Pages

Thursday, February 26, 2015

1. Kondisi EBT di INDONESIA / Renewable Enery in INDONESIA


Sektor energi di Indonesia mengalami masalah serius, karena laju permintaan energi di dalam negeri melebihi pertumbuhan pasokan energi. Minyak mentah dan BBM sudah diimpor sehingga memaksa bangsa Indonesia mencari sumber energi lain guna mengatasi permintaan energi yang melonjak dari tahun ke tahun.
Energi Baru dan Terbarukan (EBT) terus dikembangkan dan dioptimalkan, dengan mengubah pola fikir (mind-set) bahwa EBT bukan sekedar sebagai energi altenatif dari BB fosil tetapi harus menjadi penyangga pasokan energi nasional dengan porsi EBT >17% pada tahun 2025 (Lampiran II Keppres no.5/2006 tentang Kebijakan Energi nasional) berupa biofuel >5%, panas bumi >5%, EBT lainnya >5%, dan batubara cair >2%, sementara energi lainnya masih tetap dipasok oleh minyak bumi <20%, Gas bumi >30% dan Batubara >33%. Pemerintah berkomitmen mencapai visi 25/30, yaitu pemanfaatan EBT 25% pada tahun 2030 (semula diprediksi 25/25, tetapi dalam prakteknya diduga tidak akan tercapai). Bulan Januari 2012, Sekjen PBB mendorong pemanfaatan energi terbarukan (ET) dunia duakali lipat (dari 15% menjadi 30%) hingga tahun 2030, apalagi negara berkembang saat ini menguasai setidaknya 50% kapasitas global EBT.

Program-program untuk mencapai target hingga 25% EBT adalah listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIDAP), PLTS perkotaan, pengembangan biofuel, dan proyek percepatan pembangkit listrik 10 GW tahap II berbasis ET (panas bumi dan hidro). Untuk mencapai itu, Indonesia membutuhkan dana USD36miliar. Pemerintah akan menambah kapasitas pasokan listrik 35 GW hingga 2019, 24 GW dari PLTU sisanya 11 GW dari EBT. Saat ini EBT hanya menyumbang 10,7 GW dari total 53 GW. Rencana EBT sebesar 11 GW itu berasal dari PLTP 4,9 GW; PLTA 13,4 GW; PLT Bioenergi 2,8 GW; PLTS 0,25 GW; PLT Bayu 0.044 GW, dan PLT Arus laut 1 MW. Seluruh pembangkit secara bertahap akan dinaikkan mulai 2015 hingga 2019. Pemerintah mendukung inovasi pemanfaatan PLTS, misalnya untuk penerangan jalan, dan mendorong pula pemasangan panel surya di atap-atap pusat pertokoan dan mal agar mereka mendapatkan pasokan listrik sendiri.

Upaya penganekaragaman (diversifikasi) sumber energi lainnya selain minyak bumi terus dilakukan, di antaranya pemanfaatan gas, batubara, dan EBT (air/mikrohidro, panas bumi, biomassa, surya, angin, gelombang/arus laut, BB Nabati, nuklir, batu bara tercairkan/liquefied coal, batubara tergaskan/gasified coal, dan gas hidrat). UU no.30 tahun 2007 mengklasifikasikan bahwa Energi Baru (EB) terdiri atas nuklir, hidrogen, gas metana batubara (CBM, Coal Bed Methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Sementara, ET terdiri atas panas bumi, angin/bayu, bioenergi, sinar matahari/surya, aliran dan terjunan air, dan gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.

CSR PLN: PLTMH Watu Panjang
PT PLN mengembangkan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang berkelanjutan, berupa pengembangan DME (Rp30miliar, 2012) guna membidik daerah terpencil yang belum terlistriki dengan menggunakan infrastruktur yang ada di sekitarnya sebagai pembangkit energi, misalnya PLTMH (mis: Watu panjang 25 kWh/63KK, Probolinggo, Jatim) / PLTS (mis: PLTS SEHEN / Super Ekstra Hemat Energi, di Sota, Merauke, Papua) / PLT Bayu / PLT Sampah / PLT Biomassa, biogas, dll. Pengembangan DME diharapkan mencukupi listrik masyarakat terpencil, dan pada gilirannya juga berdampak positif kepada PLN sendiri maupun para stakeholder yang terkait. Salah satu contoh bantuan CSR : PT PLN (Persero) Kantor Pusat memberikan mandat kepada PT PJB (anak perusahaan PLN) untuk mengembangkan DME di dekat lokasi proyek misalnya Sumberejo, Pasuruan, (2 unit, 2x850 W), Bondowoso (10 unit, 10x850W), Trenggalek (4 unit), Tulungagung (2 unit), Jabung (Malang), Bergas Kidul (Ungaran), Kalongan dan Karang Sulang (Semarang), Pilang Payung (Grobogan), Karang Mukti (Subang), Karyamukti dan Lebakwangi (Bandung), Rajagaluh (Majalengka), Parung Banteng dan Cadassari (Purwakarta), Pasanggrahan (Garut), Purworejo (10 unit), Brebes (10 unit), Pandesari (Malang, Ciherang (Cianjur), Cipendeuy (Bandung Barat), Agrabinta (Garut). PLN NTB: mengembangkan PLTS di 9 dusun tersebar di Kab. Lombok Utara, Tengah, Barat, Timur, Kab Bima, dan Kab. Dompu. Sementara, Menteri Desa,PDT&T mendorong BUMN lainnya dan pengusaha swasta untuk terus mengembangkan DME di daerah terpencil via CSR.

Tahun 2015, hanya 5.000 desa terpencil, tertinggal, dan di perbatasan menjadi target DME sebagai sasaran CSR (dari ~10ribu desa terpencil; total ada 74.045 desa di Indonesia per 10 Des 2014), sedangkan kesejahteraan desa ditingkatkan dengan salah satunya membangun BUMDes seperti yang telah dicapai desa Gumung Kidul, DIY. Kampung Waitabar, Sumba Barat, NTT dipilih menjadi DME percontohan oleh Men Desa PDT&T. Sebelumnya, telah hadir PLTMH & PLTS di Sumba (PLTMH: Kamanggih 1x40kW, Lapopu 2x800kW, Lokomboro 2,3MW, dan Laputi 32 kW; PLTS: Salura 1x150kW, dan Bilachenge 480 kWp).

Tahun 2012-2014, pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) ditekankan kepada pengembangan biogas untuk memasak dan penerangan. Tahun 2011, Pemerintah mengembangkan 35 DME berbasis non BBN, yaitu PLTMH 10 lokasi (5 di Sumatera, 2 di Jawa, 3 di Kalimantan 4 di Sulawesi, 2 di Nusa Tenggara, 1 di Maluku dan Papua), arus laut 1 lokasi, Hibrid 1 lokasi, peralatan produksi (sisa energi listrik dari EBT) 10 lokasi. Tahun 2010, DME dikembangkan di 15 wilayah di Indonesia, 9 di luar P. Jawa  dan 6 di P. jawa. Th 2009, program DME mencapai 633 desa, dengan rincian Tenaga Air 244 desa, BB Nabati 237 desa, Tenaga Surya 125 desa, Biogas 14 desa, Tenaga Angin 12 desa, Biomassa 1 desa.

 Di lain fihak, PT Pertamina (Persero) berkomitmen mengembangkan 5 jenis EBT, yaitu geothermal (panas bumi), Coal Bed Methane (CBM), Shale Gas, Alga, dan Angin (Bayu). Untuk itu, Pertamina meneken MoU dengan Akuo Energy (IPP, Paris, Perancis) yang difokuskan kepada pengembangan PLTBayu, PV Surya, dan OTEC di lokasi terpencil. Sasaran dalam waktu dekat, kerma itu akan menetapkan 3 pulau untuk lokasi PLTS 5MW pada tahun 2016. PLTBayu 60 MW akan dikembangkan pada tahun 2017. Kemudian, PLTS, PLTB dan OTEC akan dikembangkan hingga 560 MW pada tahun 2018.

Beberapa pengusaha asing tertarik untuk berpartisipasi dalam pengembangan EBT di Indonesia, misalnya Australia yang berpengalaman di bidang infrastruktur energi di bidang panas bumi, solar, alga, mikrohidro, biomassa untuk pembangkit listrik tertarik untuk mengembangkan EBT di Indonesia. Austria menawarkan kerjasama membangun PLTA. Jerman, Perancis (tanam US$10miliar), Amerika Serikat, dan Selandia Baru ingin bekerjasama di bidang panas bumi (geothermal). Selandia Baru telah meneken kerjasama dengan RI (April 2012) guna membangun PLTP 4 GW th 2015. Chevron Co. (produsen gas terbesar kedua th 2011 sesudah ExxonMobil Indonesia) juga tertarik berinvestasi di bidang panas bumi dan energi laut dalam. Turki tertarik pula untuk mengembangkan energi geothermal di wilayah Palembang/Sumsel, Argo Puro/Jatim, dan Pidie/Aceh. Di sisi lain, Amerika Serikat yang diwakili oleh Exxon dan General Electric akan membantu di sektor efisiensi energi, salah satunya adalah mengembangkan turbin dan Pembangkit Listrik skala kecil berbasis EBT di pulau-pulau terluar dan di daerah nelayan. Kanada (Biotermika Technology) tertarik menginvestasikan dananya di bidang sampah kota di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, dan Jakarta guna membangun pembangkit listrik dari sampah. Selain itu, Kanada juga tertarik di bidang PLTU (Brookfield Power and Utilities), PLTMH (Esensi Lavalin), dan PLTS (Expert Development of Canada, dan Senjaya Surya Pro). Sementara, Singapura tertarik mendirikan industri pupuk dari sampah TPA di Desa Ngembalrejo, Kec. Bae, Kudus, sedangkan Jepang dan Korea Selatan tertarik mendirikan industri pupuk dan pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar / solar / premium dari sampah kota di TPA Palembang, Sumsel. Brunei Darussalam tertarik untuk mengembangkan industri pengolahan sorgum untuk bahan makanan dan bioetanol di Soloraya. China dan KorSel tertarik untuk mengembangkan PLTA. Finlandia mengajukan kerjasama dengan menghibahkan 4 juta Euro di bidang PLT biomassa di Prop. Kalteng dan Riau, dan KorSel juga bekerjasama di bidang PLT biomassa di Gorontalo. Jepang (NEDO) tertarik membangun pabrik bioetanol dari tetes di Mojokerto, Jatim. Rusia dan Australia tertarik mengembangkan PLT biomassa (jerami+sekam padi) di Sergai, Sumut, sedangkan China tertarik menggunakan limbah cangkang kelapa sawit. Rusia juga tertarik mengembangkan EBT lainnya termasuk nuklir & batubara. Estonia tertarik mengembangkan pasir minyak dan biomassa. Denmark mendukung program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia dengan memberikan dana US$10juta untuk program 4 tahun.

Indonesia memberlakukan regulasi dengan memberikan insentif pajak kepada perusahaan pengembang EBT dengan tetap melibatkan fihak lokal terutama pembangunan pembangkit berkapasitas di bawah 10 MW. Sistem FiT, feed-in-tariff, kebijakan fiskal, insentif pada pendanaan, insentif dukungan pasar, dan pemudahan perizinan, diterapkan guna mendorong implementasi EBT secara komersial dan peningkatan akses kepada masyarakat. Di sisi lain, Bank Indonesia membentuk green banking guna memberikan insentif kepada bank yang mau mendanai pengembangan EBT.

Guna mendorong investor DN atau LN, pemerintah via Permen ESDM no 27 th 2014 menaikkan pembelian tenaga listrik dari PLTBm (Biomassa) dan PLTBg (Biogas) oleh PT PLN (Persero) yang kapasitasnya hingga 10 MW untuk merevisi Permen ESDM No.04 th 2012. Harga jual listrik PLTBm (FiT 2014) untuk Vmenengah: Rp1.150/kWh (sebelumnya Rp.656/kWh); Vrendah: Rp.1.500/kWh (sebelumnya Rp.1.004/kWh); FiT (2014) untuk PLTBg: Vmenengah: Rp 1.050/kWh (sebelumnya Rp.975/kWh); Vrendah: Rp.1.400/kWh (sebelumnya Rp.1.325/kWh). Sementara, pembelian tenaga listrik dari PLTA oleh PLN s.d. 10 MW dapat dilihat pada Permen ESDM No. 12 th 2014.

 Keragaman sumber EBT di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

AIR (PLTA) 

(Large-hydro: >100MW; Medium-hydro: 10-100MW; Small-hydro (PLTM): 1-10 MW)

Di seluruh Indonesia, potensi PLTA skala besar dan kecil sekitar 75.670 MW (75,7 GW, tersebar pada 1249 lokasi) (menurut studi th 1983). Data Kementerian ESDM menyebutkan bahwa potensi PLTA itu di Sumatera sekitar 15,6 GW (20,8%), Jawa 4,2 GW (5,6%), Kalimantan 21,6 GW (28,8%), Sulawesi 10,2 GW (13,6%), Bali, NTT, NTB sekitar 620 MW (0,8 %), Maluku 430 MW (0,6 %), dan Papua 22,35 GW (29,8 %).

Kemudian th 2011 Pemerintah dan PT PLN menyusun Hydro Power Master Plan yang merekomendasikan bahwa pengembangan PLTA total yang dinilai layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan hingga 2027 adalah sebesar 12.893,9MW, pada 89 lokasi saja, yaitu Sumatera 4.408,4 MW, Jawa 4.594,5 MW, kalimantan 431 MW, Sulawesi 3239,6 MW, NTT 15 MW, Maluku 156,4 MW, dan Papua & Papua Barat 49 MW. Di sisi lain, PLTA yang sudah dibangun dan dapat dimanfaatkan hingga th 2014 adalah 5.941 MW atau 7,85% saja (PLTA 5.711 MW, PLTMH 230 MW) dan Dirjen EBTKE menargetkan 9.700 MW pada tahun 2015 melalui skema percepatan

Bila anda tertarik ingin ikut terlibat dalam pengembangan PLTA, maka Permen ESDM no 3/2015 memberikan harga patokan pembelian tenaga listrik (cent USD/kWh) dari PLTA oleh PLN (via pemilihan & penunjukan langsung) untuk Availability Factor (AF) 60% dan masa kontrak 30 tahun  adalah sbb: 9,00 (>10 - <50 MW), 8,50 (50-100 MW), dan 8,00 (>100 MW).

PLTA skala besar dan kecil yang sudah beroperasi di antaranya adalah:
Waduk & PLTA Jatiluhur
Sumut: Asahan-1 (180 / 2x90 MW), Sigura-gura/Asahan-2 (286 / 4x71,5 MW), Tangga (223 / 4x55,75 MW), Lau Renun (82 / 2x41 MW), Sipansihaporas (50 / 33+17 MW), SumbarManinjau (68 / 4x17 MW), Singkarak (175 / 4x43,75 MW), Batang Agam (3x3,5 MW); Bengkulu: Tes (16 / 4x4 MW), Musi (210 / 3x70 MW); Riau: Koto Panjang (114 / 3x38 MW), Talang Lembu (2x16 MW); Lampung: Way Besai (92,8 / 2x46,4 MW), Batutegi (28 / 2x14 MW); Jabar: Ubrug/Cibadak (27,9 / 2x10,8+6,3 MW) (saat ini mati, bendungan jebol), Bengkok (10,15 / 3x3,15+0,7 MW), Cikalong (19,2 / 3x3,64 MW), Cirata (1000 / 8x126 MW), Saguling (700 / 4x178 MW), Jatiluhur (187 MW); Lamajan (19,2 / 3x6,4 MW), Parakan Kondang (9,92 / 4x2,48 MW); Jateng: Sudirman (Mrica) (3x61,5 MW), Jelok (4x5 MW), Timo (3x4 MW), Wonogiri (2x6 MW), Garung (2x6 MW), Sempor (1x1 MW), Ketenger-1 dan Ketenger-2 (2x3,5 MW), Ketenger-3 (1x1 MW), Wadaslintang (2x9 MW), Kedung Ombo (1x22,5 MW), Klambu (1x1,17 MW), Pejengkolan (1x1,4 MW), Sidorejo (1x1,4 MW), Gajah Mungkur (12,4 MW), Jatim: UP Brantas (281 MW): terdiri atas 12 unit PLTA, yaitu [Sengguruh (29 / 2x14,5 MW), Mendalan (23,2 / 4x5,8 MW), Siman (10,8 / 3x3,6 MW), Selorejo (1x4,48 MW), Giringan (3,2 / 2x1,35 + 1x0,5 MW), Golang (2,7 MW), Ngebel (2,2 MW), Wlingi (54 / 2x27 MW), Lodoyo (1x4,5 MW), Tulung Agung (2x23 MW), Wonorejo (6,3 MW), Karangkates/Sutami (105 / 3x35 MW)], Tulis (2x7 MW); Kalsel:  Riam kanan (30/3x10 MW); Sulut: Tonsea Lama (14,38 / 1x4,44 + 1x4,5 + 1x5,44 MW), Tanggari-1 (1x17,2 MW), Tanggari-2 (1x19 MW); Sulsel: Balambano (110 / 2x55 MW), Larona (165 / 3x55 MW), Karebbe (90 / 2x45 MW), Bakaru (126 / 2x63 MW); Sulteng: Sulewana-Poso I (160 / 4x40 MW), Sulewana-Poso II (180 / 3x60 MW), Sulewana-Poso III (400 / 5x80 MW).

Status PLTA yang sedang/akan dibangun di Indonesia (Maret 2014, & Jan 2015):

Sumatera

Rencana PLTA di masa depan: Sumatera Utara (763 MW). 
  • PLTA Redelong (3x6 MW) (2019); PLTM Kerpap (2MW) (2017); PLTM Kr Isep (2x5 MW) (2017); PLTM Subulussalam (7 MW) (2017) ; PLTM Lawe Gurah (5 MW) (2017); PLTM Lawe Sikap (7 MW) (2017); PLTM Lawe Mamas (7 MW) (2017); PLTM Bidin (2x3,3 MW) (2017); PLTM Tembolon (3,1 MW) (2017); PLTM Ketol (3x3,3 MW); PLTM Lumut (2x5 MW) (2018); NAD.
  • PLTA Peusangan 89 MW (Peusangan-1 (2x22,5 MW), dan Peusangan-2 (2x22,5 MW), Takengon, dibangun oleh PLN yang pekerjaan sipilnya dikerjakan oleh Hyundai + PT PP Tbk, pek. metal oleh Wika Amarta, pek. jaringan transmissi 150 KV & gardu induk oleh PT Balfour Beatty Sakti + PT Karunia Berca dengan nilai investasi Rp.3 triliun. Energi listrik Peusangan akan dialirkan ke Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Sumut & Aceh via GI (Gardu Induk) Takengon dan GI Bireun. Pinjaman berasal dari JICA Rp.2,6 triliun dan diharapkan selesai pada tahun 2017. Peusangan-4 (400 MW), NAD.
  • Provinsi Sumatra Utara yang berpotensi PLTM luar biasa, yaitu lebih dari 800 MW (>110 PLTM) akan dijadikan Kiblat PLTM di Indonesia. Gardu penghubung dibangun di 9 lokasi. PLTM itu di antaranya adalah Parlilitan (7,5 MW), Silau II (7,5 MW), Parluasan (4,2 MW), Hutaraja (5 MW), Pakkat (10 MW), Lau Gunung (10 MW), Sisira Simandame (4,6 MW), Simonggo Tornauli (8 MW), dan Tomuan (8 MW). Lstrik dari PLTM tersebut akan dibeli oleh PLN. PLTM beroperasi di Sumut hanya 3, yaitu Parlilitan (7,5 MW), Silau II (7,5 MW), dan Hutaraja (5 MW). Sementara, 10 unit (86,2MW) dalam tahap konstruksi, 15 unit (149,7MW) dalam tahap janji beli listrik via PPA, 19 unit (150,5MW) dalam proses PPA, 64 unit (494,4 MW) dalam tahap pengajuan proposal. Masalah terbesar: perijinan.
  • PLTA Sidikalang-1 (15 MW) (2019); PLTA Hasang (40 MW), Sumut (FTP-2), 2019.
  • PLTA Wampu 45 MW di sekitar Danau Toba, (Sumut) dibangun oleh PLN dan Konsorsium (Kepco) Daewoo dengan dana investasi Rp.2,5 triliun, dan skema IPP (Independent Power Producer).
  • PLTA Asahan-3 (174 / 2x87 MW) (Rp.2,3 triliun) (Sumut) belum dibangun, dan molor ke th 2019, terganjal kasus korupsi hutan lindung (FTP-2).
  • PLTA Simonggo-2 (86 MW), Sumut.
  • PLTA Batang Toru 510 MW, (Tapanuli Selatan), th 2022. 
  • PLTA Masang-2 (55 MW), Sumut.
  • PLTA Deli Serdang 16 MW di Deli Serdang, Sumut berencana dibangun oleh Daecheong Construction Co Ltd. dengan menggandeng Perusahaan Daerah (BUMD) yang memanfaatkan sungai Lau Simeme, dengan dana investasi US$150juta. 
  • PLTA Inalum 2x300 MW dibangun oleh PT Inalum (sudah menjadi BUMN)  dengan dana USD700juta, dan kemungkinan beroperasi th 2019 guna memproduksi 500ribu ton aluminium ingot.
  • PLTA Kumbih-4, Medan, dana dari Jerman.
  • PLTM Tersebar Sumut (161,7 MW) (2017).
  • PLTM Tersebar Sumbar (31 MW) (2017).
  • PLTA Simpang Aur (23 MW), Bengkulu (FTP-2). 
  • PLTA Ketahun-3 (61 MW), Bengkulu.
  • PLTA Merangin (350 MW), Kerinci, Jambi, selesai sekitar tahun 2021. PLN meneken MoU dengan pembangun dan operator Merangin, PT Kerinci Merangin Hidro (PT KMH) guna membeli listriknya.
  • PLTA Kerinci (2x180 MW), Jambi, th 2017. 
  • PLTA Semangka (56 MW), Lampung, (FTP-2) dana dari Perancis.
Jawa
 PLTA Upper Cisokan Pumped Storage
PLTA Upper Cisokan PS (1.040 / 4 x 260 MW), 150 km Tenggara Jakarta (S.Citarum) memasuki tahap konstruksi, dan akan beroperasi 2018 dengan investasi US$638 juta dari Bank Dunia, pemerintah pusat US$20, dan PLN US$107juta. PLTA ini menggunakan sistem PS (pumped storage) pertama di Indonesia. Lahan tergenang mencapai 805Ha, yaitu 3 desa di Kec. Rongga terendam (Bojongsalam, Sukaresmi, dan Cicadas), sedangkan di Kab. Cianjur meliputi Kec.Cibeber dan Kec.Bojongpicung. PLTA ini direncanakan hanya bergerak di malam hari saja, guna mengatasi beban puncak Jawa-bali. Bendungan I (upper reservoir) 10,5 km2 (kecil), bendungan II (lower reservoir) luasnya 355 km2 (besar), beda tinggi 200m. Siang hari, ada 2.000 MW/hari arus listrik menganggur, maka listrik tsb (asal PLTU/batubara Indramayu dan Labuhan) digunakan untuk memompa air dari II (S. Cisokan) ke I (S. Cirumanis). Sementara, malam hari (5-10 malam), air dari I diglontorkan ke II via 4 turbin (4x260MW).
  • PLTA Jatigede (110 / 2x55 MW) (memanfaatkan waduk Jatigede, membendung S. Cimanuk) di Ds. Cijeunjing, Kec. Tomo & Jatigede, Sumedang, Jabar, masih tahap lelang desain, konstruksi th 2016, rampung sekitar 2019 dengan investasi US$239,573juta, (BUMN China US$144,067juta sisanya APBN), Kontraktor DN: PT WIKA, PT Waskita Karya, dan PT PP; LN: Sinohydro (China). Problem: protes penggenangan desa (11.469 KK direlokasi) (guna pengendalian banjir di Cirebon dan Indramayu). Total lahan: 4.983 Ha (termasuk lahan warga).
  • PLTA Rajamandala 1x47 MW di sungai Citarum, Kec. Haurwangi, Cianjur, Jabar. PLN menggandeng PT REP (US$150 jutafull Turnkey, BOOT). PLN membeli listriknya sebesar US$8,66 sen/kWh, selama 30 tahun yang akan beroperasi pada tahun 2017. Hyundai Engineering + Hyundai Amco meneken kontrak kerma USD91,3juta dengan REP untuk membangun PLTA Rajamandala.
  • PLTA Matenggeng PS (900 / 4x225 MW, Rp.5,9 triliun) Kec. Dayeuhluhur, Kab. Cilacap didanai oleh Bank Dunia. Groundbreaking (pemancangan tiang pertama) dijadwalkan akhir 2018, dan diharapkan beroperasi th 2022. Tahun 2015 pembebasan lahan dimulai. Listrik dibeli PLN.
  • PLTA Sutami, Malang (+2x50MW), dan PLTA Lodoyo, Blitar (+1x9MW), Jatim dioptimalkan (th 2015), dan PLTA Kesamben/Blitar (2x18MW) (baru) dibangun oleh PJB (PT Pembangkit Jawa Bali).
  • Rencana: PLTA Grindulu PS (1.040 / 4x260 MW), Tegalombo, Pacitan, Jatim, COD 2021.
  • PLTM Tersebar Jawa-Bali (192 MW) (2017-2019).
    NTB
    Potensi lokasi PLTM NTB: Lombok 3 lokasi (Sungai Muntur 2,8 MW, Sungai Kokok Putih 4,2 MW, Sungai Pekatan 5,3 MW), Lombok Utara 10, Lombok Barat 15, Lombok Tengah 17, Lombok Timur 16, Sumbawa 17 lokasi (Sungai Brang Rhee 16 MW, Sungai Bintang bano 40 MW, Sungai Brang Beh 103,5 MW), Sumbawa Barat 9 lokasi, Dompu 9 lokasi, dan Bima 5 lokasi.

    PLTM Tersebar NTB (18,7 MW) (2018-2019).
    Potensi hidro di Sumbawa, NTB sekitar 67,5 MW. Oleh karena itu, PT PLN akan membangun 11 PLTM, yaitu,
    • PLTM Brang  Beh I (1,8 MW)
    • PLTM Brang Beh II (4,1 MW)
    • PLTM Banggo, Sumpee,  Beh III, Rea I, Rea II, Bintang Bano, Rhee I, Rhee II, dan Belo. 
    NTT
    • PLTM Tersebar NTT (2,6 MW)  (2017). 
    • PLTM Kudungawa (2 MW).
    Kalimantan 
    • PLTA Kusan (65 MW), Kalsel, 2022.
    • PLTA Nanga Pinoh (98 MW), Kalbar, 2022.
    • PLTA Kelai (55 MW), Kaltim, 2022
    • PLTA Peso (3300 / 5x660 MWe), Bulungan, Kaltim, mulai dibangun oleh PT KHE (Kayan Hydro Energy) dengan investasi total USD20miliar (5 tahap) selama 10 tahun. Tahap I dimulai th 2014, diduga selesai 6-7 tahun.
    • PLTM Tersebar Kalbar (15,2 MW) (2018-2019)
    • Rencana: PLTA Besahan (Kayan-3); PLTA Long Sempajang 1.000 MW (Kaltara).
    Sulawesi
    • PLTM Tersebar Sulut (9 MW) (2017-2019).
    • PLTM Tersebar Gorontalo (5 MW) (2017).
    • PLTM Tersebar Sulteng (36 MW) (2017-2019).
    • PLTM Tersebar Sultra 1 MW (2019)
    • PLTM Tersebar Sulsel (60 MW) (2017-2019).
    • PLTA Bonto Batu (110 MW), Sulsel, 2019 (FTP-2).
    • PLTA Bakaru-2 (126 MW), Sulsel, 2020. Dana dari Bank Dunia.
    • PLTA Poko (234 MW), Sulsel, 2020/2021. Dana dari bank Dunia.
    • PLTA Malea (90 MW), Sulsel, 2020. PLTA Malea 15 MW, (Rp. 300 miliar) Kec. Makale Selatan, Tana Toraja, beroperasi Agustus 2011. PT Malea Energi menambah daya hingga sekitar 90 MW dengan masa kontrak 4 tahun dan dana Rp. 3 triliun, diharapkan selesai 2020.
    • PLTA Sawangan (12 MW), Sulut, 2019.
    • PLTA Watunohu-1 (20 MW), Sultra, 2021.
    • PLTA Konawe (50 MW), Sultra, 2021.
    • PLTA Poso-2 (130 MW), Sultra, 2021/2022.
    • PLTA Karama (450 MW, Unsolicited 150 MW, baseload unsolicited 300 MW), Sulbar, 2020/2021. Investor China (PT CMH / China Mikro Hidro) membangun 2 unit bendungan di lokasi PLTA di Desa Karama, Kec. Kalumpang, Kab. Mamuju, Sulbar, dengan kapasitas total sekitar 1.800 MW dan biaya sekitar US$4,5 miliar (Rp. 7 triliun) selama 3 tahun. Sementara, sungai Karama yang melewati Kec. Bonehau memberikan kontribusi PLTA berkapasitas (600 MW) dan relokasi 9000 warga Bonehau tak terhindarkan.
    • PLTA Tontonan 1(00 MW), Enrekang dibangun oleh PT TEI (Topnich Energy Indonesia, asal China) berpatungan dengan PT Sulawesi Hydro Power (asal Norwegia) dengan nilai investasi Rp.5 triliun yang pembangunannya dimulai Juni 2011. 
    • PLTA Tangka Manipi (10 MW) dioeprasikan oleh PT Sulawesi Hydro Power dengan nilai investasi Rp.280 miliar untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Gowa dan Sinjai.
    Maluku
    • PLTM Tersebar  Maluku (34 MW) (2018-2019).
    • PLTA Wai Tala-1 (13,5 MW), Kec. Kairatu; PLTA Wai Tala-2 (54 MW), 2018.
    • PLTM tersebar Maluku Utara  (4,5 MW) Malut.
    • PLTM tersebar Maluku  (18,5 MW), Maluku, Wai Isal-3 (4 MW), Nua (Masohi) (6 MW), Way Isal (6 MW) Seram Utara, Maluku Tengah (potensi 60 MW);
    • PLTA Wai Mala (25 MW).
    Papua
    • PLTM Tersebar Papua Barat 10 MW (2017-2018).
    • PLTM Tersebar Papua (15,2 MW) (2017-2018).
    • PLTA Warsamson (47 MW), Papua Barat, 2018. 
    • PLTA Ora (2x10 MW) Kab. Jayapura, Papua; PLTA Orya-1 (10 MW) beroperasi Jan 2015 untuk wilayah Genyem dan Grimenawa. Orya-2 (10 MW) sedang dikerjakan.
    • PLTA Baliem (50 MW) (S. Baliem) dibangun oleh PLN; PLTA Baliem-1 (10 MW) dan Baliem-2 (40 MW) sedang dikerjakan yang diharapkan beroperasi th 2017. Sungai Baliem berpotensi setidaknya 7 PLTA di masa depan (800 MW, dengan perkiraan dana sekitar Rp.5triliun).
    • Rencana: PLTA Supiori 15 MW dan PLTA Urumuka (300 MW).
    • PLTA Urumuka (300-350 MW) (2010) diharapkan dibangun oleh Pemprov Papua. Proyek senilai Rp 14 triliun tsb direncanakan selesai 3-4 tahun. Akan tetapi, PLN tidak dilibatkan, dan masyarakat sekitar menolak proyek tersebut. Proyek PLTA Urumuka & PLTA Mamberamo ternyata belakangan (2014) diduga fiktif, dan ada kasus korupsi DED (APBN 2009/2010) (Detail Engineering Design). Dana Rp.29,5M dan Rp.26,3M telah dikeluarkan.
    • PLTM Kalibumi-2 (5 MW).
    • PLTM Kalibumi-3 Cascade (5 MW).
    • PLTM Mariarotu-2 (1,3 MW)
    • PLTM Tatui (4 MW), Serui, Papua, didanai oleh pinjaman ADB (Proyek PLN).
    • PLTM Amai (1,4 MW), Jayapura, Papua,didanai oleh pinjaman ADB (Proyek PLN) .
    Rencana PLTA di masa depan: PLTA di Papua (S. Memberamo berpotensi menggerakkan PLTA 10.000 MW, dan sungai lainnya via PLTM tersebar 2.000MW).
    Percepatan sumber daya air
    PLTA (5 GWe) akan dibangun di 12 waduk pilihan dari 261 waduk di Indonesia dengan nilai investasi Rp.100 triliun (2-3jutaUS$/MW). Studi kelayakan pembangunan PLTA itu akan menelan dana Rp.36-60miliar. Baru 22 waduk memiliki PLTA, dan Indonesia perlu 460 waduk lagi seukuran waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jabar.

    Bendungan untuk tandon air dan irigasi: 
    Bendungan/waduk Pandan Duri 340 Ha (Rp.728 miliar), Ds.Suwangi, Kec.Sakra, Kab. Lombok Timur, NTB selesai dibangun dengan sumber air dari sungai Palung. Dusun yang terendam: Embung Raja, Gunung Sager, Kelagaq, dll.

    Waduk
     Waduk yang akan dibangun sebanyak 49 (dari tahun 2015-selesai):
    Waduk Bajul Mati, Banyuwangi, Jatim
    • NAD: Krueng Keureuto (Rp.1,68Triliun, 2015), Jambo Aye; Perbaikan waduk Tiro (Rp.748Miliar, 2015), Rukoh (Rp.410Miliar, 2015).
    • Sumatera: Lausimeme (Sumut); Lompatan Harimau (Riau); Estuari Sei Gong, Dompak, Busung (Kepri), Sukoharjo, Segalaminder, Way Sekampung, Sukaraja III (Lampung);
    • Jawa: Karian (Rp.1,68Triliun, 2015, Lebak); Sindangheula, Pamarayan (Banten); Ciawi, Sukamahi, Cipanas, Leuwikeris, Sadawarna, Santosa, Sukahurip (Jabar); Logung (Rp.620Miliar, 2015, Kudus), Jlantah, Matenggeng (Jateng); Bener, Karangtalun (DIY); Semantok, Bagong, Lesti, Wonodadi (Jatim); Telagawaja (Bali); 
    • NTB: Bintang Bano, Tanju, Mila, Mujur;
    • NTT: Raknamo (Rp.710miliar, 2015, luas 147 Ha, (Kupang); Kolhua, (Kupang); Roti Klot (Kab.Belu), Temef, Jawakisa (usulan Gubernur) (TTS, Timor Tengah Selatan), Napunggete (Kab.Sikka); Aesesa (Kab.Nagekeo), Manggarai;
    • Kalimantan: Tapin (Kalsel); Sepaku Semoi, Marangkayu, Teritip Kaltim);
    • Sulawesi: Lolak (Rp.850Miliar, 2015), Kuwil (Sulut); Karaloe, Paseloreng, Pamakulu, Jenelata, Nipa-nipa (Sulsel); Lasongi (Sultra)
    Baru dibangun (2014): 
    • Pandan Duri (98%, Lombok Timur, NTT); 
    • Titab (Busung Biu, Buleleng, Bali); ada masalah Pembebasan lahan, Groundbreaking awal 2015.
    • Bajul Mati (40%, Banyuwangi-Situbondo, 115 Ha, 2015);
    • Nipah (masalah pembebasan Lahan, Desa Montor, Sampang, Madura, Jatim). 
    Sudah dibangun (2013): 
    • Jati Gede (Sumedang, Jabar); masalah: banyak pohon yang harus ditebang & ada situs sejarah di lokasi; Diresmikan Juli 2015.
    • Jatibarang (Ds. Talun Kacang, Kel. Kandri, Kec. Gunungpati, Semarang), sudah beroperasi.
    • Paya Seunara (Suka Karya, Sabang, NAD); belum diisi air, ada masalah pembebasan lahan.
    • Diponegoro (Tembalang, dekat UNDIP), berfungsi dengan baik
    • Gonggang (Poncol, Magetan, Jatim) kemarau lalu, waduk mengering.
    • Rajui (Padang Tijie, Pidie, NAD); sistem pengairan ke persawahan bermasalah; tanaman palawija ditanam penduduk di bagian atas waduk;
    • Marangkayu (Kukar) menyisakan persoalan pembebasan lahan.
    PU (2014) berencana memanfaatkan 200 waduk untuk pengairan sawah dengan memasang turbin baru menjadi PLTA agar dapat menghasilkan listrik.


    AIR (PLTMH)

    (Mini Hidro: 100-1000 kW; Mikro Hidro: 5-100 kW; Piko Hidro: ratusan Watt-5 kW)

    Potensi: 230.913 MW (231 GW) (th 2006). Tahun 2014, kapasitas terpasang hanya 75 MW.

    Dalam RIPEBAT (Rencana Induk Pengembangan EBT) 2010-2025, enam provinsi memiliki potensi PLTMH seperti 1) Papua (ada 52 sungai berpotensi maksimal hingga 15,6 GW, di antaranya adalah sungai Memberamo/10 GW; Derewo, Ballem, Tuuga / 1,6 GW; Wiriagar / Sun, Kamundan, Digul / 1,5GW; Yuliana / 2,3 GW; Lorentz / 232 MW, dan Kladuk); 2) Kaltim: S.Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung dan Kelai (total 6.743MW); 3) Sulsel; 4) Kalbar; 5) Sumut; dan 6) Aceh.

    PLTMH Selen Aik 25 kW, Lombar
    Pemanfaatan PLTMH dapat menghemat BBM dan CER sangat besar. PT Indonesia Power meyakinkan, bahwa Produksi listrik PLTMH Cileunca berkapasitas 1 (2x0,5) MW (menelan biaya Rp.13 milyar), desa Warnasari, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, dapat menghemat Rp. 10 milyar setahun. Bila seluruh PLTMH dapat mencapai kapasitas 500 MW, penghematan biaya sekitar Rp.4,27 triliun dan keuntungan dari CER US$ 6 juta, serta ada pemasukan kas desa (PADES, Pendapatan Asli Desa) Rp.2 triliun per tahun. Sistem Off-Grid disarankan untuk digunakan di desa, yaitu sistem pemeliharaan alat/jaringan listrik dan tagihan listrik dikelola oleh masyarakat / koperasi desa sendiri, agar kemandirian dan pertumbuhan desa dapat terwujud.

    PTPSE (Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi) BPPT berhasil mendaftarkan rintisan CDM (Clean Development Management) PLTMH dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) untuk PLTMH di desa Rantabella, Kec. Lotimojong, Kab. Lawu, Sulawesi Selatan.

    Bila jaringan PLN sudah masuk desa, desa dapat menjual listriknya ke PLN (kalau harga yang ditawarkan PLN sesuai, dengan melalui proses panjang dan melelahkan). Contoh: PLTMH Curug Agung yang dibangun th 1991, th 1995 berkompetisi dulu dengan PLN ketika jaringan listrik PLN masuk desa. Akhirnya th 2000, produk listriknya masuk ke jaringan PLN. Sementara, PLTMH Cinta-mekar 10kW, Subang, Jawa Barat, menjual seluruh produk listriknya ke PLN. PLTMH Kombongan 85 kW, Garut juga masuk jaringan listrik nasional.

    PLTMH yang berencana / sedang dibangun adalah:

    Sumatera
    • PLTMH Mangani (1.200 kW), Sumbar, Dikembangkan oleh IPP.
    • PLTMH di Sumbar dibiayai oleh konsorsium Malaysia, khususnya di Kab. Solok (Lembah Gumanti) via MoU dengan PT PLN sejak awal 2006. Listrik dari PLTMH tersebut dibeli oleh PT PLN. Potensi PLTMH di Solok adalah Pinang Awam (462 kW), Koto Anau (167 kW), Sumani (625 kW), Balangir (500 kW), Leter W (7.500 kW), Pintu Kayu (4.000 kW), Liki (2.000 kW), Sangir I (10.000 kW), Sangir II (7.658 kW), Liki Solok (60 kW), Jawi-Jawi (60 kW), dan Lubuk Gadang (103 kW). selain itu, PT Hutama Karya juga menanam modal untuk PLTMH (2x4 MW) di Sumbar.
    • PLTMH (2x10 MW, USD1,5-2juta/MW, total USD40juta) di Lampung dibangun oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).
    • PLTMH Sei Wampu, Sumut, dikembangkan oleh PT Aek Simonggo dengan dana berasal dari PGLI 35% (PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk) dan Arcadia (Arcadia Energy Trading Pty Ltd.) 65% yang konstruksinya dimulai Juli 2011 selama 24 bulan.
    Jawa & Bali

    • PLTMH Lodagung (1.300 kW) di Ds.Jegu, Kec.Sutojayan, Kab. Blitar, Tulungagung akan dibangun oleh BUMN PJT I (Perum Jasa Tirta).
    • PLTMH Cilenca (3x300 kW), Jabar, dikembangkan oleh IPP.
    • PLTMH Ketenger (4x600 kW), Jabar, dikembangkan oleh IPP.
    • PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) membangun PLTMH dengan kapasitas 3 MW di kebun Zeelandia, Kab. Jember yang sebagian listriknya digunakan untuk internal kebun (pabrik pemrosesan kopi, penyiraman tanaman kopi, penerangan rumah penduduk, dll), dan sebagian dijual ke PT PLN distribusi Jatim bila negosiasi harga per kWh nya tercapai.
    • Pemkab Banyumas membangun 12 PLTMH dengan total biaya Rp.300 miliar. Salah satunya, PLTMH Kali sasak 4 MW Kec. Cilongok, Banyumas yang dikelola oleh PT BIJ (Banyumas Investama Jaya) bekerjasama dengan PT IndoPower dengan dana sebesar Rp.60 milyar untuk 8.000 KK. Sebelumnya PLTMH Tapen (1x0,75 MW), Ketenger-1/-2/-3, lalu beberapa PLTMH di UPB Mrica (Desa Siteki, Blumbungan, Banjarnegara) Sempor Kab. Kebumen, dan Wadaslintang sudah dibangun di Banyumas. Lainnya,  PLTMH percontohan Karangtengah 17kW dari sungai Prukut (debit air 300 liter/detik) untuk 66 KK, hasil kerma PT IndoPower (pemodal) dengan TNI (bantuan tenaga kerja).
    • AHM (PT Astra Honda Motor) memberdayakan masyarakat dengan membangun PLTMH 6,5 kW, sungai Cibarengkok, untuk 63 KK, di TNGHS, Sukamulya, Sukabumi, Jabar, bekerjasama dengan Yayasan IBEKA.
    • PLTMH kampus UMM (70-100 kW, 2007) di Sengkaling I (penstock 45 derajat), Malang dibangun oleh UMM (Univ. Muhammadiyah Malang) bekerjasama dengan Kementerian ESDM. Sementara Sengkaling II (60-80 kW) (dalam kampus UM, 2015) Malang dibangun dengan penstock vertikal, dan turbin kecil. 
    • PLTMH 35 kW di dusun Sumbermaron, Desa Karangsuko, Kec. Pagelaran, Kab. Malang dibangun oleh UM Malang dengan sponsor dari Australia Partnership dan Bank Dunia senilai Rp.408 juta yang digunakan untuk mesin pompa pengairan dan air bersih.
    • Proyek PLTMH yang sedang berjalan adalah di Kab. Bogor (Rp.855 jt), Kab. Cianjur (Rp.1,4 miliar), Kab. Garut (Rp.920 jt). 
    • PLTMH yang masuk jalur PLN adalah Cijedil (3 kW) di Cianjur, Curug Agung (788 kW) di Subang, Cinta Mekar (120 kW), Jembelair (100 kW) di Purwakarta, dan Cipayung (240 kW).
     Kalimantan
    • PLTMH Lobong (1.300 kW), Kotamobagu, Kaltim, didanai oleh pinjaman ADB (Proyek PLN).
    Potensi PLTMH di Kaltim: sungai Kerayan, Mentarang, Tugu, Mahakam, Boh, Sembakung, dan Kelai dengan total potensi mencapai 6.743 MW.
    Sulawesi
    • PLTMH Duminanga (1.000 / 2x500 kW), Sulut.
    • PLTMH Mongango (1.700 kW), Luwuk, Sulut, didanai oleh pinjaman ADB (Proyek PLN).
    • PLTMH Kalumpang (1.700 kW), Luwuk, Sulut, dikembangkan oleh IPP
    • PLTMH Hanga-hanga (2x1.700 kW), Luwuk, Sulut, dikembangkan oleh IPP.
    • Lima belas (15) unit PLTMH di beberapa kecamatan di Toraja Utara (6 di kec. Rantebua, 3 di kec. Rinding Allo, 1 masing-masing di kec. Buntupepasan, Sanggalangin, Sa'dan, Buntao, Nanggala, dan Sesean Suloara) berhasil dibangun oleh BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) dengan dana berasal dari Kementerian PDT. Tahun 2011, kucuran dana dari PDT sebesar Rp.4 miliar juga digunakan untuk membangun PLTMH di 15 lokasi di kec. Baruppu, Buntupepasan, Balusu, Sa'dan, Denpina, dan Awan Rante Karua dengan memanfaatkan air dari sungai Sa'dan dan Maiting. PT ABM Investama Tbk (151 desa) dan PT Nagata (9-30 MW, Rp200miliar) juga membangun PLTMH di Toraja Utara.
    • PLTMH Kawata (30 kW)  Luwu Timur, Sulsel, bantuan Kementrian PDT telah diresmikan oleh Bupati Lutim.
    • Empat unit PLTMH dengan kapasitas total 8,1 MW di Mamuju, Sulbar, yaitu Balla (2x350 kW), Kalukku (2x700 kW), Bone Hau (2x2MW), dan Budong-budong (2x1 MW) dapat menghemat BBM Rp 200 miliar/tahun. Beban puncak sekitar 12 MW, 67% dari air
    NTT
    Papua
    • PLTMH Prafi (1.000 kW), Manokwari, Papua, didanai oleh pinjaman ADB (Proyek PLN)
    PLN telah memiliki 2 PLTMH, yaitu PLTMH Werbar, Fak-fak, (2x800 kW) dan PLTMH Walesi, Wamena, (2x600 kW).


    LAUT 

    Sejak dikeluarkan UU no.17/2007 RPJPN 2005-2025, upaya menyusun Road map (peta jalan) pengembangan energi laut sedang dilakukan. Sementara, UU Kelautan sebagai dasar penyusunan road map yang mencakup tata ruang laut nasional 200mil (17.499 pulau, dan garis pantai 104.000 km terpanjang kedua dunia) telah disahkan DPR akhir Sep 2014 sekaligus hal itu sebagai cikal bakal pembangunan poros maritim. Oleh karena itu, para investor masih menunggu UU dan Road map tsb guna meyakinkan kepastian hukum berusaha dimana potensi ekonomi laut Indonesia ditaksir > Rp.3000 triliun, bahkan total potensi ekonomi laut termasuk SDA non-konvensional lainnya ditaksir lebih dari 1,2 triliun USD/th yang lebih besar dari PDB Indonesia (1 triliun USD/th). Mapping energi laut Indonesia ditampilkan (2011).
    Ada tiga jenis energi laut yang dapat dimanfaatkan, yaitu gelombang laut, arus laut (Tidal+Ocean current energy), dan panas laut. Prediksi potensi teoritis ketiganya menurut ASELI sekitar 727 GW. Prakteknya, gelombang laut 1.995 MW, arus laut 18 GW, dan panas laut 41 GW.

    GELOMBANG AIR LAUT (Wave Energy)
    Potensi gelombang di Indonesia sangat tinggi, yaitu sekitar 2-2,5 m (Laut Selatan Jawa), dan pantai Barat Sumatera sekitar 4-5 meter. ASELI (th 2011) menyatakan gelombang laut mempunyai potensi teoritis 510 GW, potensi teknis 2 GW, dan potensi praktis 1,2 GW.
    Metode Energi Listrik Gelombang Air Laut (400 W) karya mahasiswa dan dosen Politeknik Manufaktur Timah, Bangka Berlitung mendapat hak Paten dari Kementrian Hukum dan Ham RI, dan biaya hak paten ditanggung Dikti Kemendiknas. Karya lainnya, oleh M. Imron (T. Kelautan, ITB).
    PLTGL-SB Vertikal
    Percobaan PLTGL-SB (Horizontal) (Sistem Bandul) Zamrisyaf (pemilik paten No. HAKI P00200200854) mampu menghasilkan listrik 3 kW dan menerangi 20 rumah nelayan. Bila hanya 20% saja pantai Selatan Jawa dimanfaatkan untuk PLTGL, maka 6,5 GW dapat diperoleh, dengan potensi 40 kW per meter lebar gelombang. Daya yang diperoleh ini tidak jauh berbeda dengan perolehan listrik dari PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Investasi PLTGL-SB (horizontal/vertikal) setara dengan PLTA. Dengan laut seluas 1 km2, daya listrik dari PLTGL 20 MW dapat diperoleh. Ponton (tongkang kecil) yang digunakan berbentuk delima yang sebagian terendam air, dengan panjang lengan 2 m, dan bandul seberat 10 kg. Bila tinggi gelombang 0,5-1,5 m, maka akan dihasilkan putaran 200 rpm dan daya sebesar 25,2 kW. Bila satu unit ponton terdiri atas 5 set bandul, maka daya akan mencapai 125 kW

    EAL (ENERGI ARUS LAUT) (Tidal + Ocean Current Energy)
    Arus laut di Indonesia berupa pasang surut yang diakibatkan oleh interaksi bumi, bulan, matahari, dan arus geostropik karena gaya Coriolis akibat rotasi bumi serta perbedaaan salinitas, temperatur, dan densitas. Arus pasang surut menyimpan energi hidro-kinetik, sehingga dapat dikonversikan menjadi daya listrik yang bergantung pada densitas fluida, penampang aliran, dan kecepatan alirannya. Selat-selat yang menghadap Lautan Hindia dan Samudra Pasifik teramati memiliki arus yang kuat.
    PLTAL >80 kW
    Potensi EAL Indonesia menghasilkan listrik sangat besar, yaitu sekitar 5,6-9 TW (5.600-9.000 GW)) (versi Bappenas). Angka itu kira-kira 30-50ribu kali PLTA Jatiluhur (187 MW). Bandingkanlah dengan daya listrik dari 430 unit PLTN dunia yang hanya sekitar 363 GW (2009) < 1 TW. Potensi teoritis arus pasang surut versi BPPT sebesar 160 GW, teknis 22,5 GW, dan praktis 4,8 GW.
    Bappenas mendorong EAL sebagai sumber EBT yang handal guna memenuhi permintaan masyarakat pesisir 18 ribu pulau di Indonesia yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik nasional. Laju arus pasang-surut (tidal) di pantai umumnya kurang dari 1,5 m/detik, kecuali di selat-selat di antara P. Bali, Lombok, dan NTT dapat mencapai 2,5-3,4 m/detik. Arus pasang-surut terkuat tercatat di Selat antara P. Taliabu dan P. Mangole di kepulauan Sula, Maluku Utara dengan laju 5,0 m/detik.
    • Uji-coba PLTAL  karya UPT-BPPH (BPPT) di Suramadu (2013) (3,5 kW, arus laut malam hari hanya 1,3 m/detik), Surabaya dan di Larantuka (Flores Timur) (10kW ~4,3m/detik) telah dilakukan). Sebelumnya (2010) uji-coba di Larantuka telah dilakukan. Daya listrik 2kW diperoleh.
    • Sabella (Perancis) meneken MoU dengan PT PLP & PT Meindo Elang Megah untuk mengembangkan proyek energi arus laut Indonesia. Sejumlah turbin 100-2500 kW akan dipasang di arus terkuat di dunia (pulau terpencil di Indonesia Timur).
    • Tahun 2004, BPPT / BPDP (Balai Pengkajian Dinamika Pantai) membangun purwarupa OWC (Oscilating Water Column, dinding tegak) pertama di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul dengan potensi gelombang 19 kW / panjang gelombang. Survei hidroseanografi menunjukkan bahwa PLTAL akan optimal bila ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalaman 4-11 m. Putaran turbin akan dicapai antara 300-700 rpm dengan memiliki efisiensi 11%. Tahun 2006, OWC sistem Limpet / terapung diletakkan berdampingan dengan OWC th 2004, di tempat yang sama.
    • Tahun 2005: penelitian karakteristik arus laut dilakukan oleh Puslitbang Geologi kelautan (PPPGL) berkolaborasi dengan Program Studi Oceanografi ITB di selat Lombok dan selat Alas menggunakan turbin Kobold 300 kW.
    • Th 2006-2010: penelitian BPPT dilakukan di beberapa selat Nusa Tenggara (NTB dan NTT), di antaranya S. Lombok, S. Alas (diujicoba April 2012, 75 MW), S. Nusa Penida, S. Flores, dan S. Pantar. Selat-selat lainnya yang diperkirakan  memiliki arus laut cukup kuat adalah S. Sape, S. Linta, S. Molo, S. Boleng, S. Lamakera, dan S. Alor. Bila satu selat dapat dipanen energi sebesar 300 MW dengan asumsi 100 buah turbin masing-masing berdaya 3 MW, maka akan dihasilkan listrik sekitar 3GW untuk 10 selat. Tahun 2009, BPPT menguji purwarupa PLTAL sebesar 2 kW dan tahun 2011 sebesar 10 kW di S. Flores. Purwarupa pertama dibangun PPPGL bersama kelompok T-files ITB dan PT Dirgantara Indonesia yang diuji di S. Nusa Penida dan mampu menggerakkan generator listrik 5.000W.
    • 2012-2014: purwarupa skala besar (>80 kW) dicoba untuk mengembangkannya menjadi skala komersial. Tahun 2025, PLTAL diharapkan akan mencapai 5% dari sasaran kebijakan energi 25% bauran energi.
    • Mahasiswa&Alumni ITB dari PT TFiles Indonesia (13 orang) berhasil memanfaatkan arus laut menjadi PLTAL 10 kVA. Th 2012. Mereka bekerjasama dengan Dinas PU-Binamarga menyalakan 1.000 lampu jembatan Suramadu. Semua komponen turbin buatan lokal kecuali magnet yang dibandrol dengan harga Rp.400juta dengan lifetime 5 tahun. Kerma diteruskan ke PLN Batam untuk memberikan listrik 1MW.
    PANAS LAUT
    OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) dibedakan 3 macam, daur tertutup, daur terbuka, dan daur gabungan (hibrid). Potensi Panas Laut: 222 GW. Lima lokasi sedang dijajagi, Selat Sunda, Bali Utara, Bali Selatan, Maluku Utara, dan NTT. Bali Utara terpilih untuk survei dengan kapasitas pembangkit sekitar 100 kWe.

    ENERGI LISTRIK AIR LAUT
    Dr. Sastro, Sambisari, Kalasan, Sleman, Yogya mengembangkan listrik dari air laut Parang Tritis via elektrolisis air laut (Grafit / Anoda, Seng / katoda; tegangan: 1,6 V) menggunakan aki bekas 12 V. Setelah itu, aki dibongkar dan diisi air laut. Dia mendapatkan tegangan 9,2-11,8V. Ini bukti bahwa samudra adalah baterai raksasa. Mahasiswa Teknik Kimia ITS juga mengembangkannya.


    PLT GRAVITASI

    Djoko Pasiro, Pamekasan, Madura, memanfaatkan tenaga Gravitasi bumi yang murni berasal dari kekuatan alam guna menggerakkan mekanik penarik dinamo generator untuk menghasilkan listrik. PLT Gravitasi daya kecil, sebesar 2.500 Watt membutuhkan biaya hanya 15 Juta rupiah. D. Bentea (Rumania) dan beberapa peneliti lainnya [1, 2, 3, 4] menunjukkan pula bahwa PLT Gravitasi berfungsi dengan baik.


    PANAS BUMI (GOETHERMAL)

    Potensi energi PLTP: 29.038 MW (29 GW), sedangkan kapasitas terpasang saat ini sebesar 1.341 MW atau 4,62% dari total potensi yang ada. Empat puluh (40) % potensi dunia ada di Indonesia, dan sekitar 276 titik potensi panas bumi telah ditemukan. Sepuluh (10)% dari total potensi itu (sekitar 2 GW) ada di Sumsel. Oleh karena itu, dibangunlah Laboratorium Geotermal I yang diresmikan Okt 2013 di Palembang, Sumsel, dan dioperasikan oleh PT Sucofindo.

    PLTP Dieng 60 MW, Jateng
    Secara keseluruhan, potensi energi geotermal di Indonesia ditemukan tersebar di sepanjang lajur Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Busur Banda hingga Sulawesi Utara, dan lajur Halmahera, Bali, dan Papua. Potensi tersebut besarnya ternyata dua kali cadangan minyak bumi Indonesia. Tidak salah bila Indonesia merupakan potensi terbesar di dunia, sehingga mendorong Indonesia untuk dijadikan pusat pengembangan panas bumi dunia yang tentu saja memerlukan SDM tangguh dari dalam negeri sendiri. Amerika, Filipina dan Selandia Baru tertarik berinvestasi di geotermal. Untuk itu, Amerika membantu ITB dan UI membuka jurusan geotermal, dan Selandia Baru membuka diri kepada putra Indonesia untuk belajar geotermal di sana.
    Dr. SK Sanyal (GeothermEx Inc., California) menyinggung bahwa lebih dari 70% lahan Indonesia memiliki basis sumberdaya geothermal lebih dari 50 MW dan hampir setengahnya lebih dari 100 MW dengan sumur komersial antara 3-40 MW (rata-rata 9 MW), sedangkan sumur bor dunia hanya sekitar 4-6 MW. Tahun 2025, EBTKE menargetkan 12 GW dapat ditapis dari PLTP. Hinga th 2014, investor kurang tertarik berbisnis di PLTP ini. Mereka menginginkan harga jual listrik dari PLTP sekitar 11-14cent US$/kWh. Oleh karena itu, harga jual listrik th 2014 dinaikkan oleh pemerintah menjadi 11,5-30 sendollarAS/kWh seperti yang tercantum dalam Permen ESDM no.17 th 2014.

    PLTP Kamojang 30 MW, Garut, Jabar
    Sejarah pemanfaatan PLTP di Indonesia diawali oleh usulan Van Dijk asal Belanda tahun 1918 untuk membangun PLTP di Kamojang, Jabar. Kamojang menghasilkan uap tahun 1926, kemudian dari 5 sumur uap hanya satu sumur yang produktif, tetapi tidak lama kemudian mati. Tahun 1964 PLTP dihidupkan kembali oleh Direktorat Vulkanologi (Bandung), PLN, dan ITB. Tahun 1971, PLTP Lahendong Sulut, dan PLTP Lempung, Kerinci dikembangkan. Tahun 1972, pengeboran 6 sumur di Dieng, Jateng, dilakukan, tetapi tak satu pun mengeluarkan uap. Tahun 1974, Pertamina dan PLN mengembangkan PLTP Kamojang 30 MW. Tahun 1977, Selandia Baru menyumbang NZ$24juta dari kebutuhan NZ$34juta, sisanya ditanggung Indonesia untuk Kamojang. Tahun 1978, tim Kanada ke Lahendong dan Lempung, Kerinci. Monoblok Kamojang diresmikan 27 November. Tahun 1981, Monoblok Dieng diresmikan 14 Mei; Pertamina diberi wewenang melakukan survei, eksplorasi dan eksploitasi PLTP di Indonesia. Tahun 1982, Pertamina meneruskan penelitian di Lahendong dan melakukan kontrak dengan UGI (Unocal Geothermal Indonesia) untuk PLTP di Gunung Salak, Jabar. Tahun 1983, PLTP Kamojang-I 30 MW diresmikan 1 Februari. Tahun 1987, PLTP Kamojang-II dioperasikan. Pertamina, Amoseas of Indonesia Inc., dan PLN melakukan kerma eksplorasi panas bumi di Gunung Drajat, Jabar. Tahun 1991, keluar Keppres meleluasakan Pertamina dan kontraktor mengeksplorasi dan mengeksploitasi panas bumi, dan menjual uap / listrik kepada PLN. Tahun 1994, PLTP Gunung Drajat-I beroperasi, PLTP Gunung Salak-I dan II beroperasi, dan Pertamina melakukan kontrak dengan 4 perusahaan swasta. Tahun 1995, Nota kesepahaman dilakukan Pertamina dan PLN untuk membangun PLTP Lahendong 1x20 MW, Sulut, dan PLTP Sibayak 2 MW, Sumut.

    Sayangnya, sekitar 70% lokasi PLTP yang potensial berada di kawasan hutan lindung, sehingga terjadi konflik kepentingan dengan Kementrian Kehutanan, apakah membangun PLTP (hanya butuh lahan 0,3-4 Ha) atau mempertahankan kawasan konservasi. Untuk mengatasi hal tersebut, DPR telah mengesahkan RUU Panas Bumi (26/08/2014) sebagai revisi UU No. 27/2003, yang ringkasan isinya sbb:
    1. Panas bumi sebagai sumber energi alternatif. Eksplorasi & Produksi panas bumi tidak termasuk kategori pertambangan, sehingga dapat dilakukan di wilayah konservasi
    2. Penyelenggaraan oleh PemPusat & Provinsi, sedangkan pemanfaatan langsung & tidak langsung oleh PemKab
    3. Pembinaan & Pengawasan IUP oleh Pemerintah.
    Indonesia memerlukan investasi USD30 miliar untuk mengembangkan PLTP 11 GW hingga 2025. Memang, konsekuensi pemberian ijin PLTP di hutan lindung akan menyebabkan beberapa Ha hutan lindung akan terbabat. PT CGI (Chevron Geothermal Indon) belum mendapat ijin penambahan 9 Ha dari Menhut untuk membabat hutan karena telah melanggar daerah cagar alam Gunung Papandayan di Kertasari Bandung. Di sisi lain, PT PGE (Pertamina Geothermal Energy) berencana menanam 100juta pohon di sekitar lereng gunung berapi hingga 2015, salah satunya adalah 50 ribu pohon telah ditanam akhir th 2011 di sekitar PLTP Kamojang guna menahan resapan air dan mengurangi emisi karbon, agar panas dan air terjaga dan Kamojang terus menghasilkan uap.
    Sebanyak 28 titik potensi panas bumi (14 proyek PLTP pada WKP existing sebelum terbit UU No.27/2003 dan 14 proyek PLTP pada WKP baru setelah terbit UU no. 27/2003, sekitar 12.069 MW)  di hutan lindung sepanjang Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, telah disepakati agar proses perijinan proyek dari menteri Kehutanan segera berjalan. Permen 11/2008 mengajukan 5 WKP, yaitu Bonjol (Sumbar) 200 MW, Danau Ranau (Lampung, Sumsel) 210 MW, Mataloko (NTT) 63 MW, Ciremei (Jabar) 150 MW, dan Gunung Endut (Banten) 80 MW. Calon 4 WKP lainnya (masih disurvei) adalah Sembalun (NTB) 120 MW, Way Ratai (Lampung) 194 MW, Simbolon Samosir (Sumut) 225 MW, dan Telomoyo (Jateng) 92 MW.

    PLTP Lahendong-3 10 MW, Sulut
    Kapasitas terpasang PLTP Indonesia: yaitu di PLTP Kamojang (200 MW) Jabar, Lahendong-1, 2, dan 3 (3x20 MW) Sulut, Dieng (60 MW) Jateng, Gunung Salak (375 MW) jabar, Darajat (255 MW) Jabar, Sibayak (2x5 MW) Sumut, Wayan Windu (227 MW) Jabar, PLTP Ulubelu-1 dan 2 (2x55MW) di Lampung. Kapasitas yang sudah terpasang itu menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia setelah Amerika dan Pilipina. Bila digenjot hingga 4.000 MW bukan tidak mungkin PLTP Indonesia akan menempati posisi nomor satu dunia. Program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II yang komposisi energi mix-nya mengarah ke Panas Bumi itu diharapkan akan meningkatkan pemanfaatan panas bumi hingga 17% (4.713 MW) pada tahun 2015.

    Status PLTP yang sedang/akan dibangun di Indonesia (Maret, and Oktober 2014):

    Sumatera
    • PLTP Seulawah 110 MW, 2021/2022, Nanggroe Aceh Darussalam
    • PLTP Jaboi (10 / 2x5 MW), Nanggroe Aceh Darussalam
    • PLTP Sarulla-1, 2 & 3 (3x110 MW), Sumut. Konsorsium (Medco Geothermal Indonesia, Ormat technology Inc / USA, Kyusu Electric Power Inc / Jepang, dan Itochu Corp. / Jepang) proyek PLTP Sarulla 330/3x110 MW, di Kab. Tapanuli Utara dan Selatan, Sumut, menggarap proyek senilai US$1,6 miliar yang didanai oleh JBIC (Japan Bank for International Corp.) dan ADB (Asian Development bank) dan beberapa bank komersial. Tarif jual listriknya ke PT PLN sekitar US$0,0679/kWh. PLTP Sarulla-1 110 MW, Sarulla-2 110 MW, dan Sarulla-3 110 MW diharapkan beroperasi komersial pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Proyek PLTP terbesar di dunia itu mundur 3 tahun dari rencana semula. Pemerintah menyiapkan SKB 3 Menteri (ESDM, Keuangan, BUMN) guna mengatasi kisruh tersebut.
    • PLTP Sarulla-4 (110 / 2x55 MW), Sumut.
    • PLTP Simbolon Samosir (110 / 2x55 MW), Sumut.
    • PLTP Sipoholon Ria-Ria (1x55 MW), Sumut. 
    • PLTP Sorik Marapi 240 MW, Sumut, 2020/2021.
    • PLTP Muara Laboh (2x110MW, Rp.4,3 triliun) Sumbar, 2017/2018. PT Supreme Energy bernegosiasi dengn PT PLN (Persero) dengan dana investasi US$650 juta.
    • PLTP Bonjol (165 / 2x55 MW), 2022.
    • PLTP Sungai Penuh-1&2 (110/2x55 MW) di Jambi, 2022. ADB (Asian Development Bank) mengucurkan dana US$500/3 juta.
    • PLTP Hululais-1&2 (110/2x55 MW) di Bengkulu, 2018/2019
    • PLTP Kepahiyang 220 MW, 2020.
    • PLTP Lumut Balai-1, 2, 3, & 4 (4x55MW) Sumsel, dibangun oleh PGE (Pertamina Geothermal Energy), pinjaman dari JICA (2015) sebesar Rp 100,7 miliar. beroperasi 2017/2018/2019.
    • PLTP Rantau Dadap (220 / 2x110 MW), Sumsel, 2019/2020. Konsorsium yg terdiri atas PT Supreme Energy, GDF Suez, dan Marubeni Corp menandatangani PPA dg PT PLN dengan harga yg disepakati 8,86 sen US$.
    • PLTP Rajabasa (2x110MW, Rp.4,3 triliun), Lampung 2021/2022. SERB (PT Supreme Energy Rajabasa), GDF Suez, dan Sumitomo Corp. siap membangun PLTP Rajabasa, yang bernegosiasi dengn PT PLN (Persero) dengan dana investasi US$650 juta setelah ijin dari Kemenhut diperoleh.
    • PLTP Ulubelu-3 & 4 (2x55MW), Tanggamus, Lampung, dibangun oleh PGE, didanai oleh World Bank sekitar Rp 576,8/2 miliar, beroperasi 2012 & 2016/2017.
    • PLTP Suoh Sekincau (220 / 4x55 MW), lampung, 2021/2022.
    • PLTP Danau Ranau (110 / 2x55 MW), Lampung., 2022
    • PLTP Ulubelu-3 & 4 (2x55MW), Tanggamus, Lampung, dibangun oleh PGE, didanai oleh World Bank sekitar Rp 576,8/2 miliar, beroperasi 2012 & 2016/2017.
    • PLTP Dairi Prima (25 MW), Sumut.
    • Investor asal Turki, Hitay Group, sedang mensurvei blok Tanjung Sakti dan Empat Lawang, Sumsel.
    Jawa
    • PT SBG (Sintesa Banten Geothermal) mengeksplorasi PLTP (potensi 225 MW) di Gunung Karang Kab. Pandeglang, Banten.
    • PLTP Gunung Endut (1x55 MW), Banten.
    • PLTP Rawa Dano (1x110 MW), Banten.
    • PLTP Cibuni (1x10 MW), Jabar.
    • PLTP Tangkuban Perahu-1 (110 / 2x55 MW), Tangkuban Perahu-2 (60 / 2x30 MW), Jabar.
    • PLTP Cisolok-Cisukarame (1x50 MW), Jabar.
    • PLTP Kamojang-5 (1x30MW) Jabar dibangun oleh PGE
    • PLTP Karaha-1 (1x30MW),Karaha-2 (2x55 MW) Bodas, Jabar, dibangun oleh PGE. Pengembangan PLTP Karaha Bodas di lahan sekitar 40 Ha dilanjutkan kembali setelah dibatalkan pemerintah (Soeharto) saat krisis ekonomi 1997. ADB (Asian Development Bank) mengucurkan dana US$500/3 juta.
    • PLTP Patuha (3x55 MW), Babakan, Sugihmukti, Pasir Jambu, Jabar. Patuha-1 55 MW sudah beroperasi Okt 2014. Sisanya menyusul.
    • PLTP Tampomas (1x45 MW), Jabar.
    • PLTP Wayang Windu unit 3&4 (2x110 MW), Jabar.
    • Pemprov Jabar siap melelang PLTP Ciremai (2x55 MW), di Kab. Kuningan, ke BUMN, BUMD, dan BUMS.
    • PLTP Baturaden (2x110 MW), Jateng.
    • PLTP Dieng (115 / 1x55 + 1x60 MW, Jateng.
    • PLTP Guci (1x55 MW), Jateng.
    • PLTP Ungaran (1x55 MW), Jateng.
    • PLTP Umbul Telomoyo (1x55 MW), Jateng.
    •  PLTP Ijen 110/2x55 MW, di Jatim, dibangun oleh PT Medco Geothermal Indonesia senilai US$ 400juta pada tahun 2013 dengan lama konstruksi 2,5 tahun.
    •  PLTP Ngebel/Wilis (165 / 3x55MW), Jatim.
    •  PLTP Iyang Argopuro (1x55 MW), Jatim.
    • Proyek PLTP Gunung Slamet 220 MW, Jawa tengah, senilai Rp. 6 triliun (US$ 660 juta, 1 MW membutuhkan investasi US$ 3 juta) siap dibangun oleh 2 investor, PT Spring Energy dan PT Tri Energy.
    Sulawesi
    • PLTP Kotamobagu-1, 2, 3, & 4 (80/4x20 MW, Rp.2 triliun) di Sulut.
    • PLTP Lahendong-5 & 6 (2x20MW), Minahasa, Sulut, didanai oleh World Bank sebesar Rp576,8/2 miliar. Konsorsium Sumitomo Corp. & Rekind (PT Rekayasa Industri) mendapat kontrak EPC (semula PGE).Rekind menerapkan sistem di muka tanah (Steamfield above ground). Waktu pengerjaan 22 bulan, Lahendong 5 diduga selesai Sep 2016, sedangkan Lahendong-6 sekitar Maret 2017.
    • PLTP Bora Pulu, (1x55 MW), Sulteng.
    • PLTP Marana/Masaingi (20 / 2x10 MW), Sulteng.
    • PLTP Lainea (20 MW, Rp.250 miliar) Kendari, 2019.
    • PLTP Tawaeli (30 MW, Rp.470 miliar) Palu. 
    NTB
    • PLTP Hu'u, Dompu, Sumbawa (20 / 2x10 MW, hingga >60 MW dalam 3 tahap, 2020) akan dikerjakan oleh PT Pasifik Geoenergy (PAGE) (10%) dan Ormat Tech. Inc. (Amerika) (90%) teken kontrak menginvestasikan dana US$200juta. Akan tetapi, Okt 2014, PAGE mundur, kapasitas uap rendah, kawasan yang dipinjamkan bertabrakan dengan penambang emas, PT STM).
    • PLTP Sembalun-1 (70 MW), Sembalun-2 (40 MW, Rp.500 miliar), Lombok Timur, 2019.
    NTT
    • PLTP Ulumbu (10 / 4x2,5 MW) Flores, NTT. PLTP Ulumbu 3& 4: 5 MW sudah beroperasi Okt 2014. Sisanya 5 MW sedang dikerjakan hingga 2019.
    • PLTP Oka Larantuka (1x3 MW) Flores Timur (2019).
    • PT WUK (PT Westindo Utama Karya) mengembangkan PLTP Atadei (2x2,5 MW) di Lembata, NTT dg dana sekitar RP 1,9 triliun yg akan dimulai pembangunannya th 2013.
    • PLTP Mataloko (2x2,5 MW), di Ngada, P. Flores, NTT dikembangkan oleh ADB (Asian Development Bank) dengan mengucurkan dana US$500juta. Th 2013 turbin rusak (korosi) terkena gas sulfur. kemudian 2014 PLTP dilelang kembali untuk mengebor sumur baru, guna menaikkan kapasitasnya yang berpotensi hingga 60 MW, (2019). 
    • PLTP Sokoria (15 / 3x5 MW), Ende, Flores. Bakrie Power & Raya Group memenangkan tender proyek pada Sept 2009, tetapi 2015 menjualnya ke Australia Space Con Pty Ltd.(menguasai saham 85%). Proyek ini direncanakan beroperasi tahun 2020. Listrik dibeli PLN.
    Maluku
    • PLTP Jailolo (10 / 2x5 MW), potensi 75 MW, Halmahera Barata, Maluku Utara, 2016.
    • PLTP Songa Wayaua (1x5 MW), Maluku Utara, 2017.
    • PLTP Tulehu (20 / 2x10MW), Salahutu, Kab. Maluku Tengah, 2016.
    BPPT mengembangkan purwarupa PLTP skala kecil 3 MW di Kamojang, Jawa Barat. Proyek ini menggunakan komponan lokal termasuk turbin (gandeng NTP, Nusantara Turbin Propulsi anak perusahaan IPTN) dan generator (gandeng PT Pindad). Dana diperoleh dari APBN BPPT Rp 50 milyar. Di sisi lain, BPPT mengkaji PLTP Ulu Ere 25 MW di Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan. Th 2014, BPPT bekerjasama dengan Jerman melakukan riset PLTP siklus biner 500 kW di Lahendong, Sulut.

    Cadangan panas bumi baru yang ditemukan adalah Kebar (25 MW) Manokwari, Papua Barat; Tehoru (75 MW), Banda Baru (75 MW), dan Pohon Batu (50 MW) Maluku Tengah; Kelapa Dua (25 MW) Maluku Barat; Lili (75 MW), Mapili (50 MW), dan Alu (25 MW) Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

    Calon lokasi  PLTP yang belum disurvei adalah Sungai Betung/Kab. Kerinci (Jambi), Pesisir Selatan (Sumbar), Sungai Tenang/Kab. Merangin, (Jambi), Ciseeng (Bogor, Jabar), Lebak (Banten), Malawa/Kab. Maros, Pangkajene/Kab. Bone, dan Kab Barru (Sulsel), Gunung Dua dara (Kab. Bitung, Sulut), Gunung Pangrango (Bogor, Jabar).


    BIOMASSA

    Potensi energi biomassa Indonesia diperkirakan: 49.810 MW (50 GW) yang berasal dari perkiraan produksi 200 juta ton biomassa/tahun dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan dan limbah padat/sampah kota, sementara daya terpasang: hanya 1.618,4 MW (th 2011) atau sekitar 3,25 % saja dengan hutan produktif dan perkebunan seluas 23 juta Ha. Itu berarti pemanfaatan biomassa untuk energi listrik masih sangat sedikit. Oleh karena itu ESDM mengeluarkan Permen No. 27 th 2014 guna mendorong pemanfaatan biomassa (PLTBm) dan biogas (PLTBg) seoptimal-mungkin menjadi listrik. Program jangka pendek Kementrian ESDM meliputi promosi investasi, insentif fiskal dan pajak, kebijakan penetapan harga energi, penyebarluasan informasi, dan penelitian dan pengembangan.
    PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa telah memanfaatkan biomassa sebagai pengganti batubara.

    PT Growth Asia di bawah GSG / Growth Steel Group (PLTU Biomassa, 2x15 MWe dengan TKDN 70%, Rp10miliar/MW dari BCA Bioler/Indon, generator/turbin/Tiongkok, modul pengatur turbin/AS) memanfaatkan limbah kering cangkang sawit (1 kWh listrik perlu 1,2 kg cangkang), serat sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk kayu, ampas tebu, dll. untuk menapis listrik. PLTU sejenis sudah dibangun di
    • Medan/Sumatera: PT GSI  / Growth Sumatra Industry, Unit-1 excess power 6 MW, COD Des 2008; Unit-2 Excess Power 9MW, COD Nov 2010.
    • Medan/Sumatera ( PT GA / Growth Asia, Unit-1, excess power 10 MW, COD Okt 2011; UNit-2 excess power 10 MW, COD Juni 2012;
    • Simalungun/Sumatera: PT HS / Harkat Sejahtera, Unit-1 PLTU 2x15 MW, COD April 2013;
    • Unit-2: - (no info)
    • Jambi/Sumatera: PT RPSL / Rimba Palma Sejahtera Lestari, PLTU 2x15 MW, COD awal 2013;
    • Cilegon/Jawa: PT Indocoke, Unit-1 PLTU 1x15 MW (Clean energy + HRSG); COD Maret 2013; UNit-2 PLTU 1x15 MW
    • PLTU sedang direncanakan: Pontianak (PNK), Banjarmasin (BDJ), Balikpapan (BPN), Pekan Baru (PKU), Palembang (PLM), dll
    Kelapa Sawit
    Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan areal sekitar 10,9 juta Ha (2014) (milik rayat / Perkebunan rakyat 41,55%, Negara (PTPN) 6,83%, swasta asing 1,54%, sisanya swasta nasional/lokal 50,08%). Produksi CPO sekitar  29,3 juta ton (2014) terdiri atas milik rakyat 10,68juta ton, Negara 2,16juta ton, dan swasta 16,5juta ton. Sebelumnya (2013), produksi CPO sekitar 24 juta ton (18 juta ton CPO/th diekspor) dengan potensi biomassa dari residu minyak kelapa sawit dan 350 pabrik minyak kelapa sawit dalam jumlah besar pula, berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekitar 27,5 juta ton basah (1ton TBS/Tandan Buah Segar menghasilkan 200 kg CPO, limbah TKKS 250 kg, dan limbah cair 0,5 m3). Masih ada limbah sawit lain, seperti pelepah 4%, cangkang 6,5%, serat 13%. Pemerintah melarang membakar TKKS langsung guna menghindari pencemaran udara.
    • Riau sedang membangun PLTGBm Sencalang 140 kW (250-300 KK) dari pelepah sawit di Siak dan Inhil. KEI (PT Kreatif Energi Indonesia) membangun PLTBiogas 4 MW dari limbah cair kelapa sawit  pertama  di Langkat, Sumut, dengan investasi Rp.20miliar.  
    • Nurhuda (dosen Unbraw, Malang, Jatim) memanfaatkan cangkang sawit (kulit, batok sawit) sebagai bahan bakar kompor ciptaannya Biomass UB 03-1 (isi 1 kg, laju bakar 10 gr/menit selama 100 menit) yang bersistem semi-gasifikasi dengan aliran udara alami tanpa listrik sama sekali. Limbah cangkang tersedia sekitar 5% dari TBS, atau sekitar 5 juta ton/tahun dengan harga Rp300/kg di Kalimantan dan Sumatra, atau sekitar Rp1000,- di Jawa yang mampu mencukupi bahan bakar kompor untuk 13 juta keluarga di Indonesia.
    • BPPT dan AIST (National Institute for Advance Industrial Science & Technology) Jepang yang didukung oleh NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) bekerjasama (via MoU) meneliti, mengembangkan, dan merekayasa teknologi biomassa untuk pembangkit listrik.
    • Kerjasama Pemerintah dan Finlandia membuahkan dana hibah 4 juta Euro selama 3 tahun (2011-2014) dan melahirkan 22 proyek EBT (14 di Provinsi Riau, dan 8 di Kalteng) yang berupa studi kelayakan investasi, demonstrasi, basis industri, dan pengembangan kapasitas (15 desa menggunakan biogas dari limbah pertanian, 1 unit biogas untuk pabrik tepung terigu, 1 unit pemanfaatan kotoran manusia).
    • Pemprov Bangka Belitung merencanakan membangun pembangkit listrik berbasis biomassa TKKS. Pasokan bahan baku TKKS dari kebun sawit seluas 80.000 Ha akan menghasilkan 20 MW.
    • PT Ajiubaya memanfaatkan biomassa di Sampit (Kaltim) dengan kapasitas 4-6 MW.
    • PT Boma Bisma Indra memanfaatkan gasifikasi biomassa pada mesin diesel (listrik dan mesin giling) dengan kapasitas 18 kW di beberapa daerah di Kalimantan, Sumatra, dan Sulut.
    Ampas Tebu
    Penggunaan ampas tebu (bagas): sebagai bahan bakar PLTBm, bioetanol, kompos, pakan ternak, bahan baku industri kertas (tissu), particleboard, fibreboard, silika gel, media tanam (jamur tiram), adsorsi minyak bebas dalam minyak jelantah, arang aktif, dll. Pabrik gula Ngadirejo, Kediri, Jatim, menyisakan ampas tebu yang cukup besar jumlahnya, sebagai BB PLTU Biomassa untuk menghasilkan listrik (8 MW) dan uap untuk kebutuhan pabrik. Tebu segar 6200 ton/hari menghasilkan 30-40% ampas tebu (sekitar 1860-2480 ton/hari). Listrik yang diperlukan di pabrik hanya 4,5 MW maka sisanya (3,5 MW) dijual kepada PLN.

    Batok Kelapa
    Pemerintah akan membangun PLT Biomassa berbasis batok kelapa dari Wonosobo/Kalimantan di Pulau Karimunjawa, Jawa Tengah dengan daya 0,5MW (2015). Hal itu dimaksudkan untuk mengganti PLTD BBM yang saat ini beroperasi sangat mahal (Rp. 3 miliar/tahun). PLN Sulut, Sulteng, dan Gorontalo juga memanfaatkan batok kelapa sebagai umpan PLT Biomassa (daya per unit 0,1 MW). Pulau-pulau kecil di sekitar Gorontalo adalah produsen kopra, sehingga limbah seperti batok & serabut kelapa, ranting pohon, cangkang pala, dll cukup melimpah, sehingga beberapa unit PLTBm sangat memungkinkan untuk dibangun di sana.

    Pelet Kayu/Limbah Kayu
    Kaliandra Merah
    Kebutuhan Eropa: 15 juta ton (th 2013), Indonesia baru memenuhi 40 ribu ton th 2009.
    Pelet kayu digunakan untuk energi pemanas rumah tangga (musim dingin), energi dapur masak, dan energi pembangkit tenaga listrik khusus pelet kayu dan sebagai campuran BB batubara pada PLTU batubara. Kayu kaliandra (merah) yang banyak pula ditanam di Madura mempunyai nilai kalor yang tinggi (di samping bunganya yang disukai lebah madu), sehingga dijadikan tanaman perintis untuk menghijaukan lahan marjinal/kritis. Harga kayu kaliandra Rp.367ribu/ton atau peletnya Rp.1,4-2,5juta/ton. Bahan bakar PLTU batubara kadangkala dicampur dengan pelet kayu kaliandra merah dengan sistem Co-firing atau co-combustion yang ditambah alat grate stoker. Jarak sumber pelet kayu terhadap PLTBm sebaiknya kurang dari 80km guna mengurangi biaya transportasi.
    • Jepang memanfaatkan dahan & ranting kayu (30% dari pohon tebangan) guna membangun industri ET di Bengkulu sebagai pilot project di Indonesia (bila sukses akan diteruskan ke Kalimantan, Sulawesi, dan Papua).
    •  PLN dan General Electric International Operation Co. bekerjasama membangun 2 unit PLTBm (2x0,5 MW) (dari serpihan kayu/tumbuhan organik) di Bali & P. Sumba (NTT) yang melahap lahan sekitar 100 Ha.
    • PLTBm Morowali 10 MW, Sulteng, dibangun oleh PT PLN (via anak perusahaannya, PT Prima Layanan Nasional) bekerjasama dengan Pemda Morowali senilai Rp.30miliar berbahan bakar kayu kaliandra merah yang banyak tersedia di daerah tsb. Pembangkit tsb ditujukan untuk melistriki industri smelter NPI (Nickel Pig Iron) dan menjamin ketersediaan listrik masyarakat.  COD sekitar 2017/2018.
    • Investor Korsel, hasil kerjasama Korsel-Indonesia yang diteken Indonesia 6/3/2009 di bidang wood pellet energyPT Indoco Group membangun HTI seluas 200 ribu Ha dengan dana Rp.3 triliun guna memanfaatkan "pelet kayu" di Sulbar. Indoco group melalui PT Bara Indoco (68.015 Ha) dan PT Bio Energy Indoco (21.580 Ha) sudah menanam 89.595 Ha (45%). Sebelumnya, ia telah membangun pabrik pelet kayu (berdiameter 6-10 mm dan panjang 10-30 mm, dengan energi setara 4,7 kWh/kg) di Wonosobo, Jateng dengan kapasitas 200 ribu ton/tahun yang menggunakan kayu hutan rakyat dan limbah industri gergaji, limbah tebangan dan limbah industri kayu lain. 
    • PT Solar Park Energy (Korsel) dan Perum Perhutani III mengolah limbah kayu sengon dan kaliandra di Wonosobo dengan investasi Rp42 miliar.
    • Medco Energy via PT Selaras Inti Semesta membangun HTI seluas 169.400 Ha guna memproduksi 200 ribu ton chip/tahun.
    Gambut/Tanah Organik/Tanah Rawang/Tanah Danau  
    Gambut itu bahan bakar (tahap awal pembentukan batubara, sebagai pengganti batubara kadar rendah), dan kelimpahannya di Indonesia ternyata sangat luas, keempat terbesar di dunia (20,6 juta Ha, 10,8%) setelah Kanada (170 juta Ha), Rusia (150 Ha), dan AS (40 juta Ha). Gambut tersebar di Sumatera (~35%), Kalimantan (~30%), Papua (~30%), dan Sulawesi (~3%).  Gambut terbentuk, karena curah hujan merata sepanjang tahun dan topografi tak rata, sehingga banyak daerah cekungan dengan genangan air disertai onggokan bahan organik. Suasana kurang oksigen membuat tanaman lambat hancur, menyerap karbon, dan membentuk lahan tersusun oleh bahan organik dengan ketebalan hingga 20 meter. Kegunaan gambut lainnya adalah untuk menyuburkan rerumputan yang kering di musim kemarau dengan cara cukup menaburkannya di atas rumput. Kemampuan gambut menyerap & menahan air dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman (tomat, blueberries, bawang merah, nenas, dll) tanpa perawatan.

    Nilai bakar Gambut Kalbar kering 5628,73 kkal/kg dekat dengan nilai bakar batubara kadar rendah (~6000 kkal/kg). Komposisi kimianya adalah C 56,82% , H2 6,58% , N2 1,65% , O2 30,21%, S 0,17% dan abu 4,57%. Komposisi abu gambut terutama terdiri atas SiO2 31,66 %, Al2O3 18,89%, Fe2O3 11,29%, dan 7,46% MgO. Penambangan dan perataannya menggunakan teknik khusus terutama untuk bahan bakar PLTU dan holtikultura [chek kualitas gambut, penggalian & perataan, pemotongan, 4, 5]. Gambut kering dapat pula dibuat pelet terlebih dahulu (mirip kayu) untuk menaikkan nilai kalornya, atau dicampur dengan biomassa lainya sebelum diumpankan ke dalam PLTU. Gambut dapat digunakan sebagai bahan Bakar (PLTU, briket, keperluan rumah tangga/kompor dengan memperhatikan dampak lingkungan secara hati-hati dan tata-kelola air yang baik) daripada dibiarkan terus menerus terbakar / dibakar [1, 2, 3, 4, 5] oleh oknum tertentu sepanjang tahun tanpa menghasilkan listrik, sekaligus si pemilik konsesi gambut dapat menjaga arealnya dari pembakaran liar. Gambut dengan tebal 2 m dan luas 7.500 Ha dapat menghasilkan listrik ~120MW selama 20 tahun.  Selain itu, penggunaan gambut menekan biaya energi listrik hingga 5 sen dollar AS/kWh (2011).
    • PLTU Gambut pertama di Indonesia, PLTU Mempawah (3x67 MW), Kab. Pontianak, Kalbar berbahan bakar gambut akan dibangun oleh PT Sebukit Power (SP) sebagai IPP, investasi US4400juta dengan teknologi Finlandia. PT SP meneken MoU dengan PLN untuk penjualan listrik selama 30 tahun, 4,774 sen US$/kWh. PLTU yang direncanakan dibangun di atas lahan 19.350 Ha,  2000 Ha digunakan untuk konservasi. Akan tetapi, status PLTU saat ini tidak jelas (tampaknya proyek tsb terhenti, adanya aturan bahwa gambut adalah hutan lindung yang tidak boleh ditambang).
    • Gambut tetangga sudah dijadikan BB PLTU di negaranya masing-masing. PLTU Toppila adalah PLTU gambut terbesar di dunia yang terletak di Oulu, Finlandia dengan kapasitas 190 MW (2 unit, 77 MW dan 113 MW). Sementara PLTU Myllykoski berBB campuran (gambut dan biomassa). 
    • PLTU gambut terbesar di Afrika dan sedang dibangun adalah PLTU Hakan (80 MW / 120 MW)  Mumba, Ruwanda dan akan beroperasi sekitar th 2017, dengan menambang bahan bakar 44-70 ton gambut/jam pada lahan 800Ha.
    • Gambut yang melimpah juga digunakan sebagai bahan bakar PLTU di Rusia, Belarus Ukraina, dan negara-negara di Baltik dengan menggunakan Peat Combustion Technology yang dicampur dengan BB biomassa lainnya. Shatura Power station (BB gas alam 78%, gambut 11,5%, minyak bakar 6,8%, batubara 3,7%). Semula, PLTU (shatura-1, 2x210MW) (sejak 1925, menggunakan gambut 40%, lalu turun hingga 1% pada tahun 1980), kemudian BB umpan 4 PLTU didiversifikasi ke multi BB (Shatura-2, 3, & 4 bukan gambut).
    • Manfaatkanlah gambut sebaik-baiknya dengan menanam pepohonan (budidaya sagu, kelapa, bawang merah, pinang, buah naga, karet, nenas, gaharu, timun, dll) guna menghindari ancaman kebakaran dengan teknik pengelolaan tata-air, dan Restorasi ekosistem dilakukan dengan bantuan skema emisi karbon.
    Limbah Jagung (+sekam padi)
    • PLTBm bonggol jagung (1x0,5MW) Ds. Pongaila, Kec. Pakubala, Kab. Gorontalo beroperasi Juli 2014 dan masuk grid PLN.
    • Provinsi Gorontalo Mengembangkan PLTBm (Biomassa) limbah jagung dan sekam padi bekerjasama dengan LIG Ensulting Co Ltd (Korea Selatan) dengan kapasitas 12 MW. Tahun 2009, areal jagung seluas 105,479 Ha menghasilkan produksi 569.110 ton dan limbah berupa tongkol, batang, dan daun sebanyak 2,2 juta ton. Sementara, padi seluas 44.829 Ha menghasilkan limbah sekam padi 513.85 ton. PLTBm tersebut membutuhkan limbah jagung dan sekam padi 350 ton/hari.
    Jerami+sekam padi
    Per 1 Ha sawah menghasilkan kira-kira 5 ton jerami dan 1 ton sekam. Artinya, 1 MW listrik dihasilkan dari 1500 Ha sawah. Sementara, luas lahan padi Indonesia sekitar 12,87 juta Ha (th 2010) yang berarti energi listrik setidaknya 8.600 MW dapat dipetik dari jerami+sekam padi, bila panen dilaksanakan setahun sekali (panen umumnya dilaksanakan dua kali setahun).
    • PT Xoma Power Nusantara menggandeng pengembang listrik swasta dari Rusia (JSC PromSvyaz Automatika) dan Babcock and Brown (Australia, penyandang dana sekitar Rp.220 miliar) akan membangun PLTBm dari jerami+sekam berkapasitas 10-22 MW (tergantung ketersediaan Jerami+sekam) di Serdang Bedagai (Sergai), Sumut. Kalori jerami+sekam sekitar 3.180 kalori/kg sedangkan batu bara sekitar 5.000-6.000 kalori/kg. Listrik sebesar 10 MW memerlukan 80.000 ton jerami+sekam.
    • PT Bioguna Sustainable Power membangun PLTBm 6 MW berbahan bakar sekam padi di Gerbang Kawasan Industri Makassar, Sulsel dengan dana sekitar US$20-23juta.
    • HIVOS + kemenESDM + masyarakat sekitar Ds Rakawatu, Kec. Lewat Tidar, Sumba Timur, NTT mengubah sekam padi menjadi listrik. Gasifikasi (pyrolisis, combustion, dan gasifikasi) via reaktor terjadi pada suhu ~1000oC, lalu campuran gas (CO, CO2, CH4, H2, H2O) menuju mesin diesel yang dapat menggerakkan turbin, sehingga menghasilkan listrik 50kW.

    Gas TPA (Gas Metan dari Sampah Organik)
    GALFAD
    Sampah diolah dengan 5 cara: 1) Ball Press, sampah dipres, padatan dibungkus plastik, untuk dijadikan penahan erosi, air yang keluar dijadikan pupuk; 2) Incinerator skala besar, 900-1800 ton dibakar; 3) GALFAD (Gasification, Landfill, an Aerobic Digestion), gas metan yang timbul di TPA dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik. 1 MW setara dengan 30-50 ton sampah; 4) Bio Pupuk: sampah terpilih dihancurkan dengan tekanan hingga menjadi bubur, lalu diberi mikroba dalam bak cerna tanpa oksigen; 5) Limbah menjadi Energi: sampah digunakan sebagai bahan baku PLBM. 1500-1800 ton/hari akan menghasilkan listrik 20 MW.
    Sampah (ton/hari) di kota besar Indonesia sungguh besar jumlahnya. Jakarta menghasilkan sampah 6500, Bandung 1.100, Denpasar 2.000, Surabaya 1.800, Medan 1.700, Makassar 870, Palembang 750, Yogyakarta 300, dan Semarang 700. Dari sampah itu, limbah organik saja yang akan masuk ke TPA, sedangkan lainnya (kertas, plastik, logam, gelas, dll) didaur-ulang. Setiap 500 ton/hari sampah yang diolah setara dengan daya listrik 5-6 MW.
    • Pem. Swedia bekerjasama dengan  pemkot. Palu, Palangkaraya, dan Sleman membangun proyek pilot penyediaan listrik dari biogas yang berasal dari sampah.
    • PLTSa Batam 10 MW, Kep Riau, direncanakan dibangun oleh Pemkot Batam + Bright guna memanfaatkan 1000 ton sampah/hari.
    • Pemerintah kota Surabaya via PT Navigat Organic Energy Indon (PT NOEI) merealisasikan PLTSa 60 MW di Kec. Keputih. PT NOEI mengincar proyek PLTSa (18-20 MWe) di Jakarta senilai Rp.1,2 triliun di Sunter, Jakut. Harga beli listrik PLN dari PLTSa menurut Permen ESDM no. 19 th 2013 telah diperbaiki (Zero waste: Rp.1450-1798/kWh; sanitary landfill: Rp.1250-1.598/kWh).
    • Pemkot Denpasar, Pemkab Badung, Gianyar, dan Tabanan (SARBAGITA) bersama dengan PT NOEI membangun IPST (Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu) guna mengubah sampah menjadi energi listrik 9-10 MW. IPST dibangun di TPA Suwung, Denpasar di atas tanah seluas 10 Ha (tersedia 40 Ha). Jumlah sampah dari kawasan SARBAGITA yang diperkirakan sekitar 800 ton/hari diubah menjadi energi listrik menggunakan teknologi GALFAD. Sampah sekitar 165 ton di Bengkala, Singaraja di TPST diolah menjadi gas metan (PLTG) guna menggerakkan generator menjadi listrik dengan sasaran hingga 2 MW.
    • PLTSa di Bantar Gebang (proyek 700 milyar) di Bekasi memproduksi listrik 10 MW dengan teknologi GALFAD dan kapasitas itu akan terus dinaikkan hingga 100 MW pada tahun 2014 guna memanfaatkan sekitar 6.000 ton sampah/hari dari Jakarta, dan 1.000 ton/hari dari Bekasi. Pertamina yang bekerjasama dengan PT Gondang Tua Jaya dan Solena Fuels ikut terlibat dalam pemanfaatan sampah Bantar Gebang tersebut dengan menyuntikkan dana sekitar US$300juta guna membangun PLTsa lebih besar, 138 MW, (terbesar di dunia), yang akan beroperasi th 2016. Di samping itu, pabrik kompos dari sampah organik telah dibangun dan telah mencapai 60 ton/hari dengan target 300 ton/hari pada 2013. Capaian PLTSa tersebut sempat disampaikan di Pertemuan Penanganan Perubahan Iklim C40 di Sao Paulo, Brasil, 1-3 Juni 2011. Kesuksesan di Bekasi itu akan ditularkan pula ke Ciangir, Legok Tangerang, dan Marunda, Jakarta Utara. IPST Ciangir berada di atas lahan 50 Ha dan 48 Ha lainnya sebagai lahan hijau milik Pemerintah DKI Jakarta yang akan menerima 1.500 ton sampah/hari dari Jakarta Barat dan 1.000 ton/hari dari Tangerang, sedangkan IPST Marunda dibangun di atas lahan 76 Ha di kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang disiapkan untuk menerima sampah dari Jakarta Utara dengan kapasitas desain perolehan energi listrik sebesar 10 MW.
    • Sisa sampah organik di Bantar Gebang diubah menjadi pupuk organik yang dikelola oleh PT Gondang Tua Jaya dengan kapasitas produksi 350 ton/hari dan PT Mitra Patriot milik Perusda Bekasi (50 ton/hari) yang potensinya dapat ditingkatkan menjadi 2.000 ton/hari.
    • PT Gikoko Kogyo Indonesia mengembangkan PLT gas metan dari TPA di Makasar, Bekasi, Pontianak, dan Palembang.
    • PLT Sampah (Biometha green) menjadi pilot project di perumahan Griya Taman Lestari, Sumedang.
    • Workshop Pelatihan / training pengelolaan sampah menjadi biogas dilakukan di Kel.Cipadung, Kec.Cibiru, Jabar.

    BIOGAS (GAS METAN)

    Biogas dapat menjadi solusi alternatif untuk kompor, penerangan dan energi listrik (bioelektrik) dari genset biogas. Sumber penghasil biogas di pedesaan dan di lingkungan pesantren adalah kotoran ternak (sapi, kerbau kuda, babi)/tinja santri, sampah, buah busuk, ampas tahu, limbah pertanian (sawit, padat/cair, dll), eceng gondok, rumput laut, dll. UGM telah mengembangkan teknologi purifikasi biogas (dari gas impuritas seperti CO2, H2S, uap air, dll. menggunakan resin / tukar ion) dan menyimpan biogas dalam tabung agar dapat digunakan pada mesin-mesin/genset. Contoh teknologi pembuatan biogas dijelaskan (Badan Litbang Petanian); LIPI (P2-Telimek) (limbah kotoran sapi khusus pedesaan, Instalasi biogas di Ds.Girimekar, Kec.Cilengkrang, Bandung); 

    Limbah ternak/manusia
    Peluang pengembangan biogas Indonesia sangat menjanjikan. Th 2009, Indonesia memiliki 13 juta sapi ternak dan perah, 28 juta kambing/domba/kerbau dan 238 juta penduduk Indonesia penghasil biogas yang amat besar. Seekor sapi dewasa menghasilkan sekitar 25 kg kotoran/hari. Setiap 20 ekor sapi menghasilkan 20 m3 biogas/hari yang setara dengan energi listrik 12 kWh yang cocok untuk 6 rumah selama 10 jam dengan daya 100-200 Watt/rumah. Proses pembuatan biogas dari kotoran ternak (+tinja) dijelaskan. biogas akan keluar mendorong slurry dan gas disimpan, sedangkan slurry ditampung untuk dijadikan pupuk organik.
    Potensi: 1 juta unit (bak cerna = digester).
    • Tiga ratus unit yang memanfaatkan kotoran sapi dibangun di DME Haurngombong, kec. Pamulihan, Kab. Sumedang, Prov. Jabar. Energi biogas baru dimanfaatkan 40% yang membangkitkan 130 instalasi, sedangkan satu instalasi melayani 3-4 KK. SDAEM Sleman, DIY memanfaatkan kotoran sapi di 7 desa.
    • Koperasi SAE Pujon (beranggotakan 7000 orang peternak sapi) yang bermitra dengan HIVOS (LSM Belanda), Kab.Malang siap membangun 2000 unit reaktor Biogas Rumah Tangga (BIRU) hingga tahun 2012. Hingga Feb 2013, sekitar 2609 reaktor biogas sudah terbangun di Malang, dan 5100 reaktor biogas di Jatim, sementara target nasional sekitar 8300 unit. HIVOS juga melirik P. Sumba sebagai program EBT masa datang. Pemerintah dan HIVOS juga membidik NTB, Bali (Gianyar, Bangli, Buleleng, Tabanan, Badung, Klungkung), Sulsel, Jabar, Jateng, Jatim, dan DIY untuk mencapai target itu.
    • Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, provinsi DIY, memanfaatkan biogas dari limbah ternak dan limbah pabrik tahu dengan membangun bak cerna 136 unit yang dikembangkan sejak tahun 2008. Penduduk Kulon Progo juga telah membangun 200 unit yang tersebar di Kab. Kulon Progo. Daerah yang dikenai Pilot Project adalah Lendah, Temon, Wates, Pengawasih, dan Galur. Tahun 2011 pemerintah memberikan dana Rp.388juta untuk membangun 21 unit bak cerna bagi keluarga miskin yang memiliki sapi dan kerbau. Setiap unit memerlukan dana Rp.18juta untuk 3 KK yang membutuhkan kotoran 3-4 ekor sapi. Daerah lain di Kulon Progo yang juga mengembangkan biogas hingga mencapai 160 unit adalah desa Pendoworejo, dan Girimulyo.
    •  Kotoran ternak sapi: Karang Bangi Kulon, Ds. Ngeposari, Gunung Kidul, DIY.
    Buah Busuk
    Banyak sekali buah dan sayur mayur busuk di pasar tradisional Indonesia yang juga berpotensi untuk dijadikan biogas dan menghasilkan listrik.

    • UGM bekerjasama dengan pemerintah Swedia mengembangkan teknologi pengelolaan limbah buah busuk menjadi pembangkit listrik biogas di pasar buah Gemah Ripah Gamping, Sleman, DIY (menghasilkan 10 ton buah busuk/hari, dan hanya 4 ton/hari yang dimanfaatkan menjadi sumber listrik).  Sekitar 4 ton buah busuk/hari (terutama semangka & melon) difermentasi dalam 2 bak cerna (digester) (D = 8 m dan t = 8 m) (anaerob) sehingga menghasilkan gas metan yang menuju ke generator yang menghasilkan listrik sekitar 548 kWh/hari untuk 500 KK (termasuk penerangan jalan dan pasar Gemah Ripah) dengan dana 1,6 milyar.
    • Pemkot Balikpapan berencana membangun PLT Biogas di sekitar pasar-pasar tradisional Balikpapan guna memanfaatkan limbah sayuran dan buah-buahan (sekitar 292-310 ton/hari) sekaligus memenuhi kebutuhan listrik di pasar selain pemanfaatannya sebagai kompos. Pilot project dilakukan di Pasar Pandansari dengan harapan studi kelayakan selesai th 2012. Satu PLT Biogas diduga akan menelan biaya Rp 800 juta termasuk transmisi dan instalasi pada lapak pedagang di pasar. Keberhasilan PLT Biogas di Pandansari akan ditularkan ke pasar Klandasan dan Pasar Induk.
    Limbah Cair & Ampas Tahu
    Di Indonesia terdapat 84.000 industri tahu yang menghasilkan limbah cair 20 juta m3/tahun. PTL BPPT (Pusat Teknologi Lingkungan BPPT) membantu mengolah limbah tsb menggunakan Fixed Bed Reactor di desa Kalisari dan Cikembulan, Kab. Banyumas dengan dana Kemenristek. Dari satu m3 limbah menghasilkan 6.500 liter biogas. Sementara, biogas juga dapat diperoleh pula dari ampas tahu. Sekitar 2,4 liter larutan ampas tahu dapat menghasilkan 381,82 liter biogas (via bak-cerna). Contoh: air limbah tahu (Ds. Kalisari, Banyumas, Jateng; Ds. Pekalongan, Jateng; Tarakan, Kalimantan) diproses (digester, anaerob) menjadi biogas. Contoh: ampas tahu + Kotoran sapi diubah manjadi biogas: Kanoman, Boyolali, Jateng;

    Limbah Cair Sawit
    PTPN V Pekanbaru, Jambi mengembangkan pembangkit listrik dengan memanfaatkan limbah cair (PLT Biogas) dan limbah padat (PLT Biomassa) tanaman sawit. Th 2011, dari PLT biogas diperoleh 13,8 MW, dan dari PLT biomassa diperoleh 35,6 MW. Pada th 2012, ditargetkan 14,8 MW dari PLT biogas dan 38,3 MW dari PLT  biomassa.

    Limbah Mendong/eceng gondok, dll
    Eceng gondok (EG) banyak menyerap oksigen dalam air sehingga populasi ikan dalam waduk / danau menurun, dan bila EG mati menjadi lumpur, maka lumpur tsb akan mendangkalkan rawa.

    Waduk Cirata (Jabar), Saguling (PT IP), Cihampelas, Batujajar dll memanfaatkan eceng gondok menjadi biogas dan bioelektrik. Akan tetapi, EG di waduk/danau lainnya misalnya di Danau Tondano (Minahasa), danau Galela, danau Panggang (Kalsel), waduk Benanga (Samarinda), dan beberapa waduk di jakarta belum dimanfaatkan sebagai bioelektrik. Bila belum ada aktivitas pembuatan bioelektrik, cara kuno menghilangkan EG adalah menggunakan predator (ikan herbivora sebagai pemakan eceng gondok).  Ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan ditebarkan sebanyak 47.800 ikan (2.000 ekor induk dan 45.800 ekor benih 8012 cm), di danau Kerinci dengan catatan penduduk/nelayan sekitar danau dilarang beberapa waktu untuk menangkap ikan di danau. Ikan grass carp memakan akar dan daun eceng gondok. Cara ini berhasil membersihkan EG hingga tinggal 5% selama 2 tahun (selama 2 minggu, ikan koan dapat menghambat pertumbuhan EG 52%).

    Sebenarnya EG banyak manfaatnya misalnya, bahan baku kertas, bahan kerajinan rumah tangga (pengganti rotan), punya zat pito hara memacu pertumbuhan tanaman yang baik sebagai pupuk organik (lumpur rawa banyak diambil penduduk sebagai kompos), penyerap logam berat dalam air, produksi biogas pengganti BBM (dengan produk samping pakan ikan, dan pupuk organik), bioelektrik, BB briket, komposit polimer (selulosa) dalam teknologi membran untuk menjernihkan air.  

    Setiap 150 kg biomassa via instalasi biogas akan dihasilkan 6 m3 biometan yang  menyalakan genset 1 kW selama 6 jam, dan 300 liter pupuk organik cair (POC) . Instalasi biogas itu adalah digester 3 m3, termasuk alat pemurni metan, genset biogas (4 unit baterai 12V/40Ah kapasitas 1,92kWh, sistem charger regulator via inverter 1 kW ke arus ac 220V; sekali genset on, baterai akan terisi-ulang), kompor, kompressor beserta instalasinya, seharga Rp40juta.
    • EG difermentasi menjadi bioetanol (B.Permadi, dusun Nyamplung, Ds. Sumokali, kec. Candi, Kab.Sidoarjo) untuk dijadikan BB motor 50 kg EG digunakan BB sepeda motor sejauh 50 km.
    • Mahasiswa FRI (Tel-U) Bandung memanfaatkan limbah kerajinan mendong (tumbuhan rawa sebagai bahan untuk tikar, tas, dompet, tempat pensil/sampah/tisu/toples, pigura, dll.) menjadi biogas. 
    • Mahasiswa T.Kimia UNDIP Semarang, Jateng memanfaatkan enceng godok (EG) menjadi biogas (+kotoran sapi sebagai stater awal pemberian bakteri anaerob, 1x sajadi Rawa pening.
    • Distamben Kalsel mengembangkan instalasi biogas dari eceng gondok di Kab. Hulu Sungai Utara (1 unit) dan kab. Hulu Sungai Tengah (1 unit). Instalasi biogas lainnya dibangun di Kab. Tabalong (34), Balangan (41), Hulu Sungai tengah (13), Tanah Laut (122), Tapin (25), Hulu Sungai Selatan (50), Barito Kuala (70), Tanah Bumbu (40 unit), Kotabaru (50 unit), dan Banjar (5).
    • Kaltim (Kukar) yang memiliki danau Jempang 15.000 Ha, Danau Semayang 13000 Ha, dan Danu Melintang 11.000 Ha penuh eceng gondok diusulkan oleh PT Cipta Visi Sinar Kencana untuk mengembangkan teknologi bioelektrik, dan diduga akan menghasilkan listrik sangat besar, 13,6 GW.

    Rumput laut
    Susanto, Undip Semarang, memanfaatkan rumput laut Sargassum, Gracilaria dan Padina sebagai penghasil biogas yang masing-masing dengan kadar metan rerata 18,23%, 17,1% dan 14,58%. 


    CBM (Coal Bed Methane) (Sweet Gas, tanpa gas H2S)

    Potensi gas metan batubara Indonesia: 6 terbesar dunia, 453,3 triliun kaki kubik (TCF) (cadangan terbukti 112,47 TCF, potensial 57,60 TCF) (6% cadangan total dunia) tersebar di 11 cekungan, di antaranya adalah 1) high prospective: Sumsel (183TCF), Kalsel (Barito, 101,6), Kaltim (Kutai, 80,4), Sumteng (Riau, 52,5); 2) Medium: Tarakan Utara (17,5), Berau (8,4), Ombilin (0,5), Pasir/Asam-asam (3), dan Jatibarang/Jabar (0,8); 3) Low prospective: Sulawesi (2), dan Bengkulu (3,6). Th 2011 pemerintah memiliki 23 + 13 + 10 + 4 kontrak WK CBM. Tahun 2015, diharapkan mencapai 500juta ft3/hari (500 MMSCPD), 1000 (th 2020), dan 1500 (th 2025). Rig untuk CBM lebih murah dari rig migas biasa, pengeboran hanya sekitar 700-1000m, keluar pertama adalah air, kemudian gas metan. Sekitar 20 Rig CBM (Lemigas+ Balitbang ESDM+UPN) akan dibangun.
    Kandungan gas metan dalam CBM adalah 93-97% (ion Cl ~400 ppm, sisanya gas CO2, dll. di-flare).
    • Operator West Sangatta I, Sekayu, Tanjung Enim, Barito Banjar, dan Sanga-sanga (Kaltim) menghasilkan gas setara energi listrik 15,75 MW.
    • VICO + PLN mengoperasikan PLT CBM pertama di Indonesia (2 MW), di lapangan Mutiara, Kutai Kartanegara dg investasi sekitar Rp.2 Triliun. Biaya pembangkitannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan PLT rerata di Kaltim (Rp850/kWh) yaitu sekitar Rp1.150/kWh, tetapi masih di bawah solar (Rp2600/kWh).
    • Pertamina (PHE Metana) mengelola 2 blok di Kalimantan dan 7 blok di Sumatera (misalnya Blok Muara Enim III, Ds.Jiwa Baru, Kec.Lubai, Muara Enim, Sumsel).
    • Perusahaan lain terlibat CBM: Ephindo, Medco Energy International, Pertamina Hulu Energi (PHE), Energi Mega Persada, dan Bumi Resources.

    SHALE GAS

    Shale Gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi yang tersembunyi dalam perut bumi, di kedalaman sekitar 2000-2300m. Teknologi pengeluarannya: Horizontal drilling dan hydraulic fracturing. Pertamina yang pertama mengusahakannya dengan menggandeng AS (negara yg lebih dulu berpengalaman di bidang shale gas). Pengusahaan Shale gas (migas non konvensional, MNK) diatur dalam Permen ESDM No.5 tahun 2012. Shale gas dan CBM (distudi 2010-2013) termasuk MNK, selain itu ada Shale oil, tight sand gas (distudi 2014-2016), metana batubara, dan metan hidrat. Th 2017, diharapkan gas-gas tsb dikomersialkan.
    Potensi: diperkirakan sekitar 574 TCF (sementara CBM: 453,3 TCF; dan Gas bumi 334,5 TCF). Studi bersama diminta oleh 10 investor bersama 5 Perguruan Tinggi yang ditunjuk pemerintah: ITB, UGM, UPN, Univ. Trisakti, dan Univ. Padjadjaran. Saat ini ia tersedia di 7 cekungan: Sumatera (3) (Baong shale, Telisa shale, dan Gumai shale), P. Jawa (2), Kalimantan (2), dan Papua (1) sebagai Klasafet formation. Ladang pertama shale gas adalah di WK Sumbagut (Sumatera Bagian Utara) yang dioperasikan oleh PT PHE MNK Sumbagut (18,56 TCF) sejak 2011.

    GAS HIDRAT METAN

    Gas hidrat metan berada di dasar laut yang dikenal sebagai sumber gas alam bawah laut atau sumber bencana alam di laut bila ceroboh menanganinya. BPPT, BGR Jerman, dan JAMSTEC-Jepang mengobservasi bahwa cadangan gas Hidrat Indonesia sekitar 17,7 triliun m3 (amat besar) di perairan Selatan Sumsel, selat Sunda, dan Selatan Jawa Barat (cadangan gas alam Natuna sekitar 1/3-nya), sedangkan di laut Sulawesi sekitar 6,6 triliun m3. Teknologi eksplorasi gas hidrat (yang harus ditangani sangat hati-hati) belum dikuasai Indonesia. Jepang berhasil mengeksplorasi gas hidrat untuk pertama kalinya pada bulan Maret tahun 2013, sehingga diharapkan teknologi tsb akan dikomersialkan tahun 2016.


    BATUBARA TERCAIRKAN (Liquefied Coal) 

    Kilang batubara tercairkan dengan kapasitas 800.000-1,1juta barrel akan dibangun di Sumsel oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT TBBA) yang bernegosiasi (MoU) dengan South Africa's Sasol Ltd. dengan investasi US$5,2miliar. Perusahaan itu juga bernegosiasi dengan PT Pertamina dan PT TBBA dengan dana US$10miliar guna memproduksi batubara tercairkan sekitar tahun 2015. Tempat kilang lain yang cocok adalah Musi Banyuasin, Sumsel (2,9 miliar ton batubara), dan Berau, Kaltim (3 miliar ton batubara). Sekitar 30.000 ton batubara akan menghasilkan 130.000 barrel minyak/hari.

    BATUBARA TERGASKAN (Gasified coal

    PT PLN melakukan ujicoba batubara tergaskan (syngas, Synthetic natural gas) sebagai bahan bakar PLTD (konversi BB diesel ke gas) dengan menggandeng PT Bio Energy Prima Indonesia (via MoU) di PLTD Sorek 250 kW.
    PT Sekawan Intipratama Tbk meneken kontrak dengan ProCone GmbH (kontraktor EPC) asal Swiss memulai proyek gasifikasi batubara ke etanol dengan nilai investasi 500-750 juta Euro untuk produksi 0,48-1,35juta ton etanol/tahun (beroperasi akhir th 2016). Tanah seluas 60 Ha telah dibebaskan yang berdekatan dengan batubara (5ribu Ha) di Kutai Barat, Kaltim.

    (Bersambung ke bag. 2 / to be continued)