triliun.
Pemerintah kota Surabaya via PT Navigat Organic Energy Indonesia (PT NOEI) merealisasikan PLTSa 60 MW di Kec. Keputih. PT NOEI mengincar proyek PLTSa (18-20 MWe) di Jakarta senilai Rp.1,2 triliun di Sunter, Jakut. Harga beli listrik PLN dari PLTSa menurut Permen ESDM no. 19 th 2013 telah diperbaiki (Zero waste: Rp.1450-1798/kWh; sanitary landfill: Rp.1250-1.598/kWh).
Pemkot Denpasar, Pemkab Badung, Gianyar, dan Tabanan (SARBAGITA) bersama dengan PT NOEI membangun IPST (Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu) guna mengubah sampah menjadi energi listrik 9-10 MW. IPST dibangun di TPA Suwung, Denpasar di atas tanah seluas 10 Ha (tersedia 40 Ha). Jumlah sampah dari kawasan SARBAGITA yang diperkirakan sekitar 800 ton/hari diubah menjadi energi listrik menggunakan teknologi GALFAD. Sampah sekitar 165 ton di Bengkala, Singaraja di TPST diolah menjadi gas metan (PLTG) guna menggerakkan generator menjadi listrik dengan sasaran hingga 2 MW.
PLTSa di Bantar Gebang (proyek 700 milyar) di Bekasi baru memproduksi listrik 2-4 MW dengan teknologi GALFAD dan kapasitas itu akan terus dinaikkan hingga 26 MW pada tahun 2013 guna memanfaatkan 6.000 ton sampah/hari dari Jakarta, dan 1.000 ton/hari dari Bekasi. Pertamina yang bekerjasama dengan PT Gondang Tua Jaya ikut terlibat dalam pemanfaatan sampah Bantar Gebang tersebut dengan menyuntikkan dana sekitar US$180juta guna membangun PLTsa lebih besar, 120 MW, yang akan beroperasi th 2014. Di samping itu, pabrik kompos dari sampah organik telah dibangun dan telah mencapai 60 ton/hari dengan target 300 ton/hari pada 2013. Capaian PLTSa tersebut sempat disampaikan di Pertemuan Penanganan Perubahan Iklim C40 di Sao Paulo, Brasil, 1-3 Juni 2011. Kesuksesan di Bekasi itu akan ditularkan pula ke Ciangir, Legok Tangerang, dan Marunda, Jakarta Utara. IPST Ciangir berada di atas lahan 50 Ha dan 48 Ha lainnya sebagai lahan hijau milik Pemerintah DKI Jakarta yang akan menerima 1.500 ton sampah/hari dari Jakarta Barat dan 1.000 ton/hari dari Tangerang, sedangkan IPST Marunda dibangun di atas lahan 76 Ha di kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang disiapkan untuk menerima sampah dari Jakarta Utara dengan kapasitas desain perolehan energi listrik sebesar 10 MW.
Sisa sampah organik di Bantar Gebang diubah menjadi pupuk organik yang dikelola oleh PT Gondang Tua Jaya dengan kapasitas produksi 350 ton/hari dan PT Mitra Patriot milik Perusda Bekasi (50 ton/hari) yang potensinya dapat ditingkatkan menjadi 2.000 ton/hari.
PT Gikoko Kogyo Indonesia mengembangkan PLT gas methan dari TPA di Makasar, Bekasi, Pontianak, dan Palembang.
PLT Sampah (Biometha green) menjadi pilot project di perumahan Griya Taman Lestari, Sumedang.

BIOGAS (GAS METAN)

Biogas dapat menjadi solusi alternatif untuk kompor, penerangan dan energi listrik dari genset biogas. UGM telah mengembangkan teknologi purifikasi biogas (dari gas impuritas seperti CO2, H2S, uap air, dll. menggunakan resin / tukar ion) dan menyimpan biogas dalam tabung agar dapat digunakan pada mesin-mesin/genset.

Limbah ternak/manusia
Peluang pengembangan biogas Indonesia sangat menjanjikan. Th 2009, Indonesia memiliki 13 juta sapi ternak dan perah, 28 juta kambing/domba/kerbau dan 238 juta penduduk Indonesia penghasil biogas yang amat besar
Potensi: 1 juta unit (bak cerna = digester). Tiga ratus unit yang memanfaatkan kotoran sapi dibangun di DME Haurngombong, kec. Pamulihan, Kab. Sumedang, Prov. Jabar. Energi biogas baru dimanfaatkan 40% yang membangkitkan 130 instalasi, sedangkan satu instalasi melayani 3-4 KK. SDAEM Sleman, DIY memanfaatkan kotoran sapi di 7 desa.
Koperasi SAE Pujon (beranggotakan 7000 orang peternak sapi) yang bermitra dengan HIVOS (LSM Belanda), Kab.Malang siap membangun 2000 unit reaktor Biogas Rumah Tangga (BIRU) hingga tahun 2012. Hingga Feb 2013, sekitar 2609 reaktor biogas sudah terbangun di Malang, dan 5100 reaktor biogas di Jatim, sementara target nasional sekitar 8300 unit. HIVOS juga melirik P. Sumba sebagai program EBT masa datang. Pemerintah dan HIVOS juga membidik NTB, Bali (Gianyar, Bangli, Buleleng, Tabanan, Badung, Klungkung), Sulsel, Jabar, Jateng, Jatim, dan DIY untuk mencapai target itu.
Seekor sapi dewasa menghasilkan sekitar 25 kg kotoran/hari. Setiap 20 ekor sapi menghasilkan 20 m3 biogas/hari yang setara dengan energi listrik 12 kWh yang cocok untuk 6 rumah selama 10 jam dengan daya 100-200 Watt/rumah.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, provinsi DIY, memanfaatkan biogas dari limbah ternak dan limbah pabrik tahu dengan membangun bak cerna 136 unit yang dikembangkan sejak tahun 2008. Penduduk Kulon Progo juga telah membangun 200 unit yang tersebar di Kab. Kulon Progo. Daerah yang dikenai Pilot Project adalah Lendah, Temon, Wates, Pengawasih, dan Galur. Tahun 2011 pemerintah memberikan dana Rp.388juta untuk membangun 21 unit bak cerna bagi keluarga miskin yang memiliki sapi dan kerbau. Setiap unit memerlukan dana Rp.18juta untuk 3 KK yang membutuhkan kotoran 3-4 ekor sapi. Daerah lain di Kulon Progo yang juga mengembangkan biogas hingga mencapai 160 unit adalah desa Pendoworejo, dan Girimulyo.

Buah Busuk
Banyak sekali buah dan sayur mayur busuk di pasar tradisional Indonesia yang juga berpotensi untuk dijadikan biogas dan menghasilkan listrik.
UGM bekerjasama dengan pemerintah Swedia mengembangkan teknologi pengelolaan limbah buah busuk menjadi pembangkit listrik biogas di pasar buah Gemah Ripah Gamping, Sleman, DIY. Buah busuk sekitar 4 ton/hari difermentasi dalam 2 bak cerna (D = 8 m dan t = 8 m) yang menghasilkan listrik sekitar 548 kWh/hari untuk 500 KK (termasuk penerangan jalan dan pasar Gemah Ripah) dengan dana 1,6 milyar.
Pemkot Balikpapan berencana membangun PLT Biogas di sekitar pasar-pasar tradisional Balikpapan guna memanfaatkan limbah sayuran dan buah-buahan (sekitar 292-310 ton/hari) sekaligus memenuhi kebutuhan listrik di pasar selain pemanfaatannya sebagai kompos. Pilot project dilakukan di Pasar Pandansari dengan harapan studi kelayakan selesai th 2012. Satu PLT Biogas diduga akan menelan biaya Rp 800 juta termasuk transmisi dan instalasi pada lapak pedagang di pasar. Keberhasilan PLT Biogas di Pandansari akan ditularkan ke pasar Klandasan dan Pasar Induk.

Ampas Tahu
Di Indonesia terdapat 84.000 industri tahu yang menghasilkan limbah cair 20 juta m3/tahun. PTL BPPT (Pusat Teknologi Lingkungan BPPT) membantu mengolah limbah tsb menggunakan Fixed Bed Reactor di desa Kalisari dan Cikembulan, Kab. Banyumas dengan dana Kemenristek. Dari satu m3 limbah menghasilkan 6.500 liter biogas. Sementara, biogas juga dapat diperoleh pula dari ampas tahu. Sekitar 2,4 liter larutan ampas tahu dapat menghasilkan 381,82 liter biogas (via bak-cerna).

Limbah Sawit
PTPN V Pekanbaru mengembangkan pembangkit listrik dengan memanfaatkan limbah cair (PLT Biogas) dan limbah padat (PLT Biomassa) tanaman sawit. Th 2011, dari biogas diperoleh 13,8 MW, dan dari biomassa diperoleh 35,6 MW. Pada th 2012, ditargetkan 14,8 MW dari biogas dan 38,3 MW dari biomassa. Potensi listrik dari pemanfaatan tandan buah segar (TBS) adalah 35,6 MW (2011) dan 38,3 MW (2012).

Limbah Mendong/enceng gondok, dll
Mahasiswa FRI (Tel-U) Bandung memanfaatkan limbah kerajinan mendong (tumbuhan rawa sebagai bahan untuk tikar, tas, dompet, tempat pensil/sampah/tisu/toples, pigura, dll.) menjadi biogas. Sementara, Distamben Kalsel memanfaatkan enceng gondok menjadi biogas dan bioelektrik.

Rumput laut
Susanto, Undip Semarang, memanfaatkan rumput laut Sargassum, Gracilaria dan Padina sebagai penghasil biogas yang masing-masing dengan kadar metan rerata 18,23%, 17,1% dan 14,58%. 

CBM (Coal Bed Methane) (Sweet Gas)

Potensi: 6 terbesar dunia, 453,3 triliun kaki kubik (TCF) (cadangan terbukti 112,47 TCF, potensial 57,60 TCF) (6% cadangan total dunia) tersebar di 11 cekungan, di antaranya adalah 1) high prospective: Sumsel (183TCF), Kalsel (Barito, 101,6), Kaltim (Kutai, 80,4), Sumteng (Riau, 52,5); 2) Medium: Tarakan Utara (17,5), Berau (8,4), Ombilin (0,5), Pasir/Asam-asam (3), dan Jatibarang/Jabar (0,8); 3) Low prospective: Sulawesi (2), dan Bengkulu (3,6). Th 2011 pemerintah memiliki 23 + 13 + 10 + 4 kontrak WK CBM. Tahun 2015, diharapkan mencapai 500juta ft3/hari (500 MMSCPD), 1000 (th 2020), dan 1500 (th 2025). Rig untuk CBM lebih murah dari rig migas biasa, pengeboran hanya sekitar 700-1000m, keluar pertama adalah air, kemudian gas metan. Sekitar 20 Rig CBM (Lemigas+ Balitbang ESDM+UPN) akan dibangun.
Kandungan gas metan dalam CBM adalah 93-97% (ion Cl ~400 ppm, sisanya gas CO2, dll. di-flare).
Operator West Sangatta I, Sekayu, Tanjung Enim, Barito Banjar, dan Sanga-sanga (Kaltim) menghasilkan gas setara energi listrik 15,75 MW.
VICO + PLN mengoperasikan PLT CBM pertama di Indonesia (2 MW), di lapangan Mutiara, Kutai Kartanegara dg investasi sekitar Rp.2 Triliun. Biaya pembangkitannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan PLT rerata di Kaltim (Rp850/kWh) yaitu sekitar Rp1.150/kWh, tetapi masih di bawah solar (Rp2600/kWh).
Pertamina (PHE Metana) mengelola 2 blok di Kalimantan dan 7 blok di Sumatera (misalnya Blok Muara Enim III, Ds.Jiwa Baru, Kec.Lubai, Muara Enim, Sumsel).
Perusahaan lain terlibat CBM: Ephindo, Medco Energy International, Pertamina Hulu Energi (PHE), Energi Mega Persada, dan Bumi Resources.

SHALE GAS

Shale Gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi yang tersembunyi dalam perut bumi, di kedalaman sekitar 2000-2300m. Teknologi pengeluarannya: Horizontal drilling dan hydraulic fracturing. Pertamina yang pertama mengusahakannya dengan menggandeng AS (negara yg lebih dulu berpengalaman di bidang shale gas). Pengusahaan Shale gas (migas non konvensional, MNK) diatur dalam Permen ESDM No.5 tahun 2012. Shale gas dan CBM (distudi 2010-2013) termasuk MNK, selain itu ada Shale oil, tight sand gas (distudi 2014-2016), metana batubara, dan metan hidrat. Th 2017, diharapkan gas-gas tsb dikomersialkan.
Potensi: diperkirakan sekitar 574 TCF (sementara CBM: 453,3 TCF; dan Gas bumi 334,5 TCF). Studi bersama diminta oleh 10 investor bersama 5 Perguruan Tinggi yang ditunjuk pemerintah: ITB, UGM, UPN, Univ. Trisakti, dan Univ. Padjadjaran. Saat ini ia tersedia di 7 cekungan: Sumatera (3) (Baong shale, Telisa shale, dan Gumai shale), P. Jawa (2), Kalimantan (2), dan Papua (1) sebagai Klasafet formation. Ladang pertama shale gas adalah di WK Sumbagut (Sumatera Bagian Utara) yang dioperasikan oleh PT PHE MNK Sumbagut (18,56 TCF) sejak 2011.

GAS HIDRAT METAN

Gas hidrat metan berada di dasar laut yang dikenal sebagai sumber gas alam bawah laut atau sumber bencana alam di laut bila ceroboh menanganinya. BPPT, BGR Jerman, dan JAMSTEC-Jepang mengobservasi bahwa cadangan gas Hidrat Indonesia sekitar 17,7 triliun m3 (amat besar) di perairan Selatan Sumsel, selat Sunda, dan Selatan Jawa Barat (cadangan gas alam Natuna sekitar 1/3-nya), sedangkan di laut Sulawesi sekitar 6,6 triliun m3. Teknologi eksplorasi gas hidrat (yang harus ditangani sangat hati-hati) belum dikuasai Indonesia. Jepang berhasil mengeksplorasi gas hidrat untuk pertama kalinya pada bulan Maret tahun 2013, sehingga diharapkan teknologi tsb akan dikomersialkan tahun 2016.

BATUBARA TERCAIRKAN (Liquefied Coal) 

Kilang batubara tercairkan dengan kapasitas 800.000-1,1juta barrel akan dibangun di Sumsel oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT TBBA) yang bernegosiasi (MoU) dengan South Africa's Sasol Ltd. dengan investasi US$5,2miliar. Perusahaan itu juga bernegosiasi dengan PT Pertamina dan PT TBBA dengan dana US$10miliar guna memproduksi batubara tercairkan sekitar tahun 2015. Tempat kilang lain yang cocok adalah Musi Banyuasin, Sumsel (2,9 miliar ton batubara), dan Berau, Kaltim (3 miliar ton batubara). Sekitar 30.000 ton batubara akan menghasilkan 130.000 barrel minyak/hari.

BATUBARA TERGASKAN (Gasified coal

PLN melakukan ujicoba batubara tergaskan (syngas, Synthetic natural gas) sebagai bahan bakar PLTD (konversi BB diesel ke gas) dengan menggandeng PT Bio Energy Prima Indonesia (via MoU) di PLTD Sorek 250 kW.
PT Sekawan Intipratama Tbk meneken kontrak dengan ProCone GmbH (kontraktor EPC) asal Swiss memulai proyek gasifikasi batubara ke etanol dengan nilai investasi 500-750 juta Euro untuk produksi 0,48-1,35juta ton etanol/tahun (beroperasi akhir th 2016). Tanah seluas 60 Ha telah dibebaskan yang berdekatan dengan batubara (5ribu Ha) di Kutai Barat, Kaltim.

(Bersambung ke bag. 2 / to be continued)