Pages

Friday, July 25, 2014

Nasib air (air laut) sebagai bahan bakar terbarukan


Air sebagai bahan bakar terbarukan saat ini masih dipandang sebelah mata, apalagi teknologi bahan bakar air (BBA) yang telah tua itu tersingkir ketika BBM ditemukan dan dimanfaatkan maksimal sebagai bahan bakar. Di sisi lain, energi yang diperlukan untuk mendisosiasi air menjadi gas hidrogen dan oksigen dengan teknologi elektrolisis lebih besar dibanding dengan energi pembakaran hidrogen yang diperoleh. Artinya, energi elektroliser sebesar 4 kWh diperlukan untuk mendapatkan 1 m3 hidrogen dari air, dan pembakaran hidrogen sebanyak itu hanya menghasilkan energi 3.5 kWh dengan tegangan 1.6-2.0 V dan arus ratusan Amper.  Kelemahan ini dijadikan alasan untuk tidak mengembangkan potensi air sebagai BB.
Koda mengusulkan bahwa selain pemecahan ikatan atom antara hidrogen dan oksigen dalam air menggunakan arus listrik, dapat ditambahkan pula penggunaan teknik vibrasi ultrasonik disertai dengan gelombang radio guna menaikkan efisiensi yang prosesnya disebut elektrolisis ultrasonik. Sebuah kristal piezoelektrik dilekatkan di dasar kubah logam yang duduk pada bahan fleksibel (karet). Bila kristal distimulasi oleh arus listrik dengan Frekuensi resonansi sekitar 42,7 kHz, maka kristal akan bergetar dan kubah logam ikut bergetar, dan air yang menyelimutinya juga ikut bergetar dengan frekuensi yang sama, sehingga air terdissosiasi menjadi gas hidrogen dan oksigen. Pada saat yang sama, arus listrik yang digunakan untuk menghidrolisis air dilewatkan melalui air yang terletak di antara kubah dan bagian luar dinding logam, sehingga menimbulkan pulsa-pulsa pada frekuensi resonasi air tersebut. Akibatnya, kombinasi antara getaran fisik dan pulsa elektrolitik menghasilkan efisiensi dissosiasi air menjadi gas hidrogen dan oksigen lebih tinggi. Kombinasi itu harus diatur sedemikian rupa agar mendapatkan efisiensi setinggi-tingginya. 
Jokoenergy menggunakan PWM (Pulse Width Modulation) disertai frekuensi sekitar 19,66 Hz, pada arus 12 Amper dan tegangan 12 volt.
Sejak tahun 1997 peneliti Kuba (asal Rusia), Kanarev, telah menciptakan lebih dari 20 paten di bidang perolehan gas hidrogen dari air. Laporan penelitiannya bersama Mizuno dari Hokkaido University, Jepang, tahun 2003 menjelaskan bahwa energi elektroliser yang diperlukan untuk mendapatkan 1 m3 hidrogen  dapat diturunkan menjadi seperempatnya, dan Kanarev sendiri juga telah mampu menurunkan energi elektroliser sepersepuluhnya dengan mengubah air menjadi bentuk plasma pada suhu 2700-5000 C, bahkan selanjutnya Kanarev telah menemukan sel elektrolisis yang diatur sedemikian rupa sehingga arus dapat direndahkan lagi hingga 0.02 A dengan tegangan 1,5-2,0 V. Dengan teknik ini air / air laut langsung berubah menjadi uap beberapa detik saja (seperti pada gambar) sehingga bila diproduksi besar-besaran dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk menggerakkan turbin, utilitas di industri kimia, dll. Inilah PLTN (reaksi nuklir menggunakan elektrolisis plasma) yang diinginkan di masa depan, PLTN dengan BBA saja atau air laut saja, bukan dengan bahan bakar uranium, plutonium atau thorium. Ini adalah salah satu bukti awal prospek cerah dari air atau air laut yang berfungsi sebagai BB via elektrolisis plasma. Limbahnya berupa uap air saja yang dapat digunakan lagi berkali-kali. 
Naudin juga melakukan percobaan sederhana yang membuktikan pula bahwa tidak hanya ada kelebihan energi dengan timbulnya uap air selama proses elektrolisis plasma berlangsung, tetapi juga dapat menghasilkan arus listrik tambahan. Percobaan replika dari rancangan Meyer dilakukan pula.
Percobaan lainnya yang mengarah ke pemanfaatan komersial (dengan daya 1 MW) telah dilakukan oleh Andrea Rossi (Italia) menggunakan elektroda serbuk nano nikel dan tembaga. Harganya yang relatif murah dan perawatan yang rendah menarik perhatian banyak pengguna energi. Penggunaan elektroda Titanium Vanadium (Ti-V) juga menarik perhatian, karena transmutasi Ti ke V dianggap menguntungkan. Harga Ti sekitar USD1.000/ton, sementara  harga Vanadium sekitar USD50.000 /ton.
Di sisi lain, Upaya Rossi itu merangsang produsen alat fusi dingin lainnya untuk masuk ke skala komersial, misalnya Brillouin Energy (Brillouin "Hot Tube" Boiler).

Di sisi lain, banyak peneliti lain juga mengembangkan teknologi BBA, seperti Stanley Meyer (mati diracun, 1998), William Rhode, Yull Brown, George Wiseman, Denny Clein, Ruggero Santilli, Andrija Puharich, John Kanzius, Stephen Chambers, Paul Zigouras, Joe (Joe Cell), Alex Schiffer, Paul Pantone, Rasmussen, dll. Akan tetapi, hingga saat ini mereka terancam jiwanya bila terus melanjutkan pengembangan teknologi BBA.
Contoh lain: Eugene Mallove pakar Fusi Dingin, guru besar (Profesor) MIT Amerika, ahli energi alternatif, dan editor majalah Infinite-Energy, dibunuh secara brutal (15 Mei 2004) di rumah orang tuanya. Tahun 1989, dia meninggalkan MIT sebagai protes terhadap MIT yang memanipulasi data replikasi penelitian Pons-Fleischmann agar hasil riset kedua penggagas fusi dingin itu negatif. Dia membuka data manipulasi itu. Dia tak kenal lelah menulis dan menyuarakan bukti-bukti adanya energi bebas pada proses fusi dingin.
Tata motor buatan India mengembangkan air, air hujan, air toilet, air laut sebagai BB, bekerjasama dengan Daniel Nocera (Prof MIT), mengglontorkan dana US$15juta untuk proyek tsb.
Jepang (Fukai Environmental lab) telah menemukan gas hidrogen dari air fungsional (+serbuk Al atau Mg) dengan biaya murah. Satu gram Al dapat menghasilkan 2L gas Hidrogen, sementara 1 gram Mg memperoleh 3,3 L. Listrik Satu kWh dapat diperoleh dengan biaya 15 yen saja.

Beberapa peneliti Indonesia mencoba "Niteni, Niroake, Nambahi", di bidang BBA dan mengubahnya menjadi gas air yang digunakan hanya sebatas suplemen BBM, bukan mengganti total BBM oleh BBA dalam ruang bakar mobil, genset, motor, dan kapal motor konvensional.
Mahasiswa program Diploma 3 Otomotif, Fak. Teknik dan Sains, Unas, mengembangkan BBA untuk kendaraan bermotor yang alat temuan mereka disebut Eco Power Booster (EPB). Alat itu telah digunakan pada 40 Kendaraan roda empat dan 20 roda dua di kalangan internal mereka. EPB juga diterapkan di mesin perahu nelayan via PATI (Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia) Banten yang dinyalakan dengan minyak dulu, kemudian BBA masuk sebagai BB suplemen mesin perahu itu. Harga mesin ditawarkan Rp.2 juta, dan telah diuji di kemen ESDM dan IPB. BBA untuk kompor dipamerkan pula.
ITS (Lab Teknik Pembakaran dan BB, Teknik mesin FTI) juga mengembangkan BBA sejak tahun 2007 dan mulai dipakai sejak tahun 2009 yang mampu menghemat BBM 36%. Alat HHO ciptaan ITS (Hydrogen Booster), mampu memanfaatkan 1 cc air murni untuk perjalanan sejauh 70 km.
Siswa/i SMK Negeri 2 Langsa bekerjasama dengan Green Energy Institute mengubah air menjadi gas hidrogen yang alatnya diberi nama Wave++SMK (Water as a Vehicle's Fuel). Alat tersebut mampu menghemat BB 50% dan menurunkan emisi lebih dari 80%. Tim peneliti ini mendorong masyarakat Indonesia untuk menggunakan air sebagai BB. Saat ini, alat tersebut dipinjamkan dan disematkan pada mobil Esemka Rajawali guna mendongkrak daya mobil yang meningkat menjadi 1:20 km. Malaysia juga tertarik untuk memanfaatkan teknologi itu.
Peneliti (para mahasiswa) FMIPA USU menciptakan kendaraan ber-BBA 100% dengan konduktivitas listrik tertentu yang menghasilkan gas buang berupa uap air saja. Sistem itu dapat diterapkan pada kendaraan komersial yang sudah ada dengan mengganti karburator yang didesain oleh mahasiswa tersebut.
Peneliti tersebut juga memanfaatkan campuran air dan bioetanol untuk sepeda motor (wadah BB dimodifikasi) melalui sebuah sistem yang disebut SiPeDe dan patennya  sedang diupayakan ke kemenkumham. Mereka melaporkan bahwa dengan satu liter campuran air + bioethanol sepeda motor dapat melaju hingga mencapai 63 km, hampir dua kali lipat bila menggunakan bensin.
Sebelumnya, Pak Boy memanfaatkan campuran air dan bensin sebagai BB sepeda motornya.
Guru dan Siswa SMKN 1 Purworejo, Jateng, juga memanfaatkan gas hidrogen yang berasal dari air  yang diuapkan menggunakan panas buang dari knalpot kemudian dicampur dengan gas hidrokarbon.
Tak kalah pentingnya, air + aluminium juga dijadikan BB kompor. Mbah Eddy telah mencobanya.
Mahasiswa Unbraw Malang memanfaatkan air laut sebagai umpan penghasil gas hidrogen yang alat rakitannya disebut Anti Galau.

Para 'peneliti' Indonesia terus berupaya mengurangi ketergantungan mereka terhadap BBM, dan mengantisipasi tingginya harga BBM di masa depan sekaligus berupaya agar bangsa Indonesia tidak diombang-ambing oleh penguasa BBM dari hulu ke hilir.

dari berbagai sumber


2 comments:

  1. Artikel yang sangat menarik untuk disimak. Menurut Bapak, bagaimana nasib-nasib para penemu alat dari bahan bakar air (baik suplemen maupun campuran) ini nantinya ke depannya yang berasal dari Indonesia, mengingat nasib Stanley Meyer dan lainnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemanfaatan BBA oleh peneliti Indonesia dilakukan dengan pola hibrid, yaitu mencampurkan sedikit BBM (atau bahkan BBNabati seperti ethanol) terhadap BBA. Hal itu dimaksudkan agar tidak ada fihak tersakiti (yg akan memicu tindak kejahatan), karena masih menggunakan BBM sampai tiba saatnya semuanya siap menggunakan air saja sebagai bahan bakar. Penggunaan BBA tidak terhindarkan bila spek emisi gas buang diminta mendekati Euro-8. Saat ini BPPT menyiapkan fasilitas uji emisi Euro-5 dan Euro-6 (spek mobil Eropa) untuk mobil Indonesia.

      Delete